
...ILUSI TAKDIR 79...
"Mau hari ini keluarga Shang mengadakan pesta ulang tahun perusahaanya. Bisakah kamu menjadi pasangan ku di pesta itu nanti.? Aku mohon setuju lah.. " Steve memohon di depan Maura, dengan mengatupkan tangannya. Maura dan Steve berjalan beriringan keluar rumah.
"Sebenarnya aku tidak ingin ikut, tapi aku tidak enak jika harus menolak permintaan Steve. Selama ini dia sudah banyak membantu ku..." Batin Maura berfikir dengan kepala menunduk, melihat langkah kakinya di lantai.
"Hmmmm..." Maura berdehem.
"Please... Aku mohon pada mu Mau... Hanya untuk kali ini. Dua hari lagi aku akan kembali ke kota D..." Steve kembali memelas.
"Baiklah... Aku akan menjadi pasangan mu... Tapi jangan katakan apa pun di pesta itu. Kita hanya teman.. Tidak lebih.."
"Jika seperti itu menikahlah dengan ku?.. Aku akan dengan senang hati menjadi papa baru Charlote." Wajah Steve berubah menjadi serius. Tangannya meraih ke dua tangan Maura. Maura terdiam mendengar penuturan Steve.
"Tidak.....!!! Aku tidak ingin paman jadi papa ku..." Teriak Charlote dari ambang pintu dengan bersedekap. Maura dan Steve menoleh ke arah Charlote yang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Lepaskan tangan mama ku... Mama ku sudah ada yang punya jadi paman tidak punya kesempatan lagi. Mama ku milik papa... Jadi paman Steve, jangan coba- coba merayu mama... Mengerti...!" Ujar Charlote menegaskan.
Maura menarik tangannya dari genggaman Steve. Steve mendengus kasar.
"Papa mu tidak lebih baik dari paman... Jadi ada kemungkinan jika paman bisa menjadi papa mu..." Timpal Steve pada Charlote.
"Paman jangan bermimpi. Papa ku itu jauh lebih sempurna dari paman. Sehelai rambutnya saja tidak bisa di bandingkan dengan paman. Papa ku tampan, penyayang, dan kaya... Jauh lebih baik dari paman..." Ujar Charlote memuji Rojer.
"Paman juga tampan, dan kaya. Bahkan paman menyayangi mu..."
"Tapi tetap saja. Aku tidak menginginkan paman menjadi papa ku.."
"Ahhh... Sudah lah... Steve lebih baik kamu pulang..." Ujar Maura menyela perdebatan yang tidak berujung itu.
__ADS_1
"Baiklah... Mau aku pulang dulu..." Steve masuk ke dalam mobilnya. Dan menghilang dalam ramainya jalanan.
...----------------...
Catlin menghempaskan dirinya di sofa empuk. Tangannya memegang botol wine. Ia menuangkan minuman berwarna merah itu pada gelas kristal di depannya. Sedangkan wajahnya tampak kusut. Tamparan keras dari Rojer yang di terimanya beberapa saat lalu, masih menyisakan sakit. Ia meneguk wine nya, menikmati setiap tegukan yang membasahi kerongkongannya.
Gery keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai boxer. Sedangkan bagian tubuh atasnya yang atletis dan indah terekpos begitu saja.
"Sepertinya tadi malam aku bermimpi di datangi bidadari cantik. Dan sekarang bidadari cantik itu datang ke apartemen ku.." Gery mengulas senyum dari ambang pintu kamar mandi. Tanpa melepas pandangannya dari Catlin yang sedang menikmati wine di tangannya.
"Aku sedang frustasi,,, jika tidak aku tidak akan menginjakkan kaki ku di tempat sempit ini..." Ujar Catlin mendecih, mengedarkan pandangannya ke setiap sudut apartemen gery.
Apartemen ini lebih dari kata indah. Ruangannya yang luas dengan ornamen serta furniture- furniture mewah ada di sana. Tapi bukan Catlin namanya jika ia tidak mengejek dan menyombongkan dirinya. Baginya yang paling sempurna di matanya adalah Rojer. Tidak ada yang bisa menandingi apa yang di miliki pria yang berstatus sebagai suaminya itu.
Gery menautkan kedua alisnya, saat melihat pipi kanan Catlin yang merah, dengan bekas telapak tangan tercetak jelas di sana. Ia mendekati Catlin dan duduk di sampingnya. Ia menarik dagu Catlin dan memeriksa pipi Catlin.
"Siapa yang sudah berani menampar mu...?" Tanya Gery dengan gigi bergemeretak menahan amarah. Darahnya terasa panas dan mendidih melihat bekas memar di pipi Catlin. Tidak ada yang boleh melukai Catlin meski hanya sehelai rambut pun.
Gery menangkup wajah Catlin paksa. Memaksa wanita itu untuk menatapnya.
"Apa Rojer si brengsek itu yang melakukannya...?" Tanya Gery lagi dengan semburat sakit di manik matanya.
"Biarpun dia memukul atau menampar ku berulang kali. Aku tidak akan pernah mundur untuk mendapatkannya. Dan kamu mengertilah, jika posisi mu hanya sebagai kekasih gelap ku... Seharusnya kamu sudah cukup puas dengan itu." Catlin memutar bola matanya kesal. Dirinya belum selesai dengan kekesalan pada Rojer karna telah berani menamparnya. Dan sekarang kekasih gelapnya ini malah mengintrogasinya. Ia datang ke sini untuk mencari kesenangan buka untuk di pertanyakan.
Gery menekan tengkuk Catlin dengan bertenaga. Hingga dua buah benda kenyal itu sudah saling menyatu dan membelit satu sama lain. Memberikan kenikmatan di setiap liukan dan pertukaran saliva.
Catlin memejamkan matanya. Merasakan aroma maskulin dari tubuh Gery. Catlin mengalungkan tangannya di leher Gery dan menekan kepala pria itu untuk memperdalam ciuman mereka.
Gery menarik tubuh ramping Catlin, dan terduduk di atas pahanya. Tangannya sudah mulai bergerilya menyingkap baju dres Catlin ke atas dan meraba paha putih Catlin, yang terasa sangat lembut di tangannya.
__ADS_1
"Mmmhhh.." Satu erangan lolos dari bibir seksi Catlin. Ketika Gery mengecup dan menyesap kulit bagian lehernya. Dan meninggalkan kissmark kepemilikan di sana.
...----------------...
Rojer duduk di meja kerjanya dengan pakaian santai. Ia tidak tahan terus berlama- lama di kantor tanpa kehadiran Maura.
Edent masuk ke ruangan kerja Rojer dengan seorang desainer ternama, Mr. Petria.
"Hormat Tuan muda..." Ujar pria bertubuh tambun itu dengan membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Rojer, yang sedang memangku dagunya dengan tangan kanan.
Rojer mengangguk singkat, dengan sorot mata mengarah pada sofa di depannya.
"Silahkan Mr." Ujar Edent merentangkan tanganya, mempersilahkan Mr. Petria untuk duduk.
"Terimakasih Tuan.." Mr. Petria duduk dengan tersenyum meletakkan beberapa album di atas meja.
"Sesuai permintaan anda Tuan muda. Saya sudah siapkan beberapa desain baju yang sesuai dengan apa yang anda inginkan.." Mr. Petria membuka pembicaraanya dengan Rojer yang bersikap dingin dan datar. Lebih baik to the point dari pada berbasa- basi atau bertele- tele.
Rojer bangkit dari duduknya, dan menghampiri Mr. Petria dan duduk di sisi yang bersebrangan.
Rojer melihat beberapa koleksi desain limited yang belum di buat. Dan jika di buat itu hanya ada satu di dunia.
Rojer memperhatikan satu demi satu lembar album itu. Membolak balik lembaran itu. Hingga berhenti pada gaun dengan desain yang menurutnya sangat indah. Sederhana dan elegant.
"Aku menginginkan ini. Aku ingin gaun ini selesai pukul 4 sore. Dan kirim ke alamat yang sudah ku berikan..." Usai mengatakan hal itu Rojer berlalu keluar dari ruang kerja meninggalkan Mr. Petria dan Edent.
...----------------...
...****************...
__ADS_1
Like komen tips and tambah ke rak favorite oke.💖