Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
86


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 86...


"Apa!!! Jerry di tangkap....!!!!" Gema suara teriakan memenuhi ruangan. Seorang pria dengan ekspresi takut berlutut di depannya dengan menunduk.


Srek...


Prang...


Gemuruh amarah menyelimuti atmosfer ruangan yang pengap dengan pencahayaan yang redup.


Tampak pria dengan balutan jas marron menyeringai dengan amarah. Ia bahkan membanting botol wine di atas meja hingga berserakan. Cairan yang memiliki bau khas itu mengalir dan membentuk genangan begitu saja. Aura kemarahan begitu terasa, hingga membuat suasana yang redup menjadi begitu mencekam.


Buliran keringat mengalir dengan keras di pelipis pria yang tengah bersimpuh. Tangannya bergetar, sementara kakinya terasa tak bertulang.


Pria di depannya yang tak lain adalah ketua mafia yang sedang menjadi buronan pemerintah. Pria dengan rambut pirang dan bagian tengah kepala botak itu berkacak pinggang. Menghirup dalam- dalam udara yang berhasil di tanggap oleh lubang hidungnya. Wajahnya yang bengis dengan sorot mata yang begitu tajam dan mengerikan.


Ketua mafia itu menatap anak buahnya yang sudah bermandikan dengan keringat ketakutan.


"Jangan biarkan Jerry sampai membuka mulutnya..." Ucap ketua mafia itu dengan menekan kepalan tangannya di atas meja.


"Sa....ya berani menjamin tuan, Jerry tidak akan membuka mulut. Karna di tenggorakannya sudah di tanam bom kejujuran. Yang akan meledak ketika dia membuka mulut." Jawab Anak buahnya dengan terbata- bata, dan diam membeku layaknya patung. Tidak berani menoleh atau pun bergerak sedikit pun. Rasanya sendi dan ototnya kini mati rasa, berhadapan dengan manusia iblis di hadapannya.


"Ha... Ha... Bagus... Setidaknya kamu berguna juga... Tapi rasanya tikus kecil itu sudah ikut campur terlalu jauh dalam masalah ini..."


"Maaf Tuan... Tapi petunjuk siapa orang yang sudah mengirim USB itu pada pemerintah belum bisa di ketahui..."

__ADS_1


"Ohhhh... Tikus kecil itu, sepertinya pandai bersembunyi... " Ketua mafia itu, berjalan mendekat ke arah anak buahnya yang sedang bersimpuh ketakutan. Ia tersenyum penuh arti dan mengangkat tubuh anak buahnya dengan perlahan.


"Informasi mu lumayan... Dan sepertinya jalan buntu untuk tikus kecil adalah kematian... Bukan begitu?... Sungguh aku begitu bangga dengan kinerja mu..." Ketua mafia itu menepuk bahu anak buahnya hangat. Pria yang merasa kematiannya sudah di depan mata, bisa menghirup nafas lega. Senyum nya terangkat ketika mendengar ucapan pujian dari majikannya.


"Terimakasih Tuan... Saya sungguh sangat tersanjung...." Ujar pria itu hampir melompat karna gembira.


"Tapi sayang informasi mu itu tidak cukup untuk membuat nyawa mu bertahan....!!!"


Srek....


Ketua mafia itu menggorok leher anak buahnya dengan sekali ayunan tangannya. Darah mengalir dari luka sobek yang menganga di leher pria itu. Tubuh itu ambruk begitu saja di lantai.


Ketua mafia itu mengusap wajahnya yang terciprat darah dari anak buahnya sendiri.


"Bau darah pecundang....." Lirihnya dan melepas pisau kecil yang tadi di gunakan untuk membunuh anak buahnya sendiri.


"Tuan,,, Besok akan di adakan pertemuan besar seluruh hacker di dunia di kota Y, tepatnya di hotel ASTON... Kemungkinan besar tikus kecil yang kita cari akan hadir di acara itu." Lapor pria itu dengan menunjukkan tablet yang di bawanya pada ketua mafia.


Ketua mafia tersenyum senang, saat mendengar laporan dari anak buahnya yang satu ini.


"Keberuntungan mu sudah tamat tikus kecil, saatnya memasuki dunia lain... Lepaskan anak panahnya... Habisi semuanya... Siapa pun dia harus lenyap..." Ujar Ketua mafia tersebut dengan smirk di wajahnya. Ia membasuh tanggannya yang ternoda oleh darah pada wastafel yang tidak jauh dari tempatnya.


"Laksanakan...." Timpal pria itu, lalu membungkuk memberi hormat dan keluar dari ruangan itu. Beberapa orang masuk dan membersihkan jasad kawannya yang sudah mati karna gagal menjalan kan tugasnya.


...----------------...

__ADS_1


Mobil Steve memasuki halaman rumah Maura. Tapi wajah Maura tidak berubah dari saat meninggalkan pesta. Hatinya sedang merasa gelisah dengan rasa yang bercampur aduk.


Maura keluar dari mobil dan berjalan cepat hendak masuk ke rumah, namun sebelumnya tangan Steve sudah berhasil menghentikan langkahnya.


"Mau... Are you oke.?" Steve memegang pergelangan tangan Maura. Kerutan di dahinya semakin banyak saat melihat cincin yang sama melingkar di jari Maura.


"Bukankah, kamu sudah mengembalikan cincin ini pada Rojer..?" Tanya Steve dengan penasaran. Menanti jawaban yang akan keluar dari bibir ranum Maura.


"Maa Tuan, lepaskan tangan Nyonya... Jika anda tidak ingin tangan anda terpisah dari tubuh anda.." Lagi- lagi suara dingin Freya menghancurkan segalanya. Freya dengan kasar menepis tangan Steve, hingga genggamannya terlepas dari pergelangan tangan Maura.


Steve menyugar kepalanya kasar. Kesabarannya sepertinya sudah habis untuk menghadapi gadis seperti Freya.


"Bisakah kamu tidak ikut campur dalam urusan ku dengan Maura. Kenapa kamu terus menjadi parasit di antara kami... Lebih baik kamu tetap diam dan kunci mulut mu itu. Dan jangan coba- coba untuk melewati batasan mu Freya. Kamu hanya pengawal pribadi, yang akan bereaksi jika nyawa tuan mu dalam bahaya... Apa kamu mengerti..?" Ujar Steve dengan menekankan apa yang ia katakan. Setiap yang ia lakukan terasa berat saat Freya ada di dekat Maura. Gadis itu sudah menghancurkan rencananya untuk membuat Maura jatuh dalam pelukannya.


"Sepertinya anda belum tahu apa pun Tuan Steve. Yang pertama anda bukanlah majikan saya, jadi anda tidak berhak untuk memvonis saya. Yang kedua menjadi parasit dalam hubungan anda dengan Nyonya adalah tugas saya. Dan dengan senang hati saya akan melakukannya. Dan yang terakhir saya tidak hanya akan bereaksi saat nyawa nyonya terancam saja. Tapi saya akan bereaksi ketika ada pria genit seperti anda yang memdekati Nyonya. Jadi dengan sangat jelas saya katakan, Kalau saya tidak mengerti apapun selain dengan tugas saya..." Timpal Freya dengan jelas dan tegas. Membuat kepala Steve berhenti untuk bekerja. Entah Freya terbuat dari apa, tapi yang pasti dia lebih dingin dari pada robot.


Maura menghela nafasnya, ia sudah sangat pusing sejak awal kedatangan Freya, yang harus mendengar percekcokan mulut antara ke duanya. Belum lagi Steve yang terlihat sangat kesal dengan kehadiran Freya. Jagankan mengobrol santai dengan Steve, menjawab pertanyaan darinya saja Freya sudah mendahuluinya.


"Hentikan... Bisa- bisa kepala ku pecah mendengar perdebatan kalian. Steve aku sudah mengatakannya kan, aku baik- baik saja, aku tidak apa- apa. Jadi kamu jangan khawatir. Lebih baik kamu pulang, bukankah besok kamu akan terbang ke kota D. Jadi beristirahat lah... Dan terimakasih untuk pesta hari ini. Pulanglah, sebelum Freya membuat mu terluka..." Ujar Maura menyudahi pembicaraan mereka. Hari ini sudah cukup melelahkan baginya, mendengar hinaan dari ibu dan saudari tirinya, belum lagi pemaksaan dari Rojer, dan sekarang perdebatan ini, sungguh membuatnya mual.


"Baiklah Mau,,, jagan diri mu..." Steve menuruti ucapan Maura. Ia juga dapat melihat keletihan di wajah cantik Maura. Ia berjalan melewati Freya yang tersenyum mengejek ke arahnya. Ingin rasanya ia mengubur hidup- hidup gadis menyebalkan itu.


...----------------...


...****************...

__ADS_1


Maaf up cuma 1 eps tiap hari... Soalnya dukungan lagi menurun...😪😪😪


__ADS_2