
...ILUSI TAKDIR 92...
Freya masuk ke dalam kamar Maura membawa satu set gaun hitam dengan aksen kelap kerlip.
"Nyonya, ini gaun anda.. Saya akan membantu anda untuk bersiap.." Ujar Freya, sambil menatap penampilan Maura yang berantakan. Seperti baru saja di serang oleh hewan liar.
Maura menghela nafas, mencoba mengontrol emosinya. Ia mengambil gaun yang di bawa Freya. Ia sudah lelah untuk berdebat dengan pria arrogant seperti Rojer. Yang pada akhirnya dirinya lah yang akan menjadi pihak yang kalah.
...----------------...
Sebuah mobil limision silver, memasuki pelataran mansion Rojer. Mansion yang terlihat terang dengan deretan lampu yang berjejer rapi.
Ny. Anindita keluar dari mobil, dengan seorang asisten wanita yang selalu bersamanya.
"Selamat datang Nyonya besar..!" Ujar Mr. Kong membungkukkan badannya memberi hormat, saat Ny. Anindita masuk ke dalam mansion.
Ny. Anindita mengedarkan pandangannya. Desain dan suasana mansion sepertinya sudah berubah, sangat berbeda dari terakhir ia berkunjung ke tempat ini.
Ny. Anindita, menatap lantai dua pada salah satu kamar. Mencari sosok yang menjadi alasan dirinya datang. Namun sepertinya, tidak ada tanda- tanda kehidupan di ruangan itu.
"Di mana tuan muda..?" Tanya Ny. Anindita, lalu duduk di sofa.
"Maaf Nyonya... Saat ini Tuan muda tidak ada di sini. Tuan muda sedang melakukan perjalanan ke luar kota Nyonya." Jawab Mr. Kong dengan wajah tertunduk.
"Hhh..." Ny. Anindita mendengus pelan, mendengar jawaban dari Mr. Kong. Sepertinya, dirinya datang di waktu yang salah.
"Kapan dia akan kembali?" Tanya Ny. Anindita lagi.
"Mungkin 2 hari lagi nyonya..."
"Katakan... Mr. Kong, apa tuan muda pernah membawa seorang wanita bernama Maura.?" Ny. Anindita memasang wajah tidak suka, ketika bibirnya menyebut nama Maura. Pandangannya menatap Mr. Kong menyelidik, mengamati setiap gestur pria paruh baya di depannya itu.
Mr. Kong menelan salivanya paksa. Memaksa dirinya untuk bersikap biasa- biasa saja. Mencoba menutupi kegugupannya sebaik mungkin, agar majikan di depannya tidak merasa curiga. Rojer sudah berpesan kepada dirinya, jika tidak ada yang boleh tahu jika Maura dan Charlote pernah datang ke mansion ini. Bukan dirinya saja, seluruh pelayan juga menutup rapat bibirnya menyangkut masalah ini.
"Kenapa diam Mr. Kong... Apa kamu tahu siapa wanita itu?" Tanya Ny. Anindita menyelidik, melihat sikap Mr. Kong yang hanya berdiri diam dengan kepala menunduk hormat.
"Bukan seperti itu Nyonya... Saya tidak tahu siapa wanita yang Nyonya besar maksud. Tuan muda tidak pernah menyebutnya di hadapan saya. Tuan muda juga tidak pernah membawa perempuan atau wanita untuk datang bersamanya ke mansion ini..." Jawab Mr. Kong dengan setenang mungkin.
"Apa perkataan mu jujur Mr. Kong... Kamu jangan berani- berani menghianati ku... Suami ku sudah sangat berjasa, untuk memperkejakan mu selama bertahun- tahun di sini."
__ADS_1
"Saya berkata jujur Nyonya besar... Jika anda masih tidak percaya dengan ucapan saya. Anda boleh mengajukan pertanyaan yang sama pada pelayan lainnya. Dan untuk jasa Tuan besar. Saya tidak akan melupakannya. Saya sudah berjanji kepada beliau untuk selalu menjaga Tuan muda..."
Ny. Anindita melirik ke arah dua orang pelayan yang sedang berdiri tidak jauh dari Mr. Kong dengan wajah tertunduk. Sepertinya apa yang di ucapkan Mr. Kong bukanlah kebohongan. Pria paruh baya di depannya tidak akan berani untuk membohonginya. Rasanya dada Ny. Anindita terasa lebih longgar, saat mengetahui jawaban dari Mr. Kong. Setidaknya Rojer tidak sampai membawa pulang wanita murahan itu.
Ny. Anindita bangkit dari duduknya, dan melangkah pergi di ikuti oleh asistennya, yang selalu mengekor kemana pun dirinya pergi.
Mr. Kong, menghela nafasnya panjang. Untung saja majikan wanitanya itu percaya dengan apa yang ia ucapkan tadi. Mr. Kong, meregangkan jari- jarinya, untuk merilekskan otot- ototnya yang ikut menegang.
...----------------...
Rojer dan Maura berjalan bersamaan dengan tangan Maura mengandeng lengan tangan Rojer. Sementara Charlote berjalan di depan mereka, menggunakan tuxedo berwarna hitam selaras dengan pakaian yang di kenakan dua orang di belakangnya. Wajahnya yang sebagian di tutupi dengan topeng memancarkan sinar kebahagian. Setiap tahun, setiap kali menghadiri acara ini, dirinya selalu memakai topeng karna ibunya Maura tidak ingin sampai jika identitas dirinya sampai di ketahui oleh siapa pun.
Mereka memasuki ruangan yang begitu besar dan megah. Di dalamnya sudah berjejer rapi meja makan dengan santapan yang terlihat begitu lezat.
Beberapa orang yang tak lain adalah para heacker yang sudah datang berlalu lalang di dalam ruangan, ada yang mengobrol satu sama lain, dan ada pula yang hanya duduk memandangi ponsel pintarnya.
Maura begitu kagum dengan interior ballroom. Tanpa sengaja kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah lengkungan yang begitu memikat.
Rojer yang tanpa sengaja menangkap pemandangan indah dari wanita yang di gandengnya, membuatnya jantungnya berdegup lebih cepat. Seakan genderang perang sedang bertabuh di dalam dadanya.
Deg...
Deg...
Deg...
"Kenapa menatap ku seperti itu? Apa sekarang aku terlihat sangat jelek di mata mu... Hingga kamu malu untuk memalingkan tatapan mata mu dari wajah ku..." Ujar Maura dengan ketus, saat menyadari jika Rojer terus memandanginya dengan intens. Tentu saja hal itu membuat dirinya merasa tidak nyaman.
"Ayolah, bisakah kamu tidak berpikiran buruk tentang ku...? Aku menatap mu karna sungguh kamu terlihat sangat cantik malam ini. Aku harap kilau mu ini tidak menarik pria lain. Jika tidak..--"
"Jika tidak apa?.. Kamu akan menarik ku ke dalam kamar dan menghancurkan dandanan ku lagi?. Jika kamu melakukan itu, aku pastikan aku akan menghabiskan waktu dengan pria lain..." Potong Maura, sambil tersenyum ke sembarang arah. Sementara tangannya terus menekan lengan tangan Rojer kesal.
"Aku peringatkan kepadamu jangan coba- coba melakukan itu. Jika kamu melakukan itu, aku pastikan tubuh kecil mu ini akan hancur di atas ranjang..." Timpal Rojer enteng dengan memasang wajah licik. Sementara mereka terus berjalan, menuju meja makan yang sudah di siapkan.
"Uhuk..." Maura langsung tersedak dengan air liurnya sendiri saat mendengar ancaman Rojer yang begitu nyata di telinga.
"Kenapa kamu takut?" Tanya Rojer dengan seringai mengolok dan penuh nada kemenangan.
__ADS_1
"Cih,, dasar pria mesum, tidak punya otak..." Maki Maura dengan menginjak kaki Rojer dengan cukup keras.
"Au..." Pekik Maura lagi, saat tubuhnya terhuyung ke depan. Dengan sigap lengan kekar Rojer menarik Maura untuk berdiri kembali dengan benar.
Maura sengaja menginjak kaki Rojer agar pria menyebalkan di sampingnya itu jatuh ke lantai. Tapi sayangnya sepertinya takdir tidak memuluskan rencanya. Bahkan tubuh Rojer sama sekali tidak bergeming atau bergerak karna injakan kecil Maura yang terasa seperti semut.
