
...ILUSI TAKDIR 151...
"Apa...!!!"
Dengan satu gerakan, Rojer langsung bangun dan terduduk dengan mata melotot menatap Edent dengan tatapan terkejut.
"Lihat lah Tuan apa yang telah bajingan Steve itu lakukan pada nyonya..."
Edent menyodorkan ponsel nya pada Rojer.
Netra Rojer membesar, saat vidio di ponsel Edent berputar.
Terlihat bagaimana Steve mencengram bahu Maura kuat. Serta bagaimana anak buah Steve memisah kan Maura dan Charlote.
"Brengsek...."
Prak...
Lirih Rojer, dengan melemparkan ponsel Edent ke lantai. Hingga rusak berkeping- keping.
"Hhhh aku harus beli ponsel lagi..." Batin Edent, menghembuskan nafas nya pelan. Saat melihat ponsel nya di banting begitu saja oleh Rojer.
Tanpa aba- aba, Rojer menyabet jas nya yang tergeletak begitu saja di sofa.
Langkah nya terayun dengan cepat, di ikuti Edent yang mengekor di belakang nya.
"Berani kamu sakiti putra dan istri ku.. Akan ku patahkan leher mu..." Batin Rojer dengan gemelatuk gigi nya yang mengeram.
...----------------...
Steve mematut diri nya di depan cermin. Tubuh nya di balut dengan setelan tuxedo putih, dengan dasi pita menggantung di leher nya.
Bibir nya melengkung tersenyum sumringah. Sesekali ia menggoyangkan tubuh nya ke kiri dan kanan. Memastikan penampilan nya terlihat sempurna.
"Bagaimana penampilan ku...?" Ujar nya dengan tersenyum lebar.
"Anda sangat tampan Tuan..." Balas sang anak buah, yang sejak tadi berdiri mematung di pojok ruangan.
"Berapa menit lagi?" Tanya Steve lagi, kini tangan nya meraih sebuah arloji perak di atas meja rias.
"Tinggal sepuluh menit lagi Tuan... Anda akan resmi menjadi suami nona Maura..."
Senyum Steve kembali mengembang, mendengar jawaban dari anak buah nya.
"Beberapa menit lagi, hal yang paling berharga bagi Rojer akan menjadi milik ku..." Batin Steve riang.
"Sebentar lagi, Rojer Wang akan menangis di sudut ruangan... Meratapi wanita yang sangat di cintai nya, di miliki oleh orang lain...
Ha... Ha... sangat miris... Tapi itu setimpal dengan apa yang pernah ia lakukan pada ayah ku di masa lalu..."
Darrrrr....
"Itu hanya khayalan mu saja... Brengsek...." Timpal seseorang yang langsung mendobrak pintu kamar Steve dan menerobos masuk, di ikuti dengan beberapa pria dengan seragam hitam.
Steve terlonjak kaget, saat beberapa pria menerobos masuk ke dalam kamar nya.
Matanya membulat sempurna dengan mimik terkejut.
"Rojer...." Lirih Steve memandang pria di depan nya yang menatap nya dengan nyalang. Seakan siap untuk membunuh nya.
Di belakang Rojer, beberapa pria termasuk Edent berdiri dengan tegap. Sementara anak buah Steve dengan sangat mudah di bekuk oleh pengawal Rojer.
"Apa kamu terkejut... Kamu pikir aku tidak tahu, niat jahat mu itu.... Haha.." Tawa Rojer dengan nada meledek.
Raut wajah Steve berubah menjadi geram.
"Katakan... Dimana istri dan putra ku... Aku masih berbaik hati untuk tidak langsung melenyapkan mu..." Lanjut Rojer dengan memicing kan mata nya.
Rojer mengedarkan pandangannya, ke seluruh kamar. Kamar dengan nuansa putih dengan beberapa hiasan yang terpajang.
"Maura akan menikah dengan ku... Apa perkataan nya belum cukup membuat mu sadar.???.. Sekarang pergilah dari sini... Jangan coba - coba mengganggu acara pernikahan ku..." Tekan Steve menatap Rojer dengan penuh kebencian.
Sementara di pikiran nya, ia bertanya- tanya kenapa pria ini ada di sini. Bukan kah kemarin malam dia pergi dari rumah nya dengan keadaan patah hati.
"Ohhhh... Aku hampir lupa, jika kamu datang sebagai tamu undangan... Jadi nikmati lah dengan deraian air mata mu...Heheh..." Kekeh Steve menertawai Rojer.
Bugh....
Satu bogem mentah mendarat di wajah Steve, membuat pria tersebut terjungkal ke belakang, dan membentur meja rias.
Steve mengepal tangan nya erat, membuat buku- buku tangan nya memutih.
Kesabaran untuk menghadapi Rojer sudah habis. Yang ada hanya kemarahan. Dan rasa ingin melenyapkan pria berkuasa di depan nya.
"Cih..." Decih Steve meludah, sudur bibir nya yang sempat robek karna tinjuan Rojer kemarin malam. Kembali mengeluarkan darah.
Steve menatap Rojer dengan penuh kemarahan. Tangan nya menyelinap ke belakang tubuh nya, mengambil sesuatu di dalam laci meja.
"Lepaskan putra dan istri ku... Pria seperti diri mu tidak akan pernah bisa untuk menandingi diri ku...!!" Pekik Rojer lagi, dengan tangan melayang hendak memberi satu pukulan lagi.
"Jangan bergerak... Atau aku akan menembak mu...!!!" Teriak Steve, dengan menodongkan sebuah pistol tepat di depan Rojer.
Tangan Rojer berhenti seketika. Edent dan pengawal nya, langsung memasang ancang- ancang untuk melindungi Rojer. Dan siap untuk menjatuhkan Steve.
Namun instruksi dari tangan Rojer, membuat mereka diam di posisi.
"Apa yang bisa di lakukan pria pencundang seperti mu.." Olok Rojer, tanpa takut dengan senjata api yang di todongkan Steve.
"Jangan meremehkan ku Rojer, satu tarikan pelatuk dari pistol ini... Maka hidup mu akan selesai... Aku tidak akan sungkan untuk membunuh mu... Karna di sini aku yang berhak memiliki Maura."
__ADS_1
Rojer semakin geram dan kalang kabut, saat Steve mengucapkan nama Maura.
Darah nya terasa mendidih saat ini, dengan kemarahan yang meletup- letup dalam tubuh nya.
Kesabaran nya sudah di ambang batas, tidak ada negosiasi dengan pria seperti Steve. Pikir Rojer dengan mata memerah penuh kemarahan.
Rojer mengepalkan tangan nya, dan mengayunkan pukulan nya tepat di kepala Steve.
Dorrrr...
Jlep...
Satu peluru melesat, dan tersemat dengan sempurna di dada Rojer.
Rojer membeku, tangan nya mengambang di udara.
Suasana menjadi hening, dengan senyuman senang dari wajah Steve.
Sementara, wajah Edent dan para pengawal nya terlihat panik.
Saat melihat satu peluru dengan sempurna menancap di bagian dada sebelah kiri Rojer.
Dengan perlahan, Rojer membuka jas dan kemeja yang ia pakai.
Menampilkan sebuah baju anti peluru yang terpasang dengan rapi. Yang membalut tubuh Rojer.
Rojer mencabut peluru yang tidak berhasil menembus jantung nya.
"Bagaimana mungkin???" Gumam Steve dengan sorot terkejut. Melihat dengan enteng nya, Rojer mencabut peluru yang menancap pada baju anti peluru yang di kenakan nya.
"Karna aku jauh lebih pintar dari mu...." Timpal Rojer dengan seringgai iblisnya.
Dan menjatuhkan peluru tersebut ke lantai.
Tring...
Suara peluru yang menggelinding.
"Sekarang giliran ku yang bermain...." Ujar Rojer.
Dengan cepat, Rojer menendang tangan Steve yang memegang pistol.
Mengunci tubuh Steve dan membanting nya berulang kali.
Memberikan pukulan- pukulan keras tanpa ampun. Dengan setiap pukulan yang mengandung kebencian yang besar.
Rojer mengunci pergerakan tubuh Steve, dengan lengan tangan nya menekuk leher Steve.
Steve meringgis kesakitan, saat pasokan udara mulai menipis.
"Kamu sama pecundang nya dengan ayah mu.. Aku tidak habis pikir, kenapa kamu membalas dendam untuk pria seperti ayah mu...
Memang benar kata pepatah, Buah tidak jatuh jauh dari pohon nya..."
Krek....
Suara patahan dari leher Steve , dengan satu kali gerakan. Membuat tubuh Steve melemas dan terkulai begitu saja.
"Seharus nya kamu berpikir sebelum menyentuh keluarga ku.. Dasar pria bodoh..." Lirih Rojer, dengan mengatur nafas nya yang tersenggal- senggal karna habis berkelahi.
Rojer menatap Edent.
"Bereskan jasad nya... Dan kalian bereskan ruangan ini.. Jangan sampai meninggalkan jejak...!!!" Titah Rojer, yang langsung di laksanakan oleh anak buah nya.
Tubuh Steve yang sudah tidak bernyawa, di angkat dan di keluarkan dari kamar. Sementara yang lain nya membersihkan semua kekacauan yang di buat Rojer.
...----------------...
Maura berdiri di altar dengan tangis yang tak kunjung reda.
Wajah sembab nya di tutupi oleh kain tipis yang menjuntai hingga siku.
Menutupi wajah nya yang terus menangis.
Sudah hampir 1 jam. Maura berdiri menunggu mempelai pria datang.
Sejak tadi jantung nya tidak berhenti untuk berdetak dengan kencang.
Dengan sumpah serapah, merutuki keputusan bodoh nya. Yang membuat diri nya terjebak pada situasi ini.
Penyesalan terus menyelimuti setiap inci hati Maura. Menyesali setiap perkataan yang ia ucapkan pada Rojer.
Para tamu undangan yang hadir, yang menjadi saksi pernikahan antara Maura dan Steve mulai berbisik. Menanyakan pengantin pria yang tidak kunjung datang.
"Astaga,,, ini sudah hampir satu jam, tapi mempelai pria nya belum datang..."
"Apa pernikahan ini batal???"
"Kasihan sekali pengantin wanita nya terus berdiri sejak tadi, menunggu pengantin pria..."
Ujar para tamu yang mulai gaduh.
Tap...
Tap...
Tap..
Suara langkah kaki berderap mendekat. Membuat bisikan- bisikan para tamu undangan hilang seketika.
__ADS_1
Maura mengeratkan genggaman nya pada gaun pengantin nya.
Jika bisa memilih, ia memilih untuk mati dari pada menikah dengan Steve.
Sepatu hitam mengkilat, dengan kaki kokoh, berhenti di depan Maura.
Degupan jantung Maura kembali bertabuh dengan kencang.
Hari ini, ia akan menikahi seorang pria licik seperti Steve. Pria yang memaksa nya menikah dengan menyandera buah hati nya.
Tapi ia tidak berdaya, mungkin ini lah takdir untuk nya pikir Maura.
Maura terus menunduk menatap lantai. Ia tidak sanggup untuk menegak kan kepalanya. Menatap kenyataan yang menyayat hati nya.
"Mempelai pria sudah datang... Kita akan mulai, di awali dengan sumpah ke dua mempelai, lalu penukaran cincin..." Ujar pendeta, memulai acara yang sudah tertunda selama satu jam.
Tangis Maura semakin pecah, dengan bahu yang semakin bergetar.
"Maaf kan aku Rojer... Ini demi Charlote... Hiks... Hiks..." Batin Maura.
"Tuan , Apakah anda bersedia menjadi suami nona Maura karavan, Untuk saling memiliki dan menjaga, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisah kan..??" Ujar pendeta.
"Aku bersedia...."
Suara bariton seorang pria yang begitu di kenal Maura, membuat Maura berhenti bernafas.
Suara pria yang begitu mencintai nya, yang rela mempersembahkan nyawa nya dengan suka rela untuk diri nya.
Maura membatu di tempat. Dengan detakan jantung yang berhenti saat mendengar suara khas itu.
Dengan cepat, Maura mendongak kan wajah nya, menatap wajah sempurna yang begitu ia kenali.
Ia sungguh tidak percaya, jika pria itu ada di sini. Berdiri bersama nya di altar pernikahan.
Rasa terkejut, senang dan lega bercampur menjadi satu. Menyunggingkan senyuman indah dari bibir Maura.
"Nona , Apakah anda bersedia menjadi suami tuan Rojer Wang, Untuk saling memiliki dan menjaga, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisah kan..??" Ujar pendeta.
"Aku bersedia.... Aku bersedia menjalani tujuh kehidupan bersama Rojer Wang..." Jawab Maura cepat, dengan senyum penuh kebahagian nya.
Maura segera membuka penutup kepalanya. Mendekat dengan cepat pada Rojer.
Kesempatan mencintai pria yang sangat ia cintai, ia berjanji pada diri nya dan atas nama tuhan. Ia tidak akan melepas kesempatan ini.
Rojer menarik pinggang Maura, merapat kan tubuh yang begitu ia rindukan.
Seakan dunia ini, hanya milik mereka. Melepas kerinduan, setelah berpisah karna bahtera masalah.
"Mama... Papa....!!!" Teriak Charlote , yang langsung menghambur menuju Maura dan Rojer.
Meninggalkan Edent, yang sudah membantu nya untuk keluar dari kamar. Tempat Steve mengurung diri nya.
Maura dan Rojer, berlutut bersamaan. Merentangkan tangan nya.
Dan menangkap tubuh kecil Charlote, masuk ke dalam pelukan mereka.
Suasana haru begitu terasa, pertemuan sebuah keluarga pada acara pernikahan paksa.
Mereka saling bertukar duka. Saling memeluk mengutarakan kebahagian yang tidak berujung.
Berjanji satu sama lain untuk tidak saling meninggalkan.
"Aku mencintai mu Maura...!!" Ujar Rojer.
"Aku juga sangat mencintai mu Rojer... Apa pun yang terjadi aku tidak akan meninggalkan mu... Aku akan ada di sisi mu, hingga maut menjemput salah satu dari kita.
Menghujani mu dengan siraman cinta setiap hari nya. Dan menjadi pendamping yang baik untuk mu...
Pernikahan kita yang ke dua menjadi saksi.. Betapa murni nya cinta kita.
"Meski, takdir sering kali mempermainkan kita... Tapi kekuatan cinta menyatukan kita... Aku mencintai mu Rojer..."
...T...
...A...
...M...
...A...
...T...
...----------------...
...****************...
Usai sudah pertemuan kita dallam kisah ini...
Terimakasih buat kalian, yang selalu setia dengan kisah ku ini...
Tapi jangan cepat berpindah...
Ayo mampir dulu ke karya sebelah...
Karya ku selanjut nya..
Cinta Si gadis pendek...
Cheki- Cheki dulu lah...ππππππ
__ADS_1