
...ILUSI TAKDIR 136...
"Grand ma... Ini apa- apan sih..." Dengus Charlote dengan mendelik kan matanya.
"Aku hanya pergi untuk satu hari, kenapa harus membawa sepuluh koper sekaligus. Aku tidak akan tinggal selama nya Grandma di sana. Terus kulkas juga. Aku tidak memerlukan itu.. Grand ma sangat berlebihan sekali..." Lanjut Charlote dengan tangan menunjuk beberapa koper di samping Ny. Anindita.
Ny. Anindita mengalih kan pandangan nya ke arah tangan Charlote.
"Ha... ha.. Astaga..." Ny. Anindita langsung cengengesan saat melihat di samping nya, dimana beberapa koper yang sudah menumpuk.
Ia benar- benar tidak menyadari akan hal itu. Saking repot nya memikirkan apa yang perlu di bawa cucu nya. Sampai diri nya terus mengemas barang- barang Charlote yang menurut nya sangat berguna untuk cucu kesayangan nya.
Charlote menggerak kan ke dua alis nya, dengan kepala yang menggeleng pelan. Saat melihat nenek nya tertawa karna kelakuan nya sendiri. Ia tahu wanita paruh baya dengan posisi sebagai nenek nya ini sangat menyanyangi diri nya. Tapi ia juga tidak perlu membawa barang- barang sebanyak ini untuk ke puncak.
"Wow... ma... Kenapa banyak sekali koper di sini?" Tanya Maura dengan membawa segelas susu di tanga nya. Dan langsung menyodor kan nya pada Charlote.
"Grand ma mengemas barang- barang ku untuk acara besok.. Tapi lihat lah apa yang di lakukan Grand ma.. Dia hampir mengemas semua barang- barang ku.. Malah juga akan mengemas sebuah kulkas untuk di bawa ke puncak... Hhh..." Jelas Charlote dengan meminum susu nya. Sementara Ny. Anindita yang adukan hanya tersenyum.
Maura langsung tertawa saat mendengar pernyataan putra nya.
"Hei... Grand ma hanya mengemas barang- barang yang kamu butuh kan... Grand ma tidak ingin kamu mencari sesuatu dengan kesulitan di sana..." Bela Ny. Anindita membela diri nya
"Tapi tidak seperti ini juga Grand ma... Kalau begini aku bisa bawa dua mobil untuk mengangkut nya..." Bantah Charlote dengan wajah lucu.
"Papa mu kan sultan, bahkan dia bisa membawa kamar mu juga.. Jika Grand ma menginginkannya..."
"Aaaaa Grand ma..." Charlote menekuk wajah nya kesal. Apa kata teman- teman nya nanti jika ia sampai membawa barang- barang sebanyak ini. Teman perempuan nya saja tidak akan membawa barang sebanyak ini. Bisa- bisa teman nya mengira dirinnya adalah anak mami jika begini.
"Ha... ha... Sudah lah... Sudah lah.. Ma.. Benar apa yang di katakan Charlote.. Kami hanya pergi untuk satu hari. Kami tidak akan membutuh kan semua ini ma... Jadi kami hanya akan membawa sedikit barang yang kami perlukan saja. Mama jangan khawatir aku akan menyiapkan semua nya untuk Charlote... Atau besok Mama ikut saja bersama kami.?" Sela Maura di tengah- tengah perdebatan antara cucu dan nenek.
"Aaa... Tidak... Tidak... Besok mama akan pergi mengunjungi salah satu teman mama... Kalian nikmati lah keseruan kalian di sana... Baik lah mama akan berhenti menyiap kan barang- barang Charlote... Apa sekarang kamu senang...?" Ny. Anindita langsung mengibas kan tangan nya saat di tanya ingin ikut. Lalu melempar pertanyaan pada Charlote dengan memicing kan mata.
__ADS_1
"Tidak... Tapi aku sangat senang mempunyai grand ma seperti grand ma..." Ujar Charlote merayu ny. Anindita, dan langsung memeluk sang nenek erat. Ia tidak ingin nenek kesayangan nya ini sampai tersinggung dengan keinginan nya. Hanya saja membawa barang- barang banyak ke acara satu hari sungguh sangat berlebihan bukan.
"Uuuu...." Ny. Anindita membalas pelukan hangat cucu nya sebelum ia berlalu menuju kamar nya.
...----------------...
Waktu begitu cepat berlalu, tidak ada yang bisa menghentikan waktu.
Semua nya hanya mengikuti setiap deretan moment yang di tinggalkan waktu sebagai kenangan.
Di pelataran rumah megah keluarga Wang. Edent dan Freya sibuk memasuk kan tiga koper ke dalam mobil.
Sementara Charlote, Maura dan Rojer hanya berdiri menunggu pekerjaan pegawai nya selesai.
Dari arah dalam rumah keluar Ny. Anindita dengan berlari ke arah putra dan cucu nya. Di tangan nya terlihat sebuah paper bag yang mengayun seirama dengan derap langkah nya.
"Kalian melupakan ini... Hu. ha..." Ujar Ny. Anindita saat sudah berdiri di depan putra dan cucu nya, sambil menyodor kan paper bag yang di bawa.
Maura mengambil paper bag tersebut, dan melihat apa isi nya.
"Makanan..." Timpal Maura singkat.
"Eeee... Grand ma... Makanan yang kami bawa sudah sangat banyak Grand ma... Kenapa grand ma tambah lagi... Sekalian saja Grand ma bungkus restoran nya..." Ujar Charlote dengan greget pada nenek nya. Nenek nya itu sudah menyiap kan makanan dengan berbagai jenis. Dan saat mereka akan berangkat dia malah memberikan lagi.
"Tidak apa- apa sayang... Nanti kamu bisa membagi kan nya dengan teman- teman mu kan... Edent bawa makanan ini..." Sela Rojer dengan tersenyum. Lalu menyerahkan paper bag tersebut kepada Edent.
"Ya sudah... Kalian baik- baik di sana... Nikmati perjalanan kalian... !!" Seru Ny. Anindita dengan bersemangat.
"Yes mam..." Timpal Rojer dengan memeluk ibu nya singkat.
...----------------...
__ADS_1
Perjalan mereka begitu terasa sangat singkat. Kini Rojer, Maura dan Charlote sudah berada di puncak. Mereka sibuk memasang tenda bersama orang tua siswa lain nya.
"Duduk lah di sana sayang... Biar aku yang memasang tenda nya..." Titah Rojer pada Maura.
"Tidak... Baby... Aku ingin menikmati moment ini bersama mu... Entah kapan lagi aku bisa memasang tenda kan.." Tolak Maura dengan tangan nya yang lihai merakit tenda untuk bermalam mereka.
Edent tersenyum melihat pemandangan yang harmonis di depan nya. Seumur hidup tuan nya itu baru pertama kali merakit tenda dan akan tidur di sana. Tapi dari yang di lihat Edent. Rojer tidak sama sekali mengalami kesulitan saat merakit tenda. Karna sebelum nya diri nya sudah memberikan panduan merakit tenda untuk majikan nya tersebut.
Udara sejuk puncak begitu terasa. Membawa mu terbang bersama dengan landai. Beberapa event dari panitia sudah di laksanakan. Mulai dari lomba family, kegiatan anak- anak dan orang tua, hingga makan siang bersama.
Maura menapak kan kaki nya di sekitaran tanah yang menanjak. Dengan pemandangan hijau di depan nya yang memanjakan mata.
Maura menghirup dalam udara yang begitu sejuk dan bersih. Udara yang tidak akan di dapat kan saat berada di kota.
Siang telah berlalu, dengan malam yang kini meliputi bumi. Di langit tergantung sempurna bulan sabit dengan beberapa bintang yang bisa di hitung. Menambah suasana benar- benar terasa sunyi.
Maura merentang kan tangan nya lebar- lebar, menikmati hembusan angin yang membelai tubuh nya.
Dari arah belakang Rojer berjalan mendekat ke arah Maura.
Melepas mantel yang di kenakan nya dan menyelimuti tubuh Maura yang hanya memakai gaun lengan panjang selutut. Lalu memeluk erat tubuh tersebut dari belakang.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
__ADS_1
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit