Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
108


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 108...


"Tapi bagaimana bisa aku mempunyai anak sebelum aku menikah.... Pria tadi maksud ku Rojer itu mengatakan jika dia adalah calon suami ku..." Timpal Maura mencerna setiap perkataan Ny. Anindita.


"Haha... Dia asal bicara tadi, karna sedikit kaget karna kesadaran mu... Lidahnya agak pendek makanya dia sering salah ucap... Rojer itu adalah suami mu, suami yang sangat kamu cintai... Kalian sudah menjalani rumah tangga selama 7 tahun... Sebenarnya aku tidak percaya jika kamu bisa melupakannya sekarang... Tapi jangan khawatir aku sudah memberi tahu mu semua hal... Jika kamu tidak percaya... Lihatlah anak laki- laki ini bukannya ada kemiripan dengan diri mu... Charlote sayang kemarilah...!!!" Ny. Anindita memanggil Charlote, yang menunduk menangis di sofa.


Charlote melangkah dengan pelan, sementara wajahnya terus menunduk ke bawah. Kenyataan ini benar- benar menghancurkan hatinya. Ia sudah menghabiskan waktu sejak dia lahir bersama Maura. Tapi bagaimana bisa Maura yang adalah ibunya melupakan hal penting tentang dirinya.


"Lihatlah,,, aku akan balas kalian yang sudah membuat mama melupakan ku... Aku akan mencari kalian sampai ke ujung dunia sekali pun... Ini adalah janji ku..." Batin Charlote dengan meremas ujung bajunya.


"Iya Grand ma..." Ujar Charlote dengan nada kecil, saat dirinya sudah ada di samping Maura dan di depan Ny. Anindita. Hatinya tidak ingin menoleh ke arah Maura, karna dirinya tidak mau di pandangi dengan tatapan asing.


"Lihat lah Maura... Aku sungguh tidak berbohong pada mu... Bukankah bentuk wajahnya sedikit mirip dengan mu... Meski dirinya lebih dominan mirip dengan Rojer. Bukan kah kamu juga merasa begitu..." Bisik Ny. Anindita, berusaha membuat Maura percaya dengan perkataannya. Sementara Charlote hanya diam membisu. Keberaniannya sudah hilang saat Maura mengatakan jika dia tidak mengenal dirinya.


Ada kehangatan di hati Maura saat melihat anak laki- laki yang tengah tertunduk di hadapannya. Rasa yang sangat berbeda yang di rasakan Maura saat ini. Tatapan Maura berubah menjadi tatapan kerinduan. Seakan tubuhnya ingin memeluk tubuh kecil di depannya. Hatinya sedikit nyilu, saat melihat buliran bening mengalir di pipi chuby Charlote, dan menitik ke lantai. Ada rasa tidak rela saat melihat anak di depannya menangis dan bersedih. Seperti ada ikatan batin yang sangat kuat di antara mereka. Tapi Maura tidak tahu itu. Ingatannya tentang anak ini seperti telah hilang terhapus oleh waktu.


"Mengapa aku bisa melupakan diri ku??? dan sosok yang sangat penting ini... Kenapa aku bisa melupakan darah daging ku sendiri... Yang telah ku lahirkan dari rahim ku.. Dan tumbuh dengan air susu ku... Wajahnya memang sedikit mirip dengan ku.. Apa yang di katakan wanita ini memang benar... Dia adalah anak ku dan mereka adalah keluarga ku... " Batin Maura, dengan tatapan sedih. Menatap Charlote yang masih tidak bergeming. Seolah bocah laki- laki itu ketakutan untuk menatapnya.


"Sayang...!!" Panggil Maura dengan lembut. Ia mengulurkan tangannya untuk membelai kepala Charlote.


Charlote terkejut dengan belaian lembut, yang sedang membelai kepalanya. Air matanya menetes lebih banyak. Ia benar- benar sangat merindukan kasih sayang Maura.


Charlote mengangkat kepala perlahan. Matanya sudah sembab dan bengkak karna menangis. Tapi air matanya tidak kunjung surut, malah semakin deras.


"Mama....!!!" Charlote langsung menghambur naik ke atas ranjang dan memeluk Maura erat. Maura sudah mengingat dirinya. Maura memanggilnya sayang, seperti biasanya. Charlote benar- benar bahagia dan lega.


