Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
110


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 110...


"Hentikan Mau... Hentikan.... Haha.ha... ha..." Rojer menangkap tangan nakal Maura, dan mencengkramnya kuat. Membuat aktivitas jahil Maura terhenti.


Tatapan mereka saling beradu, menatap mata satu sama lain dengan penuh cinta. Sedih, kebahagian, kecewa, dan duka ada dalam ke dua bola mata mereka. Berusaha saling menguatkan satu sama lain, mengisyaratkan jika semua nya akan baik- baik saja. Selama mereka bersama, saling menautkan jemari satu sama lain. Menggenggamnya erat, se erat- eratnya. Agar tidak lepas oleh apa pun jua.


Rojer memperangkap mata indah Maura yang kecoklatan. Mata yang begitu teduh dengan sinar cinta di matanya. Yang sanggup menenggelamkan Rojer dalam lautan cinta.


Rojer menatap bibir Maura yang ranum, merah dan merekah. Bibir bawah yang penuh dengan bagian atas yang sedikit tipis.


Maura menatap tatapan Rojer dengan terpaku, seakan dirinya tidak mampu memalingkan wajah dari tatapan yang tajam namun dengan sorot melindungi.


Rojer mendekatkan wajahnya lebih dekat pada wajah Maura.


Maura menutup matanya, saat nafas Rojer menyapu wajahnya. Terasa begitu halus, namun mampu membuat tubuhnya meremang. Aroma mint dan maskulin bercampur menggelitik pada ke dua lubang hidung Maura.


Rojer semakin mendekatkan wajahnya dengan Maura, hingga kini ujung hidung mereka sudah saling bersentuhan. Tinggal beberapa inci dua bibir mereka akan bertemu.


Kring...


Kring...


Kring...


Maura dan Rojer terkejut dengan deringan ponsel yang berdering.


Maura membuka matanya dan mendorong tubuh Rojer dari tubuhnya. Jantungnya masih berdegup tidak beratur, bahkan semakin cepat. Seperti pencuri yang sedang ketahuan mencuri.


Sementara Rojer berdecak, dengan menautkan alisnya. Setiap dia ingin melakukan hal romantis dengan Maura, pasti ada saja yang menganggu mereka.


Rojer menatap ke arah Maura yang di respon dengan gendikan bahu dari Maura.


"Aku tidak mengerti, setiap kita sedang romantis- romantisnya pasti ada saja pengganggu... Hhhh..." Dengus Rojer lalu mengambil ponsel dari dalam saku jasnya.


"Lihat lah... Mereka sangat tidak sabaran..." Lanjut Rojer lagi, dengan memperlihatkan layar ponselnya dengan nama panggilan Mom tertera di layarnya.


"Ankat saja... Siapa tahu penting..." Timpal Maura dengan mengangkat alisnya ke atas.


"Mama sangat tidak sabaran untuk bertemu dengan menantu kesayangannya ini... Hingga tidak memberikan ku waktu untuk berduan dengan mu... Dia sangat cerewet..." Rojer mencubit ringan pipi halus Maura.


Maura menangkap dengan senang tangan Rojer, dan tetap menempelkan tangan besar dan hangat itu di wajahnya.


"Rojer... Kenapa kamu lama sekali menjemput Maura... Mama bersama Charlote sudah karatan menunggu kalian... Cepatlah pulang... Jangan bawa menantu ku ke tempat lain... Kami sudah sangat merindukannya... Cepat bawa dia... Atau mama akan menyuruh orang mama untuk merampas Maura dari tangan mu... Papa..!!! Jangan bermesraan terus dengan mama... Ini giliran ku pa... Cepat bawa mama pulang... Jika tidak aku tidak akan berbicara dengan papa selama satu menit...!!!" Ujar Ny. Anindita dan Charlote dari seberang telpon. Mereka mengomel karna Rojer dan Maura tidak kunjung sampai.


Rojer menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Ia tidak ingin gendang telinganya pecah mendengar ocehan dari ibu dan putranya itu. Yang sepertinya sudah marah karna lama menunggu.


Maura menggeleng gelengkan kepalanya dengan senyum menghiasi wajah cantiknya. Ia merasa menjadi orang yang sangat beruntung, karna di kelilingi oleh orang- orang yang begitu sangat menyanginya.


"Mereka sangat menyayangi ku... Mereka memang adalah keluarga ku... Suami, putra, dan ibu mertua ku... Yang sangat menyayangi ku.. Yang siap melakukan apa pun untuk membuat ku bahagia... Inilah hidup ku... Entah apa yang ada dalam ingatan ku yang hilang. Tapi rasanya hidup ku ini jauh lebih baik dan bahagia.... Tapi,,, Apa aku juga memiliki sebuah keluarga?.. Papa dan mama ku.. apa mereka masih ada?.." Batin Maura dengan sedikit sedih, saat memikirkan kalimat terakhir dalam pikirannya.

__ADS_1


"Oke... Ma... Charlote sayang... Papa sudah ada di jalan... Beberapa menit lagi papa akan sampai... Ingat papa tidak suka jika Charlote tidak mau berbicara dengan papa... Apa Charlote tega membuat papa bersedih?? Tidak kan... Jadi jangan lakukan itu..." Timpal Rojer menjawab omelan dari ujung telpon.


"Ahhh kami tidak peduli dengan kesedihan mu... Kami ingin bertemu dengan Maura... Jangan banyak cingcong Rojer... Cepat bawa menantu ku pulang..."


Tuttttttt.....


Ny. Anindita menutup telpon dengan sepihak. Membuat Rojer menghela nafasnya panjang.


"Orang rumah sudah sangat merindukan mu... Ayo kita pulang... Jika tidak mereka akan membunuh ku nanti..." Ujar Rojer dengan smirk tampannya.


"Apa kita bisa pergi ke tempat lai---"


"Apa kamu ingin membuat ku terbunuh oleh Mama dan Charlote dengan omelannya.. Hehhh... Jangan mengerjai ku lagi... Mau... Mereka suda sangat marah karna menunggu ... Sepertinya hari ini aku tersingkirkan menjadi seorang bintang karna dirimu... Karna hari ini kamu lah tokoh utamanya..." Rojer memotong perkataan Maura yang sengaja meledeknya. Yang akan membuat Rojer tersulut api kesal dengan tingkah Maura.


"Baiklah suami ku sayang... Ayo kita pulang..." Jawab Maura, ia merentangkan tangannya lebar. Rojer menyelipkan ke dua tangannya pada ketiak Maura. Dan membantu calon istrinya untuk duduk di atas kursi roda.


Rojer meraih tas yang sudah selesai ia packing, dan mendorong keluar kursi roda Maura dengan perlahan dan hati- hati.


"Inilah hidup ku... Aku akan memulainya dengan sangat baik... Menjanjikan kebahagian yang melimpah untuk keluarga kecil ku... Sepertinya ini lah hikmah dengan hilangnya ingatan Maura... Jika nanti ingatan Maura kembali... Aku tidak akan membiarkan semuanya hancur..." Batin Rojer, dengan menatap lurus pada jalan yang aka di lewatinya.


...----------------...


Catlin sangat puas dengan mobil mewah yang di berikan Gery padanya. Sebuah mobil lamborgini berwarna silver yang begitu mewah dan elegant.


Sudah beberapa hari ia menjauhkan diri dari keluarga Wang. Menenangkan dirinya dengan pulang ke rumah ibunya Ny. Aurora. Membagi keluh kesah dan masalahnya, menerima saran dan solusi dari ibunya yang sangat mengerti akan dirinya. Meski Ny. Aurora terkadang begitu sibuk dengan urusan kantornya.


Selama beberapa hari ini juga, Catlin juga berjalan- jalan dengan mobil mewahnya. Mengelilingi toko- toko barang mahal untuk mengembalikan moodnya yang hancur karna hari itu.


Di lain sisi, Catlin juga bingung. Tiba- tiba di rekeningnya sudah terisi penuh dengan uang dari Rojer. Jadi sekarang dia berfikir jika Rojer sudah mau menerima kehadirannya.


Catlin menambah kecepatan mobilnya. Ia ingin cepat sampai ke kediaman keluarga Wang. Rasa bahagia mulai meletup letup di dalam dadanya. Pertengkaran dirinya dan Rojer waktu itu, kini tidak lagi ia pedulikan.


"Aku harus segera pulang... Dengan perubahan Rojer yang mengirim jumlah uang yang banyak ke rekening ku... Aku rasa dia sudah sadar jika aku lah satu- satunya wanita yang pantas untuk bersanding dengannya. Bukan Maura atau pun wanita lain..." Lirih Catlin, sambil fokus dengan jalanan di depannya.


...----------------...


Mobil BMW Rojer memasuki pelataran rumah besar keluarga Wang. Rojer menyetir mobil sendiri, karna Edent di tugaskan untuk mengurus pekerjaannya di kantor. Sehingga Edent, sering kali tidak bisa mengantar atau menjemput Rojer seperti biasa. Hal itu membuat Rojer, harus menyetir sendiri.


Maura sungguh kagum dengan gaya mewah kediaman keluarga Wang. Bahkan ia sempat menganga melihat keindahan aksitektur rumah bertingkat ini. Tidak ada sebercak pun ingatan di kepalanya menyangkut tentang rumah ini. Seakan ini pertama kalinya Maura menginjakkan kaki di rumah besar ini.


Rojer membuka pintu mobil dan turun. Ia segera berlari membuka bagasi dan mengeluarkan kursi roda Maura, lalu bergegas membukakan pintu mobil untuk wanitanya.


Maura tersenyum ringan saat Rojer membuka pintu. Ia sungguh merasa menjadi beban untuk Rojer dengan keadaanya yang seperti ini. Tidak bisa turun dari mobil jika tidak di gendong oleh Rojer.


"Ayo...!"


Rojer menyelipkan ke dua tangannya pada ketiak Maura dan membantunya untuk duduk di atas kursi roda.


Maura mencengkram bahu kekar Rojer dengan kuat, menahan beban dirinya untuk tidak terlalu berat, saat Rojer memapah dirinya.

__ADS_1


Sebenarnya bagi Rojer, tubuh Maura seringan kapas. Ia bisa menaiki tangga dengan mengendong Maura tanpa merasa lelah sedikit pun. Tapi bagi Maura ia sungguh tidak enak hati dengan semua hal ini.


"Apa kamu sudah merasa nyaman..?" Tanya Rojer, memastikan Maura duduk dengan nyaman, sebelum mendorong kursi roda.


"Apa kamu akan mengendong ku jika aku mengatakan aku tidak nyaman untuk duduk di kursi roda?"


"Tentu saja... Aku akan mengendong mu sampai ke kamar.. Jika kamu tidak nyaman duduk di kursi roda.. Aku akan mengendong mu..." Rojer sudah mengambil ancang- ancang untuk mengangkat tubuh Maura. Namun tangan Maura menghentikannya. Ia mengangkat wajahnya menatap Maura.


"Sudah aku hanya menguji mu..." Lanjut Maura.


"Kamu tidak usah menguji ku apa cinta ku ini benar- benar sama sekali tidak terlihat oleh mu..?"


"Iiihhh bukan begitu Rojer... Lupakan lagi pula aku sangat nyaman duduk di kursi roda ini... Ayo kita masuk.. Mama dan Charlote sudah menunggu kita... "


Rojer mengangguk pelan, lalu mendorong kursi roda Maura dengan hati- hati.


Di sisi pintu sudah berderet enam orang pelayan, yang berdiri di masing- masing sisinya. Wajah mereka mengembangkan senyum penuh keramahan, namun tidak mengurangi kehormatan mereka pada majikannya. Tugas mereka adalah menyambut kedatangan menantu baru keluarga Wang yaitu Maura.


Maura sedikit terkejut dengan sambutan hangat dari para pelayan.


"Selamat datang Nyonya..." Ujar mereka serempak, membuat Maura merasa sedikit risih dengan penyambutan seperti ini. Ia merasa seperti seorang tuan putri yang akan masuk dalam sebuah kastil.


"Terimakasih.." Ujar Maura tidak kalah ramah. Sedari tadi wajahnya selalu menyunggingkan senyum. Membuat Rojer begitu tersentuh dengan kesederhanan Maura. Meski ingatan Maura hilang, tapi kepribadiannya tetap melekat pada dirinya.


Seorang pelayan membuka pintu yang menjulang tinggi di depan Maura. Rojer mendorong kursi roda Maura untuk masuk ke dalam rumah.


Namun wajah Maura dan Rojer seketika berubah menjadi bingung. Suasana rumah begitu gelap tanpa ada cahaya sedikit pun. Seperti tidak ada kehidupan di dalam rumah besar ini. Bukannya beberapa saat yang lalu, Ny. Anindita dan Charlote menelpon Rojer. Karna saking tidak sabarnya untuk bertemu dengan Maura. Namun, ketika mereka tiba di rumah bukannya di sambut oleh dua orang yag sudah mengomel di telpon. Malah di sambut dengan kegelapan.


"Apa di rumah sedang mati lampu?" Tanya Maura polos.


"Sepertinya begitu, Hei kamu pelayan cepat periksa sekring lampunya...!!" Titah Rojer pada pelayan yang tadi membukakan pintu.


KEJUTAN...


Dur...


Dur...


KEJUTAN...


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤

__ADS_1


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit


__ADS_2