
...ILUSI TAKDIR 101...
Rojer mengucek ke dua kelopak matanya. Menelisik cahaya matahari yang masuk ke dalam kelopak matanya yang sudah terpejam sejak beberapa jam lalu.
Krek...
Pintu kamar terbuka, Edent masuk dengan membawa beberapa kantong makanan di tangannya.
"Selamat pagi Tuan muda... Maaf saya telah menganggu tidur anda...." Edent membungkuk hormat, saat melihat Rojer menatapnya dengan wajah bangun tidur.
"Apa Charlote datang bersama mu...?" Tanya Rojer sambil menyipitkan matanya. Mengadaptasi sinar matahari yang menyapa ke dua bola mata hitamnya.
Sudah dua hari dirinya berada di rumah sakit. Menjaga Maura yang tidak kunjung sadar setelah malam operasi. Selama dua hari, Rojer masih sangat setia menunggu Maura untuk sadar dari tidur lelapnya. Tapi selama dua hari ini juga kondisi Maura tetap sama. Belum ada kemajuan sama sekali.
Rojer hampir memukul dan melenyapkan Antony, karna Maura yang tidak kunjung sadar. Tapi untunglah itu tidak terjadi karna Edent menghalangi aksi brutal Tuannya.
"Iya, Tuan... Tuan muda kecil ikut bersama saya. Hari ini dia ada jadwal kontrol terakhir dengan Dokter Sillia...." Jelas Edent, dan melangkah mendekati meja nakas. Lalu meletakkan kantung makanan yang di bawanya.
"Jagalah Charlote dengan baik... Jangan sampai hal buruk kembali menimpa putra ku... Sudah cukup dia merasa ketakutan karna insident itu... Jangan buat aku kecewa lagi dengan kinerja mu Edent... Tambah lagi ke amanan di mansion. Jangan biarkan siapapun masuk.... " Titah Rojer tanpa melihat ke arah Edent. Perhatiannya terus fokus pada satu titik yaitu Maura.
"Sesuai perintah anda Tuan... Tapi jika saya boleh menyarankan... Tuan muda juga jagalah kesehatan... " Edent menutup pembicaraannya, dan membungkuk hormat sebelum melangkah pergi dari kamar inap.
Rojer meraih tangan Maura dan mengecupnya lembut, menyesap aroma tubuh Maura dalam. Di wajah Rojer tersirat dengan jelas bahwa kini dirinya sangat menderita. Menanggung beban yang siap mengambil nyawanya seutuhnya. Tapi demi Maura dirinya bertahan, bertahan untuk menunggu cintanya kembali.
Di bawah mata Rojer sudah tercetak jelas lingkaran hitam pertanda jika selama dua hari menjaga Maura, dirinya tidak pernah bisa tertidur dengan lelap.
Baju yang di kenakan pun sudah dua hari tidak di ganti. Antony dan Edent sudah menyuruhnya untuk pulang dan beristirahat. Tapi dirinya selalu kekeh untuk tetap berada di sisi Maura. Ia tidak ingin jika Maura bangun dari tidur panjangnya, dirinya tidak ada di dekat Maura. Tubuhnya pun terlihat lebih kurus, karna pola makan yang tidak teratur. Rojer sering sekali melewatkan makan siang karna meratapi keadaan Maura.
"Sampai kapan kamu akan meratapinya seperti itu.?" Antony sudah berdiri di samping Rojer yang sedang terduduk di samping ranjang Maura tanpa berkedip memandang wanita yang sedang berbaring tidak berdaya.
Rojer menatap Antony sekilas, dan kembali menatap lurus ke arah wajah Maura yang pucat, tapi tetap cantik. Rojer tidak menyadari sejak kapan Antony masuk ke dalam ruangan. Fokusnya benar- benar di miliki oleh Maura seutuhnya.
"Maura tidak akan senang, jika kamu tatap dengan kesedihan seperti itu... Biarpun dia tertidur pulas sekarang... Bukan berarti dia tidak merasakan emosi yang ada di sekitarnya...." Lanjut Antony lagi, sambil memeriksa keadaan Maura yang masih sama dengan kondisi awal. Membuat Antony mendengus pelan.
"Benarkah apa yang kamu katakan? Jika sekarang Maura bisa mendengar apa yang sedang kita bicarakan...?"
"Tentu saja... Detak jantungnya masih berdetak... Telinganya juga tidak tuli... Hanya saja dia belum ingin terbangun... Kamu harus membujuknya dengan lebih keras. Berikan dia dorongan yang besar untuk sadar... Berikan dia alasan untuk sadar...."
__ADS_1
"Aku sudah bicara padanya panjang lebar selama dua hari ini... Tapi dia sepertinya masih marah dengan ku... Maura sangat keras kepala... Tidak mudah untuk membujuknya... Tapi jika dia sedang mendengarkan kita sekarang... Aku ingin dia tahu bahwa aku sangat merindukannya...." Air mata Rojer kembali berlinang di pelupuk matanya. Antony menepuk bahunya perlahan.
"Tapi dia tidak akan senang melihat mu seperti ini... Rojer bersikaplah seolah- olah dia masih bisa duduk dan tersenyum pada mu... Jangan perlakukan dia seperti mayat hidup... Lihat lah kondisi mu sekarang... Maura tidak akan suka jika melihat mu seperti ini.... Pulanglah... beristirahatlah di rumah sebentar... Perawat akan menjaganya dengan baik..."
"Tidak.... Tidak... Apa pun itu aku tidak akan meninggalkan Maura... Aku akan tetap di dekatnya...." Jawab Rojer cepat, sambil mengeratkan pegangannya pada tangan Maura.
"Baiklah... Tapi gantilah pakaian mu... Kamu sudah tidak mandi selama dua hari... Hidung Maura masih berfungsi dengan baik... Kasian dia jika harus mencium bau mu yang apek itu..."
"Apa kamu sedang menghina ku...?" Lirik Rojer dengan tatapan tajam ke arah Antony.
"Tidak... Tidak... Aku hanya memberikan saran..." Antony menggeleng cepat, dengan mengangkat ke dua tanganya di udara. Saat menerima tatapan tajam alias mengerikan dari Rojer. Dirinya tidak ingin mencari masalah dengan singa yang sedang terluka.
Rojer bangkit dari duduknya, dan mengecup kening Maura singkat.
"Sayang... Cepatlah sembuh... Cepat lah bangun... Aku dan Charlote akan selalu menunggu mu... Aku janji aku tidak akan seperti ini... Aku akan menjalani semuanya dengan normal.... Aku tahu kamu tidak ingin melihat ku menderita seperti ini... Cepatlah bangun jangan menyiksa ku seperti ini... Mengerti...!!" Bisik Rojer di telinga Maura. Suaranya sedikit bergetar. Tapi Rojer mengulum senyumnya paksa.
"Aku akan kembali dengan cepat...." Gumam Rojer lagi, dan menatap Antony dengan tajam.
"Jaga hati ku dengan baik... Aku akan kembali dengan cepat... Jika terjadi sesuatu padanya aku pastikan rumah sakit beserta diri mu akan ku gusur sekaligus...." Ancam Rojer, dan menatap Maura sekali lagi, sebelum ia melangkah pergi dari kamar inap Maura.
Dirinya begitu enggan untuk meninggalkan Maura. Tapi, apa yang di katakan oleh Antony memang ada benarnya. Ia tidak bisa terus bersedih seperti ini. Ia harus kuat dan tegar demi Maura. Meski Maura saat ini tidak bisa tersenyum seperti biasa kepadanya. Tapi setidaknya ia bisa lebih kuat dan tegar menghadapi semua ini. Ada Charlote buah cintanya dengan Maura yang juga memerlukan perhatiannya.
Rojer berdecak sedikit kesal, dan menutup daun pintu pelan, sebelum melangkah pergi meninggalkan kamar inap Maura. Langkahnya benar- benar terasa berat.
"Aku harus kuat ini demi Maura..." Batin Rojer dan menaikkan ke dua sudut bibirnya ke atas. Menciptakan lengkungan senyum yang sangat indah.
"Aku tidak tahu kapan kamu akan sadar.... Kondisi mu benar- benar tidak ada kemajuan Maura... Kamu seperti mayat hidup yang hanya bisa bernafas. Tapi jika kamu mendengar perkataan ku... Tolong bangunlah... Ada seseorang yang benar- benar menunggu mu... Benar- benar mencintai mu dengan cinta yang sangat besar... Rojer sangat menderita melihat mu seperti ini... Jika kamu melihatnya dalam kondisi ini, kamu tidak akan percaya dia adalah Rojer yang sama. Pria arrogant, dingin, dan cuek. Dia jauh sudah berubah... Jadi tolong kembali lah demi dirinya...." Antony tersenyum kecut, dan melangkah keluar meninggalkan kamar inap Maura.
"Jaga pasien di kamar ini... Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam kamar ini..." Titah Antony pada seorang perawat wanita di depan kamar inap Maura, yang langsung di angguki oleh perawat wanita.
...----------------...
Rojer menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan yang berada ujung lorong. Tempat Charlote melakukan kontrol terakhirnya.
"Papa....!!!" Teriak Charlote memanggil Rojer, dan menghambur ke dalam pelukan Rojer.
"Sayang... Bagaimana pemeriksaan mu?"
__ADS_1
"Semuanya berjalan dengan lancar pa... Papa terlihat sangat pucat... Apa papa baik- baik saja..?" Tanya Charlote dengan khawatir, sambil tangannya mengelus wajah Rojer yang terlihat letih.
"I'm oke... Dont worry son..." Rojer tersenyum tipis.
"Bagaimana dengan mama... Apa Charlote sudah bisa menemui mama??? Charlote benar- benar merindukan mama pa... Hiks... Charlote ingin menemui mama...." Tangis Charlote pecah di depan Rojer. Membuat hati Rojer sakit melihat putranya menangis.
"Iya sayang... Mama akan segera sembuh... Charlote jangan menangis lagi... Mama akan segera sembuh... Charlote fokus dengan kesehatan Charlote oke, papa janji... Papa akan mempertemukan mu dengan mama, setelah kamu sembuh oke... Usshh.... Ushhh jangan menangis lagi..."
"Tuan Rojer... Kesehatan Charlote sudah sangat membaik sekarang... Sudah tidak ada gejala trauma yang di tunjukkan lagi. Laporan dari Dokter Sikiater sudah saya terima... Dan hasilnya sangat baik... Kemajuan kesehatan Charlote benar- benar cepat Tuan..." Tiba- tiba Dokter Sillia datang dan menyelingi percakapan antara anak dan ayah di depannya.
Rojer menatap dokter cantik di depannya dengan tatapan berterimakasih. Ia merasa berhutang budi pada Dokter Sillia.
"Dokter aku sangat berterimakasih pada mu... Terimakasih sudah merawat putra ku dengan baik..."
"Itu sudah kewajiban ku... Tapi Tuan sepertinya anda terlihat kurang sehat... Anda sepertinya harus di periksa.. Anda terlihat sangat pucat...." Cecar Dokter Sillia dengan khawatir dan cemas, dan hendak menyentuh pelipis Rojer.
Rojer segera mengelak dari sentuhan Dokter Sillia, membuat tangan Dokter Sillia mengambang di udara.
"Ahhh... Maaf ini hanya insting seorang dokter... Maaf kan kelancangan saya Tuan..." Dokter Sillia segera menarik tangannya. Menyembunyikan kegugupan yang sedang melanda dirinya. Hal tadi membuat dirinya terlihat salah tingkah di depan Rojer.
"Astaga kenapa bisa seperti ini... Seharusnya aku bisa mengendalikan tangan ku... Ck..." Batin Dokter Sillia kesal pada dirinya sendiri.
"Edent...!!! Siapkan mobil... Aku ingin pulang sebentar...." Ujar Rojer pada Edent yang berdiri diam sejak tadi.
"Baik Tuan..." Angguk Edent cepat dengan bahagia, saat mendengar perintah Rojer. Ia begitu senang melihat Rojer akhirnya mau beristirahat sejenak setelah menemani Maura selama dua hari penuh. Entah alasan apa yang telah berhasil membuat majikannya itu berubah pikiran. Tapi itu tidak penting, yang lebih penting sekarang ia harus segera mengantar Rojer kembali ke mansion.
"Ayo sayang...!!" Rojer langsung mengangkat tubuh kecil Charlote dalam gendongan. Dan melangkah pergi melewati Dokter Sillia yang menunduk sambil meremas tangannya sendiri.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
__ADS_1
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit