
...ILUSI TAKDIR 146...
"Maksud paman apa dengan mengatakan hal itu???!!!" Bentak Charlote, yang tiba - tiba masuk ke dalam kamar.
Steve langsung melepaskan pelukan nya pada Maura.
"Charlote..." Lirih Maura, melihat Charlote memasang wajah marah dan garang pada Steve.
"Katakan... Apa maksud paman, mengatakan hal buruk tentang papa ku...??" Hardik Charlote dengan marah.
Ia sangat tidak terima, jika ada orang yang menghina, atau mengatakan hal buruk tentang Rojer.
Bagi nya, ayah nya itu sangat baik. Selalu mewujud kan apa pun yang ia ingin kan. Selalu siap melindungi diri nya dan Maura, meski harus merelakan nyawa nya.
"Apa yang kamu dengar tidak seperti yang kamu pikirkan Charlote..." Bantah Steve dan menghampiri Charlote.
Membujuk bocah kecil itu agar tidak salah paham dengan apa yang ia katakan barusan.
"Aku mendengar semua nya... Semua nya... Paman tidak tahu apa pun tentang papa ku... Tapi dengan enteng nya paman menjelek- jelek kan diri nya... Jika aku boleh mengatakan.. Dia jauh lebih baik dari pada paman... Setiap yang papa ku miliki, selalu jauh lebih baik dari paman...
Jangan membandingkan diri nya dengan diri mu.. Karna itu tidak pantas... Jika paman di bandingkan dengan papa ku... Paman hanya lah, seonggok kotoran di pinggir jalan.
Apa paman pikir aku tidak tahu,, jika selama ini paman menyukai Mama ku... Dan berniat untuk merebut nya... Menghancurkan keluarga ku yang selama ini aku impikan..."
"Charlote jangan bertingkah kurang ajar...!!" Bentak Maura, menyela pembicaraan Charlote.
Ia sungguh tidak senang dengan sikap Charlote, yang tidak menghormati orang yang lebih tua dari nya.
"Aku tidak bertingkah kurang ajar ma... Tapi aku tidak percaya, mama bisa berpikir jika papa membohongi mama... Selama ini dia yang selalu menjaga kita... Mama tidak pernah melihat bagaimana papa sangat khawatir saat kita mengalami insident naas itu... Tapi aku..
Aku yang menyaksikan, bagaimana papa begitu putus asa untuk menemukan kita ma... Hiks... Hiks.."
Suara Charlote tertahan, saat tangis nya pecah. Kala ingatan nya mengingat kejadian peledakan ballroom Aston. Yang kapan pun tidak akan pernah bisa terlupakan oleh nya.
"Setiap hari papa selalu menunggu dan menjaga mama di rumah sakit, tanpa tidur bahkan dia sering melewatkan waktu untuk makan... Hal itu dia lakukan karna ia ingin di saat mama sadar dia ada di sisi mu ma...
Katakan apa salah nya ia menikah dengan mama di saat ingatan mama hilang... Papa selalu menolak untuk melakukan hal itu... Dia sangat takut menyakiti hati mu ma...
Tapi dengan gampang nya, mama mengatakan bahwa papa adalah seorang pengkhianat...
__ADS_1
Sekarang kata kan pada ku... Apa mama bukan pengkhianat..? Yang ketika mengetahui kebenaran nya, mama malah pergi meninggalkan masalah itu.. Tanpa mengatakan permisi atau mengatakan terimakasih pada pria yang mama cap sebagai pengkhianat, karna berkat diri nya. Aku atau pun mama masih bisa hidup.
Dan katakan pada ku... Apa mama bukan pengkhianat, setelah mama berbohong pada ku. Untuk membawa ku pergi jauh dari papa?..."
Charlote melampiaskan semua yang ia pikir kan. Mungkin umur nya masih belia, tapi jangan lupa dia di berikan otak yang genius.
Tidak butuh waktu untuk mencerna semua yang ia dengar.
Ia sangat marah dan kecewa, saat mendengar apa yang di katakan Maura pada Steve.
Seharus nya mama nya tidak perlu mengatakan itu semua. Karna itu bukan lah hal yang benar.
Charlote mengusap air mata nya kasar. Lalu berlari dengan cepat, keluar dari kamar. Meninggalkan Maura yang masih mematung, mencerna setiap perkataan putra nya.
Entah kenapa, saat mendengar semua itu, hati nya tiba- tiba merasa begitu bersalah pada Rojer.
Rasa nya hati nya di koyak dengan hebat oleh setiap perkataan Charlote yang begitu merasa menampar diri nya.
Maura menjatuhkan bokong nya, di atas tempat tidur. Menyangga kepalanya.
"Apa aku sudah melakukan kesalahan dengan melakukan ini semua..? Bahkan Charlote bertanya pada ku apa aku seorang pengkhianat...
Apa dia berpikir aku adalah pengkhianat karna telah membohongi diri nya... Lalu apa beda nya diri ku dengan Rojer..."
Steve meninju udara kosong. Jika ia bisa jujur, ego nya sangat terluka dengan apa yang di katakan bocah kecil itu.
"*Rojer... Tidak akan pantas untuk di sandingkan dengan ku... Aku bukan seonggok kotoran di pinggir tempat nya berjalan... Tapi aku,, yang akan merebut apa yang paling berharga bagi Rojer... Membuat dia menjerit tanpa henti karna putus asa, sama seperti apa yang pernah dia lakukan pada mendiang ayah ku..."
Batin Steve dengan seringgai misterius nya*.
Steve membalikkan tubuh nya, menatap Maura yang terasa terpukul dengan ucapan Charlote.
Steve mendekat dan duduk di samping Maura, Menangkup wajah Maura yang mengguratkan kesedihan yang dalam.
"Jangan pikir kan.. Apa yang di katakan Charlote. Dia masih kecil, dia belum mengerti luka yang kamu rasakan... Hmmm" Hibur Steve menenangkan Maura.
"Tapi...."
"Sudah lah... Charlote sedang marah... bicaralah pada nya besok... Di saat dia sudah tenang..."
__ADS_1
Maura mengangguk perlahan. Apa yang di katakan Steve ada benar nya juga. Pikir Maura.
...----------------...
Waktu berjalan dengan begitu cepat. Siang berganti malam. Malam berganti siang.
Sudah berhari- hari Maura berada di rumah Steve. Menata hati nya untuk kembali utuh, meski hal itu membutuhkan waktu yang lama.
Sementara Charlote masih diam, dan marah dengan Maura. Hingga ia menjalani hari- hari nya dengan tidak bersemangat.
"Charlote...!!! Ayo sayang... Sarapan sudah siap...!!" Panggil Maura dengan menata makanan di atas meja.
"Charlote....!!!" Panggil Maura lagi, tapi tidak ada respon apa pun dari Charlote. Bahkan bayangan nya pun tidak terlihat.
"Wow.... Lezat sekali... Aroma nya bahkan sampai ke kamar ku..." Ujar Steve dengan menyengir. Dan langsung menarik kursi untuk duduk.
"Haha... Kamu bisa saja..." Balas Maura dengan tersenyum ramah.
"Di mana Charlote... Dia belum keluar kamar?" Tanya Steve dengan mengedarkan pandangan nya.
Maura menggeleng pelan.
"Dia seperti nya masih marah... Aku tidak tahu lagi, dengan apa membujuk nya... Dia hanya berbicara seada nya dengan ku..." Ujar Maura sedih.
"Ck...ck... Dia tambah nakal ya... Tapi lihat lah, dia akan keluar dan sarapan dengan kita..."
"Charlote....!!!" Panggil Steve dengan berteriak.
"Apa kamu tidak mau sarapan... Lihat lah mama mu membuat sarapan kesukaan mu... Cepat lah keluar... Atau paman akan menghabis kan semua nya.. Tanpa menyisakan nya untuk mu...!!" Lanjut Steve lagi.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
__ADS_1
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit