Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
Luka 3


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 58...


Rojer membuka pintu kamar pribadi dengan perlahan. Ia melihat Maura yang tengah berdiri memandangi pemandangan indah kota x dari dinding kaca.


Maura yang hanya menggunakan baju mandi, tengah mengalir bersama pikiran dan indahnya kota x yang terlihat dari tempatnya berdiri.


Maura sama sekali tidak menyadari akan kehadiran Rojer yang tengah memandangi punggungnya. Ia berdiri dengan tangan bersedekap di dadanya. Hari ini baginya adalah hari yang begitu melelahkan.


"Aku tidak tahu, apa aku bisa menganggap semua ini hanya mimpi buruk dan bisa bersikap seperti biasa seperti tidak terjadi apa- apa??." Gumam Maura dengan mata yang lelah dengan semua ini.


"Yah,,, kenapa tidak bisa..." Timpal Rojer cepat, dan melingkarkan tangannya pada perut ramping Maura. Rojer menyangga dagunya pada bahu Maura dengan memeluk erat Maura dari belakang.


Maura sempat tersentak kaget, saat tangan Rojer melingkar di perutnya.


"Anggap semuanya hanya mimpi buruk dan akan berakhir ketika kamu membuka mata.." Lirih Rojer dengan menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Maura.


"Aku harap juga begitu..." Timpal Maura dengan menunduk sekilas. Ia tidak menolak dengan apa yang di lakukan Rojer saat ini padanya.


"Aku akan pastikan semuanya berjalan seperti biasa..." Bisik Rojer pada telinga Maura dan menggigit daun telinga Maura kecil.


"Hhhh..." lirih Maura menikmati sentuhan Rojer.


Rojer kembali menciumi leher Maura dengan kecupan- kecupan ringan. Wangi tubuh yang membuat Rojer semakin betah untuk memberikan kecupan kenikmatan.


Tok...Tok..


Pintu kamar di ketuk, membuat Maura membalikkan tubuhnya menghadap ke arah pintu, yang menyebabkan Rojer harus berhenti mengecupi leher Maura.


"Ssshhhh.... Mengganggu saja..." Ujar Rojer memutar bola matanya malas. Belum lama ia menghabiskan waktu berduan bersama Maura seseorang malah datang menggangunya.


Maura mengerjitkan dahinya pada Rojer mengisyaratkan Rojer untuk membuka pintu. Maura terkekeh sekilas melihat ekspresi Rojer yang kesal.


Rojer membuka pintu dan Edent sudah berdiri di depannya dengan membawa sebuah totbage kecil di tangannya.


"Hhhh cecurut ini, tidak bisa apa tidak mengganggu ku di saat - saat seperti ini." Dengus Rojer kesal, saat mengetahui jika yang datang adalah Edent.


"Maaf menggangu Tuan muda, ini pesanan yang anda minta..." Ujar Edent, lalu memberikan totbage itu pada Rojer.


"Baiklah, pergilah jangan mengganggu ku..." Timpal Rojer dengan kesal dan menutup pintu dengan cukup keras di depan wajah Edent. Edent mundur selangkah saat pintu tertutup dengan keras.


"Huh..." Dengus Edent, lalu melangkah pergi.

__ADS_1


Maura duduk di pinggir ranjang, sambil melihat Rojer yang kesal.


"Bocah itu tidak bisa membiarkan kita berduan... Apa perlu ku kirim dia ke benua antartika.." Ucap Rojer, lalu duduk di pinggir kasur menghadap Maura. Sementara raut wajahnya masih kesal karna terganggu untuk berduan bersama wanita yang di cintainya.


Maura kembali terkekeh saat mendengar dumelan Rojer yang terdengar lucu di telinganya.


"Ini... Ini untuk mu.." Ujar Rojer lagi, lalu menyerahkan totbage yang di berikan Edent tadi pada Maura.


"Apa ini?" Tanya Maura singkat.


"Itu batu,,, ya kamu buka saja sendiri... begitu saja tidak mengerti..."


"Udah,,, jangan kesel mulu mual aku liat muka kamu.." Timpal Maura dengan terkekeh sekilas.


"Ohhh sekarang kamu sudah berani meledek ku ya... haha.." Ujar Rojer dengan tertawa mendengar ejekan Maura pada dirinya. Rojer merasa bahagia saat melihat tawa Maura yang telah kembali, meski ia harus menerima ejekan dari Maura.


Maura menggelengkan kepalanya. Ia membuka totbage yang di berikan Rojer. Matanya terlihat berbinar namun ekspresi wajahnya menyiratkan kebingungan.


"Hanphone??" Ujar Maura bingung.


"Iya... Handphone, Kamu tadi melempar ponsel mu ke cermin mahal ku... Dan lihat hanphone mu rusak... Aku tidak terlalu miskin untuk membeli sebuah ponsel baru untuk mu. Jadi katakan apa kamu suka??" Ucap Rojer sambil menunjukkan ponsel Maura yang telah rusak dengan retakan pada layarnya.


"Kamu harus mengatakan kamu menyukainya.!!" Lanjut Rojer dengan kalimat perintah.


"Dan satu lagi... Aku sudah menyimpan nomer ku pada ponsel mu... Jadi sering- seringlah menghubungi ku.." Ujar Rojer lagi dengan memicingkan alisnya. Dan memeluk Maura.


"Aww... ahh..." Ringgis Maura saat tangan Rojer memeluk dirinya. Dengan cepat Rojer langsung melepas pelukannya dari tubuh Maura.


"Apa... Kenapa??? Apa kamu baik- baik saja?? apa ada yang sakit??" Tanya Rojer khawatir pada Maura.


"Punggung ku terasa nyeri, sepertinya bekas terkena lemparan sepatu tadi..." Ujar Maura sambil berusaha menyentuh luka di punggungnya dengan tangannya.


"Astaga... Kenapa kamu tidak bilang tadi." Ujar Rojer mengambil kotak p3k lagi dengan cepat.


"Dia sangat mengkhawatirkan ku..heh" Batin Maura tersenyum melihat Rojer yang langsung berbegegas mengambil kotak obat saat mendengar dirinya terluka.


"Buka baju mu!!" Titah Rojer, sambil mengeluarkan kapas dan antiseptik.


"Apa??" Tanya Maura dengan melongo, mendengar perintah Rojer yang terdengar sangat enteng menyuruhnya membuka baju.


"Apa kamu tuli?? Buka baju mu.." Ujar Rojer lagi.

__ADS_1


Maura hanya mematung diam, bagaimana bisa seorang wanita membuka bajunya dengan begitu saja di depan seorang pria. Sungguh membuat malu saja. Wajah Maura memerah dengan memandangi Rojer yang tengah mengoleskan antiseptik pada kapas.


Rojer memandang Maura dengan wajah yang memerah. Dari ekspresi Maura, Rojer mengerti apa yang sekarang di pikirkan wanita di depannya. Tanpa sadar Rojer tersenyum geli melihat Maura yang melongo sendiri karna perintahnya.


"Kenapa??? Jangan berfikir mesum, aku cuma mau mengobati luka mu. Jika kamu tidak membuka baju bagaimana aku bisa mengobatinya..??" Ujar Rojer dengan mengendikkan bahunya geli.


"Aishhh... Maura apa yang kamu pikirkan... kenapa kamu berfikir yang tidak- tidak. Dia hanya ingin mengobati luka mu... Dasar bodoh.." Batik Maura merutuki dirinya sendiri.


"Ahh... Tidak usah, aku akan melakukannya sendiri..." Maura merebut kapas dari tangan Rojer. Namun, Rojer kembali merebutnya kembali dari tangan Maura.


"Memang tangan mu sangat panjang dan atletis sampai bisa menyentuh punggung bagian tengah hah??" Tanya Rojer meledek dengan tawa kecil menyelinginya.


"Sudah lah, menghadap ke belakang dan turunkan baju handuk mu hmmm... Aku tidak akan melihat apapun, lagi pula aku cuma mau mengoleskan obat kan.?" Ujar Rojer lagi.


Maura menuruti apa yang di katakan Rojer. Ia berbalik dan membelakangi Rojer. Lalu menurunkan bajunya hingga turun ke pinggang. Bagian depan Maura terekspos dengan sempurna dua buah gundukan indah kini sedang tidak memakai baju.


Rojer memperhatikan punggung Maura yang putih dan ada bercak lebam seperti alas sepatu menempel di bagian tengah punggung. Rojer mengoles antiseptik pada lebam Maura dengan sangat hati- hati.


"Awww.. sshhh.." Ringgis Maura saat antiseptik menyentuh permukaan kulitnya yang terluka.


"Apa terasa sakit.?" Tanya Rojer menghentikan aksinya.


Maura mengangguk pelan.


Rojer meniup bagian yang terluka dan mengolesnya dengan salep lagi. Ia meniupnya agar rasa sakit yang di rasakan Maura berkurang.


Semakin mendekati tubuh putih Maura, Rojer mencium aroma manis yang menguar dari tubuh Maura. Ia mendekatkan wajahnya di bahu Maura dan mulai mengecupinya lagi. Maura tersentak karna merasakan benda kenyal yang sedang menjelajah di bahunya.


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit!!

__ADS_1


__ADS_2