Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
82


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 82...


Tin...Tin...


Bunyi nyaring klakson mobil terdengar dari luar. Mobil Steve sudah terparkir di luar halaman. Menjemput Maura dan menuju pesta mewah yang di adakan keluarga Shang.


Maura keluar dengan Freya berjalan mengekor di belakangnya. Steve bersandar di mobilnya dengan tangan bersedap di dada. Matanya terus memandang wanita yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. Sungguh kecantikan yang alami. Tubuh seksi yang di balut dengan gaun yang indah. Pemandangan yang benar- benar indah. Mata Steve tidak bisa berkedip memandangi Maura yang terlihat sangat cantik malam ini. Persis seperti seorang dewi yang turun dari langit.


"Jaga pandangan mu Tuan. Atau terpaksa aku harus mencongkel mata mu keluar jika terus memandangi Nyonya seperti itu..." Freya menghalangi pandangan Steve dengan tubuhnya. Ia menekankan setiap kata- katanya pada Steve yang terpana dengan kecantikan Maura.


Steve terkesiap dengan suara dingin penuh dengan ancaman.


"Freya tutup mulut mu... Dia adalah teman ku..." Ujar Maura dengan sinis. Steve menyeringgai mendengar pembelaan Maura atas dirinya.


"Maaf nyonya,,, tapi sudah tugas saya untuk menjauhkan pria genit seperti dia dari dekat nyonya. Ini adalah perintah utama dari Tuan muda..."


"Mau siapa wanita ini?" Tanya Steve dengan mengerjitkan alisnya pada Maura.


"Dia..--"


"Saya pengawal pribadi Nyonya.. Harap tuan menjaga jarak dari Nyonya.." Potong Freya sebelum Maura menjawab pertanyaan Steve.


Steve menekuk bibirnya dalam. Ia sungguh kesal dengan kehadiran Freya. Bertemu dengan gadis dingin dan menyebalkan sungguh membuat hatinya mendidih. Steve berusaha mengulas senyum.


"Mau.. Kamu terlihat begitu cantik malam ini. Aku beruntung bisa di dampingi oleh wanita secantik diri mu..." Puji Steve dengan membuat nada suaranya selembut mungkin.


Freya memutar bola matanya kesal. Pria di depannya itu benar- benar tidak tahu malu. Ia sudah mengatakan kata- kata yang pahit. Tapi tetap saja pria di depannya ini menggoda kekasih tuannya.

__ADS_1


"Ehh... Iya terimakasih Steve.. Bisa kita berangkat sekarang...?" Rona wajah Maura memerah, mendengar pujian Steve. Ia buru- buru mengajak Steve untuk segera pergi, sebelum Freya kembali menyela percakapan mereka. Bagi Maura Freya benar- benar menjengkelkan persis seperti Rojer.


"Tentu... Silahkan..." Steve membuka pintu depan mobil dan merentangkan tangan mempersilahkan Maura untuk masuk dan duduk di sampingnya. Sebelum Maura sempat beranjak melangkahkan kakinya. Freya sudah terlebih dulu menjegal tangan Steve dari gagang pintu mobil dan menutupnya kembali.


"Nyonya, akan duduk di kursi penumpang bersama saya... Silahkan Tuan bisa menyetir..." Freya menatap Steve dengan tatapan tajam, seakan bersiap untuk menelan hidup- hidup pria yang sangat merepotkan di depannya.


"Hhh... Wanita ini benar- benar menjengkelkan... Dia benar- benar menghancurkan rencana ku... Bedebah..." Batin Steve dengan memukul stir mobil. Ingin rasanya ia langsung melenyapkan Freya dengan menghentikannya bernafas. Pasti akan sangat menyakitkan.


Tuan semuanya terkendali..


Freya mengirim pesan singkat pada Rojer, dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam sakunya. Sementara Maura memandang ke luar jendela mobil. Memandangi pemandangan malam yang benar- benar membuat pikirannya kembali rileks.


...----------------...


Suasana lampu kerlap- kerlip menyelinap masuk ke dalam pupil mata Maura. Pesta yang megah dan mewah. Para tamu yang hadir menggunakan pakaian terbaik mereka dan perhiasan mahal yang mereka miliki. Pesta yang di hadiri oleh pejabat penting dan para konglomerat.


"Nyonya,,, Saya permisi sebentar..." Ujar Freya membuyarkan pikiran Maura.


"Hmmm..." Timpal Maura singkat. Ia menarik nafasnya panjang, mengendalikan kegugupan yang tengah melandanya.


"Ingat Nyonya... Jaga jarak anda dengan pria ini..." Bisik Freya tepat di dekat telinga Maura. Namun tidak di hiraukan oleh Maura.


Steve menekuk tangan kirinya hingga berbentuk segitiga. Maura segera mengamit lengan Steve dan menyunggingkan senyum meski terlihat sedikit kaku.


"Tenanglah... ini hanya pesta.. Jangan gugup.." Bisik Steve pada Maura yang langsung di respon dengan anggukan oleh Maura.


Mereka berjalan beriringan memasuki ruangan utama. Mata Maura kembali di buat kagum dengan pemandangan di dalamnya. Beberapa orang menghampiri dan menyapa Steve. Maura hanya menyapa dengan senyuman, memberikan senyuma terbaik yang ia miliki.

__ADS_1


Rojer menatap dua orang yang sedang tersenyum dan mengobrol dengan beberapa orang kalangan atas lainnya. Ia mengepal tangannya keras hingga buku- buku tanganya memutih. Tangan kanannya yang memegang segelas wine, menggengam gelas itu kuat- kuat. Hingga pecah dalam cengkeraman tangannya. Darah merembes dari sela- sela genggaman tangan Rojer. Tatapannya tidak pernah teralihkan sejak Maura dan Steve memasuki ruang utama.


"Tuan,,, tangan anda berdarah..." Ujar Freya yang sudah berdiri di belakang majikannya dengan ekspresi cemas di wajahnya. Ia segera mengambil kotak p3k dan menyerahkan kain kasa pada Rojer.


Rojer menerima kain kasa dari Freya dan menggulung luka di tangannya. Di bandingkan dengan luka cemburu yang sedang membara, luka di tangganya tidak ada apa- apanya.


"Hmmm Pria genit itu, masih saja menempel di dekat Maura. Apa dia ingin hilang dari dunia ini baru dia menyadari bahwa tidak ada yang boleh dekat dengan Maura selain diri ku.." Batin Rojer dengan menatap tajam penuh kebencian ke arah Steve yang tengah tersenyum.


Meski hatinya sedang cemburu. Tapi ada rasa senang yang mengalir di hati Rojer. Gaun yang di kirimkan tadi sore, sangat terlihat indah membalut tubuh Maura. Wanita itu tersenyum membuat siapa saja yang melihatnya akan terpikat dan jatuh hati pada dirinya.


"Para hadirin tamu undangan yang terhormat... Acara selanjutnya adalah dansa.. Silahkan bersiap dengan posisi bersama pasangan tercinta anda masing- masing..." Ujar Mc dengan lantang menuntun acara malam itu.


Lampu yang bersinar dengan cahaya keemasan mendadak mati, bersamaan dengan alunan musik romantis yang bertalu- talu.


Steve memegang pinggang Maura dan merapatkan pada tubuhnya. Dapat ia rasakan rasa tidak nyaman yang di pancarkan tubuh Maura. Maura sedikit mendorong tubuh Steve sedikit menjauh dari tubuhnya.


Gerakan pasangan dansa yang begitu indah, dengan cahaya yang remang- remang dan alunan musik yang halus dan romantis.


Rojer melangkah menuju lantai dansa berbaur dengan gerakan dansa nya yang erotis. Pertukaran pasangan dansa tiba. Mereka memutar pasangan masing- masing dan meraih acak pasangan dansa yang lain.


Pinggang Maura di tarik dengan sangat posesif oleh dua tangan kekar dengan tubuh yang mengeluarkan aroma mint yang memabukkan. Tangan kekar itu mendekap dan menarik pinggang Maura semakin mendekat ke arah tubuhnya.


"Kamu terlihat begitu cantik dengan gaun ini Mau..." Suara bariton yang sangat di kenalnya menyapu indra pendengaran Maura. Mata Maura membulat besar melihat tatapan yang tajam dengan bibir yang menyunggingkan senyum padanya.


"Kau..."


...----------------...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2