
...ILUSI TAKDIR 56...
"Jangan- jangan sentuh aku,,, menjauh lah dari ku Rojer. Aku tidak ingin di katakan sebagai wanita ranjang mu lagi... hiks.. hiks..." Maura menjauh dari rojer dengan pelan, dengan tangan meminta Rojer jangan mendekati nya.
"Apa yang kamu katakan...?? Perkataan mu sama sekali tidak lucu Maura..." Ujar Rojer mencoba menjelaskan Maura.
"Aku tidak sanggup melihat mu seperti ini... Aku tidak sanggup... Dengar,,, aku tidak tahan saat melihat mu terluka, aku tidak tahan saat darah mu mengalir tanpa izin ku, hati ku hancur seakan sedang di hujam dengan pedang berkali- kali. Aku tidak tahan melihat mu menangis seperti itu, air mata mu adalah sesuatu yang berharga untuk ku, yang tidak boleh jatuh karna orang lain. Aku tidak,,, tidak sanggup memandang mu dalam kondisi ini. Kamu mungkin merasakan sakit tapi rasa sakit itu jauh lebih menyiksa ku, karna aku merasa aku tidak bisa melindungi wanita yang ku cintai... Setiap tatapan sakit yang mata mu pancar kan... Aku merasa hancur sehancur- hancur nya. Aku tidak bisa menahan diri dan memandang mu terlalu lama, jika itu terjadi jantung ku akan sesak dan berat. Rasa bersalah ini membuat ku tidak bisa memandang mu... Iya aku tahu semuanya terjadi karna status ku yang menjadi suami orang. Ini juga salah ku karna aku tidak bisa menjaga mu. Tapi ketahui lah satu hal, dan camkan dalam otak mu. Jika aku tidak akan pernah mengatakan kamu adalah wanita yang sama seperti apa yang orang- orang itu katakan... Dan jangan harap aku menjauhi mu karna masalah ini. Aku akan segera membereskan hal ini, dan semua nya akan baik - baik saja." Jelas Rojer dengan dengan mata merah dan berkaca- kaca. Ia meluap kan emosi nya dan menenang kan Maura yang tengah terpuruk.
Maura lemas dan ambruk sekali lagi, tangis nya mengeras, ia mengeluar kan emosi nya. Emosi yang tengah menyayat hatinya.
Rojer langsung mendekat pada Maura dan memeluk Maura erat. Memberikan ketenangan pada Maura dan meredakan tangis wanitanya.
"Percayalah pada ku semua nya akan baik- baik saja..." Lirih Rojer mengecup pucuk kepala Maura.
Maura mengangguk perlahan dalam dekapan pelukan hangat Rojer. Hatinya terasa kembali hangat dengan perkataan Rojer. Tangisnya mulai mereda.
"Aku tidak ingin lagi rapuh... Aku harus kuat... Aku tidak boleh seperti ini... hiks.. Aku memepercayai mu Rojer... Aku mencintai mu." Batin Maura mengusap sisa - sisa air mata pada wajahnya.
Merasa Maura sudah cukup tenang, Rojer melepas pelukan nya dan memandang wajah Maura lekat. Wajah yang sudah berjam- jam menangis karna penghinaan masyarakat. Wajah yang sudah sembab dengan kesedihan yang mulai pudar.
"Tenang lah... ! Semuanya akan baik- baik saja... Tidak akan ada yang akan terjadi pada mu... Setelah kamu keluar dari kantor, semuanya akan seperti semula. Tidak ada masalah ini. Anggap lah ini sebagai mimpi buruk mu, dan di saat kamu terbangun semuanya akan sama seperti semula hmm.." Rojer tersenyum tulus, senyumnya terukir dengan sangat indah di wajah nya, membuat Maura merasa jauh lebih baik saat melihat senyum Rojer. Rojer menangkup wajah Maura dengan kedua tangannya dan mengusap lembut sisa - sisa air mata di sana, membersihkan nya dari air mata duka.
Rojer mengangguk ke pada Maura. Maura merespon dengan sebuah anggukan kepercayaan. Ia setuju dengan semua yang di katakan pria tampan di depan nya.
Rojer bangkit dan menuntun Maura untuk bangun dari lantai. Ia menuntun Maura untuk duduk di tepi ranjang tidur.
Ranjang tidur dengan ukuran over size dan dengan kedua sofa yang tertata rapi di ruangan pribadi milik Rojer. Ia biasa menginap di ruangan ini jika ia terlalu sibuk dan malas untuk pulang karna kehadiran Catlin di rumah keluarga Wang.
__ADS_1
Rojer mengambil totbage yang juga ikut terjatuh di lantai, dan meletakkannya perlahan di sisi kanan Maura.
"Sekarang, bersih kan diri mu... hmmm Hidung ku terasa tidak berfungsi lagi, karna mencium bau busuk dari tubuh mu..." Ujar Rojer dengan tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya. Mencoba mengejek Maura. Sementara tangannya tidak henti merapikan rambut Maura yang terjatuh ke wajahnya dan menyelipkan nya di belakang telinga.
"Cih... Dia masih bisa bercanda di saat kondisi seperti ini..." Batin Maura dengan menunduk dan tersenyum sekilas tanpa terlihat oleh Rojer.
Maura beranjak melangkah mengambil totbage di samping nya dan berjalan menuju kamar mandi. Tapi, saat beberapa langkah ia kembali berhenti dan sekali lagi memandang ke arah Rojer yang masih tersenyum padanya.
"Kenapa berbalik dan menatap ku seperti itu hmmm?? Apa kamu masih ingin di manja dengan kata super romantis dari ku..??" Rojer mengerjitkan alis nya ke atas.
Maura mengeleng cepat mendengar pertanyaan dari Rojer. Sementara bibirnya masih bungkam.
"Pergilah,,, mandi lah sebersih mungkin... kamu terlihat tambah jelek dengan kondisi seperti ini.." Ujar Rojer lagi.
"Kau... hhh" Timpal Maura dengan mengangkat tangannya ingin memukul Rojer, karna berani mengatainya. Ia lalu mendengus kesal dan berbalik menuju kamar Mandi.
"Terimakasih... Terimakasih Rojer... Aku mencintai mu.." Lirih Maura dengan mendekap erat cincin itu di dadanya.
Aliran air shower yang dingin dan menyegarkan mengguyur tubuh Maura.
"Assshhh" Maura meringgis saat air tersebut menyentuh kulitnya yang terluka dan lebam. Ia menahan sakit itu dan berusaha menikmati guruyan air.
...----------------...
Rojer masih duduk di pinggiran ranjang dengan tatapan yang marah dan tatapan mengandung dendam. Sementara dari dalam kamar mandi terdengar suara gemericik air shower.
Rojet menunduk dengan kedua tangan di satukan dan memegang erat satu sama lain.
__ADS_1
"Aku akan membalas air mata mu dengan setimpal Maura. Aku bersumpah... Tidak ada yang boleh untuk menyakiti mu saat kamu masih menjadi milik ku..." Lirih Rojer dengan gemeretak gigi - gigi nya.
Sejak tadi dia sudah menahan amarahnya, karna ia tidak ingin Maura melihat sisi keras dirinya.
Tok..Tok
Suara pintu kamar di ketuk. Rojer mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.
"Masuk" Ujar Rojer singkat.
Edent membuka pintu dengan perlahan. Ia membungkukkan badannua memberi hormat sebelum berbicara. Ia melihat cermin kaca yang telah pecah dan sebuah ponsel yang tergeletak begitu saja dengan layar yang retak. Namun ia tidak ingin tahu masalah ini dan tidak memperdulikan apa yang terjadi antara Rojer dan Maura. Ia yakin semuanya baik- baik saja.
"Tuan muda semuanya sudah kembali kondusif... Media sudah tidak lagi memberitakan berita tersebut, begitu pula dengan seluruh saluran televisi. Kami sudah menekan mereka semua untuk tidak menayangkan dan menghapusnya dari pemberitaan publik. Dan sesuai perintah anda, semua perusahaan baliho yang mengunggah foto tersebut sudah di tutup. Dan untuk semua karyawan kantor sudah di kumpulkan di aula utama." Ujar Edent menutup laporannya.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit!!
__ADS_1