Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
Ancident...


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 19...


Rojer sungguh merindukan Charlote. Sudah dua hari ia tidak bertemu dengannya, di karnakan urusan pekerjaan yang menumpuk dan masalah Maura pada rapat kemarin.


"Edent.. Jam berapa tuan muda kecil pulang sekolah?" Ujar Rojer bertanya pada Edent, tanpa mengalihkan pandangannya pada tablet yang di pegangnya.


"Tuan muda kecil pulang jam 12 siang tuan,, tingg...al 20 menit lagi." Jawab Edent dengan melihat jam tangannya.


"Baiklah.. Kalau begitu kita akan menjemput tuan muda kecil." Ujar Rojer meletakkan tablet di atas meja, dan bangun dari kursi kehormatannya.


"Tapi tuan,,, kita akan melakukan konprensipers untuk masalah ke kemarin di hotel astrea.!" Ujar Edent mengingatkan kegiatan Rojer hari ini.


"Kosongkan semua jadwal ku hari ini, dan untuk konprensi pers biarkan divisi informasi yang menanganinya.!" Ujar Rojer memakai jasnya.


"Tapi tuan muda,, hal itu pasti akan menyinggung pihak asing dan media akan memunculkan kabar yang bukan- bukan di karnakan tidak kehadiran tuan." Edent menyakinkan.


"Kamu bekerja untukku atau untuk siapa Edent?? Aku tidak memberimu hak untuk berkomentar dan menyangkal perintahku. Aku ingin menjemput putraku sekarang. Dan itu akan terjadi." Ujar Rojer dengan ketus. Membuat Edent tidak mau lagi mengeluarkan pendapatnya dan langsung melaksanakan perintah Rojer, sesuai dengan yang di perintahkan.


...----------------...


Tak butuh waktu lama untuk sampai di sekolah Charlote. Kini Rojer sudah berdiri di depan gerbang sekolah, menunggu kehadiran Charlote.


Tampak dari kejauhan Charlote kecil yang sedang berjalan, dengan tas ransel yang di pikulnya dan topi pet yang di kenakannya.


Melihat kehadiran Charlote, Rojer tersenyum bahagia. Rasa penat dan lelah yang di rasakan karna pekerjaan hilang seketika ketika melihat buah hatinya yang tersayang.


Sementara itu Charlote sangat senang melihat Rojer menjemputnya. Ia juga sangat merindukan Rojer. Ia tidak menyangka hari ini Rojer menjemputnya pulang sekolah.


"Papa...!" Panggil Charlote melambaikan tangan pada Rojer. Mendengar panggilan Charlote, Rojer melambaikan tangannya membalas lambaian tangan Charlote.


Charlote berlari dan memeluk Rojer penuh dengan rasa rindu.


"Apa kabar kesayangan papa??" Ujar Rojer melepas pelukan Charlote.


"Aku baik- baik saja. Aku sangat merindukan papa." Ujar Charlote.


"Papa juga sangat merindukan pangeran kecil papa.. hmm" Jawab Rojer. lalu mengecup kening Charlote.


"Kita pulang!!" Ajak Rojer pada Charlote, yang lansung di angguki oleh Charlote.


...----------------...


"Charlote bagaimana sebelum pulang kita jalan- jalan dulu?" Ajak Rojer, ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama Rojer.


"Dengan senang hati pa...hee.." Jawab Charlote dengan antusias.


"Edent kita ke mall!!" Titah Rojer.


"Baik tuan.." Jawab Edent, melajukan mobilnya ke pusat perbelanjaan kota x.

__ADS_1


...----------------...


"Wow.. pa.. aku senang sekali hari ini,, bisa berbelanja bersama dengan papa" Ujar Charlote dengan senang. Setelah memilih dan membeli semua keinginan Charlote. Rojer juga ikut bahagia melihat Charlote senang.


"Charlote,, ngomong- ngomong mama suka apa ya??" Tanya Rojer pada Charlote, saat melewati toko perhiasan. Rojer juga ingin tahu apa yang di sukai atau tidak oleh Maura dengan menggali informasi dari Charlote.


"Hmmm... mama.. tidak terlalu suka perhiasan pa... Mama lebih suka membeli pakain pribadinya pah.." Ujar Charlote menjelaskan.


"Ha..ha.. oh ya.. Bagaimana kalau kita belikan buket bunga untuk mama??" Tanya Rojer meminta pendapat Charlote. Saat mereka tidak sengaja melewati toko bunga. Menurut Rojer semua wanita menyukai bunga, mereka suka hal- hal yang romantis. Jadi ia menyimpulkan untuk membeli buket bunga untuk Maura.


"Boleh juga. Aku juga tidak pernah melihat mama meletakkan bunga di rumah." Charlote menyetujui ide Rojer.


"Mrs.satu buket besar, bunga mawar merah yang masih segar." Ujar Rojer memesan pada pedagang bunga.


"Siap pak." Ujar pedagang itu, lalu menyerahkan sebuket besar mawar merah pada Rojer.


"Edent... bawa ini!" Perintah Rojer, lalu menyerahkan buket itu pada Edent. Buket bunga itu benar- benar menghalangi Edent untuk melihat jalan, karna ukurannya yang sangat besar.


Di sisi lain tampak beberapa orang misterius sedang memperhatikan gerak gerik Rojer dari kejauhan.


"Target di temukan tuan" Ujar salah satu dari mereka melapor pada atasannya menggunakan walkie- talkie.


"Laksankan." Aba- aba dari seberang.


"Laksanakan" Ujar pria itu mengerti.


...----------------...


Dor...( suara tembakan)


Suara tembakan terdengar jelas, Melihat seseorang misterius menembak peluru pada dirinya. Rojer dengan sigap mengkelit dari arah peluru. Hingga peluru itu menggores lengan kirinya, yang sebelumya bertarget ke arah jantungnya. Melihat ada serangan tiba- tiba Edent mengeluarkan pistolnya. Sementara Rojer berusaha melindungi Charlote yang sedikit kaget dan ketakutan dengan apa yang terjadi.


6 pria misterius menggunakan baju serba hitam, keluar dari persembunyiaanya dengan menodongkan senjata api pada Rojer dan mengepung Charlote dan Rojer, dari segala arah. Serangan tiba- tiba itu membuat Rojer sedikit khawatir karna ia membawa Charlote bersamanya.


"Turunkan senjata kalian dan ankat tangan!!" Ujar salah satu pria misterius itu. Edent dan Rojer saling memandang satu sama lain, dan Edent mengangguk mengeti isyarat dari tatapan Rojer.


Edent menurunkan senjatanya, dan mengangkat tangan begitu pula dengan Rojer. Sementara Charlote terus bersembunyi di belakang Rojer.


Pria- pria misterius itu mendekat dengan perlahan sambil menodongkan pistol mereka. Dengan cepat Rojer menekan tombol pulpen yang ada di saku jasnya, yang akan otomatis meminta bantuan kepada pengawal Rojer. Rojer sengaja mendesain alat bantu itu seperti pulpen agar musuh tidak mengetahui hal tersebut.


Tak sampai hitungan detik, beberapa pria dengan baju formal keluar dari persembunyian mereka, sambil menodongkan senjata mengepung pihak musuh yang sedang mengepung Rojer. Mereka adalah pengawal rahasia Rojer, yang mengikuti Rojer kemana pun Rojer pergi dengan bersembunyi, sehingga musuh akan mengira Rojer tidak membawa pengawalnya. Rojer tahu akan ada hal- hal seperti ini jadi dia selalu membawa pengawal rahasianya, yang dengan satu klik tombol akan muncul seketika.


Musuh Rojer tidak mengira bahwa ternyata Rojer membawa pengawalnya, dan kini mereka yang malah terkepung.


Melihat salah satu pihak musuh hendak menembak Charlote, Rojer menendang tangan pria itu, hingga pistolnya jatuh ke lantai dan Rojer menekuk tangan pria itu kebelakang. Melihat hal itu pengawal Rojer yang seakan mendapat aba- aba dari komandannya. Mereka menyerang pria misterius itu. Pergulatan perkelahian tidak dapat terelakkan. Pengawal Rojer dan pria misterius itu saling menghujamkan tinjuan- tinjuan maut mereka.


Rojer yang melihat Charlote yang sedang ketakutan di tengah- tengah perkelahian, langsung mengendongnya dan pergi dari tempat itu menuju tempat yang aman.


...----------------...

__ADS_1


Charlote melihat lengan Rojer yang terluka dan memgeluarkan darah, membuatnya sangat khawatir dan cemas dengan keadaan Rojer.


"Pa.. papa terluka... hiks hiks..." Tangis Charlote melihat darah yang mengalir dari luka Rojer.


"Ini hanya luka kecil hmm.. papa tidak apa- apa.. jangan menangis. Anak laki- laki tidak boleh menangis" Ujar Rojer menenangkan Charlote. Lalu masuk ke mobilnya, dan menginjak gas mobil berlalu dari tempat itu.


...----------------...


Kini Rojer dan Charlote sampai di rumah Maura. Wajah Charlote yang sembab karna habis menangis karna ketakutan dengan kejadian itu, serta lengan kiri Rojer yang terluka dan mengeluarkan darah.


Tok...tok( suara ketuk pintu)


Rojer mengetuk pintu sambil tangan kanannya mengendong Charlote. Maura membuka pintu, matanya langsung membulat sempurna melihat kondisi Charlote dan lengan Rojer yang berdarah.


"Apa yang terjadi padamu sayang??" Tanya Maura mengambil Charlote dari gendongan Rojer dan mengendongnya. Ia memeriksa tubuh Charlote, memastikan tidak ada yang terluka.


"Kenapa kamu bisa seperti ini katakan apa yang terjadi??" tanya Maura pada Charlote dengan nada khawatir.


"Ma.. mama... hiks.. hiks..." Tangis Charlote pecah dalam gendongan Maura, membuat Maura semakin khawatir pada Charlote.


"Maafkan aku Maura,,, musuh bisnisku telah menyerangku saat aku dan Charlote sedang di mall. aku tidak tau semua ini akan terjadi." Ujar Rojer dengan nada bersalah dan meminta maaf pada Maura.


"Sudah ku katakan Charlote tidak akan aman bersamamu. Lihatkan kondisinya sekarang dia begitu ketakutan karna musuh bisnismu itu." Ujar Maura marah, menyalahkan apa yang terjadi karna Rojer.


"Ma... hiks...hiks.. aku tidak apa- apa.. Papa melindungiku dengan baik. Lihatlah lukanya ma..papa berdarah..." Ujar Charlote membela Rojer dengan menunjukkan luka di lengan kiri Rojer, dan turun dari gendongan Maura.


"Dengar papa tidak apa- apa sayang.. ini hanya luka kecil akan sembuh beberapa hari, Charlote tidak usah khawatir oke.. Maafkan papa ya sayang untuk hari ini." Ujar Rojer menenangkan Charlote yang masih khawatir dengan lukanya.


"Baiklah kalau begitu. aku pulang dulu Maura." Ujar Rojer pamit untuk pulang pada Maura, yang tidak di respon sama sekali oleh Maura.


Charlote memegang tangan Rojer erat, menghalangi Rojer untuk pulang.


"Pa.. tetaplah di sini. Papa sedang terluka.. menginaplah di sini. Aku tidak bisa melihat papa terluka seperti itu." Renggek Charlote pada Rojer. Mendengar permintaan Charlote, Rojer memandang Maura meminta persetujuan, tapi Maura malah membuang muka.


"Papa tidak bisa menginap di sini.. mama mu tidak mengizinkan papa untuk tetap di sini." Ujar Rojer dengan nada sedih. Charlote memandang Maura yang membuang muka.


"Mama... izinkan papa menginap disini.. aku mohon.. papa sedang terluka. Apa mama tega membiarkan papa pulang dengan kondisi seperti ini." Renggek Charlote dengan memasang puppy eyesnya. Yang membuat Maura tidak dapat menolak permintaan Charlote. Maura juga tidak tega melihat luka Rojer. Ia juga sangat khawatir akan hal itu. Entah apa yang terjadi pada dirinya sehingga ia menghawatirkan keadaan Rojer.


"Baiklah.." Ujar Maura menghembuskan nafasnya.


"Makasih ma... pa.. ayo masuk!!" Ujar Charlote, mengajak Rojer masuk rumah dan duduk di sofa. Maura pun menutup pintu rumah.


...----------------...


...****************...


to be continud❤


please tinggalin koment dong

__ADS_1


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit


dukung author biar bisa up terus.


__ADS_2