
...ILUSI TAKDIR 83...
"Kamu terlihat begitu cantik dengan gaun ini Mau..." Suara bariton yang sangat di kenalnya menyapu indra pendengaran Maura. Mata Maura membulat besar melihat tatapan yang tajam dengan bibir yang menyunggingkan senyum padanya.
"Kau..." Ujar Maura dengan degupan jantung yang berpacu lebih cepat.
Deg..
Deg..
Deg...
Rojer memutar tubuh Maura mengikuti alunan musik, dan menangkap tubuh itu kembali dan mendekatkan pada tubuhnya yang tegap. Memangkas jarak di antara mereka. Pegangan Rojer semakin erat pada pinggang Maura, hingga Maura bisa mendengar degup jantung yang sedang bertalu- talu di balik dada bidangnya. Nafas mereka saling beradu, menatap dengan tatapan penuh kerinduan namun tersirat kebencian dan juga rasa bersalah. Dunia seakan milik mereka berdua. Tanpa ada seorang pun yang mengganggu kebersamaan mereka.
Entah sejak kapan Rojer berhasil menuntun tubuh Maura dengan pesonanya menuju lorong yang sepi dengan pencahayaan yang redup. Maura masih terpaku dengan senyum Rojer yang begitu memanjakan penglihatannya. Dua hari tanpa melihat senyum itu, ia benar- benar merasa hampa. Ia tidak sadar jika sekarang mereka hanya berdua di lorong sepi itu.
Rojer mendekatkan wajahnya pada tengkuk Maura. Aroma bunga melati yang menguar dari tubuh Maura membuat dirinya lupa diri. Aroma yang menjadi candu baginya. Yang membuat dirinya rileks terbang ke awang- awang.
Nafas Rojer yang sedikit menderu di campuri dengan semilir angin yang sejuk menerpa permukaan kulit tengkuk Maura. Maura terkesiap ketika di telinganya tidak lagi terdengar alunan musik romantis. Matanya mengerjap memandangi sekekelingnya yang sepi dan gelap dengan cahaya remang- remang yang menyinari punggung pria di depannya, yang tengah asik menghirup dalam aroma tubuhnya.
"Kamu... Lepaskan... Lepaskan aku...!" Maura menumpu tangannya pada dada Rojer, mendorong tubuh berat pria itu menjauh dari tubuhnya. Memberontak melepaskan diri dari kungkungan Rojer.
Rojer menyeringai tipis ketika Maura memberontak. Ia menjegal tangan Maura dari dadanya dan menghimpit tangan itu erat di samping tubuh Maura. Mengunci gerakan Maura untuk diam dan tidak melawan.
Deru nafas Maura semakin tidak beraturan. Dadanya terasa sesak berdekatan dengan Rojer sedekat ini. Jantungnya seakan siap melompat keluar dari tubuhnya. Maura memalingkan wajahnya dari Rojer.
__ADS_1
"Sudah aku duga, kamu akan sangat cantik memakai gaun ini Mau..." Ujar Rojer di telinga Maura. Nafas Rojer yang beradu dengan kulitnya membuat Maura meremang.
"Ohhh... Ternyata gaun ini dari mu Tuan Ceo. Jika aku tahu lebih awal, aku tidak akan sudi memakai gaun berbau kebohongan ini. Tapi tenanglah,,gaun ini akan sampai esok hari pada mu.. Lepaskan aku... Hubungan kita sudah berakhir. Menjauhlah dari ku sejauh- jauhnya jika kamu tidak ingin mendapat pukulan lagi." Maura menekankan setiap kata- kata yang di ucapkan. Berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Rojer. Tapi, sial betapa pun dia berusaha. Tenaganya tidak akan cukup menjauhkan tangan pria itu dari tangannya.
"Tatap aku Mau..." Nada suara Rojer melembut. Tapi Maura tidak ingin mendengarkan Rojer dan tetap memalingkan wajahnya dari Rojer.
"Tatap aku !!!" Rojer menekan suaranya. Ia memejamkan matanya saat hembusan nafas Maura menerpa wajahnya.
"Apa kamu belum puas mempermainkan ku hhh??. Apa yang kamu inginkan Rojer. Aku benar- benar membencimu..."
"Pembohong..." Sarkas Rojer, dan langsung melumar bibir seksi Maura yang sangat menggoda di matanya. Maura terkesiap dengan ciuman tiba- tiba dari Rojer. Ia bahkan tidak bisa menghalangi pria di depannya. Nafas mereka semakin memburu saat ciuman mereka semakin dalam. Rojer menyapu bibir kenyal dan manis itu dengan lidahnya dengan penuh hasrat. Seakan siap menelan bibir yang sangat di sukainya. Maura merapatkan bibirnya, ia tidak ingin Rojer mengambil kesempatan. Meski Rojer menggigit bibir Maura tipis- tipis.
"Mmmhhh..." Ciuman mereka berhenti saat oksigen tidak lagi menggisi paru- paru Rojer.
Rojer melepaskan cekalan tangannya dari tangan Maura. Refleks Maura memegang jari- jemarinya yang terasa kesemutan karna cengkraman tangan Rojer.
"Kamu..." Gemeretak gigi Maura karna kesal melihat cincin yang ia kembalikan kepada Rojer, sekarang terpasang indah di jari manisnya. Maura berusaha melepas cincin terkutuk itu dari jari manisnya. Tapi sepertinya mustahil, cincin itu bahkan tidak bergerak dari jarinya meski ia menarik jemarinya sampai akan putus.
"Hentikan... Kamu bisa menyakiti tangan mu... Aku tidak mengizinkan tubuh mu terluka, meski sehelai rambutmu. Hentikan... Cincin ini tidak akan bisa terbuka karna aku sudah memasang sistem password di cincin ini. Tanpa memasukkan password kamu tidak akan bisa melepasnya. Melakukan ini hanya akan membuat tangan mu terluka..." Rojer menahan tangan Maura, menghentikan tangan itu yang akan membuat tangan yang lainnya terluka.
Rojer mengecup punggung tangan Maura lembut. Mengusapnya dan menangkup tangan dingin itu di pipinya.
Plak....
Maura menampar pipi Rojer keras, hingga kepala Rojer menghadap ke samping. Pipinya terasa panas, namun bukan kesal Rojer malah tersenyum puas. Seakan mendapat hadiah dari Maura.
__ADS_1
"Brengsek... Belum cukup kamu membuat hati ku patah berulang kali. Dan sekarang kamu mengikat ku seperti hewan peliharaan dengan cincin berlian ini... " Mata Maura menyalang ke arah Rojer. Rasa marah seakan meletup- letup siap untuk di muntahkan. Rojer menangkup wajah mungil itu dengan tatapan sendu.
"Sayang... Semuanya adalah salah paham... Aku mengatakan hal itu hanya sandiwara publik. Aku sebenarnya tidak ingin hadir di acara itu. Tapi mama ku memaksa ku menghadiri acara itu karna aku tidak ingin melihat jantungnga kambuh. Aku terpaksa datang dengan Catlin. Sumpah demi apa pun. Selama aku menikah dengan Catlin aku tidak pernah menyentuhnya. Bahkan aku tidak tahu jika Mc di sana akan membuka sesi wawancara. Kamu tahu kan nama baik perusahaan ada di tangan ku. Tapi aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Pengakuan cinta ku hanya untuk mu Mau..." Air mata Rojer mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan maaf Maura. Meski harus bersujud di kaki Maura sekali pun ia akan melakukannya.
"Aku tidak butuh bualan omong kosong mu itu Rojer. " Maura mendorong tubuh Rojer. Dan berlalu meninggalkan Rojer di belakangnya. Tanpa berbalik melihat kembali.
"Aku akan membuktikannya Mau...! Akan ku buktikan jika perasaan ku bukan sekedar main- main.!!" Teriak Rojer menyugar rambutnya. Setidaknya ia sudah mendapat sinyal kesempatan dari Maura. Tinggal memperbuat sesuatu yang bisa menyakinkan wanita yang semakin menjauh meninggalkan dirinya.
Maura kembali masuk ke ruang acara. Lampu yang sempat mati kembali menyala menyinari setiap sudut ruangan.
"Cih ... Wanita rendahan seperti mu berani sekali datang ke pesta ini... Apa kamu tidak malu sedikit pun saudari ku..." Suara sinis dan menghina itu menancap pada indra pendengaran Maura.
...----------------...
...****************...
Like
komen
vote
hadiah
rak favorite
__ADS_1
please