"Maafkan mama karna tidak mengenali mu..." Maura membalas pelukan Charlote, dan meminta maaf. Entah kenapa hatinya begitu sangat bersalah karna tidak mengenali Charlote. Tapi sepertinya ia harus membuka diri, karna ini lah kebenarannya. Ia sudah menikah dan sudah memiliki seorang putra.


"Mama tidak akan membuang ku dari hidup mama kan...?" Tanya Charlote dengan sedikit nada takut.


"Tidak sayang... Bagaimana mungkin mama membuang Charlote..."


"Tapi tadi mama tidak mengingat ku... Aku sangat takut mama..."


"Ini salah mama... Maafkan mama... Mama juga tidak tahu kenapa bisa mama melupakan putra mama... Charlote mengerti kan keadaan mama..."


Ny. Anindita tersenyum lebar, membuat kerutan di sebagian wajahnya menebal. Dirinya sangat lega, tuhan mungkin sudah mengatur semua ini. Untuk membuka lembaran hidup yang baru bagi putranya, cucunya, dan juga dirinya.


...----------------...


Catlin merenggangkan otot- otot tubuhnya yang terasa begitu lelah. Karna ulah Gery yang terus menggempurnya hingga tidak berdaya.


Catlin mengucek matanya perlahan.


Hoam...

__ADS_1


Ia menutup mulutnya yang mengoam. Sungguh tubuhnya merasa remuk sekarang. Catlin menundukkan dirinya dan menyandarkan kepalanya pada headbord ranjang. Selimut yang di pakainya merosot ke bawah, memperlihatkan tubuh bagian atas Catlin yang tidak memakai apa pun.


Catlin melirik ke sampingnya. Dirinya sedang mencari pria yang sudah membuatnya dalam kondisi ini. Tapi sepertinya Gery bangun lebih dulu dari dirinya.


Tak berselang lama, pintu kamar mandi terbuka. Dari balik pintu muncul tubuh pria yang memakai boxer. Lengan berotot dan perut sispack, layaknya seperti roti sobek.


Gery menatap ke arah Catlin, yang tersenyum ke arahnya. Tangannya berhenti mengosok rambutnya yang basah dengan handuk.


"Kamu sudah bangun...??" Tanya Gery dengan menaikkan satu alisnya. Ini kali pertama Catlin menatapnya dengan ekspresi seperti itu. Sungguh sangat manis dan cantik. Di tambah lagi dengan dua gunung yang bergelantungan di dada Catlin yang ter ekspos begitu saja.


"Aku tidak menyangka diri mu sangat tampan... Ternyata aku mempunyai selingkuhan yang tak kalah tampan dari suami ku..." Kekeh Catlin dengan tatapan lurus pada Gery.


"Akhirnya kamu mengatakan jika aku ini tampan... Meski di akhir perkataan mu ada embel- embel perbandingan diri ku dengan Rojer... Tapi setidaknya aku lebih baik dari Rojer.. Karna aku bisa memuaskan mu di atas ranjang..." Gery berjalan mendekat, dan mengambil berkas yang di letakkan kemarin di atas meja nakas. Ia membuka lembaran tersebut dengan perlahan.


"Karna kamu tidak akan bisa melebihi Rojer... Kamu tidak ada apa- apanya dengan Rojer... Aku hanya berkata jujur... Tapi aku juga beruntung memiliki kekasih gelap setampan diri mu..."


Catlin menarik lengan Gery, membuat tubuh Gery langsung terduduk di sampingnya. Catlin mengamit lengan Gery manja, sesekali menghirup dalam aroma maskulin pria itu.


"Apa bisa kamu berhenti mengatakan aku adalah kekasih gelap mu..?" Tanya Gery, tapi tidak memalingkan tatapannya dari berkas di tangannya.


"Tidak bisa... Apa aku salah mengatakan hal yang sejujurnya... Inilah kebenarannya... Jadi jangan bernegosiasi dengan ku..."


"Ck... Terserah pada mu... Aku punya sebuah kejutan untuk mu... Aku ingin memberikannya saat kamu pulang dari rumah sakit... Tapi saat itu kamu malah mengusir ku..." Gery meletakkan berkas yang ada di tangannya di depan Catlin. Ia menarik selimut dan menutupi bagian atas Catlin. Ia tidak ingin jika nanti sesuatu yang di bawah kembali terbangun lagi.


"Kejutan... Sebuah hadiah?? Dalam rangka apa??" Catlin mengerjitkan dahinya memandang berkas yang tergeletak di depannya.


"Wow....." Mulut Catlin membulat sempurna. Matanya berbinar, tangannya meraih berkas di depannya dan membukanya. Sungguh ia tidak percaya, mood yang hancur karna Rojer kemarin kini tergantikan dengan kejutan dari Gery.


"Kamu benar- benar paling tahu tentang diri ku Baby,,, Kamu yang terbaik..." Catlin langsung memeluk tubuh polos Gery dengan erat. Ia juga mencium singkat pipi Gery. Hatinya sangat senang dengan kejutan mewah yang di berikan oleh Gery.


Gery hanya tersenyum kecut, dengan ekspresi yang susah di artikan.


"Ini tanda tangani berkasnya... Aku akan segera menyerahkannya ke deller lagi..." Gery memberikan polpen pada Catlin, yang langsung di sambar oleh tangan Catlin cepat. Catlin menanda tangani semua berkas tersebut dengan cepat, tanpa membaca berkas tersebut.


Gery lalu mengambil berkas yang sudah di tanda tangani oleh Catlin.


"Terimakasih sayang... Istirahat lah... Aku akan mengirim berkas ini... " Gery mengecup pucuk kepala Catlin, dan mengambil setelan jasnya di dalam lemari.


Gery melemparkan kunci mobil yang menjadi kejutannya untuk Catlin.


"Mobil baru... Yey..." Catlin menangkap lemparan kunci mobil dari Gery dengan sangat antusias. Harinya benar- benar terasa menyenangkan kali ini.


" Aku pergi..." Ujar Gery, lalu melangkah keluar dari apartemennya. Meninggalkan Catlin yang masih menatap kunci mobil dalam genggamannya.


Gery menatap nanar berkas yang sedang di pegangnya. Sementara langkah kakinya terus melangkah masuk ke dalam lift.

__ADS_1


Catlin segera bangkit dari tempat tidur, dan berlari ke arah kamar mandi dengan tubuh polosnya.


...----------------...


Rojer keluar dari ruangan Antony dengan perasaan yang campur aduk. Pikirannya benar- benar gelisah dan berat karna beban yang sedang di alaminya.


"Bagaimana aku bisa menghadapi Maura....??" Gumam Rojer dengan menyenderkan punggungnya pada tembok. Ia menundukkan kepalanya dalam. Menangis dalam diam, hanya ini yang bisa dirinya lakukan. Menyembunyikan lukanya sendiri.


Rojer memukul dadanya cukup keras. Mencoba menahan air mata yang sudah ada di pelupuk matanya. Lalu melangkah kan kakinya kembali menuju ruang inap Maura.


Krek...


Rojer membuka pintu dengan pelan. Ketiga orang yang ada di dalam ruangan langsung menatap kearahnya.


"Kamu sudah kembali..?"


Rojer terkesiap dengan suara yang begitu sangat ia rindukan selama ini. Suara yang selalu menjadi favoritnya. Suara yang terlontar dari bibir manis yang selalu menjadi candunya.


Rojer menatap ke arah Maura yang sedang menatapnya dengan tersenyum.


"Maura tersenyum pada ku... Apa aku tidak salah lihat?" Batin Rojer tidak percaya.


"Apa kamu berbicara pada diri ku?" Tanya Rojer dengan menunjuk dirinya.


Maura mengangguk pelan.


"Kemarilah...!!!" Ujar Maura lagi.


Bibir Rojer melengkung ke atas, membuat lengkungan indah di wajahnya. Beberapa saat yang lalu, Maura melupakan dirinya. Dan sekarang Maura berbicara seolah- olah ia tidak pernah melupakan dirinya. Apa ini sebuah keajaiban atau Maura hanya mengerjainya.


Rojer mendekat ke arah Maura.


"Apa kamu sudah bisa mengingat ku?"


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤


please tinggalin koment dong

__ADS_1


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit


__ADS_2