Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
135


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 135...


Maura dan Rojer saling melempar pandangan canggung, setelah kepergian Charlote.


"Bagaimana dengan perkataan Charlote.?" Seringgai maut Rojer dengan berkacak pingang.


"Tentu saja kita harus pergi ke acara sekolah nya... Acara ini sangat bagus untuk meningkat kan jiwa kekeluargaan nya..." Timpal Maura dengan meletak kan handuk di sudut ranjang.


"Bukan itu maksud ku... "


"Lalu??"


"Adik bayi baru... Untuk Charlote..." Rojer menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


"Awwwwww....." Pekik Rojer setelah mengatakan itu semua. Tangan nya memegang perut nya yang terasa perih karna cubitan tiba tiba dari Maura.


Ke dua pipi Maura merona dengan seketika karna ucapan Rojer. Dalam waktu berdekatan diri nya sudah mendengar hal yang membuat nya jadi salah tingkah dari anak sekaligus ayah.


"Ini sakit...." Ujar Rojer dengan menekuk wajah nya


"Biar saja.. Kamu pantas mendapatkan nya... Huhhh memang semudah itu membuat bayi... Sudah lah mending aku ke dapur... Dari pada meladeni suami mesum tingkat dewa seperti mu...." Lugas Maura segera berlari keluar dari kamar.


Diri nya saat ini benar- benar malu. Meski dia akui diri nya juga merasa senang. Tapi dia tidak tahan jika terus berada di dekat Rojer, yang mulai membahas sesuatu yang vulgar.


"Dasar Rojer... Kenapa harus membicarakan hal seperti itu... Charlote juga.. Hhhhh.. Dia kan bisa melakukan nya saja, tidak perlu membahas hal seperti itu dengan ku... Jika begitu aku jadi malu sendiri kan jadi nya...: Batin Maura dengan meraih gelas dan mengisi nya dengan air.


Rojer menyugar rambut nya ke belakang. Senyum jahil nya tersungging dengan sempurna di bibir nya. Ia merasa puas sudah berhasil menggoda istri nya, sampai pipi sang istri merona dengan sempurna.


"Astaga dia manis sekali kalau sedang malu... Hehe... he..e" Kekeh Rojer ringan.


...----------------...


Di sudut kota, yang tidak terjamah oleh masyarakat. Sepi dan lenggang dengan bangunan yang seperti nya tidak lagi di tempati.


Sederet bangunan berjejer dengan rapi , tapi kondisi bangunan yang lusuh dengan cat bangunan yang sudah hampir pudar. Serta lumut tembok yang melengkapi tembok- tembok bangunan yang masih terlihat berdiri dengan kokoh.


Cahaya matahari berada di atas kepala. Suhu udara di tempat ini terbilang panas.


Itu terbukti dengan buliran keringat yang mengalir deras dari kening seorang pria dengan kepala setengah berambut.


Jaket yang sudah di kenakan terlihat robek karna tergores oleh benda- benda tajam.


Sorot mata nya yang tajam, terlihat redup. Entah apa yang terjadi pada nya. Tapi yang pasti dia tidak berada dalam kondisi yang aman.

__ADS_1


Tap..


Tap...


Tap...


"Cepat tangkap dia... Kita harus membawa nya dalam kondisi hidup...!!!" Teriak seseorang memberi komando. Bersamaaan dengan suara derap langkah kaki berlarian.


Nafas pria yang tengah bersembunyi semakin menderu kencang. Terlihat dari dada nya yang turun naik tidak beraturan.


Wajah nya sedikit pucat dan beberapa kali ia menelan saliva nya paksa.


"Sial... Aku terpojok... Aku tidak mau tertangkap dan di buat menjadi bulan- bulanan oleh mereka... " Gumam nya dengan mengedarkan mata nya ke seluruh penjuru. Dengan kepala yang terus berpikir untuk kabur dari kejaran mereka.


Dengan sekali lompatan, pria tersebut sudah berada di atas bangunan yang beratap kan beton.


"Dax ada di sana...!!!" Seru orang yang mengejar nya, membuat semua nya mengarahkan pandangan nya pada pria yang bernama Dax.


Ya.. Dax si ketua mafia. Yang berusaha di tangkap oleh anak buah Rojer. Untuk pembalasan dendam, setelah Rojer tahu bahwa Dax lah yang telah meledak kan Hall hotel Aston yang membuat wanita yang di cintai nya harus melawan malaikat maut.


Dax segera mengayun kan kaki nya, membuat langkah lebar dan terus berlari. Berlari sekuat tenaga untuk bisa kabur dari kejaran anak buah Rojer.


Dari sekian banyak nya anak buah nya. Hanya Dax lah yang tersisa. Anak buah nya di bantai habis oleh pengawal rahasia Rojer tanpa ampun sedikit pun. Markas nya di ledak kan dengan begitu mudah hingga rata dengan tanah.


Hal itu membuat diri nya hidup lontang lantung dan hidup seperti buronan. Yang harus berpindah- pindah dari satu tempat ke tempat yang lain nya. Hanya untuk melarikan diri.


Dax menghentikan langkah nya, saat jarak atap rumah dengan atap yang lain nya lumayan jauh. Membuat diri nya harus bersiap dengan ancang- ancang nya.


Dorr...


Suara tembakan terdengar persis di belakang nya. Dax melihat ke belakang, tujuh orang dengan membawa senjata, tengah mengarahkan pistol ke arah nya.


Tidak ingin tertangkap, dengan mantap Dax melompat dari atap rumah yang satu nya ke atap rumah lainnya. Namun ,


"Aaaahhhhhh...." Lengking nya saat merasakan tubuh nya merosot jatuh ke bawah.


Ke dua kaki nya tidak bisa mencapai atap rumah selanjut nya, membuat diri nya terjatuh dengan posisi duduk ke tanah.


Rasa nya ada sesuatu yang patah , Tapi derap kaki pengawal Rojer terus mendekat ke arah nya. Membuat diri nya memaksa untuk bangkit dan segera berlari lagi.


Srek..


Cletak...

__ADS_1


Suara pelatuk senjata api alias pistol di tarik tepat di atas kepalanya. Membuat tubuh Dax langsung membatu di tempat.


Perlahan tapi pasti, Dax mengangkat wajah nya melihat siapa yang menodong kan pistol tepat di depan kening nya.


Wajah putih dengan kaca mata hitam yang bertengker di hidung mancung nya. Wajah tegas dengan setelan jas armani yang membalut tubuh nya.


"Ikut lah dengan penurut... Berhenti lah untuk menyusah kan ku...." Ujar nya dengan nada bicara ancaman.


Beberapa pengawal anak buah Rojer segera mendekat, dan mengepung Dax yang sudah membatu di tempat dengan atasan mereka yang menodongkan pistol di kepala target.


Dax menatap pria di depan nya dengan nyalang dan penuh amarah. Tapi sia- sia jika diri nya melawan, karna ia sudah di kepung oleh beberapa anak buah Rojer.


"Bawa dia..." Titah sang atasan dengan menarik pistol nya.


"Baik Tuan Edent...." Timpal salah satu dari mereka, dan mengangkat serta menyeret tubuh Dax.


Edent memasuk kan pistol nya ke balik punggung, lalu segera berlalu dari tempat.


"Satu pekerjaan selesai... Huh..." Dengus Edent dan mempercepat langkah nya.


...----------------...


"Sayang... Kamu harus membawa topi ini,,, trus baju dingin ini juga... Oya cemilan kamu ini Grand ma sudah siapin satu koper ya sayang... Terus makanan pokok kamu juga udah Grand ma siapin juga... Astaga minuman... kamu suka minuman dingin, Apa di puncak ada minuman dingin ngak ya..?? Mending kamu bawa kulkas juga ya sayang.. Ntar Grandma siapin..." Ujar Ny. Anindita sambil memasukkan pakaian Charlote di dalam Koper.


Charlote menatap nenek nya yang sedang sangat repot menyiapkan barang- barang yang akan di bawa nya besok ke puncak dengan sendu.


Bagaimana tidak? Nenek nya itu terus mempakcing barang-barang nya sampai sudah hampir sepuluh koper. Diri nya hanya akan pergi satu hari, untuk apa diri nya harus membawa begitu banyak barang.


"Grand ma... Ini apa- apan sih..." Dengus Charlote dengan mendelik kan matanya.


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit

__ADS_1


__ADS_2