
...ILUSI TAKDIR 62...
Catlin memarkir mobilnya di depan CAFE SOFTA. Cafe yang pernah ia berikan pada Kiera pion dengan pekerjaan tidak becus.
Cafe tersebut tampak sepi, tidak seperti biasanya selalu ramai. Kali ini ada rantai dan gembok besar pada gagang pintu seperti di segel. Dan beberapa penjaga dengan tubuh tegap berdiri berjaga- jaga di area tersebut.
"Ternyata Rojer memang mengambilnya kembali. Tapi baguslah cafe ini tidak di miliki oleh wanita bodoh seperti budak itu." Lirih Catlin
Seorang wanita yang tak lain adalah Kiera tengah mondar mandir di depan cafe. Penjaga tidak mengusir atau pun membiarkannya masuk. Penampilan Kiera terlihat sangat berantakan dengan wajah sembab dan frustasi.
Catlin tidak mungkin menemui Kiera di depan Cafe. Bisa- bisa penjaga suruhan Rojer mengetahui tentang hubungannya dengan Kiera. Catlin memilih cara aman untuk tidak terlihat oleh para penjaga. Ia meraih ponselnya di bangku penumpang depan, dan menekan nomer ponsel Kiera.
Kiera mengalihkan perhatiannya dengan ponsel yang berdering di saku celananya.
"Haloo..." Angkat Kiera, sambil melihat sekekelingnya. Berharap orang yang menelponnya ada di tempat.
"Temui aku di parkiran..." Ucap Catlin tanpa basa- basi dan menutup panggilan.
Terlihat Kiera bergegas menuju tempat yang Catlin katakan.
"Akhirnya Nyonya datang juga..." Ujar Kiera dengan tersenyum kecut.
"Katakan apa yang kamu ingin kan..."
"Aku tahu Nyonya tidak akan berani untuk melakukan kesalahan... Lagi pula aku meminta sesuatu yang sangat kecil. Hal itu tidak akan merugikan Nyonya sebagai Nyonya besar Wang."
"Aku tidak punya waktu untuk mendengar mu berbicara berbelit- belit. Apa kamu perlu rumah, apart, mobil, atau uang.?"
"Nyonya begitu baik hati. Tapi aku dalam kondisi ini semua karna nyonya juga. Aku melakukan apa yang nyonya suruh dan hidup ku di rampas oleh Tuan Rojer. Sederhana saja nyonya, berikan aku satu apartemen dan uang 1M. Setelah itu aku tidak akan muncul atau menampakkan wajah di hadapan mu. Anggap saja sebagai konpensasi."
"Hanya itu yang kamu minta.? Kamu tidak ingin meminta mall atau aku menanggung hidup mu selamanya.?" Tanya Catlin dengan smirk licik.
"Aku tidak membutuhkan itu. Sekarang aku hanya butuh tempat berteduh dan uang untuk menyambung hidup ku."
__ADS_1
"Baiklah... Aku akan memberikan apa yang kamu inginkan... Sebentar..." Ucap Catlin dengan ekspresi tidak bisa tertebak oleh siapapun. Ekpresi yang mengandung banyak sekali kemungkinan.
Catlin mengambil sebuah cek dalam dasbord mobil. Mencantumkan angka yang di inginkan Kiera dan menyerahkan nya pada Tuan peminta.
"Ini..."
"Terimkasih... Senang pernah bekerja dengan mu nyonya." Kiera tersenyum manis melihat cek dengan nominal yang sesuai dengan keinginannya.
"Seperti yang kamu katakan anggap saja itu sebagai konfensasi terakhir di hidup mu. Kamu bisa tinggal di apartemen ELIT no. 43. Semoga kamu menyukainya... Tapi apa kamu bisa menjamin setelah ini kamu tidak akan memeras ku lagi.?" Catlin menepuk- nepuk bahu Kiera, dan mengerucutkan bibirnya saat ia bertanya.
"Aku menjamin nyonya..." Ujar Kiera dengan memandang Catlin aneh. Ia tidak pernah melihat sikap Catlin yang seperti ini. Dimatanya itu sangat aneh. Tapi Kiera tidak bisa menebak ekspresi wajah Catlin atau membaca pikiran nya.
"Baiklah aku juga akan menjamin diri mu tidak akan datang dan memeras ku kembali. Aku akan menjamin kamu tidak akan terlihat oleh ku lagi hmm."
Kiera terlihat bingung dengan apa yang di katakan Catlin. Terdengar halus tapi mengancam dan berbahaya.
