
...ILUSI TAKDIR 139...
Bruk..
Tubuh Maura ambruk bersamaan dengan hilang nya kesadaran nya.
"Mama!!!!"
"Maura...!!!"
Teriak Rojer dan Charlote bersamaan. Sementara keadaan semakin rusuh dan kacau.
...----------------...
Rojer menatap tubuh Maura yang terbaring dengan mata terlelap, seperti sebuah boneka porselen yang cantik.
Kini mereka tengah berada di kediaman keluarga Wang. Rojer langsung memanggil Edent dan memerintah kan mengirim kan sebuah helikopter, untuk segera membawa mereka pulang ke ibu kota.
Rasa khawatir yang sama kembali Rojer rasakan. Rasa khawatir yang begitu mencekik leher nya, hingga dada nya begitu sesak.
Maura yang tiba- tiba pingsan karna ledakan tiba -tiba membuat nyawa nya seakan terangkat ke langit begitu saja.
"Apa yang sebenar nya terjadi pada mu Mau... ??? Sungguh aku tidak ingin terjadi apa pun pada mu... Cepat lah bangun... Dan kata kan pada ku apa yang terjadi sebenar nya.. Aku tidak ingin kehilangan lagi..." Batin Rojer dengan berdiri membisu, di sudut ranjang. Tanpa mengalihkan perhatian nya dari Maura.
Dring...
Dring...
Dring...
Deringan ponsel dari saku celana Rojer berdering. Membuat Rojer tersadar dari kebisuan nya.
Rojer merogoh ponsel nya lalu mendekatkan nya ke telinga.
"Hallo..,,"
"Baik lah... Aku akan segera ke sana..."
Gumam Rojer, menimpali panggilan dari ujung telpon, dan segera berlalu keluar dari kamar. Meninggalkan Maura yang masih tertidur dengan begitu lelap.
...----------------...
Ny. Anindita sedang duduk dengan kepala Charlote di pangkuan nya.
__ADS_1
Jari jemari tangan nya yang lentik dan masih mulus, membelai rambut tebal Charlote.
Pandangan nya lurus ke depan, pada tirai jendela yang melambai- lambai di tiup angin.
Wajah nya menunjukkan ekspresi takut dan cemas, saat melihat anak dan cucu nya pulang dengan tiba- tiba dari liburan nya. Dengan kondisi menantu nya yang pingsan.
Diri nya mengingat dengan jelas, bagaimana Rojer yang datang dengan membopong tubuh istri nya, dengan perasaan yang begitu cemas dan khawatir. Seakan seluruh hidup putra semata wayang nya itu bersatu dengan kehidupan Maura.
Dan cucu nya yang tersayang, menangis dengan histeris. Melihat sosok ibu nya yang tidak sadar kan diri.
Hal itu, membuat perasaan Ny. Anindita bercampur aduk. Meski Antony sudah mengatakan Maura baik- baik saja. Tapi rasanya, di dada nya ada sesuatu yang menganjal. Seperti sebuah firasat, sebelum badai datang.
Membuat Ny. Anindita terlarut dalam kecemasan, entah dengan alasan apa. Diri nya juga tidak tahu.
"Grand ma....!!" Panggil Charlote lirih, dengan mata yang begitu sembab, karna habis menangis. Saat ini ketakutan yang sama menyelimuti diri nya. Rasa takut kehilangan, dan rasa takut di lupakan. Ia tidak ingin menghadapi hal yang sama beberapa bulan yang lalu. Hidup nya sudah sempurna, berkumpul bersama keluarga. Ia tidak ingin semua ini berakhir. Ia masih ingin menikmati semua ini.
"Hmmm..." Dehem Ny. Anindita, menimpali panggilan cucu nya yang tidur di atas pangkuan nya.
"Mama akan baik- baik saja kan grand ma...?" Tanya Charlote dengan nada suara cemas.
Ny. Anindita menatap cucu kesayangan nya dengan lekat. Ia berharap menantu nya itu akan baik- baik saja.
"Tentu sayang... Semua nya akan membaik... Bukan kah paman Antony sudah mengatakan hal itu... Jadi tidur lah sekarang.." Timpal Ny. Anindita menyakinkan, meski diri nya merasakan hal yang berbeda.
"Lalu, kenapa suara Grand ma berbeda?"
"Iya.. Suara grand ma terdengar khawatir... Katakan yang sejujur nya Grand ma...!!"
"Dengar Charlote... Jika kamu memikir kan sesuatu yang baik... Maka hal baik itu akan terjadi, tapi jika kamu berpikir sebalik nya. Maka yang akan terjadi sebalik nya... Jadi percayalah semua nya akan baik- baik saja..." Jelas Ny. Anindita dengan menyunggingkan kan senyum tipis.
"Sekarang tidurlah.. Cucu kesayangan Grand ma..." Lanjut nya lagi, dengan mencubit ujung hidung mancung cucunya.
"Baiklah Grand ma..." Lirih Charlote.
...----------------...
Rojer memasuki sebuah ruangan dengan penerangan redup, tapi ia masih bisa melihat dengan jelas, bentuk dan rupa wajah seorang pria dengan kepala setengah botak. Yang di rantai di depan nya.
Edent sudah berdiri di sisi kanan pria yang tengah berlutut dengan ke dua tangan yang di rantai menggantung.
Sementara di sisi lainnya, berdiri dua pria berpakaian serba hitam dengan membawa pistol berlaras panjang.
"Hormat Tuan Muda..." Ujar Edent dengan membungkuk memberi hormat pada Rojer yang baru datang, di ikuti dengan ke dua anak buah nya.
__ADS_1
Pria yang kini menjadi tawanan nya, mengangkat wajah nya. Saat mendengar penghormatan dari Edent.
Aura yang sudah mencekam, menjadi jauh lebih mencekam dan mengerikan. Di balut dengan kegelapan dan keheningan.
Sorot mata Rojer menangkap manik mata pria yang sudah menyebabkan pujaan hati nya hampir meregang nyawa.
Rasa benci dan dendam seakan sudah mencapai puncak nya. Dengan kilatan amarah yang terpampang nyata di wajah nya.
"Dia adalah Dax... Ketua mafia yang menyebabkan ledakan di hotel Aston Tuan..." Lapor Edent dengan singkat. Meski tanpa di katakan Tuan muda nya pasti sudah bisa menebak siapa pria yang bernama Dax ini.
Dax menatap lekat pria yang berdiri di depan nya. Aura yang begitu mengerikan menusuk hingga ke tulang- tulang nya. Kilatan amarah yang terpancar dari tatapan nya, dengan rahang yang memgeras dengan sempurna.
Kini tidak ada tang bisa menyelematkan nya dari orang yang di panggil Tuan muda oleh orang- orang di sekitar nya.
Suasana remang- remang dalam ruangan tersebut, membuat Dax tidak bisa melihat dengan jelas wajah Rojer.
"Kamu tahu kenapa kamu di buru dan di bawa ke sini??... Aku tidak pernah berurusan dengan mu... Tapi dengan sangat berani kamu sudah berani melukai orang ku... " Ujar Rojer dengan penekanan di setiap perkataan nya. Yang semakin membuat Dax merasa ngeri.
"Siapa kamu?? " Tanya Dax dengan netra yang terus mencoba menangkap dengan jelas garis wajah Rojer.
"Aku adalah orang yang akan mencabut nyawa mu..."
"Dengar jika kamu lepas kan aku... Aku akan menganggap semua nya selesai... Anak buah ku tidak akan membuat pehitungan dengan mu..."
"Ha... Ha...." Suara tawa Rojer menggelegar.
"Anak buah mu... Apa kamu lupa sekarang kamu hanya tinggal sendiri... Hmmm... Aku tidak akan memberikan mu pada pihak pemerintah... Karna aku akan memberi mu hukuman yang mengerikan sebelum kematian... Di mana saat itu kamu akan memilih untuk mati..."
"Siapa kamu sebenar nya...??!!!" Teriak Dax yang sudah mulai ketakutan.
"Aku adalah pujangga cinta... Yang bisa menjadi pelenyap, saat kekasih yang sangat di cintai nya di lukai oleh orang seperti mu... Lagi pula hidup mu tidak penting di dunia ini... Hidup mu sama sekali tidak berharga... Kau hanya menjadi sampah masyarakat... Dan pria yang tidak bermartabat... Jika kamu menghilang dari dunia ini... Pemerintah tidak akan lagi susah payah untuk memburu mu... Dan aku bisa membalaskan dendam ku...." Cecar Rojer dengan menggebu - ngebu. Dengan kilatan mata yang semakin mengerikan.
...----------------...
...****************...
udah mulai aktif up lagi.. ya sekarang...😊
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
__ADS_1
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit