Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
148


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 148...


JEDUAR.....


Dunia seakan runtuh bagi Rojer. Jantung nya terasa di cabut dari dalam dada nya.


Gemuruh putus asa terus membalut tubuh nya semakin tebal.


Kata- kata Maura yang terlontar dari bibir nya, menghancurkan hidup Rojer, hingga berkeping- keping rasa nya.


Ke dua lutut Rojer terasa lemas, tapi diri nya tetap membatu di tempat.


Seperti sebuah patung batu yang di pajang di sebuah ruangan.


Maura mundur beberapa langkah, menjauh dari tatapan Rojer, yang menatap nya dengan kosong. Lalu berlari menuju kamar nya.


Sementara Steve tersenyum penuh kemenangan. Melihat reaksi Rojer yang seperti mayat hidup sekarang.


Ia juga tidak menyangka, jika Maura mengatakan mereka akan menikah besok.


Rasa nya kemenangan kini berpihak pada nya. Dan sudah waktu nya bagi Rojer untuk menderita, pikir Steve menikmati pemandangan di depan nya.


"Apa kamu sudah dengar keputusan nya?" Ujar Steve dengan seringgai nya.


Rojer hanya membisu, ia sungguh tidak tahu harus melakukan apa.


Maura sudah mengambil keputusan yang sangat besar. Dengan menyingkirkan diri nya dari kehidupan nya.


"Seperti yang Maura katakan pada mu... Jika aku akan menikah dengan nya besok... Ku katakan dengan jelas sekali lagi. Aku Dan Maura akan menikah besok pagi...


Kisah mu sudah tamat Rojer, silahkan sekarang kamu pergi dari rumah ku..." Ujar Steve lagi dengan penekanan di setiap kata- kata nya. Dengan nada senang yang terkandung di dalam nya.


...----------------...


Maura menutup pintu kamar dengan rapat, memutar kunci. Dan bersandar di daun pintu.


Tubuh nya merosot ke lantai, hingga tertekuk. Membenamkan wajah nya di ke dua lutut nya.


Bahu nya bergetar dengan hebat, di iringi suara isak tangis yang pecah.


"Kenapa keputusan ini menyakiti ku... Ada apa dengan ku..?? Aku tidak bermaksud untuk mengatakan itu semua... Tapi..---"


Suara Maura tertahan, dengan suara isak tangis yang semakin keras.


"Hiks... Hiks... Hiks..."


Maura menengadah kan wajah nya, berusaha mengontrol emosi nya.


Meredam rasa sakit, yang sedang menyayat hati nya.


Keputusan yang ia ucapkan, terasa mengeluarkan seluruh organ tubuh nya.


Rasa nya begitu sakit, sampai ia menepuk- nepuk dada nya dengan keras.


Ada rasa penyesalan yang menelusup ke dalam relung hati nya. Tapi apa yang bisa ia lakukan, semua nya terjadi begitu saja.


Maura mengusap bibir nya kasar, berulang- ulang.


"Bibir ini... Bibir ini sangat menjijikkan... Bagaimana bisa bibir ini dengan begitu lancar mengatakan keputusan bodoh itu...


Aku hanya ingin membalas Rojer,,, Tapi ...--" Batin Maura kesal pada diri nya sendiri.


Ego yang membuncah tinggi, kini lenyap seketika. Rasa bersalah dan menyesal merantai tubuh nya.

__ADS_1


...----------------...


Aku akan menikahi Steve...


Kamu dengar...!!


Aku mengundang mu untuk hadir di pernikahan ku besok....!!


Perkataan Maura barusan, terus terngiang- ngiang di kepala Rojer.


Seperti sebuah vidio yang berputar terus menerus.


Wajah datar, dengan sorot mata kosong menghias wajah tampan Rojer.


Hati nya dan seluruh perasaan nya di hancurkan dengan mudah nya oleh Maura.


Seperti sebuah piring yang di lempar dan pecah berkeping- keping.


Rojer terus menyeret langkah nya, keluar dari rumah Steve.


Edent yang memperhatikan gelagat sang majikan yang aneh sedikit bingung.


Saat tadi mereka sampai, Rojer begitu antusias dan bersemangat, untuk menemui Maura.


Lalu apa yang terjadi?.


Pikir Edent menatap Rojer yang berjalan dengan tatapan kosong dan melewati nya begitu saja.


"Apa yang terjadi pada Tuan muda?? ada apa dengan nya???" Batin Edent , bertanya- tanya pada diri nya.


Rojer membuka pintu mobil dan masuk, tanpa mengucap kan sepatah kata pun.


Edent langsung mengekor, masuk ke dalam kursi kemudi, dengan pikiran bertanya- bertanya.


Kisah mu sudah tamat...


Tidak ada kesempatan lagi...


Aku akan menikahi Steve...


Pria picik...


Rojer menelan ludah nya paksa, saat kata- kata yang begitu menyakit kan itu kembali berputar di kepala nya.


Edent, memperhatikan sikap Rojer, dari kaca spion depan.


Pikiran bergemuruh penasaran, dengan apa yang terjadi sebenar nya. Hingga membuat Rojer bersikap aneh seperti itu.


Edent menghela nafas nya panjang, mengeratkan pegangan tangan nya pada stir mobil. Mengumpulkan keberanian untuk bertanya.


"Tuan muda... Apa anda baik- baik saja?... Dimana Nyonya Maura dan Tuan kecil Charlote Tuan??" Tanya Edent memantap kan diri.


Rojer melirik Edent dengan sorot mata nya. Jangan kan menjawab pertanyaan Edent. Sungguh saat ini ia tidak ingin berbicara pada siapa pun.


"Jalan...!!" Balas Rojer singkat, lalu kembali membuang pandangan nya ke arah luar jendela.


Edent langsung menginjak pedal gas mobil. Seperti nya memang terjadi sesuatu yang besar di dalam rumah Steve, Pikir Edent.


"Seharus nya aku ikut masuk tadi... Aku benar- benar penasaran apa yang sebenar nya terjadi?... " Tanya Edent membatin. Dengan pandangan lurus ke depan.


...----------------...


Maura berlari dengan cepat, ke arah jendela. Saat mendengar suara mobil Rojer berlalu.

__ADS_1


Maura menyibak gorden, tampak di luar mobil mewah Rojer pergi, keluar pelataran rumah Steve.


Hati Maura kembali terasa tersayat sembilu, saat ke dua mata nya melihat kepergian Rojer.


"Maaf...Hiks... Hiks... Hiks...." Lirih Maura di sela- sela tangisan nya.


Tok...


Tok..


Tok...


"Maura....!!!" Panggil Steve dengan mengetuk pintu.


Maura membalikkan tubuh nya yang masih bergetar dengan tangis yang belum reda. Menatap daun pintu yang terus berbunyi.


"Maura...!! Kamu baik- baik saja kan..??" Ujar Steve dari luar kamar.


Maura mendekat dengan perlahan, dan memutar knok pintu.


Di hadapan nya tengah berdiri seorang pria dengan sedikit luka sobek di bagian ujung bibir nya. Tapi di wajah nya tersirat kebahagian.


Steve masuk ke dalam kamar, dengan menarik pergelangan Maura dan langsung memeluk nya.


"Terimakasih... Terimakasih Maura... Telah menerima lamaran ku... Aku akan selalu menjaga mu dan membahagia kan mu..." Papar Steve dengan begitu bahagia.


Tubuh Maura membatu, tertampar dengan sebuah kenyataan yang telah ia putus kan sendiri.


Ingatan nya kembali mengingat, bagaimana ekspresi Rojer yang begitu terluka akan kata- kata nya.


Ia hanya ingin membalas Rojer, tapi perkataan nya sendiri, malah lebih menyakiti diri nya.


Seharus nya diri nya tidak mengatakan jika ia akan menikahi Steve, Sesal Maura.


Maura mendorong tubuh Steve, menjauh dari nya. Berjalan mundur beberapa langkah. Sentuhan Steve sungguh membuat nya tidak nyaman.


"Steve... Aku tidak ingin menyakiti mu... Tapi apa menurut mu apa yang barusan aku katakan benar?..


Aku hanya ingin membalas Rojer... Dengan mengatakan soal pernikahan kita Steve. Apa menurut mu pernikahan itu harus terjadi?" Ujar Maura dengan memandang wajah Steve yang berubah karna perkataan nya.


"Apa Maksud mu Mau... Kamu sudah menerima lamaran ku... Bahkan kamu mengatakan nya di depan Rojer... Itu semua sudah sangat jelas untuk ku."


"Aku tidak bisa... Aku tidak bisa menikah dengan mu Steve... Aku mengatakan hal itu untuk membalas Rojer... Percayalah,, tapi semua itu malah menyakiti diri ku...


Aku tidak bisa melihat nya terluka... Aku menyesal Steve.. Kamu tahu kan.. Cinta ku hati ku hanya untuk Rojer.. Ku mohon mengertilah aku tidak bermaksud untuk menolak mu..


Tapi aku yakin kamu akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari ku..."


"TIDAK....!!!"


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit

__ADS_1


__ADS_2