"Ahh... Sudahlah... Apa yang kamu pikirkan pergilah... Nikmati lah selagi bisa hmmm..." Catlin tersenyum penuh arti dan menyamping kan tubuhnya dari hadapan Kiera.
Catlin memandangi punggung Kiera yang terus menjauh dari pandangannya. Ia menyedekapkan kedua tangannya di dada. Sementara bibirnya terus menyunggingkan senyum penuh arti.
"Nikmatilah,,, aku akan melihat seperti apa kamu menikmati hasil perasan mu itu. Aku sudah mengatakan jangan macam- macam dan berulah dengan ku..." Gumam Catlin tanpa mengalihkan pandangannya pada Kiera yang terus saja berjalan menjauh ke depan. Catlin merogoh ponselnya di saku celana dan memencet salah satu nomer yang ada pada kontaknya.
"Lakukan... Kamu akan mendapatkan seseuatu yang besar..." Ujar Catlin dengan santai saat panggilan tersebut di jawab oleh sang tujuan.
Catlin mematikan ponsel nya dan mendengus kemenangan. Ia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya bergabung bersama mobil yang lainnya.
...----------------...
Maura dan Charlote sudah duduk di meja makan super panjang dan mewah untuk makan malam bersama. Meja makan yang terbuat dengan emas dengan tempat duduk seempuk dan sehalus sutra. Maura tidak nyaman dengan kemewahan tersebut. Ia lebih senang duduk di meja makan sederhana bahkan duduk bersila di lantai dari pada duduk di meja makan emas seperti ini.
Para pelayan berdatangan dengan hidangan di masing- masing tangan mereka. Mereka meletakkan satu persatu makanan di atas meja dan menatanya dengan indah.
"Apa mereka menyiapkan makanan sebanyak ini setiap hari... Begitu banyak dan lezat..." Batin Maura dengan mata yang antusias melihat makanan yang terhidang.
__ADS_1
"Wow... Ma... makanan nya enak- enak... Kita makan enak hari ini..." Ujar Charlote memandangi sebuah sup udang yang menjadi favoritnya.
"Emang selama ini mama tidak pernah memberi mu makan enak begitu...?" Maura sedikit tersinggung dengan ucapan Charlote.
"Ahhh... Haha.. Bukan begitu ma... Makanan ini memang enak... Tapi masakan mama yang paling enak lebih dari ini..." Elak Charlote.
Rojer menuruni tangga dengan penampilan yang berbeda. Penampilan yang lebih santai dengan celana pendek dan kaos putih. Sangat berbeda dengan penampilan formalnya selama ini.
"Ma... Papa..." Ujar Charlote menunjuk dengan sorot mata ke arah tangga.
Maura mengalihkan pandangannya ke arah tangga. Kali ini Maura benar- benar terpesona dengan ketampana Rojer. Rojer terlihat bersinar dengan penampilan santai seperti itu. Selain terpesona Maura juga terkejut karna selama ini ia tidak pernah melihat Rojer dengan pakaian santai. Ternyata dia begitu tampan. Tanpa sadar Maura bangkit dari duduknya. Sementara matanya tidak bisa beralih untuk memandangi Rojer. Bibir Maura menganga sedikit dengan sorot mata takjub.
"Apa dia seorang pangeran? Dia sangat tampan tuhan. Mata ku tidak bisa beralih dari nya. Rasanya mata ku ini sudah di segel dengan ketampanannya. Astaga dia tersenyun pada ku... " Batin Maura dengan jantung yang berdebar sangat kencang.
Rojer memandang Maura dan tertawa kecil melihat ekpresi Maura.
"Astaga dia begitu terpesona dengan ketampanan ku... Siapa juga yang tidak terpesona dengan laki- laki sempurna seperti ku.. heh.. ha.. ha.. Lihat ekspresi nya. Bahkan bibirnya sampai mengangga begitu. Jika tidak ada Charlote di sini sudah ku terkam bibir seksi mu itu." Lirih Rojer salah tingkah dengan tatapan Maura padanya. Rojer berjalan mendekat pada Maura, tapi Maura tidak bergeming sama sekali. Matanya tidak bisa berkedip seperti sudah di mantrai tidak bisa berkedip untuk selamanya.
"Jangan memandang ku seperti itu... Air liur mu sampai mau jatuh karna terpesona oleh ku..." Ujar Rojer dengan cekikikan lalu mengusap sudut bibir Maura. Kali ini ia begitu percaya diri karna telah membuat Maura terpesona.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit
__ADS_1