
...ILUSI TAKDIR 81...
"Mama....!!!" Teriak Charlote dari luar.
"Iya sayang...!" Timpal Maura lalu keluar dari kamar.
"Ada apa?" Tanya Maura pada Charlote.
"Ma... Ada seseorang yang terus berdiri di depan rumah, sejak 2 jam yang lalu... "
"Benarkah??" Maura memastikan.
Charlote mengangguk mantap. Maura berjalan perlahan ke arah pintu, menyibak sedikit tirai jendela untuk melihat seseorang di luar. Ternyata benar apa yang di katakan oleh putranya. Ada seseorang yang tengah berdiri dengan memunggungi pintu di depannya. Rambutnya di ikat seperti ekor kuda. Sepertinya seorang perempuan.
"Siapa wanita itu, kenapa berdiri di depan rumah ku... Jangan- jangan dia... Astaga perampok..." Batin Maura dengan tangan menutup mulutnya yang terbuka.
Maura menghampiri Charlote dengan waspada. Langkahnya tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
"Sayang... Dengar kamu jangan khawatir, sepertinya orang itu adalah perampok..." Bisik Maura dengan suara yang hanya bisa di dengar oleh Charlote.
Mulut Charlote langsung terbuka. Ia kaget mendengar penuturan Maura. Jika di depan pintu ada seorang perampok yang akan merampok rumahnya.
"Benarkah ma??... Tapi kenapa perampoknya datang sekarang... Setidaknya dia bisa datang nanti malam kan..." Ujar Charlote memasang wajah polos.
Maura hampir tertawa terbahak- bahak mendengar pertanyaan yang menggelitik perutnya. Namun ia segera menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara, dan meletakkan jari telunjuk di depan bibir. Mengisyaratkan Charlote untuk tetap diam.
Charlote merasa sedikit gugup. Ada rasa takut yang menghampiri hatinya. Ia mungkin pernah berada pada situasi yang lebih menegangkan dari pada ini saat di serang bersama ayahnya. Tapi tetap saja naluri anak di usianya tidak bisa di hindari. Meski ia tahu Maura selalu bisa melindunginya dari segala bentuk bahaya.
Maura berjalan berjinjit ke arah pintu. Dengan tangan memegang teplon dapur yang mengambang di udara. Charlote berdiri dengan membeku di tempat semula, karna sebelumnya Maura memintanya untuk diam di tempat tanpa mengeluarkan suara.
Maura memutar knop pintu dengan sangat pelan, hingga tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Sepertinya ia benar- benar prefesional dalam soal mengendap- ngendap.
Tubuh wanita di depannya yang masih memunggunginya semakin besar terlihat di pupil matanya. Maura semakin bergerak mendekat ke arah wanita di depannya. Tangannya yang memegang teplon dapur mengenggam alat yang akan di jadikan senjata untuk menyerang musuh di depannya itu. Dada Maura turun naik menghembuskan nafasnya sepelan mungkin. Ia merasa sangat gugup mewanti- wanti jika wanita di depannya malah menyerangnya balik.
__ADS_1
"Tenang lah Mau... Kamu bisa menaklukkan perampok wanita di depan mu... Mari mulai beraksi..." Batin Maura dengan menghela nafasnya panjang.
Dengan sekali tarikan, tangan Maura menghambur ke udara siap mengenai sosok wanita di depannya.
Trang....
Suara nyaring teplon dapur yang mengenlinding dan berguling- guling di lantai memekakkan telinga.
Charlote terkesiap mendengar suara dari luar. Darahnya seakan berhenti sejenak. Suara teplon jatuh yang tadi di bawa Maura sebagai senjata terdengar mengelinding di lantai.
"Mama.... Apa yang terjadi dengan mu ma...? Apa mama kalah bertarung dengan perampok itu...?" Tanya Charlote membatin dengan tatapan cemas.
"Aghhh..." Ringgis Maura, saat tubuhnya berhasil di kunci oleh wanita yang akan di serangnya. Tanganya terasa sakit karna terpelintir dan di tekuk ke belakang badannya.
"Nyonya..."Ujar wanita tersebut terbelalak. Ketika menyadari siapa pemilik tubuh yang sedang ia kunci. Ia segera melepas tubuh Maura. Dan langsung berlutut dengan tatapan bersalah.
"Nyonya... Maafkan saya... Anda bisa menghukum saya. Atau membunuh saya. Saya sudah lancang dengan menyakiti anda.." Lanjutnya lagi dengan badan yang hampir bersujud di hadapan Maura.
Wajah Maura berubah terkejut. Sementara tanganya memegang tanganya yang sakit karna terpelintir.
"Saya sudah gagal menjalankan tugas... Hukum saya Nyonya..." Ucap wanita itu lagi dengan menunduk serendah- rendahnya.
"Tugas??... Kamu ini siapa? Kenapa ada di rumah ku.?" Tanya Maura tanpa terkejutan dari wajahnya berkurang.
"Saya Freya nyonya. Pengawal pribadi anda. Setiap langkah dan aktivitas anda. Saya akan selalu bersama anda. Melindungi dan menjaga anda dari setiap bahaya..."
"Pengawal??... Lelucon macam apa ini... Aku tidak membutuhkan pengawal.. Kamu bisa pergi dari sini.." Ujar Maura hendak berlalu. Namun terhenti kembali dengan ucapan Freya.
"Nyonya... Maaf saya adalah pengawal yang di kirim oleh Tuan muda Rojer untuk selalu berada di sisi anda dan menjaga anda."
Tangan Maura mengepal erat sampai buku- buku tangannya memutih. Ia tidak habis pikir pria arogant itu kembali membuatnya kesal dengan mengirim pengawal pribadi untuk dirinya. Rasanya ia ingin menenggelamkan pria itu ke dasar laut hingga tidak bisa menyembul di permukaan lagi.
"Sudah aku katakan aku tidak membutuhkan pengawal... Silahkan kembali pada tuan mu..." Timpal Maura dengan kesal dan sinis. Ia tidak habis pikir dengan pria yang sudah memporak- porandakan hatinya. Ia melangkah kembali.
__ADS_1
"Jika saya tidak di butuhkan lagi. Sepertinya saya harus menghilang dari bumi ini. Karna tidak berhasil menjalankan tugas..." Ujar Freya lagi dengan lantang. Ia mengeluarkan pisau kecil dari sakunya dan siap menancapkannya di dada bagian kiri, menembus jantungnya dan merenggut nyawanya.
"Tidak....!!!" Teriak Maura histeris ketika melihat Freya di depannya itu hendak mengayunkan pisau ke arah jantungnya.
Maura merampas pisau dari tangan Freya dan melemparnya ke sembarang arah.
"Apa kamu bodoh, kenapa ingin melenyapkan diri sendiri...?" Teriak Maura.
"Terimalah saya menjadi pengawal anda Nyonya..." Jawab Freya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Maura mengusap kepalanya kasar. Beban apa yang sudah di berikan pria itu padanya. Rasanya kepalanya akan meledak sekarang. Ia baru saja melihat seseorang yang akan melenyapkan diri karna dirinya tidak menerimanya sebagai pengawal. Sungguh pemikiran yang rumit.
"Baiklah..." Ujar Maura frustasi menyetujui permintaan Freya.
"Terimakasih Nyonya..." Freya bangkit dari duduknya dan membungkuk berterimakasih. Misinya yang paling penting sekarang adalah melindungi majikan barunya dan menjauhkannya dari pria genit seperti Steve, seperti yang di perintahkan tuan nya sebelum kemari.
...----------------...
Hari menjelang gelap, sang surya sudah kembali bersembunyi di balik peraduannya.
Maura mematut dirinya di depan cermin. Pantulan dirinya memakai gaun biru langit yang tadi di kirim. Seringai bahagia melihat kecantikan dirinya di cermin, memberikan kepuasaan dalam hati Maura. Ia memoles wajahnya dengan make up ala kadarnya. Lebih terkesan natural, yang semakin memancarkan kecantikan alami dari dirinya.
Tin...Tin...
Bunyi nyaring klakson mobil terdengar dari luar. Mobil Steve sudah terparkir di luar halaman. Menjemput Maura dan menuju pesta mewah yang di adakan keluarga Shang.
...----------------...
...****************...
Like
komen
__ADS_1
tips
Tambah ke rak favorit