Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
120


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 120...


Ke dua mempelai yang sedang di mabuk asmara, tengah menikmati pelukan sama satu sama lain. Menyalurkan rasa nyaman untuk saling menenangkan.


"Ehemmmm" Suara deheman seseorang membuat Maura dan Rojer melepas pelukannya.


"Tahan sebentar Boy... Kamu akan selalu memiliki nya di sisa hidup mu... Tapi jangan melakukannya di tempat ramai seperti ini... Hehe..." Ujar Antony yang sudah berada di depan mereka dengan terkekeh.


Sementara di samping Antony berdiri Karina dengan air mata yang menetes. Hatinya terasa di remukkan saat ini melihat kondisi sahabat seperjuangannya. Duduk di kursi dan menatapnya seakan mereka tidak pernah berteman baik.


"Antony,,, jaga ucapan mu itu... Sensor sedikit mulut burung mu yang selalu bercicit itu.." Timpal Rojer dengan ketus. Seperti biasa memasang wajah datar dengan tatapan yang tajam pada Antony.


"Ohhh... Sorry Boy..."Antony mengangkat ke dua tangannya ke udara. Seperti adegan polisi menangkap pencuri.


"Aku ucapkan selamat untuk pernikahan kalian... Maura kamu terlihat sangat cantik hari ini..." Antony menyalami Maura dengan seringgai menggodanya.


Rojer langsung menjitak kepala Antony karna berani memandangi wajah cantik istrinya dengan seringgai genit.


"Auuuuu..." Ringgis Antony memegangi kepalanya.


"Jangan memandang istri ku terlalu lama...!!!" Ujar Rojer mutlak tanpa ada bantahan. Membuat Antony langsung melipat bibirnya ke dalam.


"Terimkasih Dokter Antony,,, Aku sangat senang anda menyempatkan waktu untuk datang ke acara kami..." Sela Maura di tengah pertikaian kecil antara dua sahabat itu. Sembari bibirnya tidak terlepas dari tawa kecil.


"Apa dia istri mu?" Tanya Maura pada Antony sambil menatap Karina yang masih membisu dengan air mata yang mengalir dari pelupuk matanya yang indah.


"Iya... Wanita cantik ini adalah istri ku Maura.. Namanya Karina..." Antony merangkul bahu Karina menunjukkan keharmonisan antara dirinya dan wanita di sampingnya.


"Sayang usap air mata mu... Jangan menangis.. Bukan kah sahabat baik mu ada di depan mu... Meski dia tidak mengingat mu... Tapi kita sepakat kan untuk membuat kenangan baru bersamanya..." Bisik Antony pada telinga istrinya.


Karina mengusap air matanya dan mengangguk pelan. Mengerti dengan ucapan sang suami. Dirinya sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Maura, hingga sahabat seperjuangan nya ini bisa berada dalam kondisi seperti ini. Antony juga menjelaskan apa penyakit yang sedang di hadapi Maura. Yang membuat dirinya harus berhati- hati dan tidak menunjukkan sikap emosionalnya di depan Maura.


Karina mendekat ke arah Maura, dan memeluk erat tubuh sahabatnya. Mendekapnya dalam balutan kerinduan yang dalam.


"Selamat atas pernikahan mu Maura... Aku Karina jika mungkin semoga kita bisa menjadi sahabat baik..." Karina melepas pelukannya dan menumpuk ke dua tangan Maura di atas tangannya. Dirinya berusaha untuk tidak menangis di hadapan Maura.


"Kamu begitu cantik dengan balutan gaun pengantin ini... Dulu saat di bangku kuliah kita selalu membayangkan akan seperti apa pernikahan kita... Dan semua keinginan mu terwujud. Menjadi seorang cinderella di hari pernikahan mu... Tapi sayang nya di hari penting ini kamu tidak mengingat diri ku... Hanya itu yang sangat aku sedihkan... " Batin Karina dengan senyum getir yang melengkung di wajahnya.


Maura sedikit merasa aneh dengan tatapan sedih dan iba dari Karina. Wajah dan nama wanita di depannya ini sungguh tidak asing di telinganya.


Maura tersenyum lebar.


"Tentu saja... Aku yakin kita akan menjadi sahabat baik nanti..." Timpal Maura dengan mengangguk.


Karina melebarkan senyumnya. Dan melangkah ke depan Rojer untuk memberikan ucapan selamat pada pengantin pria.


Sorot mata Karina memancarkan sinar marah dan tidak suka pada pria yang tengah tersenyum manis di depannya.


"Ternyata kamu pria yang sudah menghancurkan masa depan sahabat ku... Cih jika saja aku tahu, aku akan mencari mu kemana pun kamu pergi. Dan aku pastikan aku akan mencakar wajah mu itu..." Batin Karina dengan menggigit bibir bawahnya. Karna menahan amarah yang sudah menumpuk terlalu lama dalam dadanya.


"Selamat atas pernikahan mu Tuan Rojer Wang yang terhormat... Jaga lah Maura dengan baik..." Ujar Karina dengan sinis dan terdengar menekan, membuat Rojer sedikit merasa aneh dengan sikap istri sahabatnya itu.


"Oya, pasutri yang baru... Bagaimana kalau besok malam kita mengadakan makan malam bersama.. Doublethat gitu..." Antony kembali bercicit dengan mengangkat ke dua tangannya membentuk huruf V.


"Tidak....!!" Tegas Rojer dengan tidak suka dengan rencana Antony. Dirinya sudah menyiapkan agenda untuk menghabiskan waktunya bersama Maura. Hanya mereka berdua.


"Aaaa .... Ide yang bagus.. Mari atur jadwal, tempat dan waktu..." Jawab Maura dengan antusias, tanpa memperdulikan penolakan dari pria yang berstatus sebagai suami yang sedang duduk di sebelah nya. Menurut nya ide Antony tersebut sangat seru. Kencan bersama.

__ADS_1


"Ouuuuu jawaban yang sangat bagus Maura... Rojer kamu tidak akan menolak Maura kan..." Antony memicingkan matanya Rojer.


"Ck..." Rojer berdecak pasrah. Dengan keputusan istrinya. Sepertinya agendanya untuk menghabiskan waktu bersama Maura harus di tunda dulu.


...----------------...


Acara resepsi pernikahan sudah selesai. Para tamu sudah pamit untuk pulang. Ruangan yang tadi nya ramai dengan tawa kini senggang dan sepi.


Maura menguam beberapa kali, membuat Ny. Anindita yang melihat hal tersebut datang menghampirinya.


"Sayang sepertinya kamu sangat lelah... Kamu terlihat letih... " Ujar Ny. Anindita sambil mengelus pipi Maura.


"Wajar saja ma.. Di sini aku yang jadi tokoh utamanya kan... Aku sedikit lelah, setelah para undangan pulang aku akan beristirahat. Mama jangan khawatir. Rasanya ini seperti pernikahan sungguhan. Acaranya begitu besar dan mewah..." Timpal Maura dengan tersenyum tipis.


Glek..


Ny. Anindita menelan salivanya paksa. Tentu saja mirip pernikahan sungguhan karna ini memang pernikahan sungguhan. Pesta peringatan hari jadi pernikahan hanya sebagai alibi untuk melaksanakan pernikahan ini.


"Rojer..!" Panggil Ny. Anindita dengan melambaikan tangan ke arah Rojer yang sedang berbicara dengan salah satu tamu, yang tak lain adalah kolega bisnisnya.


Rojer berbalik menatap ke arah ibunya.


"Kemari...!" Lanjut Ny. Anindita lagi.


Rojer berjabat tangan dengan rekan bisnisnya terlebih dahulu sebelum menghampiri Ny. Anindita.


"Ada apa ma..?" Tanya Rojer.


"Antar Maura ke kamar... Dia sudah sangat letih... Mama tidak mau jika kalian besok telat ke kantor sipil..." Jelas Ny. Anindita pada Rojer. Yang langsung membuat Maura mengerutkan dahinya.


"Kantor sipil?" Tanya Maura tidak mengerti.


Jawaban dari Ny. Anindita kembali mengusik pikiran Maura. Ia merasa aneh dengan perkataan ibu mertuanya itu. Bukankah dirinya dan Rojer sudah menikah. Bukankan itu artinya ia sudah mempunyai buku nikah, lalu untuk apa dirinya dan Rojer pergi ke kantor sipil untuk mengambil buku nikah. Pikir Maura dengan seribu pertanyaan dalam benaknya.


"Iya.. Iya soal itu... Buku nikah kita yang dulu hilang. Jadi kita harus membuat ulang buku nikah..." Tukas Rojer cepat melihat ekspresi berpikir Maura.


"Ayo kamu harus istrirahat..." Lanjut Rojer dan segera mengangkat tubuh Maura untuk duduk di atas kursi. Dan mendorongnya meninggalkan pesta resepsi yang sudah berakhir.


"Huhhhh..."Ny. Anindita membuang nafasnya pelan. Sambil tangannya mengelus dadanya. Hampir saja dirinya membuat menantunya itu curiga.


...----------------...


Charlote masuk ke dalam kamarnya. Hari ini benar- benar menyenangkan bagi dirinya. Karna acara bersejarah ini lancar aman terkendali. Tidak ada apa pun yang mengganggu keberlangsungan acara.


Charlote membuka jasnya, sebelum notifikasi dari komputernya menyala. Ada sebuah email yang masuk.


Ting...


Ting..


Charlote menghampiri komputer kesayangannya dan membuka email yang baru saja masuk.


Seringai Charlote menghiasi wajah chubynya. Saat mebaca isi email dari the twins. Mengatakan jika mereka sudah menjalankan tugas dengan baik.


"Penderitaan mu sudah di mulai tante... Mari kita lihat siapa yang bisa menyelamatkan mu dari anak ingusan ini..." Gumam Charlote sambil memasang smirk kejamnya.


Tak butuh waktu lama untuk mengganti pakaian. Kini Charlote sudah berada di lantai bawah. Ia sedang menghampiri Ny. Anindita yang sibuk dengan tab di tangannya.

__ADS_1


"Grand ma..." Panggil Charlote.


"Hmmm" Dehem Ny. Anindita tetap fokus dengan aktivitasnya.


"Boleh kah aku pergi sebentar..." Izin Charlote dengan menampilkan senyum manisnya.


Ny. Anindita langsung mematikan tab nya dan meletakkan benda persegi itu di sampingnya.


"Kamu mau kemana malam- malam.?" Tanya Ny. Anindita dengan suara sedikit cemas.


"Aku ingin pergi ke rumah teman ku grand ma.."


"Malam- malam begini?"


"Jadi sebenarnya ada tugas kelompok dari sekolah grand ma.. Tapi dari tadi pagi hingga sore aku sibuk dengan acara pernikahan mama... Jadi aku tidak sempat mengerjakan nya dengan teman ku... Lalu aku dan teman ku memutuskan untuk mengerjakannya malam ini. Lagi pula ini baru jam 8 Grand ma... Bisakah aku pergi?"


"Tapi..."


"Supir akan mengantar dan menemani ku Grand ma.. Jadi Grand ma jangan khawatir... Aku janji akan pulang cepat... Sebelum jam sepuluh aku akan sudah ada di rumah..."


"Baiklah... Tapi apa papa mu tahu.???.."


"Jangan grand ma... Papa jangan tahu... Jika dia tahu dia tidak akan mengizin kan ku pergi... Please untuk kali ini saja Grand ma..." Charlote memasang puppy eyes yang sangat imut. Membuat Ny. Anindita tidak tega jika menolak keinginan cucunya.


"Baik lah... Pergi lah... Cepat lah pulang cucu ku sayang..."


Charlote mengecup pipi Ny. Anindita sekilas, lalu melesat pergi dan menghilang di balik pintu.


Beberapa menit kemudian, Charlote sudah ada dimarkas tersembunyinya. Hanya beberapa orang yang mengetahui tempat ini. Supir yang di ajaknya pun di minta untuk menunggu dirinya di dekat pusat perbelanjaan.


Markas Charlote terletak tidak jauh dari rumah nya. Markas ini juga berada di daerah keramaian. Markas ini di sulap menjadi sebuah rumah yang seolah- olah berpenghuni. Jadi jika ada orang yang lewat. Pasti mereka akan berpikir jika markas ini adalah sebuah rumah.


Di ruangan yang cukup terang bercahaya lampu jingga. Charlote duduk pada sebuah kursi besar. Sedangkan di depannya ada dua pria kembar yang menunduk.


"Aku tidak salah mengandalkan kalian... Sekarang aku akan memberikan tugas ke dua kepada kalian berdua... Khusus nya Greyly..." Ujar Charlote memecah keheningan di dalam ruangan itu.


Greyly langsung mengangkat wajahnya menhadap majikan kecilnya yang sedang duduk dengan menyilangkan kakinya. Persis terlihat seperti bos mafia.


"Kamu akan merampas harta gono gini yang telah di berikan papa ku pada Catlin. Jangan sisa kan sepeser pun untuk wanita itu..." Titah Charlote.


"Baik Tuan sesuai perintah anda..." Timpal Greyly patuh lalu segera berlalu meninggalkan saudara kembarnya.


"Bawa wanita licik itu kehadapan ku..!!" Lanjut Charlote dengan smirk datar namun terlihat menyeramkan.


Greenly langsung pergi untuk melaksanakan perintah majikan kecilnya.


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤


please tinggalin koment dong

__ADS_1


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit


__ADS_2