Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
122


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 122...


Di ruang makan yang besar dan luas. Dengan di tengah- tengah meja makan super besar dan mewah. Di atas meja makan sudah tersaji menu sarapan dengan berbagai jenis. Ini lah kehidupan sultan. Penuh dengan kemewahan dan bergelimang uang.


Di sudut meja makan sudah ada dua penghuni rumah yang sudah memulai sarapannya. Ny. Anindita dan Charlote.


Dari sisi rumah yang lain tampak Rojer datang dengan mendorong kursi Roda Maura.


Ini adalah hari pertama mereka setelah resmi menjadi sepasang suami istri.


"Selamat pagi..." Ucap Rojer saat dirinya dan Maura sampai di meja makan. Menyapa Ny. Anindita dan Charlote.


Ny. Anindita melirik arloji pada pergelangan tangannya. Yang menunjukkan ini baru jam tujuh pagi. Sangat pagi untuk bangunnya sepasang pengantin baru.


"Loh... ini masih jam tujuh.. Kenapa kalian bagun nya cepat sekali..?" Tanya Ny. Anindita tanpa bersalah.


Maura dan Rojer saling melempar pandangannya. Wajah Maura langsung merona saat dirinya mengerti arti dari pertanyaan ibu mertuanya. Begitu pula dengan Rojer yang sedikit menjadi kaku.


"Aaahhh... Tidak apa- apa ma.. Kami hanya tidak ingin melewatkan sarapan bersama mama dan Charlote... Hey... Sayang selamat pagi..." Jawab Maura dengan sedikit tersipu malu. Lalu menyapu kepala Charlote dengan usapan lembut.


"Pagi ma.. pagi pa..." Timpal Charlote sambil terus memasukkan sarapannya ke dalam mulut kecilnya.


Rojer menarik kursi di dekat Maura dan duduk.


Ny. Anindita segera berlari sedikit mengitari meja makan menuju putra dan menantunya.


Suasana sedikit menjadi lebih canggung antara Maura dan Rojer. Membuat Maura fokus memastikan Charlote sarapan dengan benar.


Rojer meraih gelas jus jeruk di depannya. Meneguk cairan orange tersebut dengan perlahan.


Ny. Anindita menepuk sedikit bahu Rojer.


"Apa kamu ada gangguan... Sehingga kamu tidak bisa memuaskan istri mu kemarin malam.. Hingga kalian bangun sepagi ini?" Tanya Ny. Anindita dengan wajah penasaran. Sejak tadi malam dirinya sengaja mondar mandir di depan kamar Maura dan Rojer. Memastikan tradisi malam pertama bagi pengantin baru berjalan dengan lancar.


Bahkan dirinya sempat menempelkan telinga nya di pintu kamar. Tapi telinga nya tidak bisa mendengarkan apa pun. Kecuali suara heningnya malam.


"Fuuhhhhh...." Cairan orange yang di minum Rojer, langsung menyembur keluar kembali saat gendang telinganya mendengar pertanyaan tanpa sensor dari ibunya.


Maura kaget dengan tingkah Rojer. Membuat dirinya memperhatikan ibu dan anak yang sedang berbisik- bisik.


"Apa yang mereka bicarakan??... Bahkan Rojer sampai menyemburkan minumannya kembali..." Batin Maura bertanya- tanya.

__ADS_1


"Mama pertanyaan macam apa itu... Tentu saja aku masih normal..." Jawab Rojer dengan penekanan.


"Lalu apa yang terjadi... Apa kalian tidak melakukan penyatuan tadi malam?"


"Aku tidak bisa melakukannya.."


"Hhhhhhhaaaahhhh..." Mulut Ny. Anindita terbuka lebar saat mendengar jawaban Rojer. Mulut nya terbuka lebar hingga rahangnya akan jatuh dari wajahnya.


"Ma... Apa mama baik- baik saja..?" Tanya Maura yang melihat Ny. Anindita yang kaget dan sedikit Syok.


"Aa Iya sayang.. Mama baik- baik saja..." Timpal Ny. Anindita dengan menatap Maura sekilas.


"Rojer sepertinya kamu harus berkonsultasi dengan Dokter produksi kelamin..." Bisik Ny. Anindita lagi, melanjutkan percakapan nya dengan putranya.


Rojer memutar bola matanya malas, mendengar ibunya sendiri yang terus menyuruh nya untuk pergi ke dokter. Karna menyangka dirinya ada masalah dengan organ produksinya.


"Astaga mama... Aku ini masih sehat... Pria sejati.. Aku bisa melakukan hal itu sampai pagi sekali pun.. Enam ronde,, tujuh Ronde,,, berapa pun aku bisa..." Tukas Rojer sedikit kesal dengan sifat kepo ibunya.


"Lalu...?"


"Tadi malam Maura sangat letih... Begitu sampai kamar dia langsung tertidur dengan lelap. Tentu saja aku tidak tega..." Bela Rojer menceritakan malam pertamanya.


"Huhhh Syukurlah... Mama pikir kamu ada kelainan.. Syukurlah tuhan anak ku tidak impotent..." Ny. Anindita mengelus dadanya dengan menghembuskan nafas pelan.


...----------------...


Matahari kini beranjak meninggi. Hingga sejajar dengan di atas kepala manusia.


Maura sedang berada di halaman belakang. Dengan hamparan rumput halus di bawah kakinya. Ke dua tangannya memegang alat penopang tubuh yang menjadi alat terapi nya saat ini.


Rojer berdiri di samping Maura, bersiap berjaga- jaga jika nanti tubuh Maura terjatuh. Sehingga ia bisa menangkap nya dengan mudah.


Sementara Antony memerhatikan langkah Maura yang di paksakan tidak jauh dari sang pasien.


"Ayo.. Gerak kan kaki mu Mau... Kamu pasti bisa...!!!" Teriak Antony dengan bertepuk tangan. Memberikan semangat untuk mendorong semangat Maura.


Buliran keringat sudah menetes dari dahi Maura. Giginya menggigit bibir bawahnya. Tangannya memegang erat pada pegangan terapi, untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh.


Maura merasakan jika tubuh nya begitu berat. Khususnya di bagian pinggang ke bawah. Dirinya sangat bekerja keras untuk mengayunkan kaki nya yang terasa mati rasa dan kaku. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat nya. Ia tidak boleh berhenti hanya karna rasa lelah.


"Ayo mau... Kamu pasti bisa...!!" Batin Maura menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Maura tersenyum puas, saat kaki kanannya berhasil di langkah kan ke depan. Mungkin hanya pergerakan kecil tapi ini adalah sebuah keberhasilan yang besar untuk dirinya.


"Ya... Bagus pergerakan yang Bagus Maura... Lanjut kan lagi.. Kamu pasti bisa...!!!" Teriak Antony lagi memberikan semangat pada Maura.


Maura mengalihkan pandangannya pada Antony yang tersenyum ke padanya dengan mengangkat tangannya ke udara dan memberikan jempol.


"Berhentilah untuk berteriak babi busuk.... Istri ku sedang berusaha.. kamu lihat dia sudah berkeringat... Tapi kamu masih saja menyuruh nya lagi- lagi dan lagi.. !!" Sentak Rojer yang sudah mulai khawatir dengan Maura.


Rojer benar- benar tidak tega melihat Maura meringgis menahan sakit. Ia benar- benar ingin sekali mengendongnya dan membawanya ke dalam sekarang juga. Tapi Maura selalu mengingatkan dirinya jika ia ingin sembuh dan cepat kembali berjalan.


Maura kembali mencoba untuk melangkah kan kaki kirinya, untuk menyatarakan kaki kanan dan kaki kirinya.


Maura kembali bekerja keras. Menarik nafasnya dalam dengan buliran keringan yang mengalir dari dahinya.


Sementara urat- urat di leher Maura tercetak dengan jelas.


Namun tiba- tiba pegangan pada alat terapi terlepas dari tangannya. Membuat tubuh Maura goyang dan jatuh.


"Aaaauuuu..." Teriak Maura saat tangannya licin dan terpeselet pada pengangan alat terapi.


Rojer dengan sigap menangkap tubuh Maura, agar tidak terjatuh ke tanah.


"Kamu baik- baik saja... ??" Tanya Rojer dengan sangat khawatir. Melihat tubuh Maura yang bergetar dan lemas.


Melihat hal tersebut, Antony segera menghampiri sang pasien yang terjatuh.


"Kamu baik- baik saja Mau???" Tanya Antony yang langsung di tatap tajam oleh Rojer.


Glek..


Antony menelan ludahnya paksa melihat tatapan Rojer yang siap memutus kepalanya dadi tubuh nya.


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤

__ADS_1


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit


__ADS_2