Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
99


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 99...


"Aku ingin pelaku peledakan ballroom Aston tertangkap... Siapa pun dia hancurkan tanpa sisa.. Dan bawa dalangnya pada ku... Aku tidak akan membiarkan dia tersenyum di atas penderitaan ku .."


"Sesuai perintah anda Tuan..."


...----------------...


"Ha.... Ha... Ha...."


Suara tawa membahana memenuhi seluruh ruangan gelap dan cukup pengap. Penarangan lampu yang minim membuat ruangan itu sedikit lebih seram. Di tambah dengan suara tawa yang membahana dari seorang pria dengan kepala botak tengah, yang sedang duduk sambil menonton proyektor di dinding.


"Duar... Tamat riwayat mu... Ha...ha... Berani bermain dengan ku... Lihat kalian semua habis dalam satu ledakan... Kasihan... Ha...ha..." Ujar Pria berkepala botak tengah itu dengan bahagia. Rencana nya berjalan dengan sempurna dan tanpa kendala. Sudut matanya sampai mengeluarkan air karna tertawa penuh kemenangan.


"Bos.... Ini minuman anda..." Ujar seorang wanita seksi yang hanya menggunakan tang- top masuk ke dalam ruangan itu, dengan membawa nampan berisi cairan anggur, alias wine.


"Sayang.... Akhirnya kamu datang... Aku sudah lama cukup menunggu... Kemarilah duduk lah di sini... Temani aku menonton acara yang sangat menghibur...." Timpal Pria yang tak lain adalah kepala mafia itu. Ia menepuk pahanya, dan wanita di depannya pun duduk dengan anggun di atas pahanya.


"Maaf bos... Aku tidak bermaksud membuat mu menunggu bos..." Wanita di pangkuannya mengalungkan tangannya manja di leher sang pria.


"Ck...ck... Jangan panggil aku bos sayang,,, Panggil nama ku dengan bibir manis mu itu... "


"Dax... Dax.... dax..."


"Ohhh.... Aku menyukai suara mu..."


Cup


Bibir Dax mencium rakus bibir wanita di atas pangkuannya. Godaan dari wanita penghibur yang adalah anak buahnya, membuat dirinya tersulut hasrat. Permainan panas antara mereka berlanjut hingga kepuasan dapat meraka dapatkan.


...----------------...


Rojer keluar dengan penampilannya yang seperti biasa. Tampan dan stailys. Perawat wanita yang berhasil melirik pandang pada dirinya, langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada pria yang sedang berjalan dengan tatapan kosong. Apalagi, bagian atas kemeja yang sengaja tidak di kancing, memperlihatkan sedikit dada berotot Rojer. Yang berhasil membuat wanita yang di lewatinya meleleh karna terpesona.


Rojer masuk tanpa basa- basi ke dalam ruang inap Charlote. Yang membuat Dokter Sillia terkejut dengan kedatangan Rojer yang tiba- tiba.


Gluk...


Dokter Sillia menelan ludahnya paksa. Saat matanya menatap pemandangan indah di depannya. Seakan seorang pangeran dengan ketampanan yang sempurna tengah berdiri di depannya. Siapa wanita yang air liurnya tidak jatuh karna menginginkan laki- laki sempurna seperti Rojer. Pria yang beberapa saat lalu terlihat lebih kotor dan menjijikkan dari gembel. Sekarang, berdiri dengan tampan dan gagah melebihi seorang model di layar televisi.


"Dokter... Apa putra ku sudah sadar???" Suara bariton yang sangat menggoda, menyapu gendang telinga Dokter Sillia. Ia langsung menggelengkan kepalanya, menepis pikirannya tentang Rojer jauh- jauh. Sebelum dirinya benar- benar jatuh dalam pesona pria tampan di depannya.


Rojer mengerjitkan dahinya, mendapat gelengan kepala dari Dokter Sillia. Ia tidak mengerti dengan sikap Dokter wanita di depannya yang terkesan salah tingkah. Menyadari hal itu Dokter Sillia langsung ankat bicara.


"Oh... Maksud ku... Charlote sudah siuman beberapa menit yang lalu, tapi aku memberikannya suntikan. Jadi ia kembali tertidur... Ohh ya Tuan Rojer. Jika dia terbangun pastikan anda bisa mengendalikan emosinya. Karna dia mengalami hal yang besar di usianya yang masih rentan..." Dokter Sillia langsung melenggos pergi dari hadapan Rojer. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Bahkan tatapan Rojer mampu membuyarkan konsentrasinya.


"Astaga apa yang terjadi pada ku???" Gumam Dokter Sillia sambil menyandar pada pintu kamar inap Charlote dengan memegangi dadanya.


Rojer mendekat ke arah ranjang. Menatap nanar kondisi putra semata wayangnya. Air mata Rojer kembali mengucur dengan deras. Ia tidak bisa menahan tangisnya melihat kondisi Charlote. Sementara Edent hanya berdiri diam di sudut ruangan. Mengamati dan menatap ke arah dua orang di depannya dengan tatapan bersalah.


Memori indah bersama Charlote bergulir dengan cepat dalam ingatan Rojer. Tawa, senyum, dan pelukan serta kecupan hangat dari putranya terus terbayang dalam memorinya. Membuat dadanya semakin sesak dan terasa sakit.


Rojer meraih tangan kecil Charlote, menggenggamnya lembut dan mengelus punggung tangan kecilnya.


Rojer mengecup lembut luka yang sudah terbungkus perban pada lengan Charlote. Berharap kecupan singkat itu bisa mengurangi rasa sakit Cahrlote.

__ADS_1


Tanpa di sadari, satu butiran bening lolos dari sudut mata Edent, yang langsung di hapusnya. Pemandangan antara majikannya dan putranya di iringi dengan suara mesin rumah sakit yang menambah keadaan menjadi mengharukan.


"Astaga... Ternyata aku juga bisa menangis... Jadi seperti ini rasanya menangis... Aku sangat terharu dengan cinta Tuan muda pada Tuan kecil... Apa mungkin nanti saat aku menjadi ayah aku akan seperti dirinya. Melupakan apa pun hanya untuk putra dan istrinya..." Batin Edent, dengan memajukan bibir bawahnya.


Rojer terus memandangi wajah Charlote yang tertidur dengan pulas dan tenang. Ada rasa lega meski sedikit di lubuk hati Rojer. Ketika mengetahui pemilik bagian hatinya bisa terselamatkan.


"Cepatlah sembuh Charlote sayang... Jangan pernah melakukan candaan seperti ini lagi... Jangan tinggalkan papa dan mama..." Lirih Rojer hampir berbisik.


...----------------...


Maura Pov.


Jiwa ku terasa tersedot oleh portal besar yang memiliki kekuatan luar biasa. Yang membawa ku pada hampran kosong dengan warna serba putih.


Tidak ada kehidupan di sini. Yang ada hanya warna putih sejauh mata ku memandang.


Aku mulai khawatir dan berpikir di mana aku saat ini. Aku berlari ke sana dan kemari mencari jalan keluar.


Aku ingin keluar...


Aku ingin keluar...


Tapi tidak ada jalan keluar...


Lambat laun aku mendengar ada beberapa suara yang bercakap- cakap dengan samar. Tapi aku sama sekali tidak mengenal suara mereka.


Ketakutan merayap dan menghinggapi ku. Aku hanya sendiri di tengah tempat kosong tanpa ada kehidupan.


Apa yang terjadi pada ku...? Kenapa aku bisa di sini...? Dunia apa ini...?


Bayangan- bayangan diri ku bersama Charlote, tergambar jelas di hadapan ku. Seolah aku sedang menonton film pada layar telivisi yang sangat besar.


Kehadiran Rojer yang memeluk dari belakang dan mencium ku dengan cinta juga tergambar jelas di hadapan ku. Membuat diri ku tersipu malu melihatnya.


Kenangan bahagia bersama Charlote dan Rojsr terua berputar di hadapan ku. Suara tawa kami, bualan lucu Rojer, ungkapan mengemaskan Charlote, serta pertengkaran- pertengkaran kecil ku dengan Rojer juga di putar. Aku merasa menyaksikan kehidupan ku dahulu. Aku berpikir apa aku sudah berada di dunia yang berbeda dengan mereka sekarang?.


Tapi kenangan itu berakhir, dengan raut wajah ku yang berubah ketakutan dengan Charlote yang memeluk ku erat. Aku menangis dengan penuh ketakutan. Setelah itu,


Duar...


Duar...


Suara ledakan beruntun membuat layar di depan ku menghitam. Bahkan tangan ku refleks menutup telinga ku rapat.


Aku membuka kembali mata ku yang terpejam. Layar besar di depan ku yang menampilkan kenangan ku mulai melebur dan menghilang.


Kenapa ini.? Apa yang terjadi kenapa layar kenangan ini melebur.?


Aku mencoba menggapainya berusaha untuk tidak membiarkannya melebur. Tapi aku semakin terkejut saat jari jemari ku juga melebur dan menghilang di udara.


Kenapa tubuh ku berubah menjadi debu... dan melebur seperti layar kenangan itu. Tidak jangan...! Ada apa dengan diri ku...


Tubuh ku tersentak dengan keras, dan kedua mata ku terbuka lebar, sayup- sayup aku mendengar sesuatu di telinga ku.


"Cepat... Ambilkan kapas, pasang lagi..."

__ADS_1


"Dok pasien sadar..."


"Kita butuh satu kantong darah lagi... keadaannya semakin kritis."


Maura end pov.


...----------------...


Kling...


Lampu ruang operasi padam, yang artinya proses operasi telah usai.


Rojer dan Edent langsung memandang ke arah ruang operasi bersamaan. Harap- harap cemas terpancar jelas dari raut wajah ke dua pria tersebut. Yang sudah duduk menunggu sekitar tiga jam lamanya.


Krek....


Pintu ruang operasi terbuka, tampak seorang suster keluar dengan mendorong troli. Sontak Rojer langsung berdiri, tapi segera duduk kembali. Karna ia sedang tidak menunggu perawat wanita tadi, tapi pria gagah yang bergelar dokter yang menjadi tokoh utama dalam kondisi ini.


"Sabar lah Tuan... Kita harus menunggu Tuan Antony untuk keluar...." Gumam Edent, sambil memegang bahu Rojer. Yang di respon dengan diam oleh Rojer.


"Aku tidak, yakin apa aku kuat melihat Maura dalam kondisi ini... Rasanya aku tidak punya keberanian..." Ucap Rojer dengan menunduk, memangku ke dua tangannya di atas lutut. Suaranya terdengar bergetar dengan bahu yang sudah menegang. Rasa takut akan kehilangan terus saja menghampiri dirinya, menyiksa dirinya hingga dirinya berpikir untuk melenyapkan diri.


"Saya yakin Tuan... Tuan Antony pasti bisa menyelamatkan Nyonya Maura. Dia dokter handal di kota ini, pasien yang di tangani selalu sembuh di tangannya... Jadi Tuan muda berusahalah untuk berpikir positif. Berpikiran hal yang buruk sangat tidak baik..." Edent mengusap bahu Rojer pelan, seakan menyalurkan energi untuk menguatkan majikannya.


"Aku sudah berusaha, menjauhkan pikiran buruk ini dari otak ku.. Tapi ini benar- benar sulit. Lebih sulit dari pada memenangkan sebuah tander besar... Rasa takut ini benar- benar menyiksa ku Edent..."


"Masalah pekerjaan tentu sangat berbeda dengan urusan hati. Hal itu tidak bisa di samakan. Mungkin saya belum pernah jatuh cinta Tuan... Tapi dari teori yang saya baca, orang yang jatuh cinta bisa hilang akal karna rasa cintanya pada kekasihnya... Dan teori itu memang benar di saat saya melihat Tuan yang kalang kabut saat mencari nyonya Maura"


"Jadi kamu mengira aku sudah kehilangan akal?" Rojer mulai berbicara dengan ketus.


"A... Ahhhh bukan begitu Tuan..." Pangkas Edent terbata- bata, ketika menyadari ucapannya yang mungkin bisa membuat Rojer tersindir, karna menyebutnya kehilangan akal.


"Tapi sepertinya memang benar. Aku hampir gila mencari Maura... hmmmm..." Lirih Rojer membenarkan ucapan Edent dengan nada kecil hampir tidak terdengar oleh Edent.


"Sepertinya aku juga butuh membaca teori buku cinta itu... Bawakan untuk ku nanti..." Lanjut Rojer tanpa menatap Edent.


Edent langsung melotot dengan bibir terbuka. Dia cukup kaget dengan perkataan Rojer barusan. Jika Tuannya ini juga ingin membaca buku seperti itu. Dirinya membaca buku cinta itu, untuk menambah pengetahuannya tentang masalah cinta karna dirinya belum menemukan belahan hatinya. Tapi tidak dirinya sangka jika majikannya yang menjadi pujaan hati semua wanita juga tertarik dengan buku seperti itu.


"Ba... Baik.. Tuan muda..." Timpal Edent sedikit terbata- bata.


Krek...


Suara pintu operasi kembali terbuka. Dari balik pintu muncul pria dengan pakaian operasi. Pria yang di tunggu kehadirannya oleh Rojer dan Edent. Mereka langsung bangkit dan menghampiri Antony.


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤


please tinggalin koment dong

__ADS_1


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit


__ADS_2