Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
85


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 85...


"Pertunjukannya sudah selesai... Kenapa masih menatap calon istri mungil ku seperti itu?. Apa kalian semua ingin aku menarik---" Perkataan Rojer mengambang di udara. Semua sorot mata tamu segera beralih dari Maura. Para penjilat seperti mereka tidak ingin berurusan dengan Rojer atau hidup mereka akan hancur. Mereka lebih memilih untuk sibuk dengan topik pembicaraan lain dengan sesamanya.


Maura menepis tangan Rojer dari pinggangnya.


"Jangan pura- pura peduli dengan ku Tuan CEO..."Ketus Maura, lalu melangkah pergi dari hadapan Rojer. Sudah cukup untuk hari ini emosinya terkuras karna bertemu orang- orang menyebalkan.


"Mau... Maura...!" Panggil Steve mencoba meraih tangan Maura. Dan menyamakan langkahnya. Namun Rojer menahan lengan tangan Steve dengan tatapan tidak bersahabat.


"Jangan berani dekat- dekat dengan wanita ku... Jika tidak kamu tahu kekuasaan ku kan..." Rojer melepas cekalan tangannya dari lengan Steve. Rahang Steve mengeras mendengar ancaman dari Rojer. Ia bukan orang yang lemah yang bisa di ancam oleh orang seperti Rojer. Tapi tidak ada gunanya untuk mengahabiskan waktu meladeni pria arogant dan sombong seperti Rojer. Yang lebih penting sekarang adalah ia harus mengejar Maura.


Steve memegang pergelangan tangan Maura saat ia berhasil mengejar Maura.


"Tunggu... " Ujar Steve dengan nafas yang terenggah- enggah. Kini mereka sudah ada di luar gedung. Terpaan angin malam yang menyejukkan tidak mampu untuk mendinginkan kemarahan Maura.


"Lepaskan...!!" Bentak Maura dengan menghempas tangan Steve. Tapi sepertinya Steve tidak ingin melepaskan cekalan tangannya.


"Hey... Ayolah.. Cool down gril... Apa marah mu ini bisa memutar semuanya kembali..? Ayolah tenangkan lah diri mu... Apa wanita tadi adalah ibu dan saudari tiri mu...?" Steve memindah posisinya menghadap Maura. Sementara nafasnya masih memburu karna berlari untuk mengejar langkah Maura. Steve melepas tangan Maura saat ia merasa Maura tidak akan lari lagi.


"Huhhh... Kamu benar seharusnya aku tidak perlu marah hanya karna dua wanita tidak tahu malu itu. Seperti yang kamu duga Steve, mereka adalah ibu dan saudari tiri ku... Dan semua yang mereka lakukan pada ku tujuh tahun silam tidak akan pernah bisa aku lupakan..." Maura menghela nafasnya dalam, mengontrol kemarahannya.


"Apa kamu baik- baik saja Mau... Seharusnya aku tidak memaksa mu untuk datang ke sini, Aku sungguh tidak tahu jika dua wanita ular itu akan ada di sini... "

__ADS_1


"Sudahlah, lagi pula semuanya sudah berlalu Steve. Kamu tidak usah merasa bersalah seperti itu. Aku pikir setelah sekian tahun mereka akan berubah... Tapi sayang dugaan ku salah. Bukannya malah berubah mereka bahkan semakin parah... Ahhh... Sudahlah ayo kita pulang... Charlote pasti sudah menunggu..." Maura melangkah mendahului Steve.


Freya sudah berdiri dengan tegap di samping mobil Steve. Ia sengaja menunggu di parkiran sesuai dengan perintah Rojer.


"Nyonya, apa anda baik- baik saja... Kenapa terlihat murung.?" Tanya Freya dengan datar. Entah sepertinya wanita di depannya tidak pernah memasang ekspresi apaun di depan Maura.


"Hmmm...." Maura berdehem. Ia sangat malas kali ini hanya untuk berbicara. Pikirannya masih terbang ke tempat lain.


Freya membuka pintu penumpang. Maura langsung masuk dan duduk dengan tenang. Pikirannya kali ini masih tertinggal di pesta itu bersama sosok pria yang sama. Ia tidak habis pikir dengan Rojer. Kadang pria itu membelanya kadang juga menyakitinya. Tapi tadi di depan semua orang dia mengatakan jika dirinya adalah calon istrinya.


Steve menyalakan mobil dan melaju membelah jalanan yang cukup senggang.


Maura memandang ke luar jendela. memandangi pepohonan yang berjejer dengan rapi di tepi jalan.


...----------------...


Ny. Aurora tengah duduk di samping Catlin yang tengah terlelap di ranjang rumah sakit. Rahangnya di vonis bergeser oleh dokter dan butuh beberapa hari untuk sembuh. Jangankan bicara menolehkan kepalanya saja tidak bisa. Hanya rintihan samar yang keluar dari mulutnya.


Suara pintu di buka dengan terburu- buru oleh seseorang yang tak lain adalah Gery. Di wajahnya tersirat rasa cemas dan khawatir saat mendengar kabar bahwa pujaan hatinya masuk rumah sakit.


Matanya semakin memanas ketika melihat kondisi Catlin yang memperihatinkan.


"Catlin... Bagaimana bisa jadi seperti ini...???" Tanya Gery dengan nada sangat cemas. Jantungnya terasa berhenti ketika mendengar kabar ini. Bahkan ia meninggalkan semua pekerjaannya dan menerobos untuk datang ke rumah sakit.

__ADS_1


Ny. Aurora memutar bola matanya malas. Ia tidak suka dengan pria di depannya yang sedang mencemaskan putri kesayangannya.


"Ini semua karna Maura... Dia yang sudah memukul Catlin hingga rahangnya bergeser dan keadaannya seperti ini..." Ujar Ny. Aurora dengan nada ber api- api.


Kedua tangan Gery mengepal keras, hingga buku- buku tangannya memutih. Aliran darahnya merasa mendidih. Rasanya saat ini ia ingin membunuh orang yang sudah membuat kondisi kekasihnya seperti ini. Musuh Catlin adalah musuhnya. Siapapun yang menyakiti kekasihnya akan mendapatkan hal setimpal.


"Aku tidak akan melepaskan orang yang membuat mu seperti ini Sayang...." Batin Gery dengan tatapan nyalang.


"Aaaa....Eeee...." Ringgis Catlin kesakitan. Ia membuka matanya perlahan. Sedangkan bagian bawah wajahnya khususnya pada rahangnya terasa sangat sakit. Ia menggerakkan bola matanya dan mendapati Ny. Aurora dan Gery kekasih gelapnya yang tengah memandangnya dengan penuh cinta.


"Cepatlah sembuh sayang... Setelah kamu sembuh aku janji akan mengajak mu liburan... hmmmm" Gery mencium punggung tangan Catlin.


Catlin melirik ke arah Ny. Aurora yang terlihat sangat kesal, seperti meminta penjelasan apa yang terjadi setelah pertengkaran dirinya dengan Maura.


"Sudah ku katakan kan pada mu... Jika dia tidak bisa lagi di remehkan... Sekarang lihat kondisi mu... Sekali tamparan darinya membuat rahang mu bergeser... Hhhh dia sudah mempermalukan kita... Dia harus di beri pelajaran... Mama akan membuat perhitungan dengannya..." Ujar Ny. Aurora menumpahkan kekesalan hatinya. Belum lagi Rojer yang juga mempermalukan dirinya. Bukannya malah membela tapi dia malah menjatuhkannya.


"Tante, biarkan Catlin beristirahat... Jangan bebani dia dengan pemikiran seperti itu..." Ujar Gery.


"Kamu tidak usah menasihati ku... Seharusnya kamu membalaskan dendam Catlin. Membalaskan rasa sakitnya. Bukan malah berdiam diri seperti itu. Kamu memang pria tidak becus..." Timpal Ny. Aurora dengan kesal dan keluar dari ruangan.


"Jangan pikirkan apa yang di katakan mama mu... Sehatlah dulu, baru kita pikirkan perhitungan yang pantas untuk Maura... Love you..." Gery mengecup pucuk kepala Catlin dengan lembut.


...----------------...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2