Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
Mengorek Informasi 2...


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 33...


"ROJER... BERHENTI!!!! akrhh... ahrhhhh..." Teriak Ny. Anindita dan jatuh ke lantai dengan memegangi dada kirinya.


"Mama...." Ujar Rojer lalu mendekat dan menopang tubuh Ny. Anindita.


"De... ngar Rojer.. hhhh.. Mama tidak pernah mendidikmu untuk menghancurkan hidup seseorang... hhhh... Apalagi itu seorang gadis nak.." Ujar Ny. Anindita dengan nafas yang tercekat karna sesak nafas.


"Ma.. Aku tidak pernah melakukannya,,, dia bukan wanita itu ma.. Aku tahu itu,,, dia bukan wanita yang bersama ku semalam..." Ujar Rojer membela diri. Dengan Ny. Anindita yang masih dalam pelukannya.


"Edent.. Cepat panggil Antony kemari..!!!" Teriak Rojer pada Edent. Edent langsung berlalu keluar untuk menelpon Antony.


"Dengar Rojer... Apapun yang kamu katakan kamu harus bertanggung jawab pada gadis itu.." Ujar Ny. Anindita sambil menunjuk pada Catlin yang masih menangis dalam pelukan Ny. Aurora yang mencoba untuk menenangkannya.


Belum sempat Rojer menimpali Ny. Anindita. Mata Ny. Anindita sudah terpejam pingsan. Sontak hal itu membuat Rojer semakin khawatir dan cemas dengan keadaan Ny. Anindita.


"Ma.. mama.. Bangun...ma.." Ujar Rojer dengan nada suara yang lebih tinggi, dengan menggoyangkan tubuh Ny. Anindita. Sesekali ia menepuk- nepuk pipi Ny. Anindita.


Rojer langsung mengangkat tubuh Ny. Anindita dalam gendongannya, dan membawa Ny. Anindita ke kamarnya.


"Kalian awasi mereka.. !!!" Ujar Rojer pada beberapa pengawal untuk mengawasi Catlin dan Ny. Aurora, sebelum kembali melangkah ke kamar Ny. Anindita.


...----------------...


Rojer mondar mandir di dalam kamar Ny. Anindita dengan perasaan cemas dan khawatir.


Sementara Antony tengah memeriksa Ny. Anindita yang masih belum sadar dari pingsannya.


"Mama mu tidak apa- apa.. Dia hanya syok saja..." Ujar Antony setelah selesai memeriksa keadaan Ny. Anindita.


"Hhhh... Ck.. semuanya gara- gara dua wanita murahan itu.." Decak Rojer kesal sambil meninju tembok keras.


"Kenapa mama belum sadar??" Tanya Rojer dengan nada cemas, sambil memandangi Ny. Anindita yang sedang terlelap.


"Kamu tidak perlu cemas,,, ini biasa terjadi saat seseorang mendengar atau mendapat berita yang tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan... Tapi aku sudah menyuntiknya supaya pikirannya kembali tenang... Dia akan sadar dengan sendirinya.. Tapi satu pesanku padamu Rojer.. Jangan buat mamamu tertekan itu akan mempengaruhi kesehatannya.." Ujar Antony, dengan memandang Ny. Anindita.


"Hmmm... Baiklah.. Aku sudah mencatat resep obatnya.. Aku akan memberikannya pada Edent.." Ujar Antony lagi, yang hanya di respon dengan anggukan oleh Rojer.


"Dengar Rojer jagalah mamamu.. Dia satu- satunya orang tua yang kamu punya sekarang..." Ujar Antony lagi sambil menepuk pundak Rojer.


Rojer menepis tangan Antony dari pundaknya.

__ADS_1


"Urusanmu sudah selesai bukan.. Jangan banyak omong pergilah sekarang... Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi." Ujar Rojer dengan ketus pada Antony.


Antony mengerjitkan dahinya, di saat seperti ini Rojer masih saja bersikap dingin. Antony mengeleng- gelengkan kepalanya dengan sikap sahabatnya itu.


"Baiklah.. Aku akan pergi.. Percuma juga aku di sini.. Aku tidak akan menyembuhkan penyakit dinginmu itu.." Ujar Antony dengan smirknya dan berlalu keluar dari kamar Ny. Anindita.


Rojer mendekati Ny. Anindita, dia mengelus lembuk kepala Ny. Anindita dan memegang tangan Ny. Anindita dengan erat. Mengutarakan kecemasan dan kekhawatiran yang di rasakan Rojer saat ini.


...----------------...


"Tuan antony aku akan mengantarmu.." Ujar Edent kepada Antony saat keluar dari kamar Ny. Anindita.


"Baiklah..." Ujar Antony berjalan di depan Edent.


Antony berhenti di ruang tamu saat melihat kedua wanita asing yang ada di rumah keluar Wang.


"Edent siapa mereka???" Tanya Antony pada Edent.


"Mereka adalah wanita yang menyebabkan Nyonya besar dalam kondisi ini.." Jawab Edent sambil mengecilkan suaranya agar tidak terdengar oleh Catlin dan Ny. Aurora.


"Ohhh... Jadi mereka wanita pembawa masalah..." Lirih Antony lalu melangkah lagi meninggalkan kediaman Wang.


...----------------...


Ny. Aurora dan Catlin langsung memalingkan pandangan mereka pada Rojer.


"Dengar... Jangan pikir dengan sakitnya mamaku adalah kelemahan ku.. Aku akan bertanggung jawab pada putrimu itu. Tapi dengan satu syarat,,, putrimu itu harus menandatangi surat kontrak pra nikah ini.. Jika kamu menyetujui apa yang tertulis di dalam surat kontrak itu.. Aku akan menikahi putrimu besok pagi.. hhh.. bukankah itu yang kalian inginkan..." Ujar Rojer dengan smirknya, dan melemparkan sebuah map di atas meja depan Catlin dan Ny. Aurora, dan berlalu meninggalkan mereka.


"Edent.. Urus mereka..." Ujar Rojer sebelum benar- benar pergi.


Flash Back End...


"Setelah itu terjadilah pernikahan antara papamu dan juga Ny. Catlin.." Ujar Edent menuntaskan ceritanya.


Edent memandangi ekspresi Charlote yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu setelah mendengar alasan di balik pernikahan Rojer dan Catlin.


"Catlin itu adalah wanita licik... Jika aku ingin menyingkirkannya dari sisi papa,,, aku harus punya rencana yang matang... Lihat saja aku akan segera menendang si Catlin itu dari posisi mama... Kita lihat otak mana yang lebih licik..he.." Batin Charlote dengan senyum- senyum sendiri yang membuat Edent semakin heran.


"Tuan kecil.. tuan kecil.. kenapa tersenyum.??" Tanya Edent sambil menyentuh bahu Charlote, yang membuat Charlote tersadar dari pikirannya.


"Hhh... Sudahlah.. Aku mengantuk... Aku ingin tidur sekarang... Paman tidur saja di sini.." Ujar Charlote beranjak pergi menuju kamarnya.

__ADS_1


"Aneh sekali.." Lirih Edent dengan sikap Charlote.


"Tuan muda kecil... Bisakah aku meminjam selimut dan bantal.??" Ujar Edent memanggil dan meminta di pinjami bantal dan selimut pada Charlote.


"Jangan jadi pria payah dan lemah...!!!" Teriak Charlote dari kamarnya dan menutup pintu keras hingga menimbulkan sura.


"Hhhh.. Beginilah nasibku..." Ujar Edent lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa dan menyelimuti tubuhnya dengan jasnya sendiri.


...----------------...


Di sisi lain, Catlin tengah menunggu Rojer pulang. Sesekali dia melihat ke arah pintu mansion berharap sosok Rojer memasuki mansion. Terkadang dia juga melihat ke arah Jam dinding besar kuno melihat sudah berapa waktu yang di habiskan untuk menunggu Rojer di meja makan.


"Hhhh.. Kenapa Rojer tidak pulang pulang sih.. Ini sudah jam 12 malam..."


Catlin mengambil ponselnya dan menekan salah satu nomer yang ada di ponselnya.


Tut... Tut...( suara nada sambung telpon)


"Hhh.. Dia bahkan tidak mengangkat telponnya... Rojer sebenarnya kamu di mana sih..." Lirih Catlin berbicara pada dirinya sendiri.


"Baiklah aku kan menelpon Edent saja.." Lanjut Catlin lagi, lalu memencet nomer telpon Edent.


Tut...Tut..( suara nada sambung telpon)


Terdengar suara nada sambung dari seberang telpon tapi tidak ada yang mengangkat. Hal itu membuat Catlin semakin jengkel.


" Bahkan... Asisten pribadinya tidak mengangkat telponku juga..." Ujar Catlin meletakkan ponselnya di atas meja makan dengan cukup keras.


"Aku sudah bersusah payah untuk menyiapkan semuanya... Tapi jangankan Rojer bayangannya saja tidak terlihat..." Bual Catlin sambil memegang kepalanya.


"Sepertinya aku harus ke kantor Rojer sekarang... Pasti dia sedang lembur di sana.." Ujar Catlin lagi, lalu beranjak dari duduknya dan berlalu keluar dari mansion.


...----------------...


...****************...


to be continud❤


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit!!!!

__ADS_1


__ADS_2