"Dasar wanita bodoh...!!" Lirih Rojer dengan tersenyum puas, menanggapi sifat childish Maura yang terlihat sangat menggemaskan baginya.
"Bisakah kalian berhenti bertengkar seperti kucing dan tikus.?" Charlote berbalik kearah dua orang dewasa yang ada di belakangnya. Dirinya merasa terganggu dengan keributan Maura dan Rojer yang tak kunjung berhenti sejak sampai dari bandara sampai menghadiri jamuan makan malam ini.
"Maaf kan papa sayang... Mama mu ini tidak bisa diam sejak tadi... Ia terus mengganggu papa..." Timpal Rojer membela dirinya, yang mendapat cibiran kekesalan dari Maura.
"Hey,,, tuan CEO yang terhormat, jangan coba- coba berganti profesi menjadi tukang fitnah. Bukankah kamu yang selalu menganggu ku... Kamu terus saja melakukan sesuatu yang membuat ku kesal..." Ujar Maura dengan ketus, dan menarik tangannya kasar dari lengan Rojer, lalu bersedekap di depan dada.
"Astaga... Kalian ini..." Charlote menghela nafasnya. Sembari memukul jidatnya sendiri. Dirinya tidak habis pikir dengan dua orang dewasa di depannya yang selalu bertengkar di mana pun mereka bertemu. Apa mereka berdua tidak bisa menghargai acara yang penting ini untuk dirinya. Sungguh sangat menyebalkan jika harus terus melihat pertengkaran dan perdebatan mereka yang tidak bermutu sama sekali.
"Diamlah, dan dengar baik- baik... Mama tersayang, dan papa yang tampan. Bisakah kalian mengabulkan satu permintaan ku... Aku mohon, kali ini jangan bertengkar untuk kali ini saja...! Apa kalian tidak lelah dengan berdebat seperti ini terus. Hargailah acara ini dan berhenti bertengkar okey...?" Ujar Charlote lagi menjelaskan dengan panjang lebar pada Maura dan Rojer, yang tengah sibuk beradu argument.
"TIDAK....!!!" Jawab Maura dan Rojer bersamaan dengan menatap Charlote dengan melotot.
"Jika seperti itu, bersandiwaralah menjadi sepasang suami istri yang harmonis untuk dua hari ke depan, sampai acara ini selesai... Mengerti... Aku tidak ingin mendengar bantahan atau penolakan..." Charlote, menegaskan kata- katanya seperti sebuah perintah yang wajib untuk di patuhi. Tidak ada alasan untuk menolak atau membantah, yang ada hanya kesanggupan. Bahkan saat mengatakan hal itu pada Maura dan Rojer, Charlote memasang wajah serius dan penekanan di akhir kalimatnya.
Charlote berjalan meninggalkan Maura dan Rojer dan duduk di sebuah meja makan dengan nametage MR. X.
"Setidaknya untuk dua hari ke depan. Setelah ini aku akan terbebas dari pria mesum dan arrogant ini... " Lirih Maura, lalu kembali meraih lengan Rojer dan mengandengnya mesra. Setidaknya ia tidak bisa menghancurkan kebaikan Charlote, hanya karna ego nya yang terlalu besar.
Rojer tersenyum tipis. Tangan kanannya memegang tangan Maura yang melingkar di lengan kirinya. Yang membuat Maura sedikit menepis tangan Rojer untuk tidak menyentuh tangannya. Tapi sayang, Rojer semakin membuat Maura kesal dengan mengenggam tangannya erat. Melakukan hal yang membuat Maura merasa kesal. Sembari tersenyum pada beberapa orang yang datang untuk menyapa mereka.
Acara jamuan makan malam untuk pertemuan besar para heacker berjalan dengan lancar. Semua tamu menikmati hidangan yang di sajikan dengan senang. Para heacker begitu antusias saat mengetahui jika besok pada acara inti yang akan di selenggarakan, juga akan mengumumkan siapa heacker yang berhak untuk menduduki posisi sebagai KING OF HEACKER IN THE WORLD selanjutnya. Semua heacker seluruh dunia tentu menginginkan dan berharap bisa menjajal kedudukan itu, sebagai sebuah keberhasilan dan kesuksesan untuk semua kerja keras mereka dalam bidang itu.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
__ADS_1
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit