Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
137


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 137...


Rojer meletak kan kepala nya di ceruk leher Maura. Menghirup dalam aroma tubuh dari wanita yang di peluk nya. Menikmati aroma melati yang selalu menjadi aroma khas tubuh Maura.


Hembusan angin yang sedikit kencang, menyapu kulit sensitif Rojer. Membuat bulu- bulu tangan nya meremang.


"Udara di sini sangat sejuk..." Lirih Maura dengan nada rendah.


Kehangantan dari dekapan Rojer. Dan angin malam yang cukup menusuk. Membuat sensasi tersebut menyatu dan terasa berbeda saat menyentuh kulit Maura. Sensasi yang tidak bisa untuk di jelas kan.


Rojer mengulas senyum saat, bibir Maura terbuka mengeluarkan uap hangat. Menandakan dingin nya udara malam ini.


"Udara seperti ini tidak akan bisa kamu temukan di kota..." Timpal Rojer dengan nada hampir berbisik. Tangan nya mengeratkan pelukan nya. Merangsek untuk memeluk tubuh mungil dan hangat Maura.


"Aku merasa begitu bebas di sini. Dengan suasana hening, sepi dan udara yang begitu bersih. Rasanya beban dan semua derita yang ku alami kemarin, terasa menghilang begitu saja..."


"Bagaimana jika kita membuat rumah di sini?"


Maura mengerutkan ke dua alis nya hingga hampir menyatu satu sama lain. Saat mendengar pertanyaan dari Rojer. Sebuah rumah di puncak?. Itu terdengar bagus. Tapi mereka kan sudah punya rumah di kota, bahkan sangat megah. Jiwa tidak ingin memubazirkan sesuatu meronta dalam diri Maura.


"Rumah?" Tanya Maura memastikan, dengan kepala menatap ke arah Rojer.


"Iya.. Rumah,, kamu sangat menyukai suasana di puncak kan... Jadi kita akan membuat rumah di sini... Aku pikir saat usia kita sudah semakin tua. Dan Charlote semakin tumbuh besar. Dia pasti akan sibuk dengan kehidupan nya. Dan kita akan hidup berdua dengan saling mengenggam tangan. Dan saat itu tiba aku ingin kita berdiri di sini, dan menikmati udara dan suasana yang indah ini... " Jelas Rojer, dengan menatap lurus ke depan. Memandangi bukit- bukit yang berjejer rapi.


Maura tertawa ringan mendengar impian sederhana Rojer. Terdengar begitu indah dan ringan.


"Lalu rumah kita di kota bagaimana??" Tanya Maura polos, yang langsung membuat Rojer tertawa renyah.


"Ha... Ha... Pertanyaan apa itu sayang.. Ha... Ha... Kamu lupa ya, jika suami mu ini orang kaya. Jika ingin membuat rumah lalu menghancurkan nya setelah di bangun. Itu sama sekali tidak berpengaruh pada ku... Lagi pula uang ku tidak akan habis..."


"Apa itu arti nya kamu akan menggusur rumah Wang yang megah itu..?" Sosor Maura dengan kening berkerut. Ia sedikit terkejut dengan perkataan suami kaya nya.


"Ha... Ha..." Lagi- lagi Rojer tertawa renyah. Kini tawa nya jauh lebih keras, hampir mendekati terbahak- bahak.


"Hmmmm... Itu rumah keluarga Wang... Rumah turun temurun... Masak aku akan meruntuh kan nya.. Itu tidak mungkin sayang... Jika aku berani melakukan nya maka mama mertua mu akan memotong leher ku di depan mu.. Ha...ha... Rumah itu akan tetap berdiri... Suatu saat Charlote akan datang ke rumah itu membawa pendamping nya yang akan sebaik dan secantik diri mu..." Jawab Rojer dengan menatap wajah Maura yang kini merah merona, seperti tomat yang hampir busuk.

__ADS_1


Rojer melonggarkan pelukan nya, dan merogoh ponsel di dalam saku celana.


"Edent..." Ujar Rojer, setelah panggilan nya terjawab oleh asisten setia nya.


Maura mengerjit kan dahi nya, melihat Rojer yang tiba- tiba menelpon Edent.


"Saya di sini Tuan..." Timpal Edent dari seberang telpon. Yang masih bisa di dengar oleh Maura.


"Aku ingin satu rumah di puncak... Segera bangun rumah minimalis di tempat terbaik... Aku ingin semua nya jadi dalam dua hari..."


Tut...


Tut...


Rojer memutus sambungan telpon secara sepihak. Sebelum Edent bisa menyahut. Lalu memasukkan alat canggih tersebut ke dalam saku celananya. Usai menyampaikan keinginan nya. Yang bersifat mutlak.


Maura langsung terbelalak mendengar perintah Rojer pada Edent. Ia tidak menyangka impian suami nya itu akan langsung di eksekusi.


"Apa aku tidak salah dengar...?" Ujar Maura dengan polos. Kini ia menyadari betapa kaya nya pria yang berhasil memiliki hati nya.


"Tidak... Apa kata- kata ku kurang jelas... Baik lah aku akan pertegas... Aku akan membangun sebuah rumah di puncak. Dan di sana kita akan menghabiskan waktu sepanjang hari dengan berpelukan seperti ini... Di saat umur kita sudah menua... Dan sekali sebulan kita akan ke sana untuk liburan keluarga..." Balas Rojer dengan begitu mantap.


"Selama impian itu masih tentang diri mu... Aku akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk mewujudkan nya. Karna setiap impian ku bersama dengan mu, akan ku gunakan sebaik- baik nya... Dan membuat mu bahagia... Karna kehidupan memiliki rencana sendiri, dan kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi ke depan nya... Selama aku bisa mewujud kan mimpi mu.. Makan aku akan terus melakukan nya..."


Maura terdiam menatap manik hitam Rojer dengan dalam. Di sana hanya tergambar ketulusan dan cinta yang besar. Tidak ada keraguan atau kebohongan.


Maura merasa hati nya begitu lepas, seakan sesuatu yang menganjal terlepas dan tergelincir bebas. Menyisakan kelapanagan di dada nya.


Ungkapan sederhana dari bibir Rojer, dengan kesungguhan di wajah nya. Berhasil membuat Maura terbuai ke angkasa. Mengepak kan sayap nya dengan bebas, merasakan kebahagian sederhana namun bisa menggugah jiwa nya.


Air mata menitik pelan dari sudut mata Maura. Rasa haru menyeruak dan menghinggapi diri nya. Air mata nya berhasil membobol pertahanan nya.


Perlahan dengan kelembutan, tanpa mengalihkan pandangan nya dari Maura. Rojer menghapus air mata bening itu. Menyeka air mata yang semakin lama semakin memgucur.


"Kenapa menangis He.. he...?" Tanya Rojer dengan kekehan kecil.

__ADS_1


"Terimakasih...." Hanya kata itu yang berhasil keluar dari bibir Maura. Entah kenapa bibir nya terasa begitu berat dan kelu, seakan bibir nya tengah terkunci rapat. Ia tidak bisa mengungkap kan semua nya dengan kata- kata. Rasanya begitu sulit.


"Untuk apa.. Hmmm?" Tanya Rojer yang masih dengan senyum nya.


Maura mengeratkan pelukan nya pada Rojer. Meletak kan kepalanya di dada bidang dengan degupan jantung yang bisa Maura dengar.


Hanya sebuah pelukan yang bisa ia lakukan, untuk mengutarakan isi hati nya.


Rojer menegadahkan kepalanya, menatap bulan yang semakin bersinar terang. Menikmati suasana yang begitu membuai.


Apa pun yang ingin di lakukan nya, percayalah semua itu hanya untuk Maura.


"Tuhan... Jika hidup ku bisa membeli kebahagian Maura... Maka dengan suka rela aku akan memberikan nya.. Tapi aku memiliki Syarat Tuhan... Jauhkan Maura dari derita dan kesedihan... Jika itu bisa terjadi... Akan ku lakukan..." Batin Rojer dengan Doa yang di panjat kan dengan tulus dari dalam lubuk hati nya.


CEKREK....


CEKREK...


Suara kamera menyapu gendang telinga dua insan yang sedang larut dalam kemesraan.


...----------------...


...****************...


Maaf ya jika Ilusi Takdir, Up nya agak lama belakangan ini... Karna Aurhor lagi kondisi nya kurang sehat...


Ini aja aothor maksain buat up.. Untuk pembaca setia otor😥😥😥


Maklum ya😭


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤

__ADS_1


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit


__ADS_2