Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
93


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 93...


Catlin memandang dirinya di depan cermin kamar mandi. Ia memegang rahangnya, yang masih terasa sedikit sakit, tapi tidak sesakit seperti biasa. Catlin mencoba mengulas senyum,tapi segera ia urungkan. Ketika rasa nyeri terasa saat rahangnya bergerak. Jangankan untuk tersenyum, bahkan berbicara pun, Catlin harus sangat berhati- hati.


"Ck... Rasanya sakit sekali,,, wanita brengsek itu menggunakan tenaga yang keras, sampai rahang ku bergeser... Lihat saja, aku akan membuat perhitungan dengan mu.." Batin Catlin memegang pikiran wastafel dengan erat, sampai buku- buku tangannya memutih. Matanya menyiratkan dendam yang membara, mengekspresikan kemarahan yang ingin segera di luapkan.


Tok...


Tok...


Tok...


"Sayang... Apa kamu sudah selesai?" Panggil Gery, sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Catlin memejamkan matanya sekilas, lalu mengambil handuk di samping wastafel dan mengusap wajahnya yang basah.


Catlin membuka pintu, ia mendapati Gery sudah berdiri di depan pintu, dengan ekspresi mengawasi.


"Apa...?? Kamu pikir aku akan bunuh diri di dalam hhh???" Ujar Catlin masih dengan suara yang samar, dengan sedikit ketus, lalu menutup pintu kamar mandi. Catlin melengos melewati Gery yang masih berdiri di depan pintu.


"Bukan begitu, aku hanya mengkhawatirkan mu... Kamu tahu kan aku tidak bisa hidup tanpa mu..." Bisik Gery di telinga Catlin, dan melingkarkan tangannya di pinggang Catlin.


"Aku ingin pulang, ruangan kecil ini sudah sangat membuat ku tersiksa..." Catlin melepaskan tangan Gery dari pinggangnya dan mengambil tasnya di atas meja nakas. Dan berlalu keluar dari kamar.


Gery menghela nafasnya dalam. Tangannya memijat pelipisnya yang sedikit terasa pusing.


"Sampai kapan, kamu akan menutup mata mu... Untuk tidak melihat besarnya cinta ku pada mu... Apa cinta ku tidak cukup untuk membuat mu melihat kenyataan dan kebenaran Catlin..." Gumam Gery pada dirinya sendiri. Ia mengambil tas besar yang berisi pakaian Catlin selama di rumah sakit, lalu melangkah keluar menyusul Catlin yang sudah terlebih dahulu mendahuluinya.


...----------------...


Hari yang di tunggu- tunggu oleh Charlote akhirnya tiba. Hari di mana acara inti pertemuan seluruh heacker di seluruh dunia berkumpul di tempat ini.


Acara yang di selenggarakan begitu megah dan mewah. Sungguh acara yang benar- benar besar. Ada jutaan orang dengan profesi yang sama. Saling bersaing menciptakan teknologi besar tanpa banding.



Beberapa orang berpakaian seragam terlihat sedang mondar mandir pada sudut- sudut ruangan. Seolah sedang berjaga- jaga.


Seperti biasa, Charlote tampil memukau dengan setelan mewah membalut tubuh mungilnya. Sedangkan wajahnya sudah tertupi dengan topeng yang selalu menjadi ciri khasnya.


" Senang bertemu dengan mu MR. X..." Sapa seorang lelaki pada Charlote, sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Dengan tersenyum tipis Charlote menyambut uluran pria di depannya itu dengan hangat.


"Senang juga bertemu dengan anda..." Timpal Charlote dengan tersenyum dingin, dan tatapan yang mengidintiminasi.


"Sepeti tahun- tahun sebelumnya, anda selalu memakai topeng menghadiri acara besar seperti ini. Apa anda tidak ingin memberi tahu semua orang siapa anda sebenarnya...?"


"Maaf, menyela percakapan kalian... Tapi identitas Mr. X sangat rahasia Tuan... Harap anda mengerti dan memaklumi nya..." Ujar Maura yang tiba- tiba berdiri di belakang Charlote, dan menyela perbincangan mereka.

__ADS_1


"Senang bertemu dengan mu manager Maura..." Sapa pria di depannya, dengan mengoyangkan minuman di tangannya.


"Senang juga bertemu dengan mu Tuan Gillsy... Aku harap tahun ini, kamu tidak akan lagi membuat drama dalam acara ini..." Sindir Maura halus, yang berhasil membuat wajah Tuan Gillsy menjadi masam.


Charlote, terkekeh sekilas melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh pria di depannya, karna tesindir oleh perkataan ibunya.


"He... he... Sambutan yang sangat hangat manager Maura. Tapi sangat di sayangkan jika seseorang yang berbakat, di sembunyikan seperti sesuatu, yang tidak pantas untuk di perlihatkan.. Bukankah sangat di sayangkan... Apa ya umpanya,,, Kalau tidak salah seperti... Tidak ada yang menghormati bakat yang tersembunyi... He...he..." Tuan Gillsy terkekeh mengolok, membalas setiap sindiran Maura dengan hinaan yang terdengar halus, tapi berhasil menusuk ke dalam jantung lawan bicaranya.


Rojer datang dari arah belakang Maura dan mendekap bahu Maura manja. Dengan memasang wajah dingin dengan sorot mata tajam yang membuat pria di hadapannya, menjadi ciut dan sedikit salah tingkah.


"Maaf menyela Tuan Gillsy... Bakat yang tersembunyi biasanya akan membuat sebuah perubahan yang sangat besar, dan akan membuat semua orang akan terkejut. Hal itu tidak akan terjadi, jika bakat di umbar. Yang ada hanya rasa biasa saja dan tidak mendapat sesuatu yang sangat istimewa. Bukan kah begitu??... Dan untuk bakat yang tersembunyi, tidak berarti untuk selalu di sembunyikan. Hanya butuh waktu yang tepat untuk mengungkapnya. Jadi untuk sekarang, anggap saja bakat tersebut membutuhkan waktu yang tepat untuk bersinar..." Ujar Rojer dengan panjang lebar. Yang berhasil membuat Tuan Gillsy mati kutu.


Tidk ingin mencari masalah yang lebih besar, pada orang yang tidak boleh untuk di singgung. Tuan Gillsy memutuskan untuk pergi, dari pada berurusan dengan orang terpandang dan berpengaruh seperti Rojer.


"Wow... Pa.. Papa membuat Tuan Gillsy tidak bisa bicara..." Charlote memberikan dua jempol pada Rojer sebagai apresiasi.


"Begitu saja sudah besar kepala..." Cibir Maura, dengan menggerakkan bibirnya kesal.


"Charlote, mari kita ke sana, sepertinya pengumumannya sudah di mulai..." Ujar Maura lagi, lalu mengandeng Charlote meninggalkan Rojer sendiri.


Rojer menyugar rambutnya. dengan tangan yang lainnya berkacak pinggang. Memperhatikan punggung Maura dan Charlote yang semakin menjauh.


Acara inti yang di tunggu- tunggu oleh semua para heacker akhirnya di mulai. Pengumuman untuk menjadi King of heacker in the word tengah di mulai. Suasanya menjadi menegangkan. Semua orang yang hadir di acara ini, menginginkan nama mereka untuk di sebut dan di nobatkan menjadi king of heaker.


Sementara Charlote hanya duduk santai menikmati acara yang sedang berlansung di depannya. Tidak ada ketegangan atau kegugipan yang tersirat pada wajahnya. Dirinya pun tidak terlalu menginginkan penghargaan itu. Toh baginya semuanya terlihat biasa- biasa saja. Tidak ada yang istimewa dari gelar yang di dambakan seluruh heacker.


Tren....


Treng...


Treng...


"Para hadirin yang terhormat. Para heacker berbakat dari seluruh dunia yang telah hadir dalam acara besar ini. Saya mengucapkan terimakasih dengan hormat..." Mc memberi sambutan hormat, yang semakin membuat wajah- wajah tersebut menjadi lebih gugup dan tidak sabar ingin mendengar nama siapa yang akan di sebut Mc, untuk mendapatkan gelar tersebut.


"Seperti tahun- tahun sebelumnya, begitu pula dengan tahun ini. Jika King of heacker in the word akan memilih satu di antara jutaan para heacker yang hadir di sini, untuk menjadi tuannya.... Dan untuk tahun ini, gelar dan penghargaan ini akan jatuh pada.....----" Suara Mc tersebut mengambang, melihat ekspresi para tamu yang hadir yang begitu berharap MC di datas panggung menyebutkan nama mereka.


Deg...


Deg...


Deg...


Alunan musik seperti degupan jantung, seakan mewakili setiap degupan jantung semu orang yang hadir dalam ruangan itu. Menambah suasana tegang dan gugup pada setiap sosok yang menyaksikan pengumuman di atas panggung.


"GELAR DAN PENGHARGAAN SEBAGAI KING OF HEACKER IN THE WORD JATUH KE PADA MR. X....!" Teriak Mc dengan begitu antusia, di lanjutkan dengan tepuk tangan meriah dari semua tamu yang bergema dan bersahutan- sahutan di dalam ruangan yang megah tersebut.


Prok...


Prok...

__ADS_1


Prok...


"Woaahhhhh.... Sayang... Kamu terpilih....!!!!"


"You are the best son...!!!"


Teriak Maura dan Rojer bersamaan. meluapkan rasa bangga dan senang yang sedang meluap- luap di dalam dada mereka. Bahkan saking senangnya, Maura sampai melompat dan berjingkrak senang.


Tanpa sadar Rojer dan Maura berpelukan erat karna saking bahagianya. Putra kecil mereka berhasil menyabet gelar besar.


Sementara Charlote hanya mencebik biasa. Melihat Maura dan Rojer yang begitu bahagia saat namanya di sebut. Ini bukan kali pertamanya dirinya mendapat penghargaan atau gelar besar seperti itu. Jadi baginya ini adalah hal yang biasa. Tapi setidaknya ia merasa senang karna Maura dan Rojer terlihat begitu bahagia satu sama lain tanpa beban apa pun...


Maura langsung mendorong tubuh Rojer, menjauh dari tubuhnya. Ketika dirinya sadar bahwa dia memeluk Rojer dengan sangat bersemangat.


Rojer membuka tangannya dan mengendikkan bahunya. Seolah bertanya ada apa.


"Kamu jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan ya,,, memeluk ku seenaknya seperti itu... Cih menjijikkan..." Cibir Maura dengan kesal.


"Hei nona yang terhormat, bukankah tadi kamu yang lebih dulu memeluk ku dengan sangat bersemangat, bahkan kamu ingin mencium ku tadi saking senangnya dirimu..." Timpal Rojer membela diri.


"Setidaknya kamu bisa menolak ku kan... Untuk apa membalas pelukan ku... Dasar buaya..."


"Aku ini pria normal. Untuk apa menolak rizki yang datang... " Rojer terkekeh geli, melihat wajah Maura yang merah merona seperti buah cerry.


"Dasar pria mesum... Jangan coba- coba melakukannya lagi, jika kamu tidak ingin junior kecil mu itu tidak bisa berdiri lagi..." Maura menunjuk ke bawah tepat di area ************ Rojer. Ia menekankan kata- katanya sebagai sebuah ancaman yang berhasi membuat Rojer menelan salivanya paksa.


"Dasar wanita kasar.." Batin Rojer, memandangi Maura tanpa berkedip.


" Silahkan untuk MR. X di persilahkan untuk naik ke panggung ..!" Seru Mc lagi, memanggil dan mempersilahkan Charlote.


Charlote bangkit dari duduknya dengan mengukir senyum yang lebih terkesan mengintiminasi. Ia merapikan tuxedo yang ia pakai, serta memeriksa topengnya sekilas. Memastikan jika semuanya sudah sesuai.


Maura menghampiri Charlote dengan raut wajah bangga.


"Sayang,,, sekali lagi kamu membuat mama sangat bangga... Tetaplah jadi yang terbaik sayang..." Maura mengecup pipi Charlote dalam, mengekspresikan apa yang di rasakannya.


"Thank you Mom... Semua ini berkat diri mu..." Timpal Charlote dan mencium pipi Maura lembut, lalu berjalan naik ke atas panggung.


Seluruh pasang mata kini tertuju pada Charlite. Lampu sorot menyinari setiap langkah Charlote yang berjalan ke arah panggung.


Mata- mata kecewa dari para heacker yang lain memandang Charlote dengan penuh kagum. Berharap Mc meralat kembali ucapannya dan memanggil nama mereka.


Gemuruh tepuk tangan terus terdengar tanpa henti, menemani langkah kecil kaku Charlote yang terus berjalan dengan gaya angkuh dan dingin. Yang menjadi dasar sifat anak laki- laki yang sudah berhasil menyabet gelar king of heacker in the word.


Prok...


Prok...


Prok...

__ADS_1


...----------------...


...****************...


__ADS_2