
...ILUSI TAKDIR 115...
Rojer memutar knok pintu. Di depan pintu sudah berdiri Ny. Anindita sambil tersenyum penuh arti.
"Mama..." Lirih Rojer, saat mengetahui orang yang menjadi pengganggunya adalah ibunya sendiri.
"Iya ini aku... Apa yang tadi kamu lakukan dengan Maura..?" Tanya Ny. Anindita dengan penuh selidik.
Rojer menghela nafasnya. Saat hubungannya di ketahui oleh Ny. Anindita, dirinya tidak leluasa untuk mendekati Maura. Ibunya ini akan selalu datang untuk menganggu dirinya. Layaknya seperti alarm rusak yang selalu berdering tanpa henti.
"Tidak... Aku tidak melakukan apa- apa pada Maura..." Bantah Rojer dengan wajahnya yang sedikit kesal.
"Apa aku bisa mempercayai laki- laki seperti mu... Ingat sebelum kamu menikah mama tidak akan membiarkan mu untuk menyentuh Maura.. Jadi kamu harus sedikit menjaga jarak dengannya. Agar kamu tidak khilaf lagi..."
"Lah... Bagaimana bisa begitu?? Menjaga jarak dari Maura??? Tidak... Tidak... aku tidak akan melakukan itu..."
"Diam diam... Kalian kan belum menikah bagaimana bisa kalian melakukan nya di luar nikah.. Dasar anak konyol..." Ujar Ny. Anindita dengan sinis, dan menjitak kepala Rojer sebelum menyeruak masuk ke dalam kamar.
"Auuuu... Mama..." Ringgis Rojer dengan memegangi kepalanya yang terasa sakit. Meski dirinya sudah sebesar ini tapi di mata Ny. Anindita dirinya adalah putra kecil wanita itu.
"Hey sayang... tidak bertemu dengan mu sesaat membuat mama begitu merindukan mu..." Ny. Anindita langsung memeluk tubuh Maura gemas. Membuat Maura terkekeh senang dengan tingkah Ny. Anindita.
"Aku kan ada di sini ma.. " Maura membalas pelukan hangat Ny. Anindita. Merasakan pelukan dari seorang ibu yang menyanyanginya. Meski ia tahu wanita di depannya bukan lah ibunya.
"Oya mama ke sini... Bukan untuk menganggu kalian... Tapi mama cuma mau mengatakan jika besok adalah hari jadi pernikahan kalian... Jadi kita akan mengadakan pesta yang besar..." Ujar Ny. Anindita hampir berteriak karna keantusiasan dirinya.
"Hari jadi pernikahan..?" Tanya Rojer dengan terkejut. Mata Rojer membulat sempurna dengan bibir yang membentuk huruf O.
Ny. Anindita terkekeh canggung, melihat reaksi anaknya yang sungguh sangat berlebihan.
Ny. Anindita menatap ke arah Maura yang terlihat biasa- biasa saja. Dari tatapannya ia tidak ingin Maura merasa curiga sedikit pun dengan apa yang di sampaikannya tadi.
Ny. Anindita menghampiri Rojer, dan menarik lengan Rojer membelakangi Maura.
"Untuk apa kamu terkejut seperti itu...??" Ujar Ny. Anindita dengan menunjuk wajah Rojer.
"Bagaimana aku tidak terkejut, Bagaimana ada pesta hari jadi pernikahan sedangkan aku saja dan Maura belum menikah sama sekali..." Timpal Rojer hampir berbisik di telinga Ny. Anindita.
"Dasar bodoh... Kamu benar- benar tidak ada apa- apanya dengan mama... Mama sengaja melakukan ini semua..."
"Sengaja???"
"Iya sengaja... Kamu pikir mama tidak merencanakan semuanya dengan matang apa... Mama sengaja mengatakan hal itu karna besok kalian sebenarnya akan menikah..."
"Menikah???"
"Aduhhh pakai otak mu sedikit Rojer... Besok mama akan membuat acara pernikahan antara diri mu dan Maura. Mama akan berikan alasan kepada Maura dengan alasan, Jika kalian akan melakukan upacara pernikahan ulang di hari jadi kalian yang ke 9. Hitung- hitung untuk membuat ingatan Maura kembali... Dan mama yakin Maura pasti akan menyetujuinya..."
"Apa ini tidak berlebihan ma..?" Rojer mulai bimbang mendengar rencana besar ibunya.
"Ini tidak berlebihan... Ini untuk mengikat Maura dengan mu.. Jika suatu hari dia mengingat segalanya dia tidak akan meninggal kan mu... Lagi pula mama sudah terlanjur sayang pada nya... Jadi jangan membantah dan turuti saja rencana mama ... Kamu mengerti...!!!"
Rojer langsung memeluk erat tubuh Ny. Anindita. Ternyata ibunya selama ini begitu memprioritaskan dirinya. Bahkan dirinya tidak pernah berpikir untuk melakukan hal sejauh ini. Jika suatu hari nanti ingatan Maura telah kembali, dirinya siap menerima kemarahan dari Maura.
__ADS_1
Ny. Anindita melepas pelukan putranya. Lalu menghampiri kembali Maura, dan duduk di tepi ranjang.
"Bagaimana menurut mu Mau untuk acara besok???... Tema apa yang kamu inginkan untuk pesta hari jadi pernikahan mu?" Tanya Ny. Anindita dengan tersenyum.
"Hmmm Aku serahkan semuanya pada mama... Mama atur saja pestanya, aku akan menerima semuanya. Aku yakin mama pasti akan membuat acara yang indah..."
"Kamu lihat Maura pasti menyetujui semuanya..." Ucap Ny. Anindita pada Rojer.
"Baiklah.. istirahat lah.. Mama akan pergi dulu... Ingat minum obat mu... " Ny. Anindita lalu melangkah pergi, meninggalkan Rojer dan Maura di dalam kamar.
Rojer menutup pintu kembali saat Ny. Anindita sudah keluar.
"Apa kamu melupakan hari jadi pernikahan kita??? Kamu begitu terkejut tadi mendengar mama mengatakan semua hal itu?" Tanya Maura dengan raut wajah penasaran. Dirinya merasa ada sesuatu yang aneh dan menganjal di sini, tapi entah apa itu.
"Aaahhh bukan begitu Mau... Aku sedikit lupa tadi,, Aku tidak menyangka waktu yang kita lewati begitu cepat berlalu, dan kini sudah sampai hari jadi peringatan pernikahan kita... " Rojer menoleh ke arah Maura dan duduk di sampingnya. Rojer ikut menyenderkan tubuhnya pada headbord ranjang.
"Jika aku melupakan hari itu wajar saja... Karna aku sedang amnesia, ingatan ku hilang begitu saja. Tapi diri mu kenapa bisa kamu melupakan hari sepenting ini... Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari ku Rojer? Apa ada sesuatu yang membuat mu sampai lupa dengan hari bersejarah dalam hidup kita..?" Maura menatap Rojer dengan serius.
"Maaf jika aku melupakan nya... Tapi sungguh aku tidak bermaksud untuk melupakannya, mungkin karna efek kecelakaan mu itu. Aku tidak bisa memikirkan apa pun selain keselamatan mu saat itu... Maafkan aku..." Rojer memasang wajah bersalah. Meski sebenarnya pesta hari pernikahan antara dirinya dan Maura tidak pernah ada.
Rojer mendekap tubuh Maura, menarik tubuh mungil itu dalam pelukannya. Memberikan kehangatan pada tubuh wanitanya. Memberikan rasa nyaman lewat sebuah pelukan.
Maura menyenderkan kepalanya di dada bidang Rojer. Setiap ada di posisi ini, dirinya selalu merasa nyaman dan damai. Seperti dirinya tidak pernah mengalami masalah apa pun.
...----------------...
Charlote sedang berdiri, sambil menghadap pada dinding kaca di depannya. Dari kamarnya ia bisa melihat luasnya halaman keluarga Wang.
Air wajahnya menampakkan keseriusan. Seolah ia sedang memikirkan sesuatu. Charlote terlihat seperti bukan dirinya. Bawaannya lebih dewasa dari pada biasanya. Tatapannya jauh lebih tajam.
"Iya Tuan Kecil..." Jawab Freya dengan langsung berdiri dengan cepat.
"Panggil Edent... Suruh dia menemui ku segera.." Pinta Charlote, yang langsung di laksanakan oleh Freya.
Freya bergegas pergi meninggalkan Charlote untuk mencari Edent.
"Kehancuran mu akan segera di mulai Nona Catlin... Alias tante ku..." Gumam Charlote dengan smirk misteriusnya.
...----------------...
Catlin menggedor pintu apartemen Gery dengan keras.
Dor...
Dor..
Dor...
Sesekali tangannya memencet bel. Namun tidak ada respon dari dalam. Membuat Catlin semakin kesal dan marah.
"Seperti nya penghianat itu tidak ada di sini... Baik lah.. Di mana pun diri mu aku pasti akan menemukan mu..." Catlin segera berlalu, di pikirannnya sekarang adalah ia harus menemukan Gery.
Catlin sudah sampai di parkiran apartemen, ia langsung masuk ke dalam mobil dan menjalankan kendaraan roda empat itu.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, kini dirinya sudah ada di tempat kantor Gery.
Kantor di depannya terlihat sudah sepi, Sepertinya semua karyawan sudah pulang ke kediaman masing- masing.
Jam menunjukkan jam lima Sore, yang artinya semua aktivitas sudah berakhir.
Catlin memarkir mobilnya, dan segera melangkah masuk ke dalam kantor Gery dengan cepat.
Catlin mendobrak pintu ruangan kerja Gery, tanpa mengetuk sebelumnya. Di kepalanya sudah tidak lagi memikirkan hal- hal seperti itu. Dalam dirinya hanya ada kemarahan dan dendam.
Gery mengangkat kepalanya saat mendengar suara keras dari arah pintu.
"Catlin..." Lirih Gery, saat melihat siapa yang datang ke kantornya.
"Iya ini aku..." Timpal Catlin dengan nafas yang memburu.
Gery dapat melihat dengan jelas jika sekarang Catlin sedang marah besar.
"Apa Catlin sudah mengetahui semuanya..? Dia terlihat begitu marah..." Batin Gery dengan tubuh sedikit gugup. Selama ini ia belum pernah melihat Catlin menatapnya dengan kemarahan sebesar ini.
"Kenapa kamu kemari??? Kamu bisa menghubungi ku... Aku akan langsung mendatangi mu..." Ujar Gery memecah suasana yang cukup mencekam, antara dirinya dan Catlin.
"Apa kamu yang melakukan ini semua Gery...!!" Ucap Catlin hampir berteriak. Ia berjalan mendekat ke arah Gery. Melihat perubahan ekspresi yang sangat bisa ia tebak.
"Apa maksud mu Catlin..? Melakukan apa?"
"Aku ulangi sekali lagi... Apa kamu yang melakukan ini semua Gery?" Kini Catlin mulai berteriak tepat di depan wajah Gery.
"Iya aku yang melakukannya... Tapi percayalah aku melakukannya untu kebahagian mu.. Aku tidak ingin melihat mu bersedih lagi... Sudah saat nya kamu bahagia. dan kebahagian mu bukan bersama Rojer tapi bersama ku... Aku bersumpah akan memenuhi hidup mu dengan kebahagian..."
"Cuihhhh..." Catlin meludahi wajah Gery.
"Kamu tahu aku tidak pernah mengharapkan ini dari mu... Kamu adalah pengkhianat... Pengkhianat!!! Kamu dengar pengkhianat... Berani sekali kamu mengkhianati ku Gery... Karna mu aku kehilangan Rojer... Aku kehilangan segalanya... Hidup ku hancur semuanya karna diri mu..." Jari telunjuk Catlin menunjuk- nunjuk wajah Gery.
"Aku melakukan semuanya untuk bisa bersama mu Catlin... Aku ingin hidup bersama mu dan itu akan terjadi jika kamu bercerai dengan Rojer... Lihat aku... Aku juga kaya, aku juga tampan... Aku bahkan bisa membahagiakan mu..." Gery memegang bahu Catlin dan menggoyangkannya. Berharap wanita di depannya mengerti kenapa dia bisa melakukan hal ini.
Catlin menepis tangan Gery dari bahunya. Ia menatap lampu belajar yang ada di atas meja kerja Gery. Ia meraih lampu belajar itu, dan membantingnya begitu saja ke tembok.
Prak...
Lampu belajar itu rusak berkeping- keping.
"Aku sudah mengatakannya ber ulang kali... Kamu tidak akan bisa di bandingkan dengan Rojer... Dia segala- galanya. Sedangkan kamu tidak lebih besar dari sepatu yang dia pakai... Kamu tidak pernah puas dengan apa yang kamu miliki... Sampai kamu tega mengkhianati ku... Kamu tega menghancurkan hidup ku... Gery.... Kamu adalah seorang pengkhinat... Aku tidak akan pernah bisa memaafkan mu..."
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
__ADS_1
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit