Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
144


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 144...


Sorot mata greyly, menatap fokus pada layar komputer di depan nya.


Sementara jari- jari nya menari cepat di atas Keybord.


Saat bekerja bersama Charlote, tuan kecil nya itu mengatakan jika diri nya memakai sebuah chips pada setiap sepatu yang di pakai.


Chips yang terhubung dengan komputer yang sedang di operasikan Greyly.


Tuan kecil nya itu sengaja melakukan nya. Untuk mengantisipasi jika ia menghilang suatu saat nanti.


"Ketemu....!!!" Teriak Greyly dengan mata berbinar. Untung saja ingatan nya mengingat hal ini.


Teknologi yang di gunakan tuan kecil nya itu sungguh sangat bermanfaat di saat- saat genting seperti ini.


Greenly dan Edent langsung mendekatkan pandangan nya pada komputer. Di layar tersebut terlihat berbagai bentuk garis dan bulatan seperti titik kecil yang berkedip.


"Lihat, ini adalah tuan kecil... Ia sempat memberi tahu ku... Jika ia memasang sebuah chips pada setiap sepatu yang ia pakai. Dan terhubung dengan komputer ini. Dia sengaja melakukan nya untuk mempermudah untuk menemukan diri nya jika suatu saat dia menghilang... Bisa di katakan ini upaya antisipasi..."Jelas Greyly dengan bangga.


"Wow... Ternyata tuan sangat hebat..." Puji Greenly takjub.


"Lalu di mana posisi nya saat ini?" Tanya Edent tidak sabaran.


"Internasional Airport..." Jawab Greyly mantap.


"Apa...?? Untuk apa Tuan kecil dan Nyonya ke sana??" Tanya Edent dengan lirih.


Sejenak ia berpikir sebelum ia segera bergegas pergi. Seperti nya otak nya menangkap sinyal buruk yang berkaitan dengan keberadaan majikan nya.


...----------------...


Rojer mengerjap kan ke dua mata nya perlahan. Rasa pening yang terasa di kepala nya membuat penglihatan nya sedikit kabur.


Ada rasa perih yang di rasakan di bagian pelipis nya.


Setelah membentur sebuah mobil box, kesadaran nya menghilang begitu saja.


"Rojer...!!" Panggil Ny. Anindita panik, saat masuk ke dalam kamar Rojer.


Rojer mengedarkan pandangan nya, ke seluruh sudut ruangan. Ruangan yang dominan dengan cat warna putih dan juga bau obat- obatan.


"Aaagggrrrhh...." Ringgis Rojer kesakitan saat tidak sengaja menggerak kan tangan kiri nya, yang di balut dengan perban dan di pasang gift.


"Hentikan... Jangan bergerak dulu, kamu masih sakit sayang..." Ujar Ny. Anindita, saat melihat Rojer yang hendak bergerak.


Bak di sambar petir di siang bolong, Ny. Anindita begitu kaget, saat menerima telpon dari rumah sakit, yang mengatakan jika Rojer putra nya mengalami kecelakaan.

__ADS_1


Rasa nya jantung nya berhenti bekerja sejenak, dengan kabar yang ia terima dari ujung telpon.


Hati Ny. Anindita semakin terenyuh, saat ia memasuki kamar inap Rojer. Melihat kondisi putra nya yang terbilang cukup parah.


Luka di bagian pelipis dan juga tangan kiri Rojer yang patah, sehingga harus di pasang gift untuk beberapa hari ke depan. Sampai kondisi tangan Rojer membaik.


Belum lagi luka hati yang di derita putra nya, karna di tinggalkan oleh Maura. Membuat Ny. Anindita juga merasakan beban derita yang tengah di pikul Rojer.


"Aku harus segera menemukan Maura ma..." Lirih Roner dengan menahan sakit nya.


"Tidak... kamu tidak boleh kemana- kemana... Kamu baru saja mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawa mu...." Papar Ny. Anindita dengan air mata yang berderai di pipi nya.


"Aku harus segera menemui Maura... Aku tidak bisa seperti ini..." Balas Rojer, berusaha bangun dari baringan nya. Meski tubuh nya terasa remuk saat ini.


Tapi ia tidak ingin menyia- nyiakan waktu untuk tidak mencari Maura. Ia tidak peduli dengan rasa sakit nya. Ketakutan akan kehilangan di dalam hati nya, jauh lebih besar dari pada luka- luka ini.


Klek...


Suara pintu kamar inap Rojer terbuka.


Ny. Anindita dan Rojer menoleh bersamaan ke arah pintu.


Dari balik daun pintu, Tampak sosok Edent memasuki kamar dengan panik dan cemas. Hal itu terbukti dari nafas nya yang tidak beraturan, seperti dia habis selesai melakukan lari maraton.


"Tuan muda.... Apa anda baik- baik saja..??? Kenapa bisa seperti ini Tuan...??? Apa ada yang sengaja mencelakai anda...??" Ujar Edent dengan pertanyaan - pertanyaan nya yang beruntun.


"Pertanyaan apa itu?? Yang jauh lebih penting, jawab lah pertanyaan ku ini..." Suara Rojer tertahan. Bola mata Rojer memutar malas, saat melihat asisten nya sangat khawatir pada nya.


"Apa kamu sudah menemukan Nyonya Maura dan Tuan kecil?" Tanya Rojer dengan serius.


Bahkan aura di sekitar Edent berubah menjadi cukup menusuk.


"Saat ini mereka ada di bandara Tuan muda... Saya sejak tadi menelpon anda untuk memberitahukan hal ini... Tapi karna kecelakaan ponsel anda tidak bisa di hubungi...." Jelas Edent dengan menunduk.


Ia hampir lupa, untuk mengirim beberapa anak buah nya ke bandara. Karna kabar kecelakaan Rojer, ia sangat panik dan cemas dan langsung datang ke rumah sakit.


Jeduar....


Bagai di sambar petir, hati Rojer semakin kalut dan takut.


Kata bandara terus mengiang di kepala nya.


Mimpi buruk nya selama ini seakan kini menjadi nyata.


"Dia meninggalkan ku...."


"Maura meninggalkan ku..."

__ADS_1


Lirih Rojer dengan suara yang bergetar. Tatapan nya menatap ke depan dengan tatapan kosong.


Ny. Anindita sangat kecewa dengan keputusan menantu nya. Ia sungguh menyesal telah melakukan semua kebohongan ini. Seharus nya ia berpikir apa akibat nya jika ingatan Maura kembali.


Mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Rojer memejam kan mata nya. Menghembuskan nafas nya perlahan.


Ia tidak boleh kalut sekarang, ia harus bisa menemukan istrinya sekarang. Meski ia harus mengelilingi dunia ini untuk menemukan Maura.


Setidak nya, ada harapan bagi dirinya. Untuk bisa menemukan Maura. Setelah bertemu dengan Maura, ia akan membujuk nya dan membawa nya pulang, Pikir Rojer.


Rojer turun dari ranjang, yang langsung di hentikan oleh Ny. Anindita dan Edent.


"Apa yang kamu lakukan Rojer??" Ucap Ny. Anindita.


"Tuan anda belum sembuh??" Pangkas Edent panik, melihat Rojer.


"Jangan menghalangi ku... Aku harus ke bandara... Kita tidak punya waktu untuk berdiam diri..." Papar Rojer keras kepala.


"Bagaimana kamu bisa mencari Maura jika kondisi mu seperti ini Rojer... Kamu harus sembuh dulu..!! Biarkan Edent yang mengurus semua nya..!!" Bentak Ny. Anindita kesal, melihat tingkah keras kepala putra nya.


"Edent beri tahu kepada tuan mu ini,, jika kamu sudah mengirim anak buah mu ke bandara untuk mencari Maura...!!!" Lanjut Ny. Anindita dengan menatap Edent tajam.


Edent menghela nafas nya sebelum menjawab Ny. Anindita.


"Maaf Nyonya besar. Karna mendengar kabar kecelakaan Tuan muda... Saya tidak sempat untuk mengirim anak buah saya ke bandara..." Timpal Edent tegas tanpa ada rasa takut, meski ia tahu jika ia telah lalai dalam menjalankan tugas.


" Mama dengar... Aku tidak bisa mempercayai siapapun.. Jika ini bersangkutan dengan Maura..." Cecar Rojer, lalu melangkah pelan, keluar dari kamar inap rumah sakit.


Edent segera mengekor di belakang Rojer. Ia tidak akan bisa menahan Rojer, jika tuan nya itu sudah bertekad.


Sementara Ny. Anindita mendengus kesal dengan tingkah keras kepala putra nya.


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit

__ADS_1


__ADS_2