Ilusi Takdir

Ilusi Takdir
103


__ADS_3

...ILUSI TAKDIR 103...


"Tidak... Aku tidak akan pernah menandatangi surat perceraian itu. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan mu Rojer... Kamu camkan itu... Surat perceraian itu, tidak akan membuat ku mundur... Kamu hanya suami ku.. Dan Maura tidak akan bisa merebut hak ku itu..."


"Berani sekali kau....!!!" Rojer mendorong tubuh Catlin, membuat Catlin terdorong beberapa langkah ke belakang.


"Rojer....!!!!" Teriak Ny. Anindita yang sudah tiba- tiba ada di sana. Penglihatannya tidak percaya jika putranya berani mengangkat tangan pada seorang wanita.


Rojer dan Catlin menoleh bersamaan. Rojer mendengus kasar melihat kehadiran Ny. Anindita. Masalahnya sekarang akan jauh lebih rumit, dengan kehadirannya ibunya itu.


"Dengar kan aku Catlin. Apa pun yang kamu katakan tidak akan mempengaruhi ku... Sejak pertama kali kita menikah tidak ada apa pun di antara kita. Pernikahan kita adalah pernikahan palsu yang berdasar dengan kontrak tertulis. Aku bisa memutuskan pernikahan ini kapan pun aku mau... Tanpa ada persetujuan dari mu... Edent....!!!!"


Edent langsung berjalan dengan cepat dan berdiri di samping Rojer.


Rojer menengadahkan tangannya ke arah Edent. Dan Edent memberikan berkas yang di bawanya ke pada Rojer.


"Tanda tangani ini dengan cepat... Jika kamu masih membangkang, kamu tidak akan mendapatkan harta sepeser pun dari ku... Ingatlah siapa aku, aku bisa mendepak mu dengan sangat mudah... Dan kamu tidak akan mendapatkan apa- apa selain air mata hina mu itu. Tanda tangani dengan cepat....!!" Rojer menempelkan berkas surat perceraiannya pada dada Catlin. Dengan nada penekanan dan ancaman di setiap perkataannya. Catlin hanya bisa mematung di hadapan Rojer tanpa bisa berkutik. Perkataan Rojer berhasil mengoyak keberaniannya. Dirinya hanya sejumput rumput liar yang bisa dengan leluasa di injak oleh alas sepatu mahal Rojer.


"Rojer hentikan... Apa- apa an ini.?" Ny. Anindita angkat bicara, saat melihat Catlin sudah mati kutu dengan ketakutan.


"Mama... Tidak perlu ikut campur urusan ku dengan wanita biang onar ini... "


"Cukup... berhenti menghina istri mu seperti itu. Aku tidak percaya seorang putra kebanggaan keluarga Wang, melakukan hal serendah ini. kamu menghina istrinya bahkan mengancam untuk memaksa bercerai... Dimana otak mu itu... Aku sangat malu melihat tingkah mu yang tidak bermoral itu... Aku sungguh menyesal pernah melahirkan mu dari rahim ku...." Ujar Ny. Anindita dengan tatapan menyala- nyala di matanya. Ia merasa jijik melahirkan pria yang sedang berdiri di depannya.


Rojer mengepalkan tangannga erat. Hatinya terasa tertusuk mendengar ungkapan pahit dari bibir yang selalu mengutarakan cinta dan kasih sayang.


Catlin mengenggam erat berkas di tangannya, dan melenggos pergi, meninggalkan pertengkaran yang sudah dia sebabkan di antara ibu dan anak.


Sebuah tangan terentang di hadapan Catlin, saat ia hendak masuk ke dalam mobil.


"Nyonya, jika aku boleh memberikan saran pada mu... Lebih baik kamu menandatangi surat perceraian itu dengan cepat... Selama ini tuan sudah memberikan kelonggaran untuk mu... Tapi bukan berarti anda bisa melewati batas kesabarannya. Jika anda ingin mendapatkan harta gono gini dari Tuan... Anda akan memdapatkannya... Tapi jika sampai tuan sendiri yang turun tangan... Saya pastikan anda tidak akan mendapatkan apa pun...." Edent menurunkan tangannya. Wajah Catlin semakin merah padam. Ia benar- benar tidak ada harganya di sini. Bahkan seorang asisten pribadi seperti Edent, juga berani menekannya seperti ini. Catlin masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan keras.


Dar...


Lalu melesat pergi.


"Ma... kenapa mama selalu memaksa kehendak mama pada ku... Dia bukan wanita yang seperti mama pikirkan... Aku sudah menuruti mama dengan menikah dengannya. Tapi lihat hasilnya, rumah tangga ini hanya sandiwara ma... Dan aku sudah muak dengan semua itu... Sekarang aku ingin menentukan hidup ku sendiri ma... Aku tidak ingin menjalani pernikahan palsu ini... Mengerti lah... Aku sama sekali tidak bahagia dengan Catlin..."

__ADS_1


Plak...


Sebuah tamparan keras melayang di pipi kiri Rojer. Rasa kebas dan panas terasa pada tangan Ny. Anindita. Dirinya tidak menyangka jika putranya bisa berbicara dengan begitu rendah di hadapannya.


Rojer memegang pipinya yang terasa panas dan perih. Sekali lagi ibunya menampar dirinya karna perempuan yang bernama Catlin.


"Aku tidak percaya ma... mama bisa memukul ku untuk wanita licik itu. Aku tidak mengerti wanita licik itu sudah mencuci pikiran mama... Hingga mama membenci putranya sendiri..." Ujar Rojer dengan nada tidak percaya, membuat Ny. Anindita sedikit merasa bersalah telah menampar putra semata wayangnya.


"Tentu aku akan memukul mu.... Lagi dan lagi... Karna pria seperti mu,,, yang berani menghina seorang wanita memang pantas untuk mendapatkannya..."


"Oma....????"


Suara melengking kecil dan manis menyapu pendengaran Ny. Anindita. Selama bertahun- tahun ia sangat mendambakan panggilan tersebut.


Ny. Anindita menoleh ke arah sumber suara. Di depannya berdiri seorang anak kecil berusia 7 tahun yang sangat di kenali oleh dirinya. Wajah Ny. Anindita yang tadinya suram dengan kabut kemarahan kini berubah tidak percaya. Mendapati sosok kecil yang ada di depannya.


"Charlote... Bukankah papa meminta mu untuk beristirahat di kamar... Kenapa kamu keluar sayang?... Apa kesayangan papa membutuhkan sesuatu...?" Rojer mendekat ke arah Charlote. Berjongkok menyetarakan tingginya dengan Charlote. Mengecup dan mengelus puncak kepala Charlote lembut.


Ny. Anindita menutup mulutnya yang sedikit terbuka. Ia sangat terkejut menyaksikan perlakuan lembut putranya pada Charlote. Lalu sebutan papa dari Rojer semakin membuatnya tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi. Dan apa yang telah terlewat yang dirinya tidak tahu.


"Papa...??? Anak kecil itu...?? Charlote??? Bukannya dia anak kecil yang ku temui beberapa bulan yang lalu...??? Kenapa Rojer menyebut dirinya sebagai ayah dari anak itu?? Apa anak itu..? Astaga.... Aku tidak percaya hal ini..." Batin Ny. Anindita,dengan wajah terkejutnya.


"Oma... Apa kamu masih mengingat ku?" Tanya Charlote dan mendekat ke arah Ny. Anindita yang masih terbengong sendiri. Charlote menarik tangan Ny. Anindita, menyadarkan wanita paruh baya itu dari lamunannya.


"Charlote.? Apa ini benar diri mu..?"


"Iya oma... Oma ternyata masih mengingat ku... Aku tidak menyangka ternyata oma benar- benar menjadi nenek ku... Seperti yang oma harapkan waktu itu..." Ujar Charlote dengan sangat antusias.


Dua buah cairan bening, meluncur di kedua sudut mata Ny. Anindita. Hatinya terasa sangat berbunga- bunga saat ini. Keinginannya untuk menjadi seorang nenek sekarang sudah terpenuhi. Cucu yang sangat di idamkan kini berdiri dengan senyum manis di depannya.


"Ini bukan mimpi kan..?" Ny. Anindita menunduk menyamakan tingginya dengan Charlote. Ia menatap lekat ke arah Charlote, memperhatikan lekukan dan garis wajah Charlote yang sangat mirip dengan putranya Rojer.


"Apa ini kenyataan,, anak laki- laki yang ku temui di taman itu... Kini dia benar- benar menjadi cucu ku... Ohh Tuhan bagaimana bisa semua ini terjadi... Sejak kapan Rojer mempunyai anak... Tidak di ragukan lagi anak ini adalah cucu ku... Dia begitu mirip dengan Rojer. Matanya, hidungnya, bahkan parasnya hampir mirip." Batin Ny. Anindita masih tidak percaya.


Charlote mencubit pipi Ny. Anindita pelan, dan terkekeh geli.


"Tentu saja ini bukan mimpi oma.. Ohhh bukan.. grand ma..." Ny. Anindita langsung memeluk Charlote erat. Rasanya begitu tidak mungkin tapi ini nyata. Dirinya sudah naik pangkat dari mertua menjadi nenek. Ny. Anindita tertawa bahagia begitupula dengan Charlote.

__ADS_1


Rojer terkejut dengan reaksi ibunya saat melihat Charlote. Bukankah mereka tidak saling mengenal tapi nyatanya tidak seperti itu.


"Tunggu sebentar apa kalian sudah mengenal sebelumnya..?" Tanya Rojer, menghentikan tawa bahagia antara nenek dan cucu.


"Tentu saja...." Jawab Ny. Anindita dan Charlote bersamaan. Dan kembali terkekeh geli melihat ekspresi Rojer yang bingung.


"Kesayangan grandma.. Aku tidak menyangka jika kamu adalah cucu ku..." Ny. Anindita menyerbu pipi gembul Charlote dengan ciuman.


"Tunggu, kenapa mama tidak tahu kamu sudah punya anak Rojer..? Apa Charlote anak dari wanita---"


"Maura... Dia anak ku dengan Maura..." Potong Charlote cepat.


"Bagaimana bisa..?"


"Perempuan yang tidur bersama ku tujuh tahun yang lalu, sebenarnya bukan Catlin tapi Maura. Mereka adalah saudara tiri. Catlin mengambil kesempatan itu, saat Maura pergi meninggalkan kota X. Catlin mengaku- ngaku jika dirinya yang tidur bersama ku... Dan aku langsung mengenali Charlote sejak pertama kali melihat wajahnya..."


"Catlin perempuan yang licik... Mama tidak percaya dia bisa melakukan kebohongan sebesar ini... Tapi saat itu dia juga benar hamil. Lalu anak siapa yang dia kandung sebelum keguguran itu..?" Wajah Ny. Anindita kini berubah menjadi sorot kebencian. Kasih sayang untuk Catlin selama ini sirna saat mengetahui kebenaran dari mulut Rojer. Ia tidak percaya bahwa menantu yang selalu ia manjakan bisa melakukan hal licik seperti ini.


"Entah ma.. Itu bukan urusan ku... Mungkin itu anaknya bersama pria lain... Jadi sekarang mama jangan coba - coba untuk membelanya lagi... Dan jangan membenci Maura, dia sudah sangat menderita karna perbuatan ku..."


"Maafkan mama... Seharusnya mama percaya pada mu... Tapi sekarang mama akan bermain dengan cucu mama ini... Iya kan sayang... Mama akan membelikan semua mainan yang kamu inginkan... Cucu ku... Sekarang aku sudah mengendong cucu yang sudah berumur tujuh tahun... Ini semua salah papa mu gara- gara dia grandma tidak bisa menimang mu saat masih bayi... Tapi itu tidak apa- apa... Grandma sungguh bahagia..." Ujar Ny. Anindita dengan sangat antusias. Dan membawa Charlote menjauh dari Rojer. Ny. Anindita sudah tidak sabar untuk bermain bersama cucunya. Ada rasa kesal pada Rojer, karna Rojer tidak memberi tahu kebenaran sebesar ini padanya. Tapi kekesalannya itu terkikis semua karna rasa bahagia yang terus membuncah dalam dadanya.


Rojer tersenyum melihat ibunya sangat bahagia. Ia ingin mengatakan semuanya saat dirinya dan Maura menikah nanti. Tapi sepertinya takdir ingin mengungkapnya lebih awal dari rencananya.


Langkah Ny. Anindita berhenti, ia berbalik ke arah Rojer yang masih menatapnya dengan tersenyum.


"Cepat bawa menantu mama secepatnya...!!!" Ujar Ny. Anindita dengan senyum keibuaannya. Lalu kembali melangkah mengendong Charlote, menjauh dari hadapan Rojer.


...----------------...


...****************...


kasi tips biar makin semangat


Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊


to be continud❤

__ADS_1


please tinggalin koment dong


jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit


__ADS_2