Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
Tinjuan Maut..


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 6...


"Kamu ingat 6 tahun yang lalu. Saat itu, papaku masuk rumah sakit karena di racuni oleh Catlin dan Mama. Saat itu, Papa harus segera dioperasi, tapi Mama merusak black card Papa. Aku tidak tahu harus mendapatkan uang dari mana, pikiranku benar-benar tumpul. Mama menjualku pada Alex saudaranya pemilik Club Katarina. Aku menyetujui hal itu untuk mendapatkan uang. Aku menjual diriku pada pria asing. Setelah itu, aku pergi ke rumah sakit untuk membayar operasi Papa. Namun, takdir mempermainkanku dia mengambil Papa setelah aku mendapatkan uang dengan cara yang kotor. Aku pikir, semuanya akan berakhir sampai di situ, tapi akau benar-benar tidak menyangka bahwa aku akan mengandung anak pria asing yang membeliku malam itu. Aku pergi ke luar negeri karrna tidak ada lagi yang bisa ku harapkan di kota ini. Hinaan yang selalu ku terima dari Mama dan Catlin membuat mentalku hancur. Aku ingin menggugurkan bayi dalam kandunganku, tapi itu tidak pernah bisa terjadi. Dia janin yang sangat kuat. Bahkan, sekarang dia adalah kekuatanku dan alasanku hidup."


"Kamu mengalami cobaan yang begitu berat, lalu kenapa kamu tidak menghubungiku? Katakan apa kamu tidak bisa berbagi dengan ku? Kita bisa melewati ini bersama- sama." Tangis Karina pecah saat mendengar cerita Maura. Ia memegang erat tangan Maura untuk memberi kekuatan.


"Lalu, bagaimana dengan pria itu? Apa dia tahu kamu mengandung anaknya?" tanya Karina lagi. Namun, Maura hanya menggelengkan kepala. Mengisyaratkan bahwa jawabannya adalah tidak.


"Kenapa kamu tidak menuntut pertanggung jawaban pada pria itu? Kenapa kamu tidak mencarinya?" tanya Karina dengan sedikit emosi.


"Katakan, bagaimana bisa aku menuntut hal seperti itu darinya? Sementara aku menjual tubuhku dengan sukarela kepadanya. Katakan, apa aku masih punya harga diri untuk menuntut pertanggung jawaban darinya? Bagaimana bisa?" jawab Maura dengan rasa jijik atas apa yang pernah ia lakukan.


Seakan mengerti apa yang dirasakan dan di katakan Maura. Karina memeluk tubuh Maura dengan penuh rasa iba atas apa yang menimpa temannya itu.


"Ma, tesnya sudah selesai!" seru Charlote pada Maura, yang baru keluar dari ruang tes.


Panggilan Charlote menyadarkan Karina dan Maura, dan melepas pelukan mereka serta menghapus air mata mereka masing-masing.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Maura pada Charlote dengan senyum menunggu jawaban.


"Hasilnya sempurna, Nyonya. Putramu benar-benar genius. Dia hanya mengerjakannya dalam dua menit dan jawabannya benar semua," jawab seorang perempuan yang keluar dari ruang tes. Charlote yang mendengar pujian itu memicingkan senyumnya ke atas.


"Benarkah?" Maura cukup kaget dan antusias mendengar perkataan perempuan itu.


"Tentu saja, selain tampan, putramu ini juga sangat pintar. Jadi, hari ini Mama harus membelikanku 100 tusuk permen untuk keberhasilanku."


"Oh ya, baiklah sesuai keinginanmu." Maura menyetujui keinginan sang buah hati sambil menoel gemas hidung mungil Charlote.


...----------------...


Keesokan harinya, Maura mempersiapkan Charlote untuk pergi ke sekolah di hari pertama. Tak lupa Maura memasangkan topi pet pada Charlote dengan niatan ketampanan anaknya ini tidak terlalu menonjol hingga membuat Charlote dalam bahaya. Setelah sarapan bersama dan mengisi bekal makanan Charlote, Maura menginjak gas mobilnya menuju sekolah Charlote sebelum ia pergi ke kantor.


"Belajar dengan baik kesayangan Mama," ucap Maura sambil mencium pipi gemas Charlote. Charlote mengangguk mengerti dan membalas kecupan Maura. Kemudian melangkah masuk ke sekolah barunya.

__ADS_1


"Dadah," ujar Charlote melambaikan tangannya ke arah Maura. Begitu juga Maura membalas lambaian tangan Charlote dengan melambaikan tangannya kembali.


Mobil Maura melaju meninggalkan sekolah menuju perusahaan IT SUNRISE untuk menyodorkan pemindahan tugasnya pada divisi marketing. Amper bensin mobil Maura menunjukkan bahwa bensinnya akan habis.


Och, bensinnya akan habis. Aku harus mencari pom bensin terdekat. Batin Maura dengan tatapan menganalisa sekitarnya mencari pom bensin terdekat.


Maura melajukan mobilnya ke arah sebuah pom bensin yang tak jauh dari tempatnya. Maura turun dari mobil dan menyuruh pemilik untuk mengisi bensin mobil miliknya. Saat hendak mengambil uang di dalam tas tentengnya, sebuah tangan dengan kecepatan kilat merampas tas Maura dan melesat berlari menjauh. Maura yang terkejut dengan apa yang terjadi spontan berteriak dengan sangat keras.


"Jambret! Eee, dasar jambret. Kembalikan tasku!" teriak Maura dengan kecepatan kilat mengejar ke mana arah jambret itu berlari.


...----------------...


Sementara itu, Rojer sedang melajukan mobilnya ke arah perusahaan bersama Edent sekertaris serta pengawal pribadinya.


Kring. (Suuara telpon berdering)


"Hallo," ujar Rojer tanpa mengalihkan pandanganganya dari jalanan.


"Halll-- tujxkzlakshxjjzma," timpal seseorang dari ujung telpon.


"Edent hentikan mobilnya!" titah Rojer pada Edent. Mendengar perintah bosnya Edent lansung menepikan mobil. Rojer turun dari mobil untuk mencari sinyal ponselnya. Tiba-tiba seorang pria berjaket hitam menghampiri Rojer dan menyerahkan sebuah tas kepadanya. Pria itu langsung berlari menghilang di balik pohon-pohon jalanan.


"Hei, tas mu!" teriak Rojer dengan bingung sambil melambaikan tas tersebut mencoba memanggil pria itu untuk kembali.


Pria tidak jelas. Batin Rojer dalam hati, lalu melanjutkan pembicaraannya yang sempat tertunda oleh pria tidak jelas. Maura yang berlari dengan terenggah-enggah melihat pria yang membawa tasnya sedang sibuk menelpon dengan seseorang.


Dasar pria jambret, berani sekali kamu merampas tasku. Lihat saja, aku akan membuat wajah jelekmu itu hancur sekarang. Batin Maura dengan menaikkan lengan bajunya.


"Dasar jambret, tidak tahu malu!" hardik Maura lansung melayangkan tinjuan-tinjuan mautnya ke arah pria itu beberapa kali tanpa henti.


"Hei, a-- apa yang kamu lakukan? Ini sakit," teriak pria itu yang tak lain adalah Rojer yang seketika tersungkur di jalanan karena pukulan Maura yang brutal.


"Maling tetap maling. Pria sepertimu harus diberi pelajaran." Maura terus melayangkan pukulannya tanpa menghiraukan perkataan Rojer. Sesekali ia mengarahkan pukulan ke perut Rojer dan sesekali mengarah ke wajahnya. Wajah Rojer benar-benar babak belur dikarenakan pukulan Maura. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

__ADS_1


"Hentikan!" bentak Rojer, lalu memegang tangan Maura dengan kencang. Menghentikan pukulan-pukulan yang di lancarkan Maura kepadanya. Adu tatapan terjadi antara Maura dan Rojer. Tatapan tidak asing yang di rasakan Rojer dan juga aroma yang tidak asing baginya.


Tatapan ini, dan aroma ini sangat tidak asing. Batin Rojer mencoba menelisik ke dalam ingatannya tentang wanita yang menghajarnya.


Maura memperhatikan pria yang tengah menjegal dan memegang tangannya kuat dengan seksama. Maura menyadari bahwa pria itu bukan pria yang menjambretnya tadi. Pria di bawah kunkungannya ini memakai setelan jas, sedangkan pria yang menjabretnya adalah pria berjaket. Menyadari adanya kesalah pahaman, Maura bangkit dan menghempaskan tangan pria itu hingga melepaskan tanganya.


Astaga Maura, dia bukan pria itu. Batin Maura dengan keringat dan rasa bersalah yang menyergapnya.


Rojer bangkit dan berdiri dan merapikan jasnya yang kotor karena ulah Maura yang membuat ia terjatuh. Ia memegangi sudut bibirnya yang berdarah dan mengerang kesakitan dengan lirih. Maura langsung membungkuk meminta maaf atas kesalahannya.


"Tuan, mohon maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu. Aku pikir kamu pria yang sama yang menjabret tasku tadi." Maura meminta maaf dengan nafas yang masih tidak teratur.


"Dasar wanita preman," umpat Rojer lirih dengan pandangan memastikan ke arah Maura.


Maura mengambil tasnya yang tergeletak di trotoar. Ia mengambil satu lembar uang seratus ribuan dari dalam dompetnya, lalu memberikan uang tersebut pada Rojer.


"Maafkan Saya, Tuan. Ini ada sedikit uang untuk ganti rugi atas kesalahpahaman Saya. Jangan sunkan Tuan, anggap saja menjadi konpensasi untuk merawat lukamu." Maura meraih tangan Rojer dan memberikan uang tersebut dalam genggaman Rojer. Kemudian melangkah pergi meninggalkan Rojer yang masih mematung di tempat.


Rojer membuka genggaman tangannya, dan menemukan pecahan uang seratus ribuan yang diberikan Maura sebagain konpensasi ganti rugi padanya.


"Hah, seratus ribu? Dia menghargaiku seharga seratus ribu? Berani sekali dia menghargaiku senurah ini!" teriak Rojer kesal. Ia benar-benar merasa terhina di berikan uang dengan nominal tersebut. Rojer adalah CEO dari Sunrise IT. Tentu saja, ia akan merasa kesal dihargai dengan uang seratus ribu. Kekayaannya saja mencapai milyaran kali lipat dari uang yang tengah di pegangnya.


...----------------...


...****************...


🌸to be continud🌸


jangan lupa vote komen like dan tambah ke rak favorit


kalo komen like dan vote nya banyak author janji akan up setiap hari.


oke dadah👋👋👋

__ADS_1


salam manis aouthor:cymut❤😍😙


semoga terhibur ya readers❤❤ I❤U😘😘😘


__ADS_2