Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
72


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 72...


"Cih... Pertanyaan apa ini... Pertanyaan menjebak... Kenapa aku harus menuruti permintaan mama dan hadir di acara ini... Menyebalkan sekali. Aku tidak mungkin menjawab tidak. Ini sama saja menghancurkan reputasi ku... Hhh... Aku harap Maura tidak menonton siaran ini." Batin Rojer dengan memalingkan wajahnya. Pertanyaan ini benar- benar menyita pikirannya. Ia tidak ingin menyiksa hatinya dengan berbohong. Tapi jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan ini.


Catlin menggoyangkan lengan Rojer yang masih terdiam dan belum menjawab pertanyaan Mc.


"Tuan Rojer..." Mc mengibaskan tangannya di depan wajah Rojer. Rojer terhenyak dan tersadar.


"Sayang... Apa kamu tidak dengar pertanyaan Mc... he.." Ujar Catlin dengan tertawa kaku.


"Sepertinya Tuan Rojer sedang memikirkan jawaban yang pas untuk mendeskribsikan perasaannya pada Ny. Catlin. Sekarang Tuan Rojer beritahukan kepada kami apa anda mencintai Ny. Catlin.?" Tanya Mc lagi dengan nada mempertegas.


Rojer menghela nafas panjang. Dan tersenyum. Dalam hatinya pernyataan ini tidak ada artinya ini adalah sandiwara di depan publik. Tidak memiliki arti apa- apa.


"Iya... Bukankah sepasang suami istri sudah seharusnya saling mencintai..." Timpal Rojer dengan nada biasa tanpa ada rasa seperti apa yang di ucapkan. Semua tamu yang hadir langsung tersenyum senang mendengar jawaban Rojer. Yang sangat romantis menyapu gendang telinga mereka. Khusunya para wanita. Ada yang terharu, ada yang ternganga dan ada pula berteriak histeris.


Bagaikan di sambar petir. Jawaban Rojer seperti mencabut seluruh jiwa Maura. Maura mundur dua langkah ke belakang. Tenaga nya seakan terkuras habis hanya dengan mendengar jawaban Rojer. Tubuh Maura terhuyung ke belakang, hingga menyenggol salah satu karyawan.


"Nona... Anda baik- baik saja..?" Tanya Wartawan pria yang tersenggol tubuh Maura.


"Ouhhh... Maaf... Maa.. Maaf kan saya..." Timpal Maura lalu segera berlari keluar dari kerumunan.


Catlin tersenyum puas saat Rojer menjawab seperti apa yang ia inginkan. Ia sudah menebak Rojer akan menjawab seperti itu. Karna Rojer tidak akan pernah akan bisa menghancurkan reputasi yang sudah lama di bangun sejak Tuan Wang masih hidup.


Catlin menyunggingkan smirk licik saat pandanganya menangkap Maura yang berlari keluar dari kerumunan dengan menangis tersedu- sedu. Ia sangat puas, rencananya berjalan sesuai rencana.

__ADS_1


"Ck... Ck... Hati mu pasti saat ini sedang hancur berkeping- keping. Bagaimana tidak pria yang begitu kamu cintai mengatakan cinta pada wanita lain. Kamu harus sadar jika aku adalah istrinya. dan pelakor tidak akan bisa mengambil posisi istri kan..." Batin Maura dengan menyunggingkan senyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Pasangan yang sangat romantis. Semoga hubungan kalian langgeng sampai maut memisahkan... Terimakasih atas waktunya Tuan dan Nyonya Wang... Silahkan kalian bisa kembali ke tempat." Ujar Mc menutup sesi wawancara. Rojer dan Catlin beranjak dari duduknya dan kembali ke tempat duduk semula.


"Sekali lagi berikan tepuk tangan yang meriah untuk pasangan keluar Wang. Dan mari kita lanjutkan acara ini dengan penampilan dari aktris- aktris yang paling populer di kota A..." Ucap Mc dengan lantang. Para tamu kembali bertepuk tangan dengan meriah dan menikmati penampilan- penampilan yang memanjakan mata.


Maura berjalan keluar dari tempat acara dengan nafas yang sesak. Tangannya terus memegangi dadanya. Sesekali Maura memukul dadanya ringan. Sementara matanya terus mengucurkan air mata tanpa henti.


"Hiks... Hiks... Kenapa terjadi lagi... Kenapa takdir mempermainkan ku.. Hiks.. Hiks..." Maura menangis sesegukan. Ia terus melangkah keluar dari tempat acara.


Langit bergemuruh. Suara petir dan kilat saling bersahutan. Langit yang tadinya cerah berubah menjadi gelap. Sepertinya langit tau kesedihan yang di rasakan Maura saat ini.


Gler... Suara petir.


Hujan turun dengan deras membasahi apa pun yang ia lewati. Maura terus melangkah, ia tidak peduli dengan hujan deras yang turun. Maura berjalan membelah hujan yang terus mengguyur tubuhnya hingga basah kuyup. Rasa sakit dan patah hati yang Maura rasakan saat ini tidak ada apa- apa nya dengan dinginya air hujan yang mengguyurnya.


Maura menengadahkan wajahnya ke langit. Memandang langit yang tengah bergemuruh seperti hatinya.


" Kenapa?? Apa salah ku ?? Kenapa kamu membuat ku terbang setinggi mungkin Rojer dan sekarang kamu menghempaskan ku dengan keras hingga aku hancur berkeping- keping. Kamu mengatakan kamu mencintai ku. Tapi kenapa tadi, tanpa rasa bersalah kamu mengatakan kamu mencintai Catlin. Kamu pikir aku apa? Katakan kamu pikir aku apa?? Apa kamu pikir aku patung yang tidak punya perasaan. Yang bisa kamu perlakukan semena- mena hhhhh...? Atau... Kamu mengganggap aku batu yang tidak merasakan apa pun meski kamu pukul berkali- kali. Aku punya perasaan Rojer, seharusnya kamu tidak memberi ku harapan lalu menghancurkan harapan itu. Seharusnya aku tidak kembali dan bertemu dengan mu Rojer. Seharusnya kita tidak bertemu kembali setelah malam itu. Takdir selalu mempermainkan ku... Tapi aku begitu percaya pada mu. Bahwa kamu akan membuat ku dan Charlote bahagia. Tapi hari ini aku sadar aku bukan apa- apa bagi mu... Kamu tahu Rojer... Aku sangat membenci.. AKU BENCI KAMU ROJER...!!!" Maura mengeluarkan rasa sakit yang ia tahan sejak tadi. Ia sungguh tidak sanggup menahan nya lebih lama. Biarlah hujan yang mendengar rasa sakit hatinya. Tapi yang pasti Maura tidak akan mudah percaya lagi pada seseorang.


Maura mengerjapkan matanya. Penglihatannya mulai buram. Kepalanya terasa pening, ia memegang kepalanya. Tubuhnya serasa akan roboh dan jatuh sekarang. Pandangan Maura menghitam dan tubuhnya ambruk di tengah jalan.


Seorang pria tengah mengendarai mobil berwarna silver. Ia memencet tombol handset bluetooth yang terpasang di telinganya.


"Dengar,,, aku tidak mau tahu. Apa pun alasannya semuanya harus berjalan sesuai rencana. Jangan sampai gagal lagi." Ujar Pria itu dengan genggaman tangan yang mengerat pada stir mobil. Dapat terlihat dari urat tangannya jika saat ini, pria ini sedang kesal.

__ADS_1


"Lakukan... Dan pastikan semuanya lancar aku tidak mau tahu. Kamu urus semuanya." Ujarnya lagi.


Namun, tiba- tiba matanya melebar dengan sempurna dan pria itu langsung mengerem mendadak di depan tubuh seorang wanita yang tergeletak begitu saja di jalanan dalam kondisi hujan lebat.


"Huhhh untung saja... Kenapa wanita itu berbaring di tengah jalan sih, Apa tidak ada orang yang membantunya. Ck..." Decak pria itu, memukul stir mobil cukup keras.


Pria itu turun dari mobil. Ia tidak peduli dengan hujan lebat yang sedang turun. Bagaimana pun dia adalah laki- laki, ia tidak bisa membiarkan perempuan tergeletak begitu saja di jalanan dalam cuaca seperti ini.


Pria itu mendekat. Ia menggoyangkan tubuh wanita di depannya yang wajahnya tertupi dengan rambutnya sendiri.


"Nona... Bangun... Nona..." Pria itu menguncang tubuh wanita itu lebih kencang. Tapi tidak ada respon sama sekali. Ia membalik tubuh wanita itu. Dan lagi- lagi matanya membulat sempurna.


"Maura..."


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤


please tinggalin koment dong

__ADS_1


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit


__ADS_2