
...ILUSI TAKDIR 142...
FLASH BACK ON...
MAURA POV...
Aku mengerjap kan ke dua kelopak mata ku perlahan. Rasanya ada beban ribuan kilo yang menggantung di ujung mata ku.
Kilasan cahaya remang- remang menyelinap, dan menggelitik ke dua pupil mata ku. Secara perlahan tapi pasti, ku buka mata ku lebar- lebar.
Kepala ku terus berkunang- kunang, dengan rasa sakit yang menghantam tanpa ampun.
"Aaakkrrkhhh..." Ringgis ku kesakitan, sambil memegangi kepala ku.
Potongan- potongan ingatan itu, yang sebelum nya buram, kini nampak sangat jelas dalam ingatan ku.
Nafas ku terus menderu tidak beraturan. Saat satu moment peledakan ballroom Aston berputar jelas di kepala ku.
Rasanya rasa takut itu, kembali mencengkram ku kuat, hingga tubuh ku gemetar dengan hebat.
Tubuh ku menegang dengan hebat saat reruntuhan hotel menimpa tubuh ku.
Aku mencoba menetralisir, rasa takut yang sedang menggebu- gebu dalam dada ku.
Mensugesti diri ku bahwa semua nya telah berlalu.
Ku atur nafas ku, menenang kan pikiran ku.
Mata ku melebar sempurna saat netra ku menangkap sebuah foto pernikahan.
Di mana dalam foto itu, ada aku yang tersenyum dengan bahagia sambil duduk di kursi roda. Bersama seorang laki- laki yang sangat aku kenal, Dia adalah Rojer.
Air mata ku mengalir begitu saja. Merembes dengan bebas membasahi pipi ku.
Rasa kecewa dan sakit hati memenuhi setiap sudut rongga hati ku.
"Hiks... Apa aku hanya mainan bagi mu... Lagi lagi kau membohongi ku... Memanfaatkan ku di saat ingatan ku hilang... Kenapa kamu lakukan ini pada ku..." Gumam ku dengan mengelus bingkai foto tersebut.
Bayangkan bagaimana rasa nya, di bohongi oleh orang yang kamu cintai.
Memanfaat kan mu dan menjebak mu dalam pernikahan yang sama sekali di luar keinginan mu sendiri.
Prang....
Bingkai foto tersebut jatuh begitu saja dari tangan ku. Menyentuh lantai dan pecah seketika. Sama persis dengan perasaan ku saat ini. Rasa sakit yang Rojer berikan begitu menyayat hati ku.
Aku tidak bisa bertahan di sini, dengan semua kepalsuan dan kebohongan nya.
Aku menuruni ranjang dengan perlahan, berjalan keluar kamar menuju kamar putra kesayangan ku, Charlote.
Aku sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah ini dan juga Rojer.
Aku tidak ingin terus di bohongi dan di perlakukan seperti ini. Aku adalah seorang manusia, bukan sebuah mainan.
Dengan mengendap- ngendap akhir nya aku bisa keluar dari rumah besar itu. Dan sekarang duduk memandangi matahari terbit. Setidak nya hati ku merasa sedikit tenang, dengan pemandangan alam ini.
FLASHBACK OFF...
__ADS_1
MAURA END POV...
...----------------...
Rojer berjalan cepat menuju ruang makan, langkah nya di percepat hampir berlari.
Tampak dengan duduk santai, Ny. Anindita yang sedang menikmati secangkir kopi panas dengan tangan nya membuka koran pagi.
"Ma... Di mana Maura...???" Tanya Rojer dengan ekspresi gelisah bercampur cemas.
"Uhuk... Uhuk...."
Ny. Anindita terbatuk, tersedak dengan pertanyaan yang di lontarkan Rojer.
Diri nya tidak habis pikir, bukan kah putra nya selalu berada di samping Maura. Lalu kenapa dia bertanya pada nya.
"Bukan kah... Maura bersama mu di kamar..." Jawab Ny. Anindita saat batuk nya reda.
Rojer menyugar rambut nya kasar, dengan menghembuskan nafas nya.
Dia benar- benar putus asa, setelah mendengar jawaban Ny. Anindita.
"Maura tidak ada di kamar ma... Aku sudah mencari nya kemana- kemana, tapi tidak ada...." Papar Rojer dengan frustasi.
Wajah Ny. Anindita yang tadi nya tenang, berubah menjadi khawatir mendengar penuturan putra nya.
Baru tadi menantu nya berbaring dengan lelap, dan sekarang keberadaan nya entah kemana.
"Bagaimana bisa???"
"Aku juga tidak tahu, tapi aku melihat foto pernikahan kami pecah di lantai begitu saja."
Kerongkongan Ny. Anindita terasa mengering seketika. Apa rencana yang sudah di susun rapi- rapi akan berakhir begitu saja.
"Aku sungguh takut, jika ingatan Maura kembali. Apa yang akan dia pikir kan.. Dia akan sangat merasa terkhianati... Hal ini yang selalu ku takut kan..." Sesal Rojer dengan wajah yang semakin tertekuk ke dalam.
"Maaf kan mama Rojer... Seharus nya mama tidak membohongi Maura saat ingatan nya hilang... Mama hanya ingin kamu bahagia..." Ujar Ny. Anindita dengan sedih. Ia sungguh menyesal telah membuat cerita- cerita bohong tentang hubungan putra nya dan Maura. Seharus nya ia berpikir ulang untuk melakukan hal itu.
"Apa Maura pergi ke suatu tempat??... " Ujar Ny. Anindita dengan wajah berpikir.
Wajah Rojer langsung berbinar, saat mengingat sesuatu tentang Maura.
"Apa Maura pulang ke rumah lama nya...?" Batin Rojer seolah mendapat petunjuk.
Rojer langsung berlari meninggalkan Ny. Anindita. Ia harus segera pergi dan mencari keberadaan Maura.
Ia tidak akan berhenti sebelum bisa menemukan Maura. Meski ia harus mencari wanitanya sampai ke ujung dunia sekalipun.
...----------------...
Rojer menginjak pedal gas mobil dengan kecepatan tinggi.
Yang ada hanya keinginan untuk segera bertemu Maura.
Sesekali ia memukul stir mobil dengan keras, melampiaskan kegugupan dan kegelisahan yang sedang merundung hati nya.
"Maura... Di mana kamu... Semoga dugaan ku benar, jika kamu ada di rumah lama mu... Ck..." Gumam Rojer dengan berdecak. Sementara tatapan nya menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Rasa nya saat ini mobil yang di tumpangi nya berjalan begitu lamban.
"Mobil sialan... Kenapa jalan nya pelan sekali.... Setelah ini aku pastikan kamu akan di hancurkan... Eeehhhh..." Rutuk Rojer dengan kesal sambil menggigit bibir bawah nya.
Tak berselang lama, Rojer memarkirkan mobil nya di halaman rumah lama Maura.
Rumah yang di tinggalkan pemilik nya, beberapa bulan yang lalu.
Rumah dengan ukuran minimalis namun terlihat elegant.
Tidak ingin membuang waktu, Rojer berlari mendekat ke arah rumah.
Rojer segera mengetuk pintu rumah dengan pelan. Berharap dugaan nya benar. Jika Maura kembali ke rumah lama nya.
Tok...
Tok...
Tok..
Tidak ada jawaban, yang ada hanya kesunyian.
Tokk...
Tokk..
Tok...
Rojer kembali mengetuk pintu lagi, kini dengan lebih keras.
Namun hasil nya tetap sama. Tidak ada jawaban atau respon dari dalam.
Yang ada hanya keheningan, seperti tidak ada tanda- tanda orang di dalam.
Bugh...
Rojer meninju keras tembok rumah.
"Di mana kamu Mau... Kenapa kamu tinggalin aku... Aku mohon kembali lah pada ku..." Lirih Rojer dengan mata yang mulai berkaca- kaca.
Kemana lagi, ia harus mencari Maura. Ia benar- benar gelagapan.
Rasa nya seluruh hidup nya, saat ini pergi bersama kepergian Maura.
"Tidak... Dimana pun kamu... Aku akan menemukan mu Mau,,, meski aku harus mencari mu sampai ke surga..." Lirih Rojer, dan segera bergegas masuk ke dalam mobil nya.
Bagaimana pun cara nya, ia harus berhasil menemukan Maura.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
__ADS_1
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit