
...ILUSI TAKDIR 107...
"Aku... Si... Siapa kalian sebenarnya... Kenapa kalian membuat sandiwara di depan ku..?"
CEDAR...
Bak di sambar petir, tubuh Rojer seakan terbelah menjadi lima, karna perkataan Maura.
"Sandiwara?? Ini bukan sandiwara Maura... Ini kenyataan sandiwara apa yang kamu maksud..?" Rojer bertampah panik dan bingung, ia sungguh tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada Maura. Kenapa Maura mengatakan jika mereka semua melakukan sandiwara.
"Maura??? Siapa Maura...??? Dan kalian siapa..???"
"He... he... Aku Rojer Mau... Ini Charlote.. Kenapa kamu bertanya siapa kami..? Hentikan... Sudah cukup bercanda nya... Ini sudah cukup..." Kekeh Rojer, dengan tatapan tidak percaya. Ia menunjuk dirinya dan Charlote. Menjelaskan siapa dirinya.
"Apa aku pernah mengenal mu...?" Tanya Maura lagi, yang semakin membuat Rojer gelapan.
"Mama... Apa mama tidak mengenal ku... Mama jangan buat aku takut... Jangan buang aku ma..." Charlote, menggoyangkan lengan Maura perlahan. Ia tidak mau jika Maura tidak mengenalinya sama seperti Rojer.
"Mama...? Kenapa anak kecil ini memanggil ku Mama...? Aku bukan mama mu... Aku tidak pernah merasa pernah melahirkan anak..." Timpal Maura dengan tatapan bingung pada Charlote.
"Hiksss... Papa...." Tangis Charlote pecah. Ia segera memeluk Rojer. Dirinya benar- benar sedih, mendengar ucapan Maura.
"Tenanglah... Aku akan memeriksa keadaannya. Sus berikan laporan medis nona ini..." Ujar Antony menghentikan semua yang terjadi.
Suster memberikan apa yang di inginkan atasannya. Antony mulai membaca hasil laporan Maura. Ia juga bingung mengapa bisa Maura melupakan orang- orang di sekitarnya.
"Ada apa dengan mu Mau... Aku ini Rojer... Calon suami mu... Kekasih mu... Kita akan segera menikah... " Rojer memaksa Maura dengan tatapan memohon. Berusaha membuat wanita di depannya ini mengerti.
Tapi Rojer hanya menerima tatapan bingung dari Maura. Kerutan di kening Maura makin bertambah banyak. Dirinya juga berusaha keras, untuk membuka memori dalam kepalanya. Mencoba mencari tahu siapa pria dan anak kecil ini dalam otak nya.
"Rojer jangan memaksanya..." Antony menghentikan Rojer, ia memegang bahu Rojer.
Rojer mengerjit ke arah Antony, seolah tatapan matanya menuntuk penjelasan, apa yang terjadi di sini.
"Apa maksud mu... Dia... Dia tidak mengenal ku... Katakan ada apa dengan nya...?"
"Bisakah kita bicara di ruangan ku saja Rojer..." Pinta Antony, dengan sedikit memelas. Berharap Rojer mengerti ke mana arah pembicaraannya.
"Tapi..." Rojer menatap ke arah Ny. Anindita, yang mengannguk ke padanya.
"Baiklah..." Lanjut Rojer lagi. Dan berjalan mengekor di belakang Antony keluar dari ruang inap.
__ADS_1
"Duduk lah... !" Ujar Antony, saat dirinya dan Rojer sudah berada di ruang kerjanya.
Antony sebenarnya tidak percaya dengan apa yang terjadi pada Maura. Tapi ia hanya seorang dokter. Dirinya tidak bisa mengendalikan sesuai dengan keinginannya.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi pada Maura... Dia sepeti tidak mengenal ku... Apa ini sangat masuk akal?... Bagaimana dia bisa melupakan ku dalam waktu empat hari..." Ujar Rojer dengan kepanikan. Ia pun duduk di depan meja kerja Antony.
"Aku mengerti bagaimana perasaan mu sekarang Rojer... Tapi aku sudah pernah mengatakan hal ini kan pada mu.. Jika kita tidak akan tahu kemungkinan apa yang akan terjadi saat Maura bangun dari tidur panjangnya..." Antony, berusaha menenangkan Rojer yang terlihat sangat gelisah. Bahkan sejak duduk, tubuh Rojer tidak berhenti meliuk- liuk seperti cacing kepanasan.
"Katakan semuanya pada ku... "
Antony mengambil laporan kesehatan Maura, dan menyodorkannya pada Rojer.
"Ini adalah laporan kesehatan Maura. Hasil scan semua organ pentingnya... Dari gejala yang di tunjukkan oleh Maura. Sepertinya Maura kehilangan seluruh ingatannya atau yang biasa kita kenal dengan amnesia..."
"Amnesia...? Bagaimana bisa? Dia tidak bisa melupakan ku..."
"Keadaan saat dia di bawa ke kerumah sakit waktu itu, sangat kritis.. Kamu tahu sendiri bagaimana lukanya... Kepalanya terkena benturan keras. Mungkin itu salah satu faktor Maura mengalami hilang ingatan. Dan aku sarankan di saat kondisinya yang masih belum pulih... Jangan paksa dirinya untuk mengingat diri mu... Hal itu bisa jadi akan sangat berbahaya untuknya... Jika dia sudah membaik kita bisa melakukan terapi untuk mengingatkannya lagi..."
"Ya tuhan.. Ternyata diri mu belum puas untuk memberi ku cobaan ..." Lirih Rojer dengan perasaan yang sudah campur aduk. Percuma ia membantah apa yang di katakan Antony. Hal itu akan sia- sia, pilihan yang tepat adalah sekarang mematuhi apa yang di sarankan oleh Antony. Meski dirinya sangat terluka Maura melupakannya begitu saja. Dan menganggapnya sebagai orang asing.
"Dan aku juga ingin menyampaikan satu hal lagi pada mu... " Antony membuka sebuah amplop di sampingnya, dan mengeluarkan kertas hasil scan bagian tubuh belakang Maura.
"Apa... " Timpal Rojer dengan tatapan sedikit takut, mengetahui apa yang akan di sampaikan oleh Antony.
"Apa Lumpuh...?" Rojer meninggikan nada bicaranya. Ini sangat bertubi- tubi. Ingatan Maura yang menghilang dan kini Maura yang tidak bisa berjalan alias lumpuh.
"Astaga apa yang harus ku lakukan sekarang... Aku tidak akan bisa menghadapi Maura..." Lirih Rojer, sambil mengusap- ngusap pelipisnya. Kepalanya terasa akan pecah hanya karna mendengar kabar kondisi Maura.
"Tenanglah... Lumpuhnya tidak bersifat selamanya... Maura akan bisa berjalan lagi... Tapi ia juga harus mengikuti terapi, untuk membuat semua sarafnya melemas... Jangan Khawatir aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menyembuhkan cinta mu..." Antony menghampiri Rojer dan menepuk bahunya singkat. Membangun kepercayaan diri pada Rojer untuk menghadapi semua cobaan ini.
"Maura tidak mengingat ku... Dia tidak mengingat semuanya... Saat kita bertemu,,, saat kita bertengkar,,, saat- saat kita menghabiskan waktu bersama.... Dan Charlote dia pasti akan sangat sedih mendengar ini semua... Mama nya sendiri tidak mengingat pernah melahirkannya... Bagaimana diri mu bisa melupakan hal sepenting itu Mau..?" Batin Rojer bergelut dengan pikirannya sendiri.
...----------------...
Kini hanya ada Charlote, Ny. Anindita dan Maura di dalam ruangan.
Ruangan kini hening tanpa ada yang menimbulkan sesuatu.
Charlote menatap lurus ke arah Maura. Di matanya terlihat luka yang sangat dalam. Bagaimana tidak, dirinya yang adalah darah daging Maura. Malah terlupakan oleh Maura. Sungguh ironis bukan, seorang ibu melupakan putranya sendiri.
Sementara Ny. Anindita sedang fokus dengan ponselnya. Wajahnya begitu tegang dan fokus menatap layar benda pipih yang bersinar itu.
__ADS_1
Sementara Maura hanya menatap dengan kosong. Tidak ada apa- apa yang bisa ia temukan di dalam ingatannya. Jangankan mengenali orang- orang di sekelilingnya. Bahkan dirinya tidak tahu siapa dirinya. Apa yang baru saja terjadi, sangat membingungkan baginya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada ku??? Siapa aku??? kenapa aku bisa berada di sini?? dan siapa orang- orang itu..? Apa mereka benar- benar mengenal ku, seperi yang mereka katakan... Apa pria tadi adalah calon suami ku? dan anak ini adalah anak ku??... Tapi bagaimana bisa aku memiliki anak sebelum menikah..? Apa yang sudah terjadi pada diri ku sebenarnya..?" Batin Maura dengan ribuan pertanyaan yang ada dalam pikirannya. Ia tidak bisa mengingat satu kejadian atau momen pun bersama pria atau anak kecil yang mengaku- ngaku sebagai calon suami dan anaknya.
Ny. Anindita mematikan ponselnya, dan memasukkannya kembali ke dalam tasnya. Ia mengetuk- ngetuk bibirnya dengan jari telunjuk, seolah- olah sedang menimbang sesuatu dalam pikirannya.
"Mari kita coba.. Saatnya beraksi... Aku tidak bisa melihat cucu ku bersedih seperti itu... Serahkan semuanya pada ku..." Lirih Ny. Anindita dan memantapkan tekadnya untuk melaksanakan rencana yang sedang menyala di dalam kepalanya.
Ny. Anindita mendekat ke arah Maura yang masih diam seribu bahasa. Ia mengulas senyum keibuan yang sangat indah. Siapapun yang melihatnya akan merasa teduh dengan senyum itu.
Ny. Anindita meraih tangan Maura, dan menumpuknya bersama tangannya. Ia baru menyadari jika menantunya begitu sangat cantik, meski wajahnya terlihat pucat.
"Hei nak..." Ujar Ny. Anindita dengan lembut, membuat Maura memandangnya dengan tatapan yang sama yaitu bingung.
"Siapa wanita ini??... Dirinya begitu keibuan..." Batin Maura. Dirinya merasa ada angin lembut yang menerpa dirinya, saat tangan Ny. Anindita menyentuh tangannya lembut.
"Aku tahu kamu tidak mengenal ku... Tapi aku sangat mengenal mu... Kamu tahu kenapa kamu bisa berada di sini..?" Tanya Ny. Anindita dengan halus.
Maura langsung menggeleng pelan. Dirinya merasa wanita di depannya ini akan memberi tahunya segalanya. Tentang keluarganya, apa yang terjadi padanya. Dan siapa orang- orang tadi.
"Dengar sayang... Kamu adalah wanita yang sangat baik.. Kamu bisa ada di sini karna sebuah kecelakaan. Kepala mu terbentur membuat ingatan mu menghilang... Lihat lah sekekeling mu... Sekarang kamu ada di rumah sakit... " Ny. Anindita mengedarkan pandanganya, membuat Maura melakukan hal sama. Apa yang di katakan wanita ini benar. Maura menyadari dirinya sekarang ada di sebuah rumah sakit.
"Apa sekarang kamu percaya?" Tanya Ny. Anindita memastikan. Karna wajah Maura kini menampilkan ekspresi percaya dengan perkataannya.
Maura langsung mengangguk.
"Dia benar, aku sedang ada di rumah sakit... Wanita ini tidak membohongi ku... Sepertinya dia memang tahu semua tentang diri ku..." Batin Maura, yang mulai percaya dengan perkataan Ny. Anindita.
"Baiklah.... Aku akan memberi tahu mu siapa diri mu... Jadi dengar kan aku... Nama mu adalah Maura... Maura Rojer Wang menantu dari keluarga Wang... Aku adalah mertua mu Anindita Wang... Dia... Anak laki- laki yang tampan ini adalah putra mu.. Charlote.. Dan pria tadi yang menangisi mu adalah suami mu Rojer Wang..." Jelas Ny. Anindita. Sambil menunjuk sekilas ke arah Charlote. Ia tahu tindakan ini ada unsur kebohongan tapi tidak apa- apa. Ingatan orang amnesia seperti kertas kosong, tidak ada apa pun yang tertulis. Jadi sekarang dirinya sedang menulis pada lembaran otak Maura, tentang siapa orang- orang yang ada di sekitarnya. Setidaknya ini bisa membuat Maura menganggap cucunya. Karna ia tidak bisa melihat cucu kesayangannya bersedih.
"Tapi bagaimana bisa aku mempunyai anak sebelum aku menikah.... Pria tadi maksud ku Rojer itu mengatakan jika dia adalah calon suami ku..." Timpal Maura mencerna setiap perkataan Ny. Anindita.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
__ADS_1
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit