
...ILUSI TAKDIR 96...
"Saya datang ke sini, untuk menyerahkan surat perceraian yang di ajukan oleh Tuan muda Rojer untuk Nyonya Catlin...." Ujar Mr. Diego dengan tenang, dan menyerahkan berkas di tangannya kepada Catlin.
Catlin langsung bangkit dari duduknya setelah mendengar ucapan Mr. Diego. Wajahnya menunjukkan ekspresi tidak percaya dengan apa yang di ucapkan pengacara di depannya.
Catlin meraih kertas yang di sodorkan Mr. Diego dengan gusar. Ia menatap setiap huruf yang tercetak jelas di atas kertas putih tersebut. Tangannya meremas kertas tersebut dengan keras. Sementara giginya bergemeretak karna marah dan kesal.
Ny. Anindita terkejut dengan kabar yang baru saja di sampaikan Mr. Diego. Bagaimana bisa putranya Rojer melakukan hal sejauh ini. Di saat kondisi Catlin sedang sakit seperti ini. Begitu pula dengan Gery yang sama terkejutnya dengan Ny. Anindita. Ia selalu mengharapkan ini, dimana Catlin dan Rojer akan bercerai. Tapi ia tidak pernah membayangkan jika berada di posisi sebagai saksi mata pengajuan perceraian Rojer.
"Brengsek... Demi perempuan rendah itu, kamu akan menceraikan ku Rojer... Kenapa...??? Kenapa kamu selalu berada di pihak Maura. Padahal aku adalah istri sah mu..." Lirih Catlin dengan gemelatuk giginya. Menyiratkan kemarahan yang sedang berkobar dengan besar di dalam hatinya. Matanya memerah dan berair.
"Aku tidak akan bercerai dengan suami ku... Aku tidak akan menandatangani surat perceraian ini....!!" Ujar Catlin dengan penekanan di setiap kata- kata yang keluar dari bibirnya. Tanpa ragu, Catlin merobek kertas tersebut. Dan melemparkannya tepat di depan wajah Mr. Diego.
"Katakan pada Tuan mu itu, dia tidak akan lepas semudah itu dari Catlin. Dan sampaikan pada wanita murahan yang bersamanya. Aku tidak akan pernah melepaskan suami ku untuk bersamanya..." Lanjut Catlin lagi, lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Ia sudah tidak tahan lagi untuk membendung amarahnya yang ingin segera di lampiaskan.
Gery mengepal tangannya keras, hingga buku- buku tangannya memutih dengan sempurna. Ia begitu tersakiti dan kecewa dengan apa yang di katakan Catlin. Bahwa dia tidak akan pernah melepaskan Rojer. Apa dia tidak sadar, jika dia sudah sangat tersakiti oleh suami tidak bertanggung jawab seperti Rojer. Dan sekarang di depan matanya ada kesempatan untuk melepaskan diri. Catlin malah enggan untuk bebas. Dan memilih bertahan. Gery benar- benar kesal dengan sikap Catlin.
Gery melihat Catlin berlari menuju kamarnya. Dengan cepat ia menyusul Catlin. Setidaknya ia bisa menjadi tempat bersandar bagi wanita yang ia cintai, meski Catlin tidak menganggap kehadirannya ada.
"Gery kamu mau kemana???" Tanya Ny. Anindita yang menghentikan langkah Gery. Gery tersadar jika sekarang ia tidak hanya berdua dengan Catlin. Ada Ny. Anindita bersama mereka. Gery mengatur mimik wajahnya setenang mungkin agar orang lain tidak curiga dengan perubahan sikapnya yang spontan.
"I... iya tante. Aku... hmmmm... Aku cuma mau menghibur Catlin. Hal ini pasti akan sangat membuatnya terluka... Aku tidak ingin dia melakukan hal nekat tante. Apa lagi kondisinya saat ini masih belum sembuh... Pasti Catlin membutuhkan teman untuk bercerita. Setidaknya aku bisa membantu dan mengawasinya...." Jawab Gery dengan sedikit gugup dan terbata- bata. Namun dapat menyakinkan Ny. Anindita. Tapi tidak dengan Mr. Diego yang terus memperhatikan gerak gerik Gery sejak tadi.
"Ohhh baiklah... Temani Catlin... Kamu benar, dia membutuhkan seorang teman... Terimakasih nak Gery kamu sudah sangat baik dengan Catlin..."
"Tante jangan berterimakasih terus pada ku... Setidaknya aku bisa melakukan hal baik pada orang lain... Apa aku boleh menyusul Catlin tan...?" Ny. Anindita mengangguk pelan. Gery langsung melesat menaiki anak tangga menuju kamar Catlin dengan cepat.
"Apa benar mereka hanya sebatas teman biasa?. Lalu kenapa sikap Tuan Gery seperti itu?. Seakan hubungan mereka lebih dari apa yang dia katakan..." Batin Mr. Diego berdiskusi dengan pikirannya. Sementara di depannya sudah berserakan potongan- potongan kertas yang di robek dan di lempar ke wajahnya oleh Catlin. Tapi dirinya tidak merasa tersinggung dengan hal itu, karna sebelum kemari ia sudah menyiapkan mental yang lebih untuk menghadapi siatuasi yang mempermalukan dirinya.
"Mr. Diego apa- apaan ini?. Surat perceraian..??? Kamu adalah pengacara keluarga Wang... kenapa kamu tidak mengonfirmasinya terlebih dulu dengan ku... Sebelum kamu memberi tahu Catlin. Apa kamu tidak memikirkan kondisinya menerima hal seperti ini di saat ia sedang tidak sehat...." Tegur Ny. Anindita dengan marah pada Mr. Diego yang masih berdiri dengan tenang di depannya.
__ADS_1
"Maaf nyonya.. Ini semua perintah Tuan muda... Saya melaksanakan semuanya sesuai dengan perintah Tuan muda Nyonya..."
"Dasar anak itu.. Tingkahnya semakin kelewatan..." Umpat Ny. Anindita yang begitu merasa bersalah dengan perbuatan putranya.
"Tapi aku adalah Nyonya besar juga... Jadi pendapat ku juga penting.. " Lanjut Ny. Anindita lagi.
"Tapi ini masalah rumah tangga antara Tuan muda dan Ny. Catlin Nyonya. Jadi anda tidak berhak untuk mencampuri rumah tangga mereka. Aku rasa anda sudah tahu hal itu..." Ny. Anindita, langsung terdiam oleh skakmat yang di lontarkan Mr. Diego. Apa yang di ucapkan pengacara di depannya memang benar. Tapi baginya ini bukanlah hal yang benar.
"Saya permisi dulu Nyonya... Ny. Catlin mungkin sudah merobek surat perceraian ini, tapi bukan berarti proses perceraian ini akan gagal. Saya akan mengirim surat yang sama pada Ny. Catlin lagi..." Mr. Diego melihat Ny. Anindita yang terdiam karna ucapannya. Ia membungkuk hormat sebelum meninggalkan Ny. Anindita, yang memijat ringan kepalanya.
Catlin melempar semua prabot di dalam kamarnya. Pecah- pecahan terlihat berserakan di kamarnya. Tapi dirinya belum puas untuk menyalurkan kemarahan yang sedang meluap di dalam dadanya. Ia menarik selimut serta sprei tempat tidurnya. Membuat tempat tidur yang rapi menjadi berantakan. Ia juga melempar bantal- bantal yang tersusun rapi ke sembarang arah, hingga mengenai Gery yang baru masuk ke dalam kamarnya tanpa ia sadari.
"Agghhhhrrr.... Aku tidak menerima ini... Aku tidak mau bercerai dengan mu Rojer... Semuanya gara- gara Maura, wanita murahan itu... Dia sudah merebut suami ku....!!!" Teriak Catlin seperti singa betina yang sedang mengamuk.
Catlin menatap nanar sebuah vas kecil yang masih tersisa di atas meja nakas di samping tempat tidurnya. Tangannya dengan cepat meraih vas tersebut dan melempar ke arah jendela kaca yang menjadi pembatas antara balkon dan kamarnya.
Prang.....
Trang...
"Hentikan...!!! Apa yang akan kamu lakukan... Kamu bisa melukai dirimu sendiri...!!" Teriak Gery dengan memegang tangan Catlin, menghalangi Catlin untuk menghancurkan benda- benda yang ada di dalam kamarnya.
"Kenapa kamu masih di sini.... Lepaskan aku... Pergi dari sini... Aku tidak ingin melihat mu di sini.. Gery pergilah...!!" Teriak Catlin di depan wajah Gery, dan menghempaskan pegangan tangan gery pada pergelangan tangannya.
