
...ILUSI TAKDIR 90...
"Sebenarnya, siapa wanita itu?. Beraninya dia melukai menantu keluarga Wang.. Dari mana dia datang ke pesta keluarga Shang, dan melakukan tindak kekerasan seperti itu..." Wajah Ny. Anindita berubah menjadi nyalang, dan kesal. Ia tidak bisa menerima menantunya di hajar oleh wanita jalanan itu.
"Dia sebenarnya, adalah anak tiri ku Nyonya. Saudari tiri Catlin. Dari dulu dia selalu iri dengan semua yang di miliki Catli. Tapi putri ku ini sangat baik hati, dia selalu mengalah pada saudarinya. Sampai suatu saat dia hamil anak pria asing, karna dia terpengaruh pergaulan bebas. Keluarga karavan tidak bisa menanggung beban dan aib itu, hingga suami ku Tuan Karavan meninggal dunia. Hiks...." Jelas Ny. Aurora membuat ekspresinya sesedih mungkin. Meneteskan air mata buayanya di depan besannya. Membuat Ny. Anindita merasa kasihan padanya.
"Dan sekarang dia kembali lagi. Aku dan putri ku Catlin, berfikir jika dia akan berubah setelah sekian lama. Tapi,,, Hiks... Catlin mengatakan pada ku Nyonya... Saudarinya itu datang untuk merebut suaminya Hiks... Hiks... Kasihan sekali putri ku, Bahkan suaminya ingin di renggut oleh Maura. Bayangkan Nyonya bagaimana perasaan Catlin. Dan sekarang putri ku terkapar di rumah sakit karna di serang oleh Maura... Aku tidak bisa menerima itu... Hiks... Hiks... Catlin hanya ingin mempertahankan rumah tangganya... Tapi Maura selalu datang dan menggoda menantu ku Rojer. Siapa yang tidak tergoda jika terus di goda Nyonya... Sungguh malang nasib putri ku..." Lanjut Ny. Aurora, dengan nada sedih yang semakin histeris. Seperti dialah yang menjadi korban di sini. Ny. Aurora mengambil beberapa tissu di atas meja dan menghapus air matanya.
"Setidaknya musuh mu bertambah satu lagi Mau..." Batin Ny. Aurora dengam tersenyum licik sekilas, dan kembali memasang wajah sedih saat Ny. Anindita menatapnya.
Ny. Anindita memandang ke ranjang Catlin. Hatinya terasa sedih melihat kondisi Catlin yang hanya bisa menatap ke langit- langit rumah sakit, tanpa bisa menoleh ke kiri dan ke kanan. Sebagai mertua dia tidak bisa diam, melihat semua ini. Ia harus bertindak sebagai seorang mertua yang baik. Apalagi dirinya juga merasa bersalah, karna ulah Rojer yang tidak melindungi Catlin. Tapi malah membela perempuan lain.
Ny. Anindita menggapai tangan Ny. Aurora menumpukkan tangannya di atas tangan Ny. Aurora. Seakan ingin memberi kekuatan untuk tegar menghadapi semua ini. Ny. Anindita sangat mengerti kesedihan besannya. Ia juga adalah seorang ibu. Seorang ibu tidak akan pernah rela untuk melihat anak- anaknya terluka.
"Nyonya, tenanglah... Aku akan membereskan semua ini... Dan maaf putra ku..--"
"Jangan salahkan Rojer Nyonya, dia sedang dalam pengaruh wanita penggoda itu... Sampai- sampai ia membelanya... Hiks... Hiks..." Ujar Ny. Aurora memotong perkataan Ny. Anindita. Tangisnya semakin menjadi- jadi. Bahkan lebih keras dan histeris dari sebelumnya.
"Aku... Aku mengerti perasaan mu Nyonya... Tapi putra ku sudah melakukan hal yang salah... Rojer tidak sepantasnya melakukan hal itu pada Catlin, dan bahkan berselingkuh dengan wanita lain. Aku sangat minta maaf pada mu Nyonya... Aku akan segera membereskan semuanya... Percayalah semuanya akan membaik... Untuk Catlin, aku akan mengirim dokter terbaik untuk merawatnya. Aku tidak ingin menantu ku terus berbaring di atas ranjang..." Timpal Ny. Anindita, sambil menepuk bahu Ny. Aurora ringan. Menenangkan besannya agar tidak berlarut dalam kesedihan.
Ny. Anindita merogoh tas tentengnya dan mengeluarkan selembar cek dari dalam. Mata Ny. Aurora langsung berbinar ketika melihat benda yang di keluarkan besan sultannya itu. Rasanya tidak rugi dirinya meneteskan air matanya yang berharga. Karna air mata itu akan tergantikan dengan sejumlah uang.
Ny. Aurora segera kembali memasang wajah memelas dengan siratan kesedihan yang dalam. Saat Ny. Aurora kembali menatapnya singkat. Ny. Aurora benar- benar seorang pemeran yang handal. Jika ia terjun ke dunia entertaint di pastikan dia berhasil menyabet piala OSCAR sebagai perempuan ular.
Ny. Anindita membubuhkan nominal sejumlah uang dan tanda tangannya. Lalu menyerahkan selembar cek itu pada Ny. Aurora. Tanpa basa basi dan rasa sungkan Ny. Aurora mengambil cek itu dari tangan Ny. Anindita, yang membuat kedua matanya melebar dengan sempurna dengan mulutnya yang berbentuk O.
"1.5 Milyar... Astaga.. Tidak sia- sia air mata ku ini jatuh... Sekarang aku mendapatkan durian runtuh dengan nominal uang sebanyak ini. Aku tidak perlu bekerja untuk satu bulan ke depan... Hhhh senang sekali... Catlin, sepertinya sakit mu membawa keberuntungan untuk mama..." Batin Ny. Aurora dengan senang. Rasanya ia ingin berjingkrak- jingkrak dan melompat ria. Bahkan rasanya tenggorakannya ingin berteriak dengan sangat keras karna saking bahagianya.
"Nyonya, jangan salah paham... Anggap saja ini sebagai biaya pengobatan menantu ku... Aku sangat berterimakasih Nyonya sudah merawatnya dengan sangat baik..." Ujar Ny. Anindita, sedikit salah tingkah. Karna ia mengira Ny. Aurora merasa salah paham atas bantuan dari dirinya.
"Ahhh... Besan... Aku sangat mengerti apa yang nyonya maksud. Jangan khawatir nyonya aku tidak mungkin salah paham dengan niat baik mu..." Ny. Aurora menggelengkan kepalanya, menepis keraguan Ny. Anindita. Sementara wajahnya yang sempat senang, kini ia atur seperti semula sedih dan memelas.
"Untuk masalah wanita rendahan itu. Aku akan membereskannya Nyonya. Nyonya jangan khawatir...Aku titip menantu ku Nyonya." Ny. Anindita menegelus dengkul Ny. Aurora, dan beranjak menuju ranjang Catlin.
"Sayang,,, mama akan datang berkunjung lain waktu... Mama akan mengirim dokter terbaik untuk merawat mu... Cepatlah sembuh sayang...." Ny. Anindita, mengelus kepala Catlin dan mencium kening menantunya lembut.
Kret...
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, dari balik pintu menyembul tubuh kekar Gery dengan tangannya membawa beberapa kantung makanan.
"Tante, tante ada di sini..." Sapa Gery pada Ny. Anindita dan meletakkan bawaannya di atas meja. Sementara Ny. Aurora masih senyum- senyum sendiri karna baru mendapat rejeki nomplok, hingga tidak menghiraukan kehadiran Gery.
"Gery, kamu juga datang menjenguk Catlin?" Timpal Ny. Anindita tersenyum manis pada Gery.
"Iya tante, Catlin adalah istri dari teman ku. Jadi aku sempatkan waktu ku sebentar untuk menjenguknya..."
"Bahkan teman dari putra ku menjenguk Catlin. Sedangkan Putra ku Rojer yang menjadi suaminya, bahkan tidak datang untuk melihat kondisi istrinya. Jangankan menjenguk, menunggu istrinya yang sakit saja dia tidak mau...hhhh" Batin Ny. Anindita dengan wajah sedikit terteguk kecewa dengam kenyataan rumah tangga putranya yang tidak pernah harmonis. Ny. Anindita mengulum senyumnya paksa.
"Tentu saja Gery... Jika begitu tante pamit dulu. Mama pasti akan datang kembali sayang... Cepatlah sembuh... Nyonya, aku pamit dulu..." Ujar Ny. Anindita berpamitan. Ia mendekat ke arah Ny. Aurora dan memeluk besannya singkat, sebagai pelukan perpisahan.
"Tante, jaga diri mu...!" Gery membungkukkan badannya, memberi hormat pada Ny. Anindita yang di respon dengan anggukan dan menghilang di balik pintu kamar, yang tertutup rapat.
...----------------...
Maura menyembulkan kepalanya, dari balik pintu kamar mandi. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar. Ia menghela nafas lega, saat tidak mendapati sosok Rojer di dalam kamar. Setidaknya ia bisa bernafas dengan bebas. Karna di dekat pria itu, sungguh sangat membuatnya sesak dan hilang akal. Maura menatap Charlote yang masih tertidur pulas dengan menunggang bantal guling.
"Huhhhfttt... Dia sudah pergi... Aku tidak tahan jika terus berada di dekatnya. Sepertinya tuhan tidak menginginkan ku liburan dengan tenang. Sepertinya agenda ku tahun ini akan berantakan... Menyebalkan, tapi aku juga tidak mau membuat pangeran ku bersedih..." Gumam Maura, dengan menekuk wajahnya. Kerutan di dahinya semakin banyak. Ia melangkah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian kasual dan berjalan mendekati Charlote.
Rojer sedang mengganti pakaiannya menjadi pakaian yang lebih santai. Kepalanya sudah hampir meledak untuk memikirkan cara meredakan kemarahan Maura. Ia sudah tidak tahan lagi, menangung kemarahan Maura yang mengerikan.
Tok...
Tok...
"Masuk...!" Ucap Rojer dengan menyemprot farfum pada tubuhnya.
Edent masuk dengan kepala tertunduk, dengan tangan kananya memegang sebuah berkas.
"Maaf mengganggu anda Tuan..."
"Katakan ada apa...?"
"Surat perceraian dari pengadilan sudah keluar Tuan Muda... Berkasnya membutuhkan tanda tangan anda... Setelah anda dan Nyonya Catlin menandatangi surat ini. Maka anda berdua akan resmi bercerai..."
"Berikan...!"
__ADS_1
Edent memberikan beberapa lembar kertas yang di bawanya pada Rojer, dan memberikan polpen yang selalu tersemat di kantung jasnya.
Rojer meraih cepat berkas itu dan membacanya dengan teliti sebelum membubuhkan tanda tangannya.
"Setidaknya, ada kabar baik hari ini. Semuanya akan berakhir. Hubungan yang tidak berguna ini, harus cepat- cepat di akhiri... Dan aku bisa segera menikahi pujaan hati ku..." Batin Rojer, lalu segera menyoret kertas tersebut hingga menimbulkan simbol khusus.
Rojer lalu, menyerahkan berkas itu kembali pada Edent.
"Aku serahkan semuanya pada mu Edent, Oh ya... Bagaimana dengan Freya apa dia bekerja dengan baik dalam menjaga istri ku...?" Tanya Rojer pada Edent, sambil mematut dirinya di depan cermin.
"Tidak di ragukan lagi Tuan... Freya melakukan tugasnya dengan baik. Tuan Steve juga sudah kembali ke kota D. Apa Tuan ingin mencabut tugas kerja Freya..?"
"Tidak... Biarkan dia terus berada di sisi Maura. Aku tidak ingin kembali kecolongan lagi dan musuh berhasil menyakiti istri dan putra ku..."
"Siap Tuan..."
"Apa kamu sudah memeriksa keamanan di hotel ini.? Aku tidak ingin sesuatu yang membahayakan terjadi..."
"Semuanya aman Tuan. Anda jangan khawatir... Begitu pula dengan kejutan untuk Nyonya hari ini, semuanya sudah di persiapkan sesuai dengan perintah anda..."
Rojer mengangguk mengerti dengan laporan asisten nya itu. Edent membungkuk hormat sebelum menyeret kakinya keluar dari kamar majikannya. Hatinya sedikit lega karna beberapa pekerjaannya sudah terselesaikan.
"Nyonya Catlin,,, kejutan akan segera sampai pada mu... Di kondisi mu yang memprihatinkan itu kamu akan menerima kenyataan lain. Aku harap kejiwaan mu tidak akan terguncang... Dan semoga ini adalah awal yang baik untuk hubungan Nyonya Maura dan Tuan muda. Setidaknya aku juga ingin menikmati fasilitas hotel ini dengan tenang..." Batin Edent, dengan mengulum senyum memandangi surat perpisahan Rojer di tangannya. Sementara kakinya terus melangkah melewati lorong hotel.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit
__ADS_1