Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
89


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 89...


Mobil mewah Rojer sudah berhenti di depan hotel ASTON. Maura mengedarkan pandanganya. Hotel yang sangat indah dan megah. Mulai dari arsitektur bangunan dan juga furniture- furniture yang di gunakan.


Edent dan seorang pengawal langsung berlari membukakan pintu untuk Maura dan Rojer. Rojer turun dari mobil dengan mengendong Charlote. Charlote menggeliat pelan, namun sepertinya matanya tidak ingin terbuka. Ia lebih ingin kembali menikmati nyamannya bahu Rojer yang hangat. Maura mengelus kepala Charlote, menenangkan agar tidurnya kembali nyenyak.


"Selamat datang Tuan Rojer..." Sambut direktur hotel yang tiba- tiba menghampiri mereka. Rojer hanya mengangguk tanpa memberikan ekspresi apa pun.


"Nyonya... Selamat datang... Silahkan...." Ujar direktur hotel pada Maura, yang di respon dengan senyum manis dan anggukan.


"Dasar pria tidak berperasaan... Apa salahnya jika tersenyum sedikit saja pada orang lain... Hhhh orang kaya memang semena- mena..." Batin Maura melihat sikap Rojer yang dingin pada direktur hotel.


"Senyum ku terlalu mahal untuk di tunjukkan kepada sembarang orang..." Ujar Rojer, seakan- akan bisa membaca pikiran Maura.


Maura mengerutkan dahinya, darimana Rojer bisa tahu apa yang di pikirkan. Sepertinya dia juga bisa menjadi cenayang juga.


"Heh... Kenapa dia bisa mengetahui apa yang aku pikirkan ?..." Batin Maura sedikit terkejut.


"Hhhh bukan senyum mu yang mahal, tapi memang kamu yang terlalu pelit, hanya untuk tersenyum pada orang lain..." Timpal Maura dengan memutar matanya kesal. Sementara mereka terus berjalan melewati lorong untuk sampai ke kamar hotel yang telah di siapkan.


"Pelit??... Ha...ha... Sungguh ? jika aku orang yang pelit kamu pun tidak bisa melihat senyum ku... Jangan kan senyum, bahkan sekarang kamu bisa melihat ku tertawa..." Ujar Rojer lagi.


"Terserah lah... Lagi pula aku tidak peduli..." Maura memasukkan kunci kamar dan membuka pintu. Aroma terapi yang merilekskan, menerpa indra penciumannya. Rasanya sangat menyegarkan.


Kamar yang dominan dengan warna putih dengan paduan warna coklat susu. Benar- benat menambah kesan glamor hotel meski sangat sederhana.


Rojer masuk dan menidurkan tubuh Charlote di atas ranjang tidur. Ia melirik ke arah Maura, yang sudah berdiri di balkon dengan rambut yang terbang tertiup angin. Rojer menghampiri dan berdiri di ambang pintu. Memperhatikan setiap gerakan dan mimik wajah Maura yang terlihat tenang. Maura terlihat sangat cantik di mata Rojer. Ia merasa tidak salah memilih seorang wanita.


"Kamu begitu cantik Mau... Rambut mu yang hitam sedikit kemerahan, dengan gelombang seperti ombak di lautan. Aroma melati yang begitu menenangkan dan menjadi candu untuk ku... Kamu seperti bidadari yang di hadirkan dalam hidup ku... Kamu penuh dengan seribu kebaikan.. Terlihat sangat kuat seperti karang, tapi begitu rapuh ketika di sentuh. Lebih rapuh dari pada kertas yang terbakar menjadi abu. Entah kebaikan apa yang pernah ku lakukan di kehidupan ku terdahulu. Hingga tuhan menghadirkan mu dalam hidup ku. Aku berjanji akan menggenggam mu erat dan tidak akan pernah melepas mu..." Batin Rojer, ia mendekat ke arah Maura, dan mengalungkan tangannya dengan sempurna di pinggang Maura. Yang membuat tubuh Maura terkejut dan tersentak karna sentuhan tiba- tiba dari Rojer.


"Maafkan aku Mau... aku benar- benar sangat mencintai mu sayang... Kali ini maafkan aku... Kamu sudah cukup membuat ku menderita dengan kemarahan mu. Kamu tahu, aku tidak bisa berpikir dengan rasional selama dua hari ini. Lebih baik aku mati dari pada menanggung amarah mu..." Bisik Rojer pada Maura, ia menenggelamkan kepalanya di leher Maura dan memejamkan matanya. menghirup dalam- dalam aroma yang selalu membuatnya merasa nyaman dan rileks. Maura seakan menjadi obat penenang baginya.


Maura menggeliatkan tubuhnya. Berusaha melepas pelukan tangan Rojer, yang semakin mengerat di pinggangnya.

__ADS_1


"Lepaskan.... Lepaskan Aku...!" Ujar Maura dengan sesekali mencubit tangan Rojer, yang terus menempel di pinggangnya.


Rojer melonggarkan pelukannya, hingga Maura berbalik menghadapnya. Jarak mereka begitu dekat hingga mereka bisa mendengar detak jantung satu sama lain.


Maura menjauhkan wajahnya, membuat jarak antara dirinya dan Rojer. Tapi sepertinya Rojer tidak ingin melepaskan Maura. Ia kembali mengeratkan pelukan tangannya di pinggang Maura dan semakin mendekatkan tubuh Maura pada tubuhnya.


"Aku bilang lepaskan... Apa telinga mu tidak berfungsi dengan baik. Atau kamu tuli, lepaskan tangan mu sekarang...." Ujar Maura dengan ketus dan memasang ekspresi kesal.


"Hhhh... Kehadiran nya di sini, tidak bisa membuat ku menikmati waktu dan pemandangan sebentar saja... Dia terus saja menempel dan menganggu ku... Charlote kenapa kamu menghukum mama dengan mengajak bayi besar arrogant ini." Batin Maura dengan terus memberontak.


"Kenapa kamu terus memberontak?. Tenanglah, aku tidak akan memakan mu.. Oke.. Diamlah sebentar saja. Berikan aku energi untuk bertahan hidup. Jika tidak aku akan mati-" Ujar Rojer dengan sedikit kecewa, dengan sikap Maura. Yang terus menggeliat seperti cacing kepanasan untuk terlepas dari pelukannya.


Mendengar sumpah serapah Rojer, Maura menutup mulut Rojer dengan tangannya. Ia mungkin masih marah pada pria di depannya. Tapi tetap di lubuk hatinya, ia tidak pernah menginginkan hal buruk terjadi pada Rojer apa lagi berhubungan dengan kematian. Mungkin saat itu terjadi dia akan lupa bagaimana cara bernafas.


"Diamlah...!!" Ucap Maura dengan menekuk wajahnya dalam dan menggelengkan kepalanya, memberi isyarat untuk tidak mengatakan hal- hal buruk seperti itu lagi.


Rojer tersenyum tipis saat tangan Maura menyentu bibirnya. Rasanya ada ratusan kupu- kupu yang mengerayani tubuhnya. Maura menurunkan tangannya, dan menghela nafas.


"Lihatlah, kamu masih sangat peduli dengan ku... Kamu bahkan tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada ku..." Lirih Rojer sambil mengelus pipi lembut Maura, yang seketika memerah.


Deg..


Deg..


Degup jantung Maura berdegup dengan cepat. Wajahnya terasa panas dengan sentuhan lembut Rojer. Pikirannya ingin segera menepis tangan itu. Tapi, sepertinya tubuhnya menolak untuk melakukan itu. Rasanya begitu nyaman dan hangat di belai dengan lembut oleh tangan besar Rojer.


"Jangan GR kamu... Aku hanya tidak ingin putra ku menjadi yatim, karna papanya meninggal...." Timpal Maura dengan ketus, dan sedikit menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona persis seperti tomat matang.


"Jangan sungkan... Apa kamu tidak lelah menyembunyikan perasaan mu pada ku... Kamu terus mencari alibi, untuk menyangkal perasaan mu pada ku... "


"Ini bukan alibi atau alasan tapi kebenaran yang harus kamu dengar. Aku tidak peduli dengan hidup mu... Toh aku juga bisa menghidupi Charlote dan menjaganya. Aku bisa menjadi ibu sekaligus ayah untunya. Lagian selama ini memang begitu kan..."


Mendengar perkataan Maura, seperti ada ratusan petir yang menyambar Rojer. Hatinya seakan remuk di remas dan di keluarkan dari tubuhnya. Begitu sakit, hingga tidak bisa di ungkapkan. Rojer menelan ludahnya paksa. Berusaha untuk tidak terpengaruh dengan ucapan Maura yang begitu pahit dan menyakitkan.

