
...ILUSI TAKDIR 111...
"Apa di rumah sedang mati lampu?" Tanya Maura polos.
"Sepertinya begitu, Hei kamu pelayan cepat periksa sekring lampunya...!!" Titah Rojer pada pelayan yang tadi membukakan pintu.
KEJUTAN...
Dur...
Dur...
KEJUTAN...
Teriakan ramai begitu bergema dari balik dinding dengan derap kaki berlarian.
Bersamaan dengan teriakan, lampu kristal dengan kemewahan tanpa tanding yang tergantung di atas menyala dengan indah. Menyalurkan cahaya terangnya ke seluruh ruangan.
Bibir Maura membentuk huruf O, dengan mata yang berbinar. Belum lagi jantungnya yang kaget dengan teriakan tiba- tiba.
Sementara Rojer tertawa penuh bahagia. Ia tidak menyangka ibu dan putranya akan menyiapkan kejutan penyambutan kepulangan Maura. Ia tidak memungkiri jika dirinya juga ikut kaget dengan teriakan tiba- tiba dari Charlote dan Ny. Anindita, beserta para pelayan yang ikut meramaikan.
Ny. Anindita melangkah mendekat ke arah Maura dengan rangkaian bunga di tangannya. Sementara Charlote berhambur dan memeluk Maura.
"Selamat datang mama... Lihat grand ma dan aku membuat kejutan kecil untuk mama..." Charlote memperlihatkan ruangan yang sudah di dekorasi dengan indah, dengan warna kuning yang dominan.
"Selamat datang sayang di rumah suami mu... " Ny. Anindita mengalungkan rangkaian bunga di leher Maura. Ia juga mencium kening Maura dengan penuh kasih sayang. Kini keluarganya sudah lengkap. Ia tidak ingin kebahagian ini hancur dengan mudah. Di umurnya yang sudah bertambah tua, tentu saja dia ingin hidup dengan damai tanpa melihat masalah menimpa kebahagian putra semata wayangnya.
"Terimakasih ma... Seharusnya mama tidak usah membuat kejutan semeriah ini, hanya untuk penyambutan kepulangan ku... Bukankah aku sudah lama tinggal di sini..." Jawab Maura merasa tidak enak. Meski di dalam hatinya ia merasa bahwa ini adalah pertama kalinya ia datang ke rumah besar ini. Tapi, itu bukan hal yang penting sekarang. Bagi Maura ini lah keluarganya sekarang bukan yang lain.
"Menantu,,, kenapa bicara seperti itu.. Mama tidak pernah merasa merepot kan.. Mama melakukan ini karna mama sangat senang kamu sudah kembali... Dan kita semua bisa berkumpul lagi... Ini bukan kejutan yang mewah Maura... Hanya para pelayan yang hadir jadi jangan merasa tidak enak seperti itu, kamu membuat mama seperti merasa menjadi orang asing saja... Mama sangat sedih..." Ny. Anindita memanyunkan bibirnya ke depan, berpura- pura merasa sedih di depan Maura.
"Aaa... Bukan maksud Maura seperti itu... Baiklah terimakasih ma.. Untuk kejutannya.. Terimakasih sayang..." Maura tersenyum manis kepada Ny. Anindita dan memegang dagu tajam Charlote gemas.
"Nyonya muda... Selamat datang kembali ke rumah ini... Kami akan melayani mu dengan sepenuh hati..." Ujar para pelayan dengan serentak dan kompak. Seperti mereka sudah berlatih lama untuk mengatakan semua hal itu.
"Terimakasih..." Timpal Maura dengan ramah.
"Kapan kita akan masuk ke dalam rumah,,, kaki ku sudah sangat pegal karna berdiri..." Ujar Rojer dengan wajah kesal.
"Ha..ha...ha..." Tawa Charlote dan Ny. Anindita.
"Sepertinya papa mu merasa tersisihkan karna hari ini dia tidak menjadi tokoh utamanya... Haha..." Ujar Ny. Anindita yang semakin menggoda Rojer.