"Berhentilah menjadi wanita bodoh.... Buka mata mu... Buka otak mu... berpikirlah secara logis... Rojer sudah tidak menginginkan mu lagi... Apa lagi yang kamu harapkan darinya... Lihat lah diri mu sekarang frustasi bahkan hampir gila. Tapi dia,, Rojer bahkan tidak peduli dengan kondisi mu... Bahkan dirinya mengirim surat perceraian di saat diri mu sedang sakit....!!! Berpikir lah Catlin... Bukankah kamu wanita pintar...???" Ujar Gery dengan berteriak juga pada Catlin.
"Aku tidak ingin mendengar kata- kata mu... Aku mencintai nya... Aku sangat mencintai Rojer... Aku tidak rela jika dia bersanding dengan Maura... Lebih baik aku mati jika hal itu terjadi... Dan selama aku masih hidup aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi..."
"Sadarlah... Sadarlah Catlin...!! Rojer tidak mencintai mu... Dia bahkan tidak pernah mencintai mu sedikit pun... Jangankan mencintai mu bahkan dia sama sekali tidak menyukai mu... Dia berselingkuh dengan wanita lain, tapi dirinya tidak pernah merasa bersalah. Dia menganggap dirinya sebagai pria lajang tanpa istri. Karna dia tidak pernah menganggap kamu ada...."
Perkataan Gery yang begitu menggelegar, menusuk tepat di hati Catlin. Catlin terpaku mendengar kenyataan pahit yang di katakan pria di depannya dengan nafas yang masih tersenggal- senggal.
__ADS_1
Tungkai kaki Catlin yang berdiri begitu kuat karna amarah, kini terasa mati rasa karna mendengar sebuah kenyataan. Ia ambruk dengan memeluk lututnya. Catlin membenamkan wajahnya di antara dua lututnya, dan menangis dengan keras. Rasa sakit hatinya benar- benar terasa sangat menyakiti dirinya.
Gery menyugar rambutnya, dan mengusap butiran keringat yang terbentuk karna kemarahan. Sesekali ia menutup mulutnya, karna tidak seharusnya ia berbicara dengan nada keras seperti itu pada wanita yang tengah meringkuk dan menangis di depannya.
"Tenanglah.. Maafkan aku... sudah membentak mu... Kemarilah..." Gery merengkuh tubuh ringkih Catlin yang masih menangis tersedu- sedu dalam pelukannya. Ia mengusap pucuk kepala Catlin dengan lembut, membuat wanita yang ada dalam pelukannya menjadi lebih tenang.
...----------------...
Langit sudah tidak lagi bercahaya. Matahari sudah pulang untuk beristirahat. Tapi tidak dengan seorang pria yang terus mengangkat setiap puing- puin bangunan. Meski tanganya sudah mengeluarkan darah karna tergores oleh reruntuhan. Tapi hal itu tidak menyurutkan tekadnya. Kedua matanya sudah sangat sembab dan bengkak, tapi air mata tidak pernah berhenti untuk mengalir dari sudut- sudut matanya.
Sudah 5 jam proses evakuasi berjalan. Namun Maura dan Charlote tidak kunjung di temukan. Seakan mereka hilang di telan bumi.
Edent memperhatikan tingkah Rojer sejak tadi. Sementara dirinya juga melakukan hal sama, ikut mencari dua majikannya yang belum berhasil di temukan. Hati Edent tidak sanggup melihat kondisi Rojer yang terlihat putus asa seperti itu. Seperti seseorang yang kehilangan salah satu anggota tubuhnya.
Edent menghampiri Rojer. Ia sudah tidak tahan melihat kegilaan Rojer. Rojer bahkan tidak berhenti untuk terus memilah- milah puing- puing bangunan.
"Tuan Muda, tangan anda berdarah dan terluka... Lebih baik anda beristirahat terlebih dahulu..." Edent memberanikan diri untuk mengatakan semua itu.
"Diam kau... Aku tidak peduli jika tangan ku akan lepas dari tubuh ku... Yang ku inginkan sekarang Maura dan Charlote di temukan... Jika tidak aku akan membunuh diri ku di sini... Jika kamu ingin bermanfaat bagi ku... Pergilah cari tuan mu... Jika tidak jangan pernah tunjukkan lagi wajah mu di depan ku Edent..." Timpal Rojer dengan nada frustasi, sambil terus mengangkat puing- puing reruntuhan.
Edent terhenyak mendengar ucapan Rojer. Hatinya semakin merasa bersalah. Jika ia mengurus keamanan ballroom dengan benar, maka hal ini tidak akan pernah terjadi. Dan Tuannya tidak akan menderita seperti ini.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
__ADS_1
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit