Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
121


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 121...


Greenly menyeret tubuh Catlin dengan kasar. Tangan dan kaki wanita itu di ikat dengan lakban. Begitu pula dengan mulut nya.


"Hmmm... hmmmm" Ronta Catlin. Namun tangan kekar Greenly bukan lah tandingan tenaganya. Selain kuat laki- laki ini pandai bela diri. Itu lah yang di pikirkan Catlin saat ini.


Greenly menghempas tubuh Catlin hingga tersungkur di lantai.


Catlin mengedar kan pandanganya pada ruangan yang berlampu jingga dengan pencahayaan sedikit redup.


Ctak..


Ctuk..


Ctak..


Ctuk...


Catlin mendongak kan kepala nya menatap seseorang yang tengah memainkan saklar di tangannya. Menyalakan dan mematikan lampu yang berada di atas meja nakas. Sehingga membuat Catlin tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang tengah duduk di kursi tersebut.


"Siapa pun kamu... Aku akan membuat perhitungan dengan mu karna kamu telah berani memperlakukan ku seperti ini... " Batin Catlin dengan sumpah serapahnya. Sementara dirinya terus memberontak meski ia tahu jika hal tersebut akan sia- sia.


"Hmmm... Hmmm" Suara Catlin yang berusaha untuk berteriak, namun tertahan karna lakban yang menempel di bibirnya.


Greenly melepas kasar lakban yang menempel di bibir Catlin, membuat Catlin meringgis kesakitan.


"Auuu..."


Catlin mengibas rambutnya yang jatuh ke wajahnya. Ia ingin tahu seperti apa orang yang sudah berani melakukan semua ini.


"Pengecut... Hanya pengecut yang bisa menculik seorang wanita..." Hina Catlin, berusaha menarik kekesalan sang pengculiknya.


Sang penculik menghentikan aktivitasnya. Dan memecet satu saklar yang membuat seluruh lampu dalam ruangan menyala.


Ruangan yang tadi nya redup dengan cahaya, kini sudah terang benderang.


Catlin menggeretakkan giginya keras, dengan rahang nya yang sudah mengeras dengan sempurna. Saat ke dua matanya melihat siapa dalang di balik penculikan dirinya.


"Hallo tante... Senang bertemu dengan mu lagi..." Sapa Charlote dengan melempar tatapan menghina pada Catlin yang sedang berbaring tak berdaya di depannya. Dengan tangan dan kaki yang terikat lakban.


"Cih.. Ternyata bajingan kecil itu... Punya nyali juga dia menculik ku... Apa dia tidak tahu dengan siapa dia berurusan..." Batin Catlin saat mendengar sapaan dari keponakannya yang terdengar seperti hinaan.


"Ternyata kamu anak haram... Berani sekali kamu menculik ku... Lepaskan aku...!!!" Teriak Catlin dengan meronta ronta seperti cacing kepanasan yang membuat Charlote langsung tertawa terbahak- bahak.


"Ha... Ha... ha... Ha...."


Tawa Charlote membahana di dalam ruangan itu. Tawa yang lebih terdengar menyeramkan dari pada terdengar seperti tawa anak tujuh tahun.


"Ternyata tante maksud ku Catlin... Masih mengingat ku... Aku sangat tersanjung dengan kehormatan itu. Ternyata diri mu masih mengingat anak haram ini... Aku menjadi anak haram karna diri mu... Diri mu lah yang tega menjebak mama ku hingga rela menjual dirinya... Diri mu lah yang telah membunuh kakek ku... Kamu lah yang bertanggung jawab atas semua hal itu.." Bentak Charlote dengan garang. Ia berlutut di hadapan wajah Catlin. Memperhatikan wajah wanita yang sudah kabuti oleh kabut kemarahan yang tebal.


Charlote menatap Catlin dengan tajam, seakan ia akan mengelupas setiap kulit yang menempel di tubuh bibinya itu.


"Ha... ha... Kamu benar... Kamu sangat benar... Aku lah yang melakukan itu semua... Ha... Ha... Membunuh ayah tiri ku yang telah memungut aku dan ibu ku... Dan aku yang telah menghancurkan hidup saudari tiri ku yang sok cantik itu... Kamu tahu aku sangat senang dan bahagia melihat nya menderita. Menangis dan bersedih meratapi ayah nya yang sudah menjadi mayat... Kamu tahu waktu itu ibu mu sangat terluka... Di tambah lagi dengan kehadiran anak haram di rahim nya yang menjadi aib besar dalam hidup nya... " Cecar Catlin dengan tawanya yang tak kalah membahana.


"Cuh..." Charlote meludahi wajah Catlin. Ia tidak menyangka jika ada wanita yang begitu kejam seperti Catlin. Yang menghabisi orang yang sudah membantu nya tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Hatinya bukan hati manusia tapi hati iblis.


"Haha... Ha... Ha... Apa sekarang kamu marah hhh??? Apa yang bisa anak ingusan seperti mu lakukan... Menculik ku..?? Ha...ha... Kamu salah karna telah melakukan itu... Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada mu jika aku berhasil lepas dari sini."

__ADS_1


"Kamu terus membeo tanpa mengamati dan meneliti setiap kejadian yang terjadi pada diri mu tante..." Kini Charlote memasang smirknya.


Perkataan Charlote langsung membuat tawa Catlin terhenti. Catlin sepertinya berpikir apa yang di maksud bocah kecil di depannya. Yang memandangnya penuh dengan kemenangan.


"Hhhh... Kenapa tatapan anak ini menjadi begitu mengerikan... Tapi tidak aku tidak akan terlihat takut di hadapan bocah ingusan ini... Ia tidak akan bisa melakukan apa pun tanpa pengawalnya..." Batin Catlin dengan menelan salivanya paksa. Hatinya merasa tidak enak dengan tatapan Charlote yang sulit untuk di artikan. Bahkan bulu kuduknya berdiri dengan tatapan mengerika itu.


"A... Apa.. Maksud mu?" Tanya Catlin dengan terbata- bata.


Charlote semakin melebarkan smirknya. Saat mendengar wanita yang terus menghina dirinya terbata- bata.


"Hhhh... Kamu salah tante, karna menganggap ku sebagai bocah ingusan yang tidak tahu apa- apa. Aku lebih tahu semuanya dari pada diri mu.. Percayalah jika keponakan mu yang tampan ini sangat cerdas. Aku mengatakan semua hal itu, karna itu lah yang terjadi.


Kamu masih ingat saat aku mengatakan jangan pernah berani mengusik ibu ku.. Karna aku bisa melakukan hal yang akan membuat mu menyesal.


Dan lihat lah sekarang tante Catlin yang tersayang. Dimana diri mu.. Aku menculik mu,,, kamu dengar ...aku menculik mu... Ha...ha... Seorang anak laki- laki kecil menculik mu...


Kamu pasti berpikir jika bocah seperti ku tidak akan bisa melakukan apa pun... Baiklah mari kita tebak apa yang akan aku lakukan kepada mu..." Ujar Charlote panjang lebar dengan menunjuk lemari kaca yang menempel pada salah satu dinding ruangan.


Lemari kaca tipis yang berisi berbagai macam alat tajam kecuali pistol yang tidak ada di sana.


Lagi- lagi Catlin menelan salivanya kasar. Saat matanya menangkap ke arah mana Charlote menunjuk.


"Yah... Apa yang kamu pikirkan memang benar Tante... Kira- kira alat apa yang akan ku gunakan untuk memberi mu pelajaran ya... Apa pisau itu, atau gunting kebun itu,, Atau gergaji tajam itu... Hhhh aku jadi bingung Tante... Bisakah kamu membantu ku untuk memilih... Sepertinya selera mu akan sangat membantu ku... Occhhh Atau obeng itu... Seperti kamu melenyapkan Gery dengan obeng itu..." Kini Charlote memicingkan wajahnya melihat ekspresi Catlin saat mengatalan tentang Gery.


Catlin tersentak saat mendengar ucapan Charlote yang sangat menyeramkan itu. Catlin tidak menduga jika anak kecil yang sedang berjongkok di depan wajahnya ini memiliki sisi lain yang begitu kejam. Lebih kejam dari ayahnya Rojer.


Bahkan Catlin juga sangat terkejut di buat oleh Charlote. Saat Catlin mendengar perkataan Tentang Gery. Ia tidak menyangka jika bocah ini mengetahui tentang dirinya yang melenyapkan Gery. Padahal ia sudah menutup rapat- rapat rahasia tersebut dengan menyewa penghilang bukti yang paling handal di kota ini.


"Kenapa bisa bocah ingusan ini mengetahui tentang masalah itu... Apa selama ini dia memata- matai ku..." Batin Catlin dalam hati dengan wajah yang sudah memucat.


"Oh... Tante ku ini memang pandai dalam bersandiwara. Tapi sayang nya aku bukan orang yang bisa tertipu oleh sandiwara murahan mu itu..."


"Hentikan bocah ingusan... Aku tidak akan mengampuni mu... Cepat lepaskan aku... Maka aku akan mengampuni mu...!" Teriak Catlin dengan memberontak.


"Baiklah... Aku akan melepaskan mu.. Mari kita lakukan eksekusi nya sekarang... Agar tante cepat bisa pulang dari sini.." Kekeh Charlote dengan santai. Yang membuat jantung Catlin semakin berdetak dengan cepat.


"Sial bocah ini tidak seperti bocah lainnya. Dia lebih mengerikan dari ku... Apa yang akan di lakukannya?.." Batin Catlin dengan wajah yang mulai ketakutan.


"Baiklah aku akan memilih sendiri... Benda apa yang cocok untuk mengeksekusi mu..." Wajah Charlote terlihat berpikir dengan menatap ke arah lemari kaca dengan berbagai macam alat tajam.


"Hmmm tidak ada yang menarik... Bagaimana jika menggunakan ini...." Charlote merogoh saku jaket yang ia kenakan. Dan mengeluarkan sebuah pisau kecil, seukuran jari dengan ujung yang tajam dan runcing.


Catlin membulatkan ke dua matanya lebar. Saat melihat pisau kecil yang ada di genggaman Charlote. Dirinya semakin panik dengan apa yang akan di lakukan bocah kecil ini padanya. Rasa takut menjalar ke seluruh tubuh Catlin saat pisau kecil itu mendekat ke arah wajahnya.


"Apa yang akan kamu lakukan.. Jangan... Jangan.. Jangan lakukan itu...!" Teriak Catlin dengan putus asa. Ia memerosotkan badannya menjauh dari Charlote. Menjauh dari segala kemungkinan buruk.


Mata Charlote berubah menjadi sorot penuh kebencian dan amarah kepada wanita di depannya. Yang mencoba menghindarinya.


Tengkuk leher Catlin menabrak benda keras di belakangnya. Ia mendongak kan kepalanya ke atas, dan mendapati wajah datar Greenly. Lalu menatap ke belakang yang di mana tengkuknya menabrak sepatu hitam pengawal bocah itu.


Charlote kembali mendekat dengan sorot mata tanpa ampun. Catlin terkesiap dengan tatapan mengerikan penuh dengan kebencian dan amarah yang terkumpul pada ke dua manik mata Charlote.


Sementara tubuhnya sudah tidak bisa mundur lagi, karna terhalang oleh kaki kekar Greenly.


Charlote berjongkok di hadapan wajah Catlin yang sudah pucat ketakutan. Tangan kecil Charlote yang memegang sebilah pisau kecil. Perlahan mendekat ke arah wajah bibinya itu.


"Aaaaaa.....!!!" Teriak histeris dari bibir Catlin mengema di dalam ruangan. Saat pisau kecil itu menyobek kulit wajahnga yang selama ini di jaga dengan sangat baik.

__ADS_1


Charlote terus menyayat dan memberi beberapa luka dalam pada wajah Catlin yang cantik. Tidak ada rasa takut atau rasa iba saat dirinya melakukan hal tersebut.


"Aaaa...."


"Aaaa Hentika aku mohon....!"


"Aaaaaaa..."


Lolongan dan jeritan Catlin yang terdengar sangat kesakitan.


"Bagaimana rasanya...? Apa sangat sakit...? Luka ini untuk mama ku Maura karna kamu telah menjebak dirinya..." Charlote menggores kulit wajah Catlin.


"Aaaaa... Hentikan...!!!!"


"Dan ini untuk papa ku Rojer yang sudah kamu tipu..."


"Aaaaa..... Sakit... Ku mohon...!!!"


"Dan ini untuk mendiang kakek ku karna kamu sudah meracuni nya..."


"Aaaaaaa.....!!!!"


"Dan yang terakhir untuk diri ku... Karna kamu sudah berani menghina ku...."


"Aaaaa... Sa... kit....!!!"


Charlote melepas pisau kecil itu dari tangannya. Setelah dirinya puas memberi luka pada wajah Catlin.


Tring...


Suara dentingan pisau yang jatuh ke lantai.


"Luka ini akan merampas masa depan dan masa kini mu... Seperti diri mu yang sudah menghancurkan masa depan mama ku...." Lirih Charlote dengan penuh kebencian.


Pandangan Catlin semakin kabur, wajahnya terasa hancur karna teriris oleh pisau kecil yang merobek kulit wajahnya. Wajah yang di bangga- banggakan kini begitu mengerikan dengan beberapa luka di sana.


Sayup- sayup suara kebencian Charlote menggema di telinga Catlin. Sebelum ke dua matanya terpejam dengan rapat.


"Antar dia ke rumah sakit... Dan lepaskan dia.. Tapi tetap awasi gerak geriknya...!!" Titah Charlote pada greenly dan segera pergi dari ruangan itu.


Greenly bergidik ngeri dengan kekejaman Charlote yang buas dan tidak berperi kemanusian.


Dia menatap wajah Catlin yang sudah hancur dengan nanar. Wajah yang sudah bersimbah darah dengan irisan pada kulit wajahnya. Yang mungkin luka itu tidak akan bisa hilang dari wajahnya.


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit

__ADS_1


__ADS_2