
...ILUSI TAKDIR 74...
"Huhhhh... hhehehhe... Aku membenci mu... Hiks... Hiks... Aku sangat membenci mu..." Ujar Maura dengan suara bergetar. Tubuhnya menggigil karna kedinginan, tapi bibirnya terus mengatakan hal tersebut. Bibir Maura membiru dan ada bekas luka di bibirnya karna sebelumnya ia menggigit bibirnya kuat hingga terluka.
Pria di sampingnya mendengar racauan Maura. Wajahnya semakin terlihat cemas. Tangannya yang hangat terjulur pada kening Maura.
"Astaga dia demam. Demamnya sangat tinggi. Maura kamu menggigil..." Lirih Pria itu. Ia mengambil jaket tebalnya dari kursi penumpang dan memakaikannya pada tubuh Maura.
Meskipun begitu, Maura terus meracau sementara matanya tertutup rapat.
"Apa yang terjadi pada mu Mau... Siapa yang kamu benci? kenapa kamu bisa seperti ini..." Batin Pria itu yang terus menerus mendengar racauan Maura.
Pria tersebut melajukan mobilnya dengan cukup tinggi.
...----------------...
"Edent... Kenapa kita tidak sampai- sampai... Apa rumah Maura terletak di planet lain..." Rojer mulai geram. Ia mengacak- ngacak rambutnya frustasi.
"Tenanglah tuan, kita akan segera sampai. Teruslah mencoba untuk menelponnya." Timpal Edent dengan menaikkan kecepatan mobil.
"Aku akan gila jika seperti ini... Dia masih tidak mengangkat telponnya... Hiks..." Ujar Rojer mulai menangis. Perasaannya benar- benar tidak karuan. Ia mengusap kasar air mata yang terjun bebas dari sudut matanya.
"Tenanglah.. Tuan muda... Tenang kan diri mu..." Edent menenangkan Rojer yang sudah mulai gelapan dengan emosi yang tak terkendali.
"Diam kamu... Aku ingin sekarang juga kita sampai di rumah nya... Pakai kecepatan yang paling tinggi. Aku tidak bisa menunggu lagi." Ucap Rojer dengan nafas yang semakin memburu.
"Jika tidak aku akan mati karna gila.." Lirih Rojer lagi tanpa di dengar oleh Edent. Ia menyandarkan kepalanya. Mencoba menenangkan dirinya namun tidak bisa. Sementara tangannya terus mencoba menelpon Maura.
...----------------...
Mobil silver pria itu memasuki halaman rumah Maura. Ia segera turun dari mobil dengan terburu- buru. Pria itu mengendong tubuh rapuh Maura dan segera berlari ke arah rumah.
"Aku membenci mu... Di... Dingin sekali..." Racau Maura dalam gendongan pria itu.
Tok... Tok.
Pria itu mengetuk pintu dengan tergesa- gesa. Berharap pintu cepat di buka. Sementara tangannya terus mempererat jaket yang di gunakan Maura, agar tubuh Maura merasa hangat.
__ADS_1
Klek...
Charlote membuka pintu, saat ia mendengar ada yang datang. Wajah Charlote berubah menjadi terkejut saat melihat siapa yang datang.
"Paman Steve.. Kamu... Mama... mama kenapa paman..?" Ujar Charlote dengan nada terkejut. Keterkejutannya dengan kehadiran Steve di kota ini belum selesai. Tapi, ia kembali terkejut saat melihat kondisi Maura yang kedinginan.
"Masuk lah... Kita tidak punya waktu.. Mama mu sangat kedinginan..." Steve langsung mengendong Maura ke arah kamar yang di tunjukkan Charlote.
Melihat kondisi Maura membuat Charlote di liputi rasa khawatir.
Steve meletakkan tubuh Maura di atas tempat tidur dengan perlahan. Sementara Maura terus meracau tanpa henti. Ia terus mengatakan hal yang sama berulang kali. Sedangkan matanya tidak kunjung terbuka.
Steve dengan cepat, meraih ponselnya dan menelpon dokter untuk datang ke rumah Maura.
Tidak butuh waktu lama dokter dan suster datang dan segera memeriksa Maura. Dokter menyaran kan untuk terus mengompres Maura sampai demamnya turun. Suster juga menggantikan pakaian Maura yang basah kuyup, dan menyelimuti seluruh tubuhnya kecuali kepala.
Kini Maura sudah tertidur lelap, setelah dokter menyuntikkan obat pada tubuhnya. Racauan yang terus menerus di ucapkan olehnya pun tidak terdengar lagi. Dokter dan suster juga sudah pergi setelah menyelesaikan tugas mereka.
"Paman, bagaimana keaadaan mama?? Mama baik- baik saja kan..?" Tanya Charlote hampir menangis.
"Paman, sebenarnya apa yang terjadj pada mama..? Kenapa bisa seperti ini?" Ujar Charlote dengan menggenggam tangan Maura.
"Seharusnya paman yang bertanya seperti itu Charlote?.. Paman menemukan mama mu tergeletak begitu saja di jalanan... Entah apa yang akan terjadi jika paman tidak menemukannya."
"Ma... Cepat sembuh ya.. Charlote sangat khawatir melihat mama seperti ini... " Ujar Charlote memandang Maura sendu. Lalu mengecup kening Maura lembut.
"Paman?? Kenapa paman bisa ada di sini?" Tanya Charlote lagi. Steve mengehembuskan nafasnya pelan.
"Paman ada di sini karna sebuah pekerjaan. Tapi paman tidak menyangka akan di sambut hal seperti ini. Paman pikir kalian baik- baik saja... Tapi sepertinya kamu tidak menjaga mama mu dengan baik.."
"Tidak... Bukan... Bukan paman... Bukan seperti itu. Aku selalu menjaga mama. Tadi mama izin mau pergi ke acara pembukaan peresmian taman bunga tulip. Jadi mana aku tahu dia akan seperti ini... Hiks..." Charlote mulai menangis. Hatinya sungguh sangat cemas melihat Maura terbaring sakit di depannya. Jika bisa lebih baik dia yang berada di posisi ini bukan Maura.
"Ssssttt... Jangan menangis... Kalau kamu menangis nanti mama mu bisa bangun... Dan dia tidak jadi istirahat. Dia akan baik- baik saja, bukankah dokter sudah mengatakannya. Jadi kamu tidak perlu khawatir hmmm..." Steve menenangkan Charlote. Ia mengusap air mata yang menetes dari mata Charlote. Charlote menggangguk dan menenangkan diri nya. Apa yang di katakan oleh Steve memang benar.
...----------------...
Mobil mewah Rojer sudah sampai di rumah Maura. Edent sempat berfikir saat memasuki halaman rumah Maura. Karna di depan rumah Maura ada mobil yang terparkir.
__ADS_1
"Mobil siapa itu.?" Tanya Edent dalam hati.
Rojer langsung turun tanpa peduli hujan mengguyur tubuhnya. Ia langsung berlari dan mengetuk pintu.
"Charlote...!!! Sayang... " Panggil Rojer tidak sabar. Rasanya ia ingin mendobrak pintu di depannya ini dan segera masuk ke dalam. Rojer terus menerus menggedor pintu tanpa henti, sampai pintu terbuka.
"Papa..." Ucap Charlote setelah membuka pintu. Ia melihat Rojer begitu cemas. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada Rojer.
Rojer menyatarakan tingginya dengan Charlote. Ia melihat kedalam rumah, namun sosok yang ia cari tidak terlihat.
"Mama ada di rumah?" Tanya Rojer dengan menangkup wajah Charlote.
"Iya... pa.. Mama ada di rumah..." Timpal Charlote. Mendengar jawaban Charlote, ada angin kedamain yang menerpa Rojer. Rojer menghembuskan nafasnya pelan. Rasa khwatirnya sedikit menghilang saat mendengar pernyataan Charlote.
"Huhhhh syukurlah... Maura ada di rumah... Karna telpon darinya, membuat ku berfikir yang aneh- aneh... Pikiran negatif ini harus segera di singkirkan... Sepertinya aku tidak akan bisa hidup tanpa Maura..." Batin Rojer tenggelam dalam pikirannya.
"Tapi... Pa... Mama lagi sakit.." Ujar Charlote lagi dengan menundukkan kepalanya sedih.
"Apa...!!!" Rojer terlonjak kaget saat mendengar perkataan Charlote. Tanpa basa- basi, Rojer langsung menerjang masuk ke dalam rumah dan membuka kamar Maura dengan terburu- buru. Saat ini dia hanya ingin melihat Maura dan memastikan keadaannya.
Tapi langkah Rojer terhenti saat matanya menangkap sesuatu di dalam kamar.
"Maura..." Ujar Rojer.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit
__ADS_1