Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
130


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 130...


Rojer tengah memandangi wajah Maura yang tertidur lelap. Garis wajah nya menunjukkan rasa sakit yang berhasil mengoyak hati Rojer.


Seharus nya mereka tidak datang ke cafe tersebut, atau pun menyetujui saran Antony. Maka Maura tidak akan bertemu dengan Ny. Aurora, yang langsung melabrak istri nya bahkan hampir melukai nya.


Hal ini yang sedang Rojer sesal kan. Diri nya tidak habis pikir Ibu maupun anak selalu saja membuat diri nya kesal dan marah. Seolah- olah Mereka tidak ada takut- takut nya.


Air wajah Rojer menjadi sendu dan sedih. Sementara hatinya menyiratkan hal yang berbeda. Amarah dan kebencian yang menyatu untuk Ny. Aurora.


"Aku sudah terlalu baik untuk tidak menghancurkan mereka. Karna aku memberi mereka sebuah kesempatan hanya mereka pernah berjasa kepada mu..." Rojer menggantung suara nya.


Tangan nya terulur menyentuh dahi Maura dan mengelusnya lembut.


"Tapi mereka tidak pantas mendapatkan nya. Aku sudah menyudahi hubungan dengan mereka. Tapi mereka dengan begitu benci nya datang untuk mencelakai mu... Maafkan Aku sayang,,, Semua nya karna aku... Jika waktu itu aku mencari mu dan bukan menerima tuntutan untuk menikah dengan Catlin... Maka ini semua tidak akan terjadi... Hhhh" Rojer mendengus pelan, kini Tangan nya turun meraih jari jemari Maura. Rojer mengecup pelan punggung tangan Maura, Agar tidak menganggu tidur wanitanya.


Rojer menaikkan selimut tebal untuk menyelimuti tubuh Maura. Agar tidak tercicipi oleh udara dingin malam.


"Selamat tidur sayang...." Lirih Rojer , lalu beranjak keluar kamar.


Kini diri nya berada di balkon utama. Balkon yang dengan mudah dapat terlihat suasana malam di sekitaran rumah megah keluarga Wang.


Tatapan mata Rojer kini begitu tajam, seakan menembus sunyi nya malam. Sementara tangannya memegang batas balkon.


Di belakang nya sudah berdiri Edent, sang asisten yang selalu setia di samping nya dan siap melakukan semua perintah nya.


"Apa yang akan kamu lakukan.. Jika kebahagian mu di usik oleh orang lain..?" Suara bariton penuh emosi mencairkan suasana yang dingin, menjadi mencekam.


"Singkirkan..." Jawab Edent lugas. Ia berdiri dengan tegap.


"Apa yang akan kamu lakukan... Jika ketenangan mu di usik?.."


"Beri pelajaran yang tidak terlupakan."


"Apa yang akan kamu lakukan... Jika seseorang melukai sosok yang paling kamu cintai?..."


"Lenyap kan..."


"Lakukan itu.. Pada Ny. Aurora alis Ibu tiri dari istri ku..."

__ADS_1


Rojer berjalan meninggalkan Edent yang masih berdiri dengan tegap. Kata- kata yang di katakan barusan. Harus terjadi secepat nya.


Edent menatap nanar gedung- gedung yang menjulang tinggi.


"Hhhh seharus nya anda tidak melakukan sesuatu yang membuat Tuan muda Marah Ny. Aurora... Anda sama saja dengan menggali kuburan anda sendiri... Dan sekarang karna diri mu pekerjaan ku menjadi bertambah..." Guman Edent dengan merapi kan setelan jas nya.


Hawa dingin menusuk kulit dengan aura yang mencekam, lenyap bersama perginya sang majikan.


...----------------...


Ny. Aurora masih bergelut di ruang kerja nya, dengan mata menatap laptop di depannya dengan serius.


Suara pintu di ketuk, membuat fokus Ny. Aurora buyar seketika.


"Ck.." Decak Ny. Aurora kesal, karna sekretarisnya tidak menginstruksikan siapa yang datang, dan tiba- tiba mengetuk pintu kerjanya.


Ny. Anindita memencet tombol pemanggil panggilan untuk sang sekertaris, untuk menghendel siapa yang datang berkunjung. Karna diri nya sangat sibuk saat ini.


"Kemana Sekertaris tidak becus itu.. Kenapa tidak menjawab sama sekali..." Rutuk Ny. Anindita yang sudah sangat kesal. Karna panggilan nya tidak kunjung di terima oleh sekertarisnya.


Tok..


Tok..


Pintu kembali di ketuk, Membuat Ny. Aurora beranjak dari duduk nya dan membuka pintu.


Ny. Aurora sedikit mundur karna kaget, saat melihat siapa yang sedang berdiri di depannya sekarang.


"Tuan Edent..." Lirih Ny. Aurora yang bingung dengan kehadiran Edent di kantor nya.


Edent berdiri dengan menatap lurus ke arah Ny. Anindita yang bingung dengan kehadirannya. Sementara di belakang nya ada dua anak buah nya yang berdiri dengan tegap dan kokoh.


Edent melenggos masuk ke dalam ruang kerja Ny. Aurora yang di ekori oleh dua anak buah nya.


Edent menatap setiap sudut ruangan tempat direktur tertinggi di perusahaan milik keluarga karavan. Edent merebah kan diri nya tanpa menunggu aba- aba sang puan mempersilahkan dirinya.


"Aaahhhhmmm.. Tuan Edent senang anda berkunjung ke kantor saya... Apa ada sesuatu yang membuat Tuan sampai datang ke sini?" Tanya Ny. Aurora dengan sikap nya yang salah tingkah.


Perasaan nya tidak enak melihat kehadiran asisten menantu nya datang dengan tiba- tiba ke kantor nya tanpa ada pemberitahuan sebelum nya.

__ADS_1


Edent menyilangkan kaki nya, dengan menatap ke arah Ny. Aurora yang menunduk di depan nya dengan perasaan takut yang sangat jelas terlihat dari raut wajah nya.


"Pengecut yang syok berani melawan bahkan hampir melukai Nyonya muda... Giliran sekarang aku sudah berada di depannya nyali nya menciut menjadi sekecil kacang...." Batin Edent malas.


Edent menggerakkan ke dua jari nya, memberi intruksi pada dua orang anak buah yang di bawanya.


Ke dua pria tersebut langsung bergerak dengan cepat. Membereskan barang- barang yang ada di dalam ruang kerja Ny. Aurora ke dalam sebuah kardus besar.


Ny. Aurora terbelalak dengan apa yang di lakukan dua orang pria tersebut.


"Hei... Apa yang kalian lakukan... Kenapa kalian memberes kan barang- barang dari ruang kerja ku...?" Bentak Ny. Aurora dengan segera berusaha menghalangi ke dua pria tersebut, yang terus melakukan aksi nya tanpa mendengarkan bentakan Ny. Aurora.


"Tuan Edent apa- apaan ini... Cepat hentikan anak buah mu itu...!!" Ujar Ny. Aurora kini berbicara pada Edent yang sejak tadi hanya duduk santai sambil menonton.


"Biarkan mereka melakukan pekerjaan nya Nyonya... Aku sengaja membawa mereka ke sini untuk membantu mu..."


"Membantu??? membantu apa... Mereka malah membereskan barang- barang yang ada di ruangan ku...!!! "


"Karna mulai hari ini, anda bukan lagi direktur di perusahaan ini. Tuan muda sudah membeli saham yang anda tanam di perusahaan ini. Sehingga anda tidak lagi memiliki wewenang di perusahaan ini..." Jawab Edent santai.


Perkataan Edent seperti sebuah sihir bagi Ny. Aurora. Membuat nya membeku menjadi sebuah patung.


"Anda tidak mungkin lupa, jika Tuan muda lah yang menjadi investor terbesar saat perusahaan ini akan bangkrut. Anda juga tidak akan lupa jika Tuan muda adalah pemilik setengah saham perusahaan ini. Jadi bukan hal yang sulit jika dia ingin mengambil saham anda yang hanya 20% saja.


Anda seharus nya mengingat hal itu, ketika berani mengusik Nyonya Maura. Dan saya sangat menyanyang kan jika anda akan jatuh miskin di saat usia anda sudah tidak lagi produktif. Untuk itu saya membawa ke dua anak buah saya untuk membantu anda beres- beres. Karna hari ini juga anda akan keluar dari kantor ini..." Jelas Edent panjang lebar.


Ny. Aurora tidak bisa melawan. Jika melawan sama saja dengan menggali kuburan nya sendiri. Perusahaan yang di bangun selama bertahun- tahun kini lenyap dalam sekejap mata.


"Seharus nya aku sadar jika Maura adalah wanita berharga dan sangat penting untuk Rojer... Aurora kamu melakukan hal yang bodoh dengan memusuhi wanita itu..." Batin Ny. Aurora merutuki nasib nya.


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤

__ADS_1


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit


__ADS_2