__ADS_1


"Jika memang begitu, katakan dengan menatap ku... Kenapa kamu hanya menunduk... Angkat wajah mu dan tatap aku. Katakan jika kamu tidak pernah mencintai ku, dan hidup ku tidak berarti untuk mu. Kamu tidak peduli jika aku hidup atau mati..." Ujar Rojer dengan penuh penekanan dan emosi kesedihan yang terkandung di dalam kata- katanya.


Maura terkesiap. Ia tidak bermaksud mengatakan itu semua. Tapi bibirnya tidak bisa terkontrol. Tadinya ia ingin mencairkan suasana yang begitu intens antara dirinya dan Rojer. Tapi sepertinya bibirnya ini mengeluarkan kata- kata yang tidak seharusnya.


"K... Kamu.... ahhh sudahlah... Aku tidak ingin menatap wajah mu yang penuh dengan kebohongan itu. Sudah cukup kamu mematahkan hati ku... Dan aku tidak akan terjerat dengan sihir mu lagi... Lepaskan,, aku ingin mandi..." Timpal Maura dengan terbata- bata. Hal yang di ucapkannya tadi membuat dirinya salah tingkah dan terlihat kaku. Hatinya merasa bersalah telah mengatakan hal yang begitu kejam pada pria di depannya. Jika bisa ia ingin menarik semua yang di katakannya tadi. Tapi rasanya tidak mungkin egonya terlalu besar untuk mengatakan hal itu.


Rojer mengendorkan pelukannya, dan membiarkan Maura pergi dan menghilang di balik pintu kamar mandi. Ia masih memandangi pemandangan senja yang begitu indah.


"Meski mulut mu mengatakan tidak. Tapi aku yakin hati mu mengatakan iya. Aku tahu kamu sangat mencintai ku, sebesar diri ku mencintai mu... Tapi ego mu jauh lebih besar, hingga menghalangi mu untuk mengatakan hal itu Mau. Kamu bisa mengatakan hal sepahit itu, tapi aku yakin tindakan mu akan berbanding terbalik. Ini semua karna aku Maura, salah ku karna aku telah mengecewakan mu, membuat diri mu sedih. Aku pantas untu mendapatkan ini..." Gumam Rojer pada dirinya sendiri, sedangkan tangannya memegang erat pinggiran balkon dengan sangat erat, hingga membuat buku- buku tangannya memutih.


Rojer berjalan mendekati Charlote yang masih tertidur pulas. Wajahnya begitu tenang bergelut dengan alam mimpinya. Bibirnya yang indah dengan pipi yang chuby, terlihat sangat manis. Rojer merasa melihat jelmaan dirinya waktu kecil pada diri Charlote. Rojer mencium setiap bagian wajah Charlote dengan lembut.


"Sayang,,, putra papa... Maafkan papa sudah membuat mama mu sedih hmmm... Tapi papa janji tidak akan mengulanginya lagi... Dan maaf papa tidak bisa berada di samping mu waktu kamu kecil. Tapi papa janji sayang, papa akan memberikan mu seluruh kebahagian di dunia ini..." Lirih Rojer, sambil mengelus pucuk kepala Charlote. Ia menyelimuti tubuh mungil Charlote, dan berjalan ke luar dari kamar.


...----------------...


"Sayang... Kenapa kamu bisa seperti ini, sangat memperihatinkan...." Ujar Ny. Anindita panik saat memasuki kamar inap Catlin. Ia tidak menyangka menantunya yang selalu tampil cantik, saat ini kondisinya begitu memprihatinkan.


"Semua ini karna wanita murahan itu..!!!" Timpal Ny. Aurora yang duduk di sofa dengan berapi- api saat melihat Ny. Anindita datang.


"Sebenarnya, siapa wanita itu?. Beraninya dia melukai menantu keluarga Wang.. Dari mana dia datang ke pesta keluarga Shang, dan melakukan tindak kekerasan seperti itu..." Wajah Ny. Anindita berubah menjadi nyalang, dan kesal. Ia tidak bisa menerima menantunya di hajar oleh wanita jalanan itu.


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤


please tinggalin koment dong

__ADS_1


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit


__ADS_2