
...ILUSI TAKDIR 104...
Rojer melewati lorong rumah sakit, dengan sebuket bunga tulip kuning di tangannya. Sementara di belakangnya, Edent berjalan mengekori setiap langkah majikan di depannya.
Perasaan Rojer kembali bercampur aduk, saat memasuki kamar inap Maura. Wanitanya masih setia berbaring terlelap dengan begitu pulas. Di wajahnya yang sedikit pucat sama sekali tidak ada penderitaan.
Rojer mengulas senyumnya paksa, meski pada kenyataannya hatinya hancur berkeping- keping tidak berbentuk lagi. Kehidupannya begitu menderita melihat Maura terluka dan terbaring tidak berdaya. Semuanya begitu hampa, rasanya ia hidup layaknya sebuah boneka.
Memori indah bersama Maura terus berputar dalam ingatan Rojer. Setitik cairan bening berhasil lolos dari sudut matanya, yang langsung di usapnya kasar. Belakangan ini dirinya begitu sering menangis, hingga matanya begitu bengkak dan sembab. Rojer dengan keras berusaha untuk tegar dan kuat, tapi ketika masuk ke ruangan ini pertahanannya runtuh begitu saja.
Rojer mendekat ke arah meja nakas, yang berdiri dengan kokoh di samping tempat tidur. Rojer memasukkan bunga tulip yang di bawanya ke dalam vas yang ada di atas meja nakas. Senyumnya merekah, namun kesedihan tetap ada di kedua manik matanya.
"Lihat lah Mau... Aku membawakan bunga tulip kuning untuk mu... Bunganya terlihat sangat indah... Bukankah kamu sangat menyukai bunga tulip.?" Ujar Rojer berbicara sendiri, ia berusaha untuk berpikir seakan- akan Maura tengah duduk dan tersenyum ke arahnya.
Rojer duduk di samping ranjang Maura, ia mengenggam tangan Maura yang di hiasi dengan tusukan jarum infus di punggung tangannya.
Rojer mengecupnya lembut, dan tersenyum dengan manis.
"Aku kembali... He... Apa aku kembali terlalu cepat?... Aku sungguh tidak bisa berjauhan terlalu lama dengan mu Maura... Maaf tadi aku meninggalkan mu... Tapi sekarang aku sudah di sini. Aku tidak akan meninggalkan mu... Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada mu... Hiks..." Perkataan Rojer kembali bergetar. Ia sudah berusaha untuk tidak bersedih, tapi ia benar- benar tidak bisa melakukan hal itu.
Buliran air mata mengalir bergantian dari ke dua sudut mata Rojer. Bahu nya bergetar cukup hebat.
"Aku tidak tahu, bagaimana caranya untuk tidak menangis... Aku tidak bisa,, maafkan aku Mau... Hiks... Hiks... Kamu tahu apa yang aku rasakan sekarang Mau?.. Aku seperti mati berkali- kali... Rasanya begitu sakit,,, aku selalu bertanya kenapa aku bisa se lemah ini di hadapan mu... Aku sangat mencintai mu... Aku mencintai mu tanpa syarat... Aku sangat menderita melihat mu seperti ini. Sampai kapan kamu akan terus tidur Mau..? Apa kamu tidak peduli dengan ku... Apa kamu masih marah dengan ku... Hiks... hiks... Cepatlah bangun,,, aku janji aku tidak akan membuat mu marah... Aku janji... Tapi bangun lah sekarang aku mohon....!!!" Tangisan Rojer semakin tidak terkontrol, dirinya begitu larut dalam kesedihan. Beribu kata yang ia lontarkan tapi sepertinya Maura tidak mendengar permohonannya. Rojer mengeratkan genggamannya pada tangan Maura, dan mengecup dalam tangan tersebut.
"Aku tidak mengira, di balik sikap dingin anda ternyata anda begitu rapuh dan lembut Tuan..." Ujar Dokter Sillia dengan menyodorkan beberapa lembar tissu ke arah Rojer. Entah sejak kapan dia sudah berdiri di samping Rojer. Rojer tidak menyadari kapan dokter wanita ini masuk ke dalam.
Rojer mengangkat wajahnya yang sudah memerah karna menangis. Ia mengambil tissu dari tangan Dokter Sillia, dan menghapus sisa- sisa air matanya.
"Saya sangat tahu, anda begitu sangat mencintai Ny. Maura. Anda begitu terluka saat melihat kondisinya yang begitu memprihatinkan... Saya juga turut prihatin... Tapi sampai kapan anda akan terus menangisi Nyonya Maura... Semua orang sudah tahu, entah kapan Nyonya Maura akan terbangun dari tidurnya... Bahkan Dokter Antony, dokter terbaik di kota ini, tidak bisa melakukan apa pun padanya..." Tangan Rojer mengepal erat, mendengar perkataan Dokter Sillia yang sedang menghancurkan harapannya.
