
...ILUSI TAKDIR 91...
Maura menatap dirinya di depan cermin, sesekali menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan kanan. Memastika penampilannya terlihat sempurna.
Maura mengoleskan lipstik merah menyala dengan paduan kerlap- kerlip pada bibirnya. Warna lipstik yang senada dengan warna gaun dan gaya rambut yang di sanggul rapi ke atas.
Kring....
Maura meraih ponselnya yang berdering di atas meja rias, wajahnya menyunggingkan senyum melihat nama yang tertera di layar benda pipih itu.
"Hallooo Kirana..!" Ucap Maura memulai percapakan dengan wajah antusias. Sudah cukup lama ia dan sahabatnya tidak saling bertukar kabar.
"Hallo, Mau bagaimana kabar mu? Apa kamu baik- baik saja?" Tanya Kirana dari ujung telpon dengan nada penuh kerinduan.
"Hmmm tentu saja aku baik... Bagaimana dengan mu? Sudah lama sekali kita tidak bertukar kabar atau bertemu. Sungguh aku sangat merindukan mu..."
"Aku juga baik... Benarkah kamu merindukan ku? dan ingin bertemu dengan ku? Bukankah selama ini kamu terlalu sibuk jika aku mengajak mu keluar. Aku pikir kamu tidak akan merindukan teman lama mu ini..."
"Maaf kan aku, sungguh waktu itu aku tidak bisa menemui mu... Bagaimana jika kamu atur jadwal untuk bertemu tiga hari lagi."
"Yang benar saja kenapa harus tiga hari, aku ingin bertemu dengan mu sekarang malahan. Karna aku ingin mengatakan kabar baik..."
"Aduhhh... sayangnya tidak bisa Kirana. Saat ini aku sedang berada di luar kota, jadi aku tidak bisa menemui mu..."
"Ohhh Tuhan, bahkan president saja tidak sesulit ini untuk bertemu dengannya... Aku hanya ingin bilang pada mu, jika empat hari lagi aku akan menikah..."
"Benarkah!!! Selamat jika begitu, aku turut senang untuk mu..."
"Jadi untuk bertemu tiga hari lagi aku tidak bisa, karna aku harus mengurus pernikahan ku... Jadi datanglah empat hari ke depan, kali ini aku tidak akan memaklumi mu jika kamu tidak datang. Ajak lah pangeran kecil ku Charlote untuk datang... Mengerti.."
Tok...
Tok...
Tok..
Maura menoleh ke arah pintu yang di ketuk, ia menjauhkan ponselnya dari telinganya, lalu mendekatkannya kembali.
"Nanti kita lanjutkan lagi , aku harus pergi Kirana..."
"Hey... Kamu sela---"
Maura memutus telpon, meski Kirana belum selesai berbicara pada nya. Ia berlari kecil ke arah pintu, dan memutar knop pintu.
Rojer berdiri dengan tersenyum di depan pintu. Sesekali merapikan tuxedo yang ia kenakan.
Maura memutar bola matanya malas, jika dirinya tahu jika yang mengetuk pintu adalah Rojer. Ia pastikan dirinya tidak akan membuka pintu.
__ADS_1
Rojer memicingkan matanya menyelidik. Menatap Maura dari atas hingga bawah.
"Kenapa menatap ku seperti itu.? Aku tahu jika aku tidak secantik istri mu Catlin. Lebih baik kamu pergi dari sini." Ujar Maura dengan nada ketus dan mendorong pintu, namun sebelum pintu kamarnya bisa tertutup Rojer juga mendorong daun pintu dengan sedikit lebih keras. Membuat Maura terjengkang ke belakang dan akan ambruk ke lantai. Tapi untung saja, dengan sigap Rojer menangkap pinggang Maura hingga tubuh Maura tidak terjatuh.
"Berhentilah, menjadi wanita ceroboh..." Ujar Rojer datar. Ia melepaskan tangannya dari pinggang Maura, setelah Maura berdiri dengan tegap.
Maura menekuk wajahnya kesal, dan mengerucutkan bibirnya.
"Wanita ceroboh...!!! Aku hampir terjatuh karna kamu mendorong pintu sangat keras. Dasar manusia yang selalu benar..." Batin Maura mengomel di dalam hati.
"Jangan memasang wajah se imut itu, jika tidak aku tidak akan bisa menahan diri..." Ujar Rojer lagi, sambil mengambil beberapa cubit kapas di atas meja rias.
"Aku kan sudah bilang pada mu untuk pergi dari sini...!" Timpal Maura dengan menunjukkan tangannya ke arah pintu.
"Jika aku tidak mau, kamu mau apa hhh?" Tantang Rojer, dan mendekat ke arah Maura.
"Aku... A... Aku akan... Jangan mendekat, tetap diam di tempat mu Rojer. Jika tidak aku akan..." Maura mundur beberapa langkah ke belakang, sementara Rojer terus melangkah maju mendekati Maura. Maura terkejut, saat tubuhnya mengenai dinding. Sedangkan Rojer terus melangkah mendekat ke arahnya.
"Kamu terlihat begitu menawan dan cantik malam ini. Rasanya aku tidak rela, jika mata orang lain melihat kecantikan mu..." Rojer mengungkung tubuh Maura di tembok. Memangkas celah untuk Maura agar tidak kabur.
Dada Maura turun naik tidak beraturan. Tangannya menggenggam erat gaun yang ia kenakan. Rasa gugup mulai menjalar di tubuhnya. Ia ingin segera melepaskan diri dari cengkraman Rojer.
"Tapi tidak secantik istri mu Catlin..." Maura mencoba mendorong tubuh Rojer, namun sia- sia tenaganya bahkan tidak cukup untuk membuat tubuh Rojer bergerak. Malah Rojer semakin mendekatkan tubuhnya pada Maura.
"Ck... Kenapa terus menyebut dirinya, Kamu jangan bandingkan diri mu dengan dirinya. Kalian jauh berbeda. Bagi ku dan di mata ku diri mu adalah wanita yang paling cantik di dunia ini." Timpal Rojer dengan memainkan rambut Maura yang sengaja di biarkan tergerai sedikit di samping wajahnya.
Deg...
Deg...
Jantung Maura semakin bertalu dengan cepat. Hatinya terasa sedikit hangat saat mendengar pujian Rojer yang terdengar begitu tulus dan merdu di telinga nya. Rasanya saat ini dirinya ingin tersenyum lebar, namun Maura menahannya. Ia tidak ingin Rojer mengira dirinya telah jatuh dalam pesona pria kekar itu.
"Tapi sayangnya, aku tidak membutuhkan pujian mu yang receh itu Tuan CEO. Lagi pula kamu tidak berhak untuk mengakatan jika kecantikan ku ini tidak boleh di lihat oleh orang lain selain diri mu.. Masa bodoh, bahkan aku bisa tampil lebih seksi dan lebih cantik dari pada ini..." Maura mendorong Rojer dengan sekuat tenaga. Saat dirinya merasa cengkraman Rojer melemah. Dan tentu saja, sekali dorongan dari Maura membuat dirinya terbebas dari kungkungan Rojer. Maura berjalan dengan gugup ke arah meja riasnya, dirinya berniat untuk menambah ketebalan make- up nya.
Rojer mengepal tangannya erat. Dirinya tidak terima jika Maura, menghadiri acara makan malam dengan dandanan seperti itu.
"Aku tidak mengizinkan mu keluar dengan gaya seperti itu...!" Rojer menekankan setiap kalimat yang dia ucapkan. Berusaha mengontrol emosinya, yang kini mulai tersulut.
"Siapa diri mu, berani melarang ku...? Kamu bukan siapa- siapa Rojer.. Camkan itu.! Kamu bukan siapa- siapa jadi kamu tidak memiliki hak untuk melarang ku untuk menghadiri acara makan malam ini dengan dandanan seperti apa.... Bahkan dengan tanpa memamakai busana sekali pun... Kamu tidak berhak melarang ku..." Ujar Maura dengan lebih meninggikan suaranya. Ia mengoleskan make up lebih tebal pada wajahnya.
"Aku bilang Tidak... Itu artinya Tidak...!!" Timpal Rojer dengan nada cukup tinggi. Ia menarik lengan tangan Maura dan menggenggam erat. Maura meringgis kesakitan karna eratnya genggaram Rojer. Sementara tubuhnya memberontak saat Rojer ingin menghapus make up di wajahnya dengan kapas.
"Lepaskan...!!! Berani sekali kamu melakukan ini pada ku Rojer... Hentikan.. Kamu merusak dandanan ku..." Teriak Maura, mencoba menghalangi tangan Rojer yang terus menghapus make up di wajahnya.
"Sial lipstik murahan ini tidak bisa hilang..." Umpat Rojer, saat dirinya tidak berhasil menghapus lipstik merah di bibir Maura yang terlihat sangat menggoda.
"Kamu tidak akan bisa menghapusnya karna ini lipsik waterpuff... heh..." Ujar Maura dengan seringgai di wajahnya, saat melihat ekspresi Rojer yang sangat kesal karna tidak berhasil menghapus lipstik di bibirnya.
__ADS_1
Rahang wajah Rojer semakin mengeras. Ia tidak akan membiarkan kecantikan wanitanya terlihat oleh orang lain selain dirinya. Rojer mendorong tubuh Maura dengan keras, hingga tubuh Maura terhuyung dan jatuh ke atas sofa.
Rojer segera mengunci tubuh Maura di bawah tubuhnya. Kedua tangannya menahan tangan Maura di samping kepala Maura, membuat pergerakan Maura semakin sedikit.
Wajah Maura yang tadinya menyeringai, sekarang berubah menjadi gelisah. Bagaimana tidak, posisi dirinya dan Rojer begitu dekat dan intim. Bahkan ia bisa merasakan nafas Rojer yang menghapus kulit wajahnya yang sudah berantakan.
"Jika tidak bisa terhapus dengan kapas kering, tentu saja bisa terhapus dengan sedikit air kan...?" Ucap Rojer dengan menyeringai. Ekspresi wajah kemenangan dan siap menerkam mangsanya begitu jelas terlihat oleh Maura.
"Ka... Kamu mau apa??.. Lepaskan...!!!" Teriak Maura berusaha meloloskan dirinya. Sepertinya ia tahu kemana arah, pembicaraan Rojer.
"Tentu saja, menghapus lipstik merah itu dari bibir mu yang menggoda itu." Rojer menunjuk ke arah bibir Maura yang sedikit terbuka dengan alisnya.
"Dasar mesu---"
Cup...
Cup...
Belum sempat Maura menuntaskan perkataannya. Rojer sudah mencium dan ******* rakus bibir Maura ganas. Menyesap dalam bibir yang sangat menggoda di matanya.
"Emmmphhh..." Maura menggigit bibir Rojer. Namun, sepertinya Rojer tidak mau melepaskan ciumannya. Malah semakin memperdalam ciumannya. Rasanya Rojer ingin melahap habis bibir seksi Maura. Rasanya begitu manis dan membuat dirinya candu, untuk terus ******* bibir itu.
Maura mengeleng- gelengkan kepalanya, berusaha melepaskan diri. Tapi sepertinya itu tidak berguna. Semakin ia memberontak, semakin Rojer mencium bibirnya dengan brutal. Akhirnya Maura pasrah dengan apa yang di lakukan Rojer. Percuma juga ia melawan, tidak akan ada gunanya.
Rojer melepas pagutannya pada bibir Maura. Nafasnya terenggah- enggah tidak beraturan.
"Sangat nikmat honey... Benar- benar manis... Sekarang bersiaplah kembali. Jangan melawan atau memberontak. Jika kamu tidak ingin mendapat hukuman yang lebih dari sekedar ciuman..." Ujar Rojer teesenyum licik dan mengedipkan sebelah matanya ke pada Maura, yang masih mengatur nafasnya.
Rojer melepaskan cengkramannya pada Maura dan berdiri dengan tegap. Merapikan tuxedonya yang sedikit berantakan, dengan mengukir senyum puas di wajahnya.
"Bersiaplah... Aku akan menunggu mu di luar..." Rojer lalu melangkah keluar dari kamar Maura.
Maura bangkit dan berdiri di depan cermin rias. Penampilannya benar- benar berantakan. Bibirnya terlihat sedikit bengkak dengan lipstik yang berantakan dan meluber ke wajahnya. Rambutnya yang sudah tersanggul rapi, kini terlihat seperti lilitan benang wol yang kusut. Dan gaunnya yang sedikit sobek di bagian dadanya.
Maura berdecak kesal. Ia memegang pinggiran meja rias dan memegangnya erat, hingga buku- buku tangannya memutih.
"Ck... kenapa aku tidak pernah bisa menang jika melawannya. Aku selalu berakhir seperti ini, menerima semua perlakuannya pada ku... Dasar pria monster, mesum, arrogan.. Aggrrhhh... Aku benar- benar membenci mu..." Maki Maura, sesekali memukul pelan meja rias. Menyalurkan kekesalan yang sedang meledak- ledak dalam hatinya.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
__ADS_1
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit