
... ILUSI TAKDIR 80...
Maura menghela nafasnya. Jemarinya terus menari di atas ponsel miliknya. Ia menatap ponsel di depannya dengan wajah sembraut.
"Hhhhh... Kenapa aku begitu merindukan pria ini..." Ringgis Maura dengan memperbesar foto Rojer bersama dirinya dan Charlote.
"Tapi kamu sangat tega dengan menyakiti ku dengan cara seperti itu. Hhhh Ayolah hati ku yang penurut berhentilah untuk merindukannya. Inang mu sangat tersiksa jika terus seperti ini..." Lanjut Maura lagi dengan berbalik menelentangkan tubuhnya. Tangannya memukul ringan bagian dada sebelah kiri.
Rasanya saat ini ia ingin sekali berhambur memeluk pria yang sedang menghantui pikirannya. Godaan dan sentuhan serta wajahnya yang tampan,sungguh Maura sangat merindukannya. Hatinya yang sempat patah pun kini merindukan sosok itu.
Drt... Drt...
Ponsel Maura bergetar dengan nama Rojer terpampang di layarnya. Maura terlonjak ketika melihat siapa pemilik nomer yang sedang menghubunginya. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik ke atas menciptakan senyuman yang menawan. Hatinya merasa sangat berbunga- bunga. Dengan sekali gerakan Maura meletakkan ponsel di telinganya.
"Apakah kamu merindukan ku?." Suara bariton yang sangat di kenal Maura menyapu gendang telinganya.
Tapi, lagi- lagi pikiran Maura memutar memori saat pembukaan peresmian taman bunga tulip. Memori itu berputar seperti sedang menonton vidio. Senyum yang tadi mengembang pudar begitu saja. Hanya wajah datar tanpa ekspresi yang di tunjukkan Maura.
"Ada yang perlu ku bantu Tuan CEO.? Maaf jika dua hari ini aku tidak masuk kerja. Jika kamu ingin memecat ku pecat saja. Aku akan merasa senang sekali..." Ujar Maura dengan datar.
"Ayolah, Mau berhentilah marah pada ku. Aku sudah sangat tersiksa.. Apa kamu percaya hanya karna masalah sepele itu hhh?.." Nada bicara Rojer mulai frustasi.
Glek..
Maura menelan ludahnya paksa. Apa yang di katakan Rojer ada benarnya. Tapi ketika kepercayaannya di hancurkan bagaimana bisa ia kembali percaya. Bayangan kelam kembali bergelayut di pikirannya. Ia ingin memaafkan Rojer, tapi tidak semudah itu.
"Maaf jika anda menelpon saya hanya untuk mengatakan omong kosong seperti itu. Hubungan kita sudah berakhir. Lebih baik sekarang anda fokus dengan istri anda, dari pada terus membujuk saya..."
Tut...
Maura memutus sambungan telpon. Ia tidak ingin berbicara terlalu lama dengan pria itu yang akan membuat pertahanannya goyah.
...----------------...
"Hallo... Mau... Hallo..." Ujar Rojer dengan suara yang lebih tinggi. Namun sepertinya sambungan telpon sudah di tutup dengan sepihak oleh Maura.
"Bersabarlah... Ini membutuhkan banyak perjuangan..." Lirih Rojer sambil menghembuskan nafasnya pelan.
__ADS_1
Air kolam yang tenang dan biru sedikit membuat Rojer merasa rileks. Angin yang menerpa kulitnya dengan halus membuatnya sedikit tenang. Dengan berdiri di tepi kolam setidaknya bisa mengurangi emosi Rojer yang meledak- ledak.
"Tuan muda..." Ujar Edent yang menyembul dari balik tubuh Rojer.
Rojer berbalik dengan memicingkan alisnya. Tangannya masuk dalam saku celana pendek yang di pakainya.
Edent menyerahkan kotak kecil beludru biru tua pada Rojer.
Rojer menerima dan membuka kotak kecil itu. Di dalamnya terselip cincin berlian yang berkilau. Cincin yang sama yang di berikan Rojer sebagai cincin lamaran pada Maura, yang di kembalikan wanita itu saat mereka bertengkar.
"Apa semuanya sudah sempurna?" Tanya Rojer dengan seringai khasnya.
"Semuanya sempurna sesuai dengan apa yang anda inginkan Tuan... Ke akuratan benda ini sudah mencapai 100 persen."
"Bagus..." Rojer mengeluarkan sebuah benda kecil dari sisi kotak kecil itu, yang berbentuk seperti remot kecil. Ia tersenyum lalu memasukkan benda itu kembali.
...----------------...
"Apa!!! gagal lagi... Dasar penyundang..."
Steve melempar ponselnya hingga membentur tembok. Benda pipih itu hancur berkeping- keping.
Seorang pria berusia 29 tahun dengan tubuh kokoh yang sedang berdiri di depan pintu dengan menunduk terkesiap melihat tingkah majikannya.
Steve memegang pelipisnya. Rasanya kepalanya akan pecah memikirkan ini semua. Rencana yang sudah di lakukan gagal total.
"Cyber bodoh... Hanya mencuri sedikit file rahasia saja tidak becus...." Lirihnya dengan meninju meja dengan kesal.
"Tuan apa kita perlu melaksanakan rencana B?." Tanya pria yang berdiri di depan pintu.
"Tahan, kita tidak bisa menyerangnya lagi... Kita akan menunggu waktu yang tepat. Jika kita menyerang secara bertubi- tubi. Dia akan cepat bisa melacak keberadaan kita. Aku sudah punya rencana baru yang akan menghancurkannya dari dalam." Timpal Steve lalu mengangkat kaki kirinya ke atas dengan kaki kanan menumpu kaki kirinya.
"Apa pakain pesta ku sudah siap?... Malam ini aku harus terlihat sangat tampan... Karna aku harus menaklukan seorang dewi malam ini.." Ucap Steve lagi. Ia menyingkirkan kekesalan emosinya sekarang. Yang lebih penting sekarang ia harus terlihat tampan dan memesona.
"Sudah Tuan... Silahkan anda bisa beeganti pakaian..." Timpal pria itu lagi sambil merentangkan tangannya, mempersilahkan Steve.
"Bagus.. Mari kita mulai semuanya..." Lirih Steve. Lalu berjalan dengan cepat keluar dari ruang kerjanya.
__ADS_1
...----------------...
Tok...Tok...
Suara pintu di ketuk. Maura segera memegang gagang pintu dan menariknya terbuka. Seorang kurir berdiri di depan pintu dengan membuka sebuah kotak persegi di tangannya.
"Benar dengan Nona Maura.?" Tanya kurir tersebut.
"Iya saya sendiri." Timpal Maura singkat.
"Ini Nona..." Kurir itu menyerahkan kotak persegi yang di bawanya pada Maura.
"Silahkan tanda tangan di sini..." Lanjutnya lagi dengan memberikan sebuah kertas. Maura langsung membubuhkan tanda tangannya dengan cepat.
Kurir tersebut beringsut pergi dari hadapan Maura setelah tugasnya selesai. Maura kembali masuk ke dalam rumah dengan memangku kotak persegi itu menuju kamarnya.
"Siapa yang mengirim ini ya? Mari kita lihat apa yang ada di dalam kotak cantik ini..." Gerutu Maura sendiri saat sudah berada di kamar. Ia membuka pita yang mengikat kotak persegi itu. Maura sempat bingung siapa yang mengeriminya. Tapi ya sudahlah itu tidak penting. Yang terpenting sekarang memuaskan rasa penasaran Maura dengan isi kotak persegi di hadapannya itu.
"Wah... Amazing... Is beutiful..." Wajah Maura berbinar saat melihat isi kotak itu. Sebuah gaun berwarna biru langit cerah, dengan bagian leher yang cukup rendah tapi dengan hiasan manik- manik kecil yang indah. Bagian bawah yang sedikit mengembang. Serta lapisan tipis dan transparans yang melapisi bagian terluar. Sungguh sangat indah.
Maura meraba gaun di tangannya dengan kagum. Ia pasti sangat cantik memakai gaun seindah ini. Tapi siapa yang mengirim gaun seindah ini untuknya. Ia mengalihkan pandanganya pada kotak persegi itu lagi. Dan berhenti pada kertas tipis yang tetinggal di sana. Seperti sebuah note kecil.
Gaun ini akan terlihat pas dan cantik di tubuh mu...💖
Isi note itu membuyarkan pikiran Maura. Ia berfikir siapa pengirim ini.
"Siapa pengirim gaun indah ini... Apa Steve? Bukankah dia mengajak ku untuk pergi ke pesta malam ini.. Mungkin dia yang mengirim gaun ini untuk ku... Terimakasih aku sangat menyukainya." Batin Maura dengan wajah sumringah.
Bayangan untuk pesta nanti malam bergulir di otak Maura, saat ia memakai gaun seindah ini.
"Mama....!!!" Teriak Charlote dari luar.
...----------------...
...****************...
__ADS_1