
...ILUSI TAKDIR 88...
Ny. Anindita tengah duduk di ruang tamu dengan kedua mata yang membulat besar. Ia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Tapi layar handphonenya menunjukkan semua rentetan kejadian dengan jelas. Sesekali ia memegang bibirnya tidak percaya dengan vidio pertengkaran pada acara pesta keluarga Shang, yang di kirim oleh salah satu teman sosialitanya.
Di dalam vidio yang tengah berputar itu, terlihat jelas bagaimana seorang wanita berani menampar menantunya Catlin hingga tersungkur di lantai. Namun, yang paling mengejutkan adalah putranya sendiri Rojer malah membela wanita jalanan itu, dan mengatakam jika dia adalah calon istrinya.
"Apa- apaan semua ini... Aku tidak menyangka putra ku memperlakukan istrinya lebih buruk dari pada hewan. Suami ku, sepertinya aku gagal dalam mendidik Rojer putra kita...." Lirih Ny. Anindita dengan nada penyesalan di setiap kata- katanya.
"Menantu ku... Catlin sayang,,, bagaimana keadaannya sekarang ya tuhan... Aku harap dia baik- baik saja..." Lanjut Ny. Anindita lagi, dan menelpon Catlin dengan harap- harap cemas.
"Hallo sayang... Ny. Aurora... Apa...!!! Baiklah aku akan segera ke sana..." Setelah menunggu jawaban akhirnya, Ny. Anindita menerima jawaban dari Ny. Aurora ibunya Catlin.
Terlihat jelas di wajahnya raut cemas dan kekhawatiran pada kondisi menantunya. Tanpa menunggu lagi, Ny. Anindita segera mengambil tasnya dan berlalu keluar dari mobil, menuju rumah sakit tempat Catlin di rawat.
"Semoga menantu ku baik- baik saja..." Batin Ny. Anindita, dan bergegas masuk ke dalam mobil.
...----------------...
Tidak butuh waktu lama, Rojer sudah sampai di depan hotel ASTON. Ia berdiri di depan mobil dengan pandangan menjelajah mencari seseorang. Sudah dua menit yang lalu ia berdiri menunggu kedatangan Maura dan Charlote, tapi sepertinya sosok itu belum muncul dari keramaian.
"Berapa lama lagi aku harus menunggu... Rasanya waktu ini berjalan begitu lambat... Hanya dua menit terasa seperti dua abad..." Batin Rojer sambil melirik jam tangannya. Rojer mondar mandir di depan hotel persis seperti sebuah setrika. Sedangkan wajahnya menyiratkan ketidak sabaran untuk segera bertemu dengan pujaan hatinya.
"Edent.... Berapa lama lagi mereka akan sampai, apa kamu ingin melihat ku mati di sini karna menunggu...." Ujar Rojer, ketika kesabarannya sudah benar- benar habis. Edent melirik jam tangannya. Butuh dua puluh lima menit lagi untuk sampai di hotel Aston dari bandara.
"Nyonya dan Tuan kecil akan datang dua puluh lima menit lagi tuan. Lebih baik anda istirahat dulu di dalam hotel..." Timpal Edent dengan melihat jam tangannya.
Rojer berjalan cepat dan naik ke mobilnya. Edent segera menyusul Rojer.
"Sudah, aku tidak bisa menunggu lagi. Kita akan menjemput mereka di bandara.... Di sini aku merasa sangat sesak dengan menunggu..." Rojer meremas jari- jat tangganya.
"Tapi, tuan bukankah Tuan kecil meminta anda untuk menunggu di hotel dan bertemu di sini untuk menjaga perasaan Nyonya..."
"Jangan membantah... Di sini aku bosnya. Jadi semuanya berjalan sesuai dengan keinginan ku... Jika aku mau menunggu di bandara maka kita akan ke sana..."
"Baiklah Tuan, sesuai perintah anda..." Edent menghidupkan mobil dan membanting stir masuk ke jalanan yang cukup ramai.
...----------------...
"Hmmmm Akhirnya kita sampai juga ma.... Freya ini...." Charlote menghirup udara dalam. Di dalam pesawat membuatnya mual. Ia memberikan mantel yang di pakainya pada Freya.
"Apa kamu senang sayang,,, tahun ini pertemuannya benar- benar berbeda. Lebih besar dari pada tahun sebelumnya... Dan yang lebih penting di adakan di hotel ASTON sungguh menarik..." Timpal Maura dengan cukup antusias. Rasanya sudah berapa lama ia tidak bepergian dan menghabiskan waktu bersama Charlote putranya. Dan sekarang Maura bertekad akan membuat putra kesayangan nya itu bahagia.
Mereka bertiga berjalan ke luar bandara.
Tin....
__ADS_1
Tin.....
Suara Klakson mobil hitam mewah berhenti di depan bandara. Dan dua buah mobil silver juga mengikuti di belakang. Persis seperti iring- iringan president.
Freya mendorong pintu utama bandara yang langsung membuat Maura mati langkah. Ia seakan tengah di sihir menjadi patung, hingga tidak bisa bergerak sedikit pun. Ia benar- benar terkejut dengan siapa yang tengah berdiri di depannya dengan tersenyum ke arahnya.
"Papa.....!!!" Teriak Charlote berhambur ke pelukan Rojer.
"Kesayangan papa... Muuuachhh..." Rojer mencium Charlote dengan gemas. Ia benar- benar rindu dengan putra semata wayangnya itu. Hari ini ia pastikan akan membuat Charlote dan Maura merasa bahagia.
"Pa... Papa terlihat keren..."
"Tentu saja... Papa harus terlihat keren kan untuk menarik perhatian mama mu itu..." Rojer tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Lo... Kok bisa Rojer ada di sini... Apa bayi besar ini mengikuti ku sampai ke sini... Tapi bagaimana bisa dia tahu... Ck... Pasti ini semua karna Charlote..." Batin Maura dengan memicingkan alisnya.
"Haiiii Honey... Aku sangat merindukan mu...." Ujar Rojer manja, menghampiri Maura dan memeluknya. Namun, Maura segera mendorong Rojer.
"Kenapa kamu bisa di sini...?" Tanya Maura dengan selidik, dan rasa tidak suka.
"Tentu saja aku datang untuk menghadiri acara putra ku... " Timpal Rojer dengan melepas kaca mata yang bertengker di hidung mancungnya.
Maura memutar bola matanya kesal. Mood nya benar- benar hancur sekarang. Semua rencananya untuk menghabiskan waktu berdua dengan Charlote hancur seketika. Maura melirik ke arah Charlote, dengan tatapan tidak percaya. Yang di respon dengan cengiran manis dari Charlote.
"Sorry ma... Untuk kali ini saja...." Ujar Charlote, melihat ekspresi Maura yang terlihat tidak suka. Ia memasang wajah paling manis untuk senjata pamungkas meluluhkan Maura.
"Ayo lah Mau, bersandiwaralah sedikit seperti keluarga yang harmonis..." Ujar Rojer setengah berbisik.
"Maaf tapi kehidupan ku bukan sandiwara Tuan Ceo. Jika kamu ingin bersandiwara silahkan ajak orang lain saja..." Timpal Maura ketus.
"Ini demi Charlote... Honey..." Rojer mengerucutkan bibirnya.
"Pa Ayo... Aku lelah sekali pa..." Panggil Charlote melihat ke dua orang tuanya itu, saling diam dan hanya menatap satu sama lain.
"Okey... Let's go dear..." Rojer melangkah menuju mobilnya dan mengendong Charlote masuk. Sementara Maura masih berdiri diam.
"Ma,,, untuk kali ini saja... Family time... Please....!!" Teriak Charlote yang melihat ibunya hanya diam saja. Maura menghela nafas dalam dan ikut masuk ke dalam mobil Rojer.
Di dalam terasa sangat berbeda. Ini adalah pertama kalinya mereka berkendara bersama. Rojer duduk di sebelah paling ujung dengan Charlote berada di tengah- tengah antara Maura Rojer.
Sementara Freya ikut pada mobil pengawal yang lain.
Maura merasa canggung dengan keadaan ini. Hanya hening yang tersisa di antara mereka. Sedangkan Charlote sudah tertidur lelap di paha Rojer karna lelah.
Rojer memandangi Maura yang terus melihat keluar jendela. Sedangkan tangannya meremas jari jemarinya. Rojer mengangkat tangannya dan menelusupkan pada tengkuk belakang Maura.
__ADS_1
Seperti ada gelenyar- gelenyar aliran listrik yang begitu terasa pada kulit bagian tengkuk belakang Maura. Membuat tubuh Maura meremang namun merasa rileks.
Rojer menikmati kulit halus Maura. Ia tahu Maura akan segera menepis tangannya. Tapi ia sangat rindu untuk menyentuh wanitanya, yang terlihat selalu menggoda di depannya.
Plak..
"Jangan berani menyentuh ku..." Ujar Maura dengan ketus sambil menepis tangan Rojer keras.
"Ochhh... Wow... Kamu tidak berubah, selalu menjadikan ku samsak pukulan mu..." Rojer menyerigai dengan senyum menggoda.
"Menyebalkan sekali...." Batin Maura dan membuang kembali pandangannya ke luar jendela.
"Sampai kapan kamu akan marah pada ku...?" Rojer menyelipkan anak rambut Maura yang mencuat ke belakang telinga.
"Aku tidak akan memaafkan mu... Sudah cukup kamu mempermainkan ku... Sudah aku katakan kan... Aku sangat membenci mu..."
"Apa kesalahan ku begitu besar hingga tidak ada lagi maaf untuk ku Mau...?" Tanya Rojer lagi dengan mengubah suaranya lebih mengiba.
Maura melirik ke arah Rojer. Dapat terlihat di wajahnya penderitaan yang sama. Penderitaan kerinduan, penderitaan ingin selalu bersama dan memiliki satu sama lain.
Tatapan Maura dan Rojer bertemu. Menatap jauh ke dalam manik mata satu sama lain. Manik mata Maura yang hitam legam dan begitu memikat. Bertemu dengan manik mata Rojer yang kecoklatan begitu nyaman untuk menatap setiap iris matanya.
Rasanya Maura ingin menyentuh wajah tampan dan menggoda di depannya. Menyusuri setiap garis wajah yang begitu terlihat jelas.
"Astaga... Kenapa kamu begitu tampan Rojer... Apa ini adalah keburuntungan, jika ayah dari anak ku adalah seorang laki- laki yang tampan... Atau sebaliknya, ini adalah sebuah kutukan di mana aku terjebak dengan sebuah permainan takdir.... Andai bisa aku ingin bertemu dengan mu di waktu yang tepat." Batin Maura,ia segera memalingkan wajahnya dari tatapan Rojer. Sudut matanya terasa panas dan genangan air mata sudah bersarang.
"Kenapa mengalihkan pandangan mu... Apa aku begitu hina, hingga kamu tidak ingin melihat ku...?" Rojer menghela nafasnya, saat Maura segera memalingkan wajahnya.
"Terlalu banyak kebohongan di wajah mu... Seperti nya aku tidak sanggup untuk melihat itu semua..."
"Kamu bisa menganggap ku berbohong dengan semua hal. Tapi cinta ku ini benar adanya. Tidak ada kebohongan. Cinta ku tulus pada mu... Mau aku mencintai mu tanpa syarat..." Suara Rojer mulai bergetar, rasanya ia ingin bersimpuh dan berlutut di depan wanitanya. Meminta maaf walau dengan cara yang paling hina sekali pun. Rojer memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil memandangi pepohonan yang berjejer di tepi jalan. Setidaknya, ia lebih rileks. Ia mengelus kepala Charlote dengan lembut. Rasanya begitu sesak berada di posisi ini.
Maura memandang Rojer yang menatap ke arah luar jendela mobil. Hatinya terasa di hujam oleh ribuan pisau tajam, mendengar perkataan Rojer. Hati dan pikirannya tidak sinkron. Hatinya begitu lemah dan ingin memaafkan pria itu. Tapi otaknya mengatakan tidak.
"Dia sedih... Suaranya bergetar dan terdengar parau... Apa dia menangis... Tapi untuk apa?. Dia adalah pria dingin,,, dia tidak akan menangis untuk hal ini kan... Tidak Mau... Jangan memaafkannya begitu saja. Dia adalah pria beristri, jangan jadi orang ke tiga di dalam rumah tangga orang lain. Meski dalam rumah tangga Catlin, yang sudah menghancurkan masa depan mu... " Batin Maura, ia mengangkat tangannya hendak menyentuh bahu Rojer. Namun, Maura menarik tangannya lagi. Biarlah semuanya berjalan sesuai dengan takdir.
...----------------...
...****************...
Like
Koment
Hadiah
__ADS_1
fav....
Lagi down, butuh dukungan...😢