"Uuu papa aku akan tetap menganggap mu sebagai tokoh utama tapi tidak untuk kali ini,, papa sudah telat membawa mama pulang. Aku marah pada papa jadi aku tidak mau bicara dengan papa selama 1 menit.." Charlote memasang wajah marah kepada Rojer.
"Apa... Apa kamu akan tahan untuk tidak berbicara dengan papa... " Rojer merengkuh tubuh kecil Charlote, dan mulai menggelitiknya. Membuat Charlote terkekeh kegelian dengan gelitikan Rojer.
__ADS_1
Rojer dan Charlote tertawa lepas dan bahagia. Wajah mereka mengekpresikan betapa mereka sangat bahagia saat ini.
Maura tersenyum haru. Melihat suasana hangat di tengah- tengah keluarga yang menyayanginya.
"Ahhh sudah sudah... Sudah cukup bercandanya... Kapan kalian akan masuk... Ayo masuk,,, perut mama sudah sangat lapar... Ehhh kalian siapkan makanannya...!!" Ny. Anindita menunjuk beberapa pelayan untuk menyiapkan makanan untuk acara ini.
Ny. Anindita menghampiri kursi roda Maura dan mendorongnya perlahan.
"Ma biar Rojer saja..." Rojer hendak mengambil alih kemudi kursi roda, namun Ny. Anindita mengeratkan genggamannya.
"Tidak... Biar mama saja.. Mama juga ingin mendorong putri kesayangan ku..." Ketus Ny. Anindita.
"Sejak kapan Maura menjadi putri mama??"
"Sejak dia menginjakkan kakinya di rumah ini... Lagi pula mama sudah bosan memiliki seorang putra.. Jadi sekarang Maura adalah putri ku..."
"Apa grand ma juga bosan memiliki cucu laki- laki?" Tanya Charlote polos, menyelingi perdebatan Ny. Anindita dengan Rojer.
"Tentu saja tidak... Bagaimana grand ma bisa bosan dengan cucu setampan diri mu Charlote..." Timpal Ny. Anindia memasang ekspresi yang paling manis, membuat Charlote semakin besar kepala dengan perbandingan dirinya dengan Rojer.
"Jika kalian terus bicara.. Kapan kita akan makan..?" Ujar Maura yang sudah ingin menyudahi perdebatan ini. Perdebatan antara cucu dan putra yang memperebutkan kasih sayang seorang wanita. Sungguh bumbu keluarga yang manis.
"Baiklah sayang... Ayo kita makan...!!" Ny. Anindita meninggikan suaranya dengan antusias.
Rojer mengendikkan bahunya pasrah, menuruti semua rencana yang telah di buat oleh ibu dan putranya.
Setelah melewati hari yang penuh duka dan air mata. Akhirnya Rojer bisa bernafas dengan lega.
Suasana begitu ceria dan bahagia. Sejak tadi di antara mereka yang sedang duduk dengan piring berisi makanan penuh di depan masing- masing.
Di meja makan besar yang terbiasa sepi, kini ramai dengan canda tawa, perdebatan kecil yang menggemaskan, dan kasih sayang satu sama lain. Kehangatan yang tidak pernah di rasakan oleh keluarga Wang setelah kepergian Tuan Wang.
"Ya tuhan.. Ini sangat indah... Semoga mata buruk tidak melihat keluarga ku yang sempurna ini..." Batin Ny. Anindita menyeka air mata yang hendak jatuh.
Begitu pula dengan apa yang di rasakan Maura saat ini. Hangat, itulah yang bisa dia pikirkan. Bersama keluarga yang memori dalam otaknya sudah menghilang, tapi kini ia bisa membuat kenangan dan memori yang jauh lebih indah bersama putranya yang manis, suaminya yang selalu ada di sisinya, dan ibu mertua yang menyayanginya layaknya seorang putri kandung.
Meski begitu di dalam lubuk hati Maura yang paling dalam, terbersit pertanyaan yang membutuhkan jawaban tentang dari mana dirinya berasal.
Ke empat orang yang sedang menukar cinta di atas meja makan begitu menikmati moment yang membahagian. Sampai akhirnya Rojer meletakkan alat makannya di atas piring yang sudah kosong.
"Makanan hari ini memang lezat... Aku sudah kenyang..." Ujar Rojer dengan mengelus perutnya yang rata.
"Apa kamu mau tambah lagi.?" Tanya Maura yang sudah siap meletakkan seporsi makanan lagi di piring Rojer.
"Tidak sayang... Ini sudah cukup, aku tidak bisa lagi... Aku akan pergi untuk mandi.. Dan segera kembali... Tunggu aku..." Rojer mengecup puncak kepala Maura dengan mesra, membuat Ny. Anindita dan Charlote saling bertatapan.
"Baik..." Jawab Maura menurut.
__ADS_1
Rojer melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, sebelum suara panggilan Charlote menghentikan langkahnya.
"Papa...!!"
Rojer menoleh ke arah meja makan, Ia mengerjitkan dahinya, seolah bertanya ada apa.
"Apa papa tidak mencium ku... Apa hanya mama yang berhak atas ciuman papa... Aku ini putra tersayang mu kan... Kenapa hanya mama yang mendapatkan ciuman..?" Renggek Charlote dengan lucu, membuat wajah tegang Rojer kembali tergelak.
Ny. Anindita dan Maura terkekeh melihat kecemburuan Charlote yang sangat menggemaskan.
Rojer mendekat ke arah Charlote, dan melayangkan ciuman dalam pada pipi empuk putranya. Lalu melangkah pergi meninggalkan meja makan.
Ny. Anindita, Maura dan Charlote menghabiskan makanan di depan mereka dengan lahap, sebelum sebuah suara yang menggelegar dari arah pintu membuat mereka menghentikan aktivitasnya.
"Maura....!!!!"
Ketika wajah yang sedang asik menyendokkan makanan ke dalam mulut mereka, menoleh ke arah teriakan seorang wanita yang menatap Maura dengan tatapan penuh amarah dan dendam.
"Catlin...!" Lirih Ny. Anindita dan berdiri dari duduknya.
Catlin melangkah dengan cepat ke arah Maura, yang bingung dan bertanya- tanya siapa wanita di depannya, yang sedang menatap dirinya dengan penuh amarah.
"Maura berani sekali kamu menginjakkan kaki mu yang kotor itu ke dalam rumah ku....!!!" Teriak Catlin, sambil menggoyangkan kursi roda Maura keras.
Maura mengeratkan pegangannya pada kursi rodanya, agar tubuh nya tidak terjatuh ke lantai.
"Maaf... Tapi bisakah kamu tidak berbuat kasar pada ku... Siapa kamu?? Dan apa maksud mu dengan mengatakan semua hal itu...?" Tanya Maura tidak mengerti dengan arti perkatan dari Catlin.
"Cih... Dasar wanita licik.. Sekarang kamu berani mengatakan jika kamu tidak mengenal ku..? Haha sandiwara dan kebohongan apa yang kamu lakukan, hingga membuat mama membiarkan mu masuk ke dalam rumah ini...!!"
"Aku tidak bersandiwara... Sungguh demi tuhan aku tidak mengenal mu..? Kamu ini siapa? kenapa kamu datang langsung marah- marah pada ku? Apa aku pernah berbuat salah pada mu?.."
Catlin terdiam sejenak, kerutan di dahinya semakin bertambah. Ia memperhatikan kondisi Maura yang berbeda. Maura tidak berdiri tapi tengah duduk di atas kursi roda seperti orang lumpuh. Maura tidak mengenal dirinya seolah mereka tidak pernah saling bertemu.
"Tunggu... Kenapa Maura duduk di atas kursi roda? apa yang terjadi padanya? Lalu kenapa dia tidak mengenal ku... Bukankah dia tidak akan pernah bisa untuk melupakan aku.. Karna aku lah orang yang sudah menghancurkan hidupnya..? Apa ini, Dia seperti sedang terluka.. Baiklah jika kamu tidak mengingat ku maka aku akan mengingatkan mu tentang masa kelam mu yang menjijikkan itu, kita lihat sampai mana sandiwara licik mu ini akan bertahan..." Batin Catlin memandang Maura dari atas hingga bawah.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
please tinggalin koment dong
__ADS_1
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit