Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
Ceroboh!!!


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 12...


"Selamat pag, Maura."


"Good morning."


Karyawan-karyawan di divisi marketing menyapa Maura yang baru saja datang. Maura dengan ramah menyunggingkan senyum termanisnya. Membalas senyuman dan sapaan dari karyawan-karyawan yang lain.


Maura memang dikenal sebagai karyawan yang ramah, dan pegawai yang efisien. Patner-patner kerja di divisi marketing sangat menyukai akan sifat Maura, selain ramah Maura juga sangat baik terhadap mereka.


Maura duduk di tempat kerjanya. Ia meletakkan totbage yang ia bawa pada loker di sudut ruangan itu. Maura mulai menyalakan komputernya seperti biasa. Ia harus menyelesaikan beberapa file yang di minta oleh Mrs. Gresia, kepala divisi tiga hari yang lalu. Maura tidak ingin berlarut-larut dengan pekerjaan yang diberikan karena hal itu akan membuat atasannya merasa kecewa.


"Aww, perutku mules sekali!" pekik Maura dengan memegangi perutnya. "Sepertinya, aku ingin buang air besar," lirihnya lagi. Lalu, bangkit.


"Anet, titip bentar, ya. Aku mau ke toilet," ujar Maura pada teman sebelahnya yang hanya dibalas dengan anggukan. Lalu, segera bergegas ke toilet.


Beberapa menit berlalu, setelah Maura bolak-balik ke toilet, entah ini yang sudah ke berapa kali. Keringat dingin mulai mengalir dari kening Maura. Maura benar-benar lemas sekarang, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada perutnya. Rasa mulas dan ingin buang air besar, terus saja menggerayani perutnya sampai ia benar-benar lelah harus masuk keluar toilet. Belum lagi, tatapan bingung yang ia dapatkan dari karyawan wanita lain yang menggunakan toilet juga.


Huhh, ada apa dengan perutku? Ochhh perutku sepertinya terserang Diare. Jika terus begini, aku tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaanku. Aku harus mencari obat Diare ke pantri kantor sekarang. Batin Maura lalu beranjak pergi.


...----------------...


Maura berjalan menyusuri lorong kantor menuju pantri dengan memegangi perutnya yang mulas. Ekspresi wajahnya juga tidak ketinggalan untuk menggambarkan rasa sakit yang kini dirasakan.


"Bibi Maria, apakah di sini ada obat Diare?" tanya Maura pada office gril yang bernama Maria yang sedang membuat kopi untuk semua karyawan.


"Ehhh, Mrs. Maura, iya Mrs. Saya akan ambilkan, tunggu sebentar," jawab Maria, kemudian mengambil kotak obat yang ada pada sebuah lemari. Lalu, memberikannya pada Maura. Maura menanggapinya dengan senyuman. Maura segera meminum obat diare itu sesuai dengan dosis yang tertera. Ia tidak ingin tersiksa dengan rasa sakit yang serasa diputar-putar.


"Apa Mrs. Maura baik-baik saja? Sepertinya, perut Mrs. sedikit terganggu, ya."


"Hmmm, iya Bi. Entah kenapa perut saya sangat sakit tadi, tapi sekarang sudah lebih baikan."Maura menyunggingkan senyumnya.


"Ini minumlah jahe hangat ini, perut Mrs. akan terasa jauh lebih baik." Maria menyodorkan segelas teh jahe.


"Terimakasih." Maura berterimakasih pada Maria. Lalu, menyeruput teh jahe yang masih panas sedikit demi sedikit. Ternyata benar apa yang di katakan Maria, perut Maura terasa jauh lebih baik setelah meminum teh jahe buatan tersebut.


TRING! (Telpon pantri berdering)


Mendengar ada panggilan telpon, Maria segera mengangkat telpon tersebut.


"Baik, Mr." Maria menutup telpon.


"Mrs. Maura bolehkah saya minta tolong padamu?" tanya Maria dengan nada tidak enak pada Maura.

__ADS_1


"Ya, tentu saja. Katakan apa yang bisa kubantu?" jawab Maura yakin. Ia ingin membalas bantuan Maria karena telah membuatkan teh jahe yang enak untuknya yang membuat perutnya sekarang terasa lebih baik.


"Direktur Bruce, memintaku untuk membeli makan siangnya, tapi aku juga harus mengantar kopi ini untuk CEO. Kau tahu sendiri kalau Direktur Bruce sedikit cepat marah jika perintahnya terlambat dilaksanakan. Jadi, bisakah Mrs. mengantarkan kopi ini untuk CEO?" jelas Maria dengan tatapan berharap Maura mau membantunya, sambil menunjuk kopi di atas meja.


Melihat tatapan Maria penuh harap mau Maura mengatakan iya. Maura merasa tidak enak jika menolak permintaan Maria yang sudah membantunya. Dengan senyum lebar ia menganggukkan kepalanya berarti dia mau membantu Maria untuk mengantarkan kopi untuk CEO.


"Baiklah, aku akan mengantarnya!" seru Maura. Lalu, mengambil nampan yang di atasnya telah siap secangkir kopi.


"Terimakasih Mrs. Maura," ujar Maria senang.


"Baiklah, jangan sungkan. Aku pergi dulu." Maura pergi dari pantri menuju ruang CEO yang berada di lantai 8.


...----------------...


Kini Maura telah sampai di depan ruang CEO. Yaitu, jantung dari perusahaan SUNRISE IT. Maura mengetuk pintu dengan perlahan. Sebelum masuk, ia merapikan penampilannya karena hari ini dia akan bertemu dengan bos besar. Jadi dia harus berpenampilan menarik.


Tok!


Tok! (Suara pintu di ketuk)


"Masuk," ujar Rojer dengan nada dingin, ia tetap fokus dengan berkas-berkas di depannya.


Maura pun masuk ke dalam ruangan CEO. Namun, mata Maura benar-benar membulat melihat pria yang sedang duduk fokus dengan berkasnya, adalah pria yang sama dengan pria yang dibuat babak belur satu minggu yang lalu.


Mendengar suara cangkir yang bergetar, Rojer mengalihkan pandangannya ke arah Maura yang sedang berdiri dekat pintu. Melihat pandangan Rojer yang menuju ke arahnya, Maura segera menundukkan kepala agar Rojer tidak langsung melihat wajahnya dan mengenali bahwa dialah wanita yang menghajarnya. Maura berharap saat ini Rojer tidak mengenalnya.


Aku harap dia tidak mengenaliku. Batin Maura.


Maura melangkah dengan perlahan, mendekati meja Rojer, dan meletakkan secangkir kopi di atas meja samping Rojer dengan gemetar.


Ada apa dengan wanita ini? Gemetar seperti itu. Batin Rojer dalam hati melihat tingkah Maura.


Prak!


"Astaga apa yang kamu lakukan?" Bentak Rojer pada Maura yang menumpahkan secangkir kopi hingga membasahi file-file penting miliknya. Rojer langsung mengangkat kertas-kertas file itu dan mengibas-ngibaskannya agar berkas file tersebut tidak rusak.


"Maaf, Mr. Maaf," ucap Maura sambil mencoba mengelap berkas-berkas yang terkena tumpahan kopi dengan tangannya.


Aaa! Apa yang kulakukan? Sekarang dia pasti akan memecatku. Hhhh, dasar bodoh. Batin Maura merutuki kecerobahannya sendiri.


"Aishhh, dasar tidak berguna. Ck, kamu bahkan tidak bisa melakukan pekerjaan dengan benar. Lihat, sekarang berkas tender jadi rusak gara-gara kamu!" bentak Rojer dengan kesal dan marah.


"Maaf, Mr. Saya tidak sengaja. Sekali lagi, maafkan saya."

__ADS_1


"Memang maafmu bisa mengembalikan berkas ini? Maafmu sama sekali tidak berguna. Kerugian atas kebodohanmu tidak akan bisa kamu ganti. Meski, kamu menjual tubuhmu atau hidupmu seumur hidup. Tidak akan bisa mengganti kerugian ini."


Mendengar apa yang dikatakan Rojer, sungguh melukai ego dan harga diri Maura. Rojer yang menyebut untuk menjual tubuhnya atau hidupnya seumur hidup tidak akan bisa mengganti kerugian. Sungguh, membuat Maura tersinggung dan emosinya mulai tersulut.


"Diam! Hentikan ocehanmu yang murahan itu!" bentak Maura dengan berteriak, membuat Rojer kaget dengan sikap Maura yang berani membentak dirinya sebagai CEO perusahaan ini. Rojer terdiam sejenak, ia syok melihat keberanian Maura membalas hinaannya.


"Kamu memang CEO di sini, tapi tidak seharusnya kamu menghina pegawaimu. Pangkatmu memang tinggi, tapi etika yang kamu miliki nol besar. Lihat, nol besar." Maura mengangkat tangannya yang membuat angka nol di depan mata Rojer.


Wanita liar, kenapa bisa HRD meluluskannya untuk bekerja di sini? Batin Rojer.


"Aku sudah meminta maafkan, tapi mulutmu sangat tajam. Lebih tajam daripada jarum jahit. Mulut sepertimu itu perlu diberi bubuk cabe biar kamu tahu rasa. Aku mungkin, hanya bawahan, tapi kamu tidak berhak menghinaku hanya karena masalah sepele seperti ini. Lihat, ini hanya kertas, hanya kertas. Aku bisa mengerjakannya untukmu sebagai pertanggung jawaban, tapi lihat dirimu yang arrogan dan---"


Ssssttt ( Suara endusan.)


Perkataan Maura terpotong karena Rojer yang mendekat, hingga jarak di antara mereka berkurang drastis. Rojer mengendus aroma dari tubuh Maura, membuat Maura bingung dengan tingkah Rojer yang berubah dan mengendus dirinya.


Ihhh, apa yang dia lakukan? Kenapa dia mengendusku?" Batin Maura menjauh dari Rojer. Namun, Rojer malah memegang lengannya erat membuat Maura tidak bisa berkutik.


"Aroma ini ...."


...----------------...


...****************...


🌸to be continud🌸


Plese dong kasi:


vote😭


like😭


coment😭


dan tambah ke rak favorit😭


biar author makin semangat.... kalo banyak yang koment thor janji akan up tiap hari deh😋


.... dan sorry buat kemaren karna ngak up soalnya lagi sibuk...


Tapi gantinya hari ini thor bakal up 2 eps.


dadah...🖐🖐🖐*

__ADS_1


__ADS_2