
...ILUSI TAKDIR 76...
Edent menunduk mengerti di mana kesalahannya. Namun ia tidak bergeming dari depan Rojer. Ia sudah siap jika harus menerima pukulan lagi.
Rojer menatap Edent dengan murka. Apa yang di lakukan Edent membuat amarahnya membuncah.
Maura menatap Rojer, ia tahu apa yang akan di lakukan pria ini saat sedang marah. Meski hatinya masih terluka, tapi ia harus menenangkan Rojer saat ini. Jika tidak Edent yang tidak bersalah akan menjadi bulan- bulanan kemarahannya.
Dengan sisa tenaganya, Maura menggerakkan tangannya yang masih gemetar dan pucat, menyentuh pergelangan tangan Rojer.
Rojer terkesiap saat kulit halus dan dingin menyapu pergelangan tangannya. Ia segera mengalihkan pandangannya pada Maura yang menatapnya dengan sendu. Saking marahnya, ia sampai lupa jika Maura ada di ruangan ini dengan kondisi yang membuat dirinya jauh lebih hancur.
Ekspresi Rojer langsung berubah begitu cepat. Di matanya tidak ada lagi kemarahan atau kecemburuan. Yang ada hanya rasa bersalah, karna ia kecolongan informasi Maura. Kini fokus Rojer hanya tertuju pada Maura. Ia tidak lagi menatap Edent dengan amarah.
Edent memejamkan matanya lega, dan menghembuskan pelan. Ia merasa lega, kali ini terselamatkan dari keganasan Rojer.
"Terimakasih nona... Kamu menyelamatkan ku dari singa kelaparan ini..." Batin Edent. Ia melangkah keluar dari kamar. Sudah cukup hari ini, tenaganya terkuras habis untuk menahan amukan majikannya.
"Maura, Apa kamu baik- baik saja?. Kenapa bisa seperti ini?... Kenapa kamu tidak memberi tahu ku.? " Cecar Rojer dengan nada khawatir. Ia menangkup wajah pucat Maura.
"Dia memandang ku dengan penuh khawatir, Apa ini kebohongan mu lagi untuk mempermainkan ku.." Batin Maura, yang melihat wajah Rojer yang sangat khawatir tentang keadaanya. Maura mencoba mencari kebohongan pada manik mata Rojer namun ia tidak menemukannya.
"Tidak... Aku tidak akan tertipu lagi..." Lanjut Maura.
Maura menurunkan tangan Rojer yang menangkup wajahnya.
__ADS_1
"Hari ini, kamu tidak masuk kantor... Apa kamu punya kesibukan sampai tidak masuk kantor?" Tanya Maura pura- pura tidak terjadi apa- apa. Ia ingin tahu apa yang akan di katakan Rojer. Apa dia akan mengatakan jika dia pergi untuk mempublikasikan hubungannya yang sangat harmonis di depan umum. Maura berusaha tersenyum, meski hatinya saat ini ingin melontarkan sumpah serapah pada pria yang duduk khawatir di depannya.
"Maafkan aku tidak menemui mu hari ini... Aku harus mengurus masalah yang sangat penting. Hingga tidak bisa masuk kantor. Dan maaf kan aku, karna tida mengangkat telpon dari mu. Sungguh aku sangat menyesal. Aku sangat khawatir dengan mu Maura. Sungguh sesaat aku gila karna memikirkan mu..." Timpal Rojer dengan menampakkan puppy eyes nya.
"Haha... ha..." Maura tertawa getir. Dengan begitu lihai Rojer tidak mengatakan tentang kejadian di peresmian bunga tulip itu.
"Kamu begitu lihai berbohong Rojer... Berhentilah bersikap seolah- olah kamu mencintai ku..." Lanjut Maura.
Deg...
Jantung Rojer berdenyut nyeri, melihat tawa getir Maura dan pernyataanya.
"Apa maksud mu sayang?. Berbohong?.." Rojer tidak mengerti.
Air mata Maura terjun bebas dari kedua matanya. Ia berusaha tegar menghadapi kenyataan.
"Aku tahu aku ini hanya seorang kekasih gelap atau simpanan seorang Rojer Wang. Aku berfikir semua yang kamu katakan dengan kata- kata manis mu itu benar. Tapi sekali lagi aku di hancurkan dengan begitu kejam. Harapan yang berusaha aku percayai telah di hancurkan begitu saja... Dan aku semakin percaya saat kamu berbohong. Kamu tahu aku berfikir kamu akan mengajak aku ke acara itu. Menikmati indah nya bunga tulip. Tapi sayangnya di sana aku melihat mu bersama Catlin sangat bahagia. Hati ku hancur berkeping- keping. Itu lah alasan mu tidak mengangkat telpon ku. Aku sangat mengerti hubungan kita salah. Aku tidak seharusnya menjadi orang ketiga dalam rumah tangga wanita lain." Lanjut Maura. Ia melepasnya tangannya dari tangan Rojer. Dan memalingkan wajahnya. Ia ingin marah pada Rojer, namun tenaganya sudah terkuras karna kondisinya ini.
DEG...
Rojer tersentak kaget, mengetahui jika Maura mengetahui kejadian yang berusaha dia sembunyikan.
"Maura mengetahui semuanya... Bahkan dia ada di sana saat aku mengatakan sandiwara publik itu.." Batin Rojer.
Rojer semakin takut dan kalut. Sekali lagi ia menyakiti Maura, menghancurkan kepercayaan yang sudah ia dapatkan dengan susah payah.
__ADS_1
"Aku harus menjernihkan kesalah pahaman ini." Batin Rojer lagi.
Rojer menangkup wajah Maura yang sudah menyiratkan kemarahan. Dapat terlihat di matanya tidak ada kepercayaan lagi pada dirinya.
"Dengar Maura, percayalah pada ku... Aku tidak mencintai Catlin sama sekali. Hati ku hanya untuk mu.. Tidak ada wanita lain. Kamu tahu kan aku akan segera menceraikannya. Apa yang ku katakan di acara itu hanya sebuah sandiwara publik." Jelas Rojer menyakinkan Maura.
"Ha... ha...Ha...Sandiwara publik... Kamu sangat pandai bersandiwara. Lalu, cinta mu pada ku juga sandiwara juga... Ha... ha... Sudahlah lebih baik kamu pergi dari sini. Sungguh aku tidak ingin melihat mu di sini..." Ujar Maura dengan penekanan di setiap kalimatnya.
Lagi- lagi hati Rojer hancur dan ngeri mendengar perkataan Maura. Seakan hatinya sedang di iris- iris oleh sembilu tajam.
" Cukup... Kamu tidak perlu mengatakan kebohongan lagi Rojer. Aku muak mendengar mu... Lebih baik sekarang kamu fokus dengan istri mu yang cantik itu. Dan berhentilah memikirkan ku.. Apalagi menemuiku lagi. Aku tidak membutuhkan kehadiran mu di dalam hidup ku begitu pula dengan Charlote." Maura membalikkan badannya membelakangi Rojer.
"Maura aku mohon dengar kan aku... Semuanya tidak seperti yang kamu kira."
"PERGI...!! PERGILAH DARI SINI...! Di hati ku tidak ada tempat lagi untuk mu... Aku membenci mu... Rojer... Hiks..." Teriak Maura. Saat ini ia sudah tidak tahan jika Rojer terus ada di sini. Luka hatinya masih basah, dengan kehadiran Rojer luka hatinya akan terus menganga dan berdenyut nyeri.
"Maura dengarkan aku...!" Rojer membalik tubuh Maura menghadapnya dengan paksa.
"Aku tidak ingin mendengar apa pun dari mulut pembohong mu itu. Aku percaya dengan apa yang aku lihat. Itu sudah cukup menyakinkan ku Rojer. Jangan sok membujuk ku... Aku tidak akan terayu oleh kata manis mu itu. Aku ingin hubungan kita berakhir sampai di sini.. Aku menolak lamaran mu dan menolak menjadi istri mu..." Maura melepas kasar cincin berlian yang pernah di berikan Rojer sebagai cincin lamarannya. Ia meraih tangan hangat Rojer dan meletakkannya di atas telapak tangan Rojer. Maura sudah tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan Rojer. Rasa sakit ini sudah cukup menyiksa nya. Ia tidak ingin berharap lebih banyak lagi pada Rojer.
"Tidak... Kamu tidak bisa memutuskannya secara sepihak Maura... Kamu hanya milik ku... Dan akan tetap begitu... Aku tidak peduli jika diri mu menolak diri ku... Tapi kamu akan tetap menjadi milik ku untuk selamanya. " Timpal Rojer dengan posesif.
...----------------...
...****************...
__ADS_1
Mulai sekarang ilusi takdir up 2 eps jam 23:0p ya...
please komen buat menmbah energi author😁