Rojer menatap Dokter Sillia, tatapan seakan siap memenggal kepala wanita di depannya itu.
__ADS_1
"Apa maksud Dokter sebenarnya..?" Tanya Rojer menuntut penjelasan.
"Nyonya Maura sudah seperti mayat hidup. Dia hanya bisa bernafas tapi tidak bisa berbicara, dia hanya bisa mendengar tapi tidak menatap dan tersenyum pada anda Tuan... Dia hanya bisa berbaring tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit, dengan alat bantu... Dia tidak bisa apa- apa... Tidak bisa... Lalu untuk apa anda terus meratapi dan menangisi mayat hidup seperi dirinya... Anda pria yang kaya dan tampan Tuan... Anda bisa mendapatkan perempuan yang masih sehat dan prima... Lalu untuk apa anda menunggu Nyonya Maura yang tidak tahu kapan dia akan sadar...???" Timpal Dokter Sillia, dengan menatap sendu pada Rojer. Tangannya terangkat hendak menyentuh rahang Rojer yang sudah mengeras sejak tadi. Tapi seketika tangannya mengambang di udara.
"Aarrkhhh..."
Pekik Dokter Sillia. Saat tangan kekar Rojer mencekik lehernya erat. Nafasnya tercekat, oksigen tidak bisa mengalir dengan sempurna menuju paru- parunya. Dokter Sillia berusaha melepas tangan Rojer dari lehernya, nafasnya sudah terasa sangat sesak. Tapi tangan Rojer menempel dengan begitu kuat di leher Dokter Sillia. Rojer kembali mengeratkan tangannya, saat tangan Dokter Sillia berusaha melepaskan tangannya.
Rojer menatap Dokter wanita di depanya dengan jijik. Seringai kejam Rojer muncul begitu saja, membuat Dokter Sillia melotot ketakutan. Wajah Dokter Sillia semakin membiru karna pasokan oksigen yang semakin menipis. Pria tampan yang di lihatnya, kini berubah menjadi iblis yang sangat mengerikan.
"Apa yang berusaha kamu katakan.? Kamu ingin mengatakan jika kamu lah wanita yang pantas untuk menggantikan Maura dalam hati ku... Kamu salah... Meski wanita yang sedang berbaring ini sudah mati dan menjadi jenazah, seorang Rojer akan tetap mencintai Maura seutuhnya... Tidak ada yang bisa menyangkal hal itu. Wanita rendahan seperti mu bahkan tidak pantas untuk berada di hadapan ku... Kamu ingin menutup harapan ku, tapi aku yang akan lebih dulu menghancurkan harapan mu itu... Aku tidak akan pernah tertarik dengan Dokter wanita rendah dan genit seperti mu... Kamu tidak pantas menjadi seorang dokter. Camkan di kepala kecil mu itu, Seorang Rojer tidak akan pernah akan menyukai mu...!!!" Ujar Rojer dengan penekanan di setiap perkataannya. Ia melepaskan cekikan tangannya pada leher Dokter Sillia.
"Uhuk... uhuk..."
Dokter Sillia segera menghirup rakus udara yang bisa masuk ke hidungnya. Lehernya benra- benar terasa sakit. Ia sungguh tidak menyangka jika pria tampan yang di pujanya mempunyai sisi yang sangat menyeramkan. Bahkan tidak segan- segan untuk membunuhnya.
"Pergilah dari sini... Sebelum aku menghilangkan mu dari dunia ini..." Ancam Rojer lagi, dengan tatapan yang semakin nyalang dan menyeramkan.
Antony heran saat melihat Dokter Sillia yang keluar dari ruangan Maura dengan ketakutan dan sambil berlari dengan terburu- buru. Seperti sedang di kejar hantu.
"Tenang lah... Maaf sudah membuat keributan... Percayalah cinta ku hanya untuk mu... Kamu jangan khawatir. Aku tidak akan pernah mengkhianati mu Maura... Cepatlah bangun dan jaga calon suami mu ini dari wanita- wanita genit itu..." Rojer kembali fokus pada Maura. Ia mengecup lembut kening pucat Maura, dan kembali meraih tangan Maura untuk di genggamnya.
"Kenapa dengan dokter Sillia, kenapa dia keluar dengan ketakutan...?" Tanya Antony pada Rojer, sambil memeriksa keadaan Maura hari ini.
"Seharus nya kamu tidak merekomendasikan dokter yang tidak tahu aturan itu untuk merawat putra ku..." Timpal Rojer ketus.
"Apa dia mencoba melecehkan mu.?? Owww..." Antony membuka mulutnya dan segera menutupnya dengan ke dua tangannya. Ia sudah sangat mengenal Rojer dengan ekspresi yang di tunjukkan. Pasti Dokter Sillia mencoba merayunya tadi.
"Lebih buruk dari itu, dia mencoba menghancurkan harapan ku atas cinta ku... Katakan dengan jujur pada ku... Apa Maura bisa bangun lagi..? Jangan sembunyikan apa pun dari ku..."
"Aku tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan mu itu Rojer... " Ujar Antony dengan sedikit lemah, yang membuat Rojer mati kutu di tempat. Selama ini Antony hanya memberi harapan kepada Rojer agar sahabatnya itu tidak terlalu larut dalam kesedihan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kapan Maura akan bangun... Kesehatannya tidak menunjukkan kemajuan apa pun... Luka- luka yang ada di tubuhnya berangsur membaik. Tapi aku tidak mengerti kenapa dia belum sadar sampai sekarang... Aku tidak tahu hal apa yang menahannya. Jika dalam ilmu medis, Maura tepatnya sudah di katakan mati... Dia hanya bertahan hanya karna alat- alat medis yang di pasang di tubuhnya... Aku bukannya bermaksud membohongi mu... Tapi aku tidak ingin membuat mu terus sedih bahkan kamu tidak peduli dengan hidup mu, saat kondisi Maura seperti ini. Tapi yakinlah Rojer... Pada satu keajaiban... Keajaiban tuhan dan takdir yang mungkin bisa membawa Maura kembali..." Jelas Antony panjang lebar, sambil menepuk- nepuk bahu Rojer pelan. Menyalurkan kekuatan agar Rojer bisa menghadapi semuanya dengan tegar.
"Ternyata apa yang di katakan Dokter rendahan itu benar... hhhh... Tapi aku tidak peduli jika aku harus menunggu Maura sadar sampai akhir hidup ku... Aku akan menunggunya..." Kekeh Rojer, memperlihatkan deretan gigi putih yang tersusun dengan rapi.
...----------------...
Terlihat Catlin tengah berdiri di depan pintu apartemen Gery. Ia menekan bell di samping pintu dengan kasar. Dirinya sudah tidak sabar untuk mendobrak masuk ke dalam.
Pintu terbuka, menampil kan pria dengan wajah datar berdiri di hadapannya.
Catlin langsung masuk ke dalam apartemen Gery, tanpa menyapa sang tuan rumah.
Dirinya sedang di kusai amarah. Pikirannya benar- benar buntu memikirkan perkataan Rojer yang tidak main- main. Ia bingung harus melakukan apa, ia tidak ingin bercerai dengan Rojer. Tapi di lain sisi ia tidak bisa menutup telinga dengan ancaman Rojer yang pasti akan terjadi.
Catlin melempar berkas perceraian yang sejak tadi di genggamnya erat, ke atas meja.
"Aku tidak habis pikir, kenapa aku selalu bertekuk lutut di hadapannya. Aku seperti kotoran yang tidak di harapkan sama sekali... Kamu tahu, dia menghina ku demi perempuan itu... Demi Maura... Apa sebenarnya yang di miliki Maura hingga Rojer rela melakukan apa pun untuknya.... Kamu tahu Gery,,, Rojer mengancam ku akan mendepak ku tanpa memberi ku sepeser hartanya.... Itu tidak adil...." Teriak Catlin melampiaskan amarahnya yang sejak tadi di tahannya. Ia tidak memiliki keberanian sama sekali, untuk melampiaskan amarahnya di hadapan Rojer, seperti yang tengah dia lakukan sekarang.
"Masalah ini tidak terlalu rumit Catlin... Kamu yang memperumit semuanya... Sejak awal kamu sudah tahu Rojer tidak pernah menginginkan mu... Jangan kan menghormatimu,, dia bahkan tidak memperlakukan mu dengan baik... Aku tidak mengerti dengan pola pikir mu yang sempit itu... Kenapa kamu masih ingin bertahan dengan Rojer?... Semuanya sangat mudah untuk di selesaikan... Turuti perintahnya maka diri mu akan aman... Aku sangat mengenal Rojer. Jadi akan lebih baik kamu dengarkan aku... Tanda tangani surat perceraian itu, dan hiduplah bersama ku..." Jelas Gery dengan panjang lebar, wajahnya tidak berekspresi karna dia tahu, Catlin tidak akan mengiyakan sarannya semudah itu.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
please tinggalin koment dong
__ADS_1
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit