
...ILUSI TAKDIR 95...
"Aku akan membuat putra dan calon istri ku bahagia Edent..."
DUAR.....!!!!
DUAR...!!!
DUAR....!!!
"TIDAK......!!!!" Teriak Rojer histeris, saat mendengar ledakan besar beruntun di telinganya.
Bangunan mewah bergaya arsitektur tradisional modern itu, meledak di depan mata Rojer. Ledakan yang memekak kan telinga. Ledakan beruntun dari arah dalam bangunan itu. Di susul dengan runtuhnya bangunan itu rata dengan tanah.
"Tidak....!!!"
"Maura...!!!"
"Charlote...."
Teriak Rojer dengan keras, hingga suaranya menggema di udara. Pemandangan yang tidak pernah ia ingin saksikan. Detak jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat, ketika melihat bangunan yang beberapa saat lalu ia masuki bersama keluarga kecilnya. Seluruh tubuh Rojer terasa tidak ada. Tenaga dan stamina dalam tubuhnya hilang entah kemana. Tubuhnya ambruk ke tanah di depan Edent.
Edent terbelalak ketika melihat bangunan di depannya meledak dengan begitu dahsyat. Ia sudah memastikan keamanan pada bangunan ini, dan semuanya baik- baik saja. Tapi kenapa bisa menjadi seperti ini.
Degup jantung Edent semakin berdetak tidak karuan, bahkan tubuhnya bergetar dengan cukup hebat. Ia ingat dengan jelas jika di dalam bangunan itu, ada nyonya dan tuan muda kecilnya yang selalu menjahili dirinya dengan perkataannya yang pahit dan dingin.
"Tidak... Aku harus menyelamatkan mereka... Aku tidak bisa hidup tanpa mereka...!!!" Ujar Rojer dengan tangis yang berderai, dan suaranya yang semakin berat. Ia mengumpulkan tenaganya, dan berusaha untuk bangkit. Tidak ada gunanya ia bersimpuh di sini, sedang kan calon istri dan putranya ada di tempat yang mengerikan itu.
"Aku harus menyelamatkan mereka... Hiks... Hiks... Aku harus menyelamatkan mereka..." Ucap Rojer dengan suara yang bergetar dan terdengar pilu.
Rojer bangkit dan siap untuk menerjang menuju bangunan yang runtuh di depannya. Sorot matanya menunjukkan dirinya telah hancur melihat runtuhan bangunan yang menumpuk sepuluh meter darinya.
"Tuan... Jangan... Anda tidak boleh ke sana... Di sana sangat berbahaya..." Edent menghalangi Rojer menuju tempat itu. Tempat yang sudah hancur berkeping- keping dan tidak berbentuk lagi. Edent memegang erat tubuh Rojer, menghalangi majikannya untuk pergi.
"Lepaskan... Lepaskan aku Edent.. Maura membutuhkan ku... Hiks.... Hiks..." Tangis Rojer pilu, dengan mata yang sudah memerah dan berair. Rojer terus memberontak melepas kekangan Edent di tubuhnya. Dalam pikirannya sekarang ia harus segera menyelamatkan Maura dan Charlote, sebelum terjadi sesuatu lagi yang bisa membahayakan mereka.
Semua orang yang ada di tempat berteriak histeris mendengar ledakan bom yang begitu dahsyat. Melihat bagaimana runtuhnya bangunan megah tersebut.
Polisi, tim penyelamat, dan tim medis berdatangan. Mereka langsung terjun untuk membantu korban ledakan yang masih tertimbun reruntuhan.
Polisi memasang garis polisi, menghalangi orang- orang untuk mendekat. Tim penjinak bom pun di turunkan. Mereka memeriksa apa ada bom yang masih aktif.
"Tenanglah Tuan... Para pengawal akan berusaha mencari nyonya dan Tuan kecil... Anda tidak bisa ke sana... Di sana sangat berbahaya. Ledakan bisa terjadi lagi...!!" Edent meninggikan suaranya, membuat Rojer agar sadar dari kesedihan yang tidak bisa di bendungnya.
Rojer mengeram keras, dan mendorong tubuh Edent dengan sangat keras. Membuat tubuh Edent terjungkal ke belakang, dan merosot jatuh ke tanah.
"Kamu pikir aku bisa tenang, dengan hanya diam dan menyaksikan semuanya di sini. Maura dan putra ku di sana sedang sekarat... Bagaimana aku bisa diam di sini..." Teriak Rojer dengan marah. Wajah nya memerah padam. Urat- urat lehernya menonjol sempurna.
Rojer menghampiri Edent dan menarik kerah baju Edent kasar.
__ADS_1
"Lebih baik aku juga ikut meledak dan tertimbun bersama istri dan putra ku... Dari pada aku berpangku tangan di sini, sementara di sana mereka sedang menunggu ku untuk menyelamatkan mereka..." Lirih Rojer, dengan penekanan dan tekad serta keyakinan yang sudah bulat. Yang tidak bisa lagi untuk di ganggu gugat.
"Tuan muda... Berhenti...!!!" Teriak Edent dan bangkit.
Rojer berlari dengan melepas jasnya dan melemparnya ke sembarang arah. Tapi sepertinya rencana Rojer untuk menggapai bangunan yang runtuh itu tidak berjalan semulus langkahnya yang lebar.
Dua orang polisi menghentikan langkah Rojer dan mendorongnya menjauh dari tempat TKP.
"Maaf Tuan anda tidak bisa ke sana..." Ujar salah satu polisi, sambil berusaha menghalangi Rojer yang mengamuk ingin menerobos, melewati pembatas garis polisi yang sudah di pasang.
"Lepaskan... Biarkan aku mencari istri ku... Putra ku sedang dalam bahaya.. Kalian tidak bisa menghalangi ku..." Teriak Rojer dengan nada tinggi. Ia terus memberontak melepaskan diri dari dua polisi yang terus menghalanginya.
"Tuan tenanglah... Di sana bukan hanya ada istri dan putra anda... Ada banyak orang di dalam sana... Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan putra dan istri anda... Silahkan anda bisa menunggu dan menenangkan diri Tuan... Jangan mempersulit proses penyelamatan kami..." Ujar polisi yang lainnya, sambil terus merentangkan tangannya.
"Diam bodoh...!! Jangan mengajari ku... Apa yang harus aku lakukan dan tidak... Aku tidak peduli di sana berbahaya atau tidak... Bagi ku yang terpenting keluarga ku selamat... Dasar,,, polisi jalanan seperti kalian tidak bisa menghalangi ku untuk mencari cinta ku..." Rojer menarik kerah baju polisi di depannya, dan melayangkan bogem mentah dan keras ke arah wajah polisi tersebut.
Bugh...
Bugh...
Polisi tersebub terjungkal ke belakang. Membuat jalan di depan Rojer menuju bangunan runtuh tersebut terbuka lebar. Tidak ingin membuang waktu, Rojer melesat berlari dengan kencang. Seperti sebuah kijang yang berlari karna di kejar oleh pemangsa.
"Hey.. Tuan.. Kamu tidak boleh ke sana... Siapapun hentikan dia...!!!" Teriak rekan polisi yang tadi menghalangi Rojer. Polisi tersebut berlari mengejar Rojer. Namun segera di hentikan oleh Edent yang sudah berdiri di depan tubuh polisi tersebut.
"Biarkan dia pak... Anda tidak perlu mengkhawatirkannya... Pengawal kami juga akan ikut membantu mengevakuasi korban. Dan sekaligus menjaga pria tadi..." Ujar Edent dengan nafas yang masih menderu. Sementara di sudut bibir kirinya, ada sebercak darah segar. Sepertinya sudut bibir Edent robek karna pukulan Rojer.
Edent menggerakkan tangannya di udara. Dan beberapa pria dengan berbaju hitam yang terdiri dari delapan baris berhamburan berlari menuju reruntuhan bangunan.
"Semonga Nyonya dan Tuan kecil selamat..." Harap Edent, sambil menengadahkan wajahnya menghadap langit. Di wajahnya yang semakin memucat terlihat jelas raut kecemasan. Dirinya merasa sangat bersalah atas semua kejadian ini. Ia yang bertanggung jawab atas ke amanan Maura dan Charlote tapi dirinya tidak berhasil melaksanakan tugas yang sudah di berikan majikannya. Jika terjadi sesuatu pada Maura atau pun Charlote, maka ia tidak akan bisa memaafkan dirinya.
Rojer terlihat begitu frustasi, berlarian ke setiap arah dengan penampilan yang sudah acak- acakan. Air mata dan peluh keringat terus mengalir dengan deras. Sedangkan tangannya terus mengangkat dan memilah reruntuhan tersebut. Mencoba mencari petunjuk untuk menemukan cinta dan hatinya.
"Tuhan aku mohon selamatkan mereka... Jika tidak ambillah aku juga...!!" Lirih Rojer terus mengulangi kalimat yang sama.
Beberapa korban terus di temukan oleh tim penyelamat. Sesekali Rojer melihat wajah korban tersebut, memastikan wajah orang yang sedang ia cari.
Raut putus asa terlihat jelas pada raut wajah Rojer. Seakan detik itu juga, ia ingin mencabut jantungnya untuk keluar dari rongga dadanya. Rasanya begitu sakit dan menyiksa mencari orang yang tidak kunjung ia temukan. Sementara langit sudah mulai menghitam.
...----------------...
Catlin sudah sampai di kediaman keluarga Wang. Ia sudah sangat merindukan rumah besar dan mewah ini.
Ny. Anindita datang dengan mengulas senyum manis di bibirnya. Menyambut kepulangan menantunya dari rumah sakit.
"Sayang..!!! Akhirnya kamu sampai... Mama sungguh sangat merindukan mu Catlin.." Ny. Anindita memeluk tubuh Catlin hangat. Dan memgecup pucuk kepala Catlin lembut.
"Aku juga merindukan mu ma..." Timpal Catlin, dengan suara yang masih samar namun bisa terdengar oleh Ny. Anindita. Rahang wajah Catlin yang bergeser belum bisa terlalu di gerakkan, masih terasa sedikit nyeri. Sehingga Catlin berbicara dengan sedikit membungkam mulutnya.
Gery datang dari arah belakang Catlin, dengan tangannya menenteng tas besar yang berisi pakaian Catlin. Gery tersenyum hangat pada Ny. Anindita. Sudah lama dirinya tidak datang berkunjung ke kediaman Wang. Setelah Rojer menghajar dirinya habis- habisan karna ketahuan mencampur obat perangsang pada minuman temannya itu.
__ADS_1
"Gery...!! Terimakasih nak kamu sudah mengantar Catlin.... Duduklah...!" Ujar Ny. Anindita, dan mempersilahkan Gery untuk duduk.
"Ahh... Itu sudah kewajiban ku tante..." Ujar Gery dengan mengerlingkan matanya.
"Hhhh maksud mu...?" Tanya Ny. Anindita heran dengan jawaban Gery.
Catlin memandangi Gery dengan tatapan melotot, membuat Gery menangkap mimik wajah Ny. Anindita yang heran karna jawabanya tersebut.
"Ahh... Maksud ku Catlin adalah istri dari teman ku tan... Jadi sudah kewajiban ku untuk membantunya dan mengantarnya pulang..." Timpal Gery dengan sedikit gagap. Namun berhasil menyakinkan Ny. Anindita.
"Kamu sangat baik Gery... Tante sangat berterimakasih pada mu, karna sudah mengantar Catlin pulang..."
Catlin mengedarkan pandangannya, ke semua sudut rumah. Mencari sosok yang sudah lama tidak di jumpainya. Tapi sepertinya tidak ada jejak keberadaan orang yang ia cari, membuat Catlin mendengus kesal.
"Sayang,,, Rojer sedang ada perjalanan ke luar kota... Jadi ia tidak sempat untuk datang menjenguk mu... Tolong kamu memaklumi kesibukannya ya sayang..." Ucap Ny. Anindita dengan menepuk halus paha Catlin.
Catlin mengangguk mengerti. Bagaimana pun ia berharap pada Rojer. Hasilnya akan tetap sama pria yang berstatus menjadi suaminya itu akan menolaknya bahkan membenci dirinya.
"Cih... Sudah di sakiti dan di permalukan seperti itu Dia masih berharap pria brengsek itu akan menemuinya... Apa yang sebenarnya ada dalam kepala mu Catlin..." Batin Gery kesal, mendengar perbincangan dua wanita di depannya. Ia menaikkankan salah satu alisnya dan berdecak kesal.
"Aku mengerti ma... " Catlin menghela nafasnya. Berharap pada Rojer akan menghasilkan sesuatu yang sia- sia. Lebih baik dirinya fokus untuk kesembuhannya sebelum ia membuat perhitungan dengan Maura.
Seorang pria berjas hitam dan terlihat berwibawa masuk ke dalam kediaman keluarga Wang. Membuat tiga orang yang duduk di ruang tamu menyorot dirinya dengan tatapan heran.
Mr. Diego, pengacara muda keluarga Wang. Pengacara handal yang tidak pernah kalah dalam kasus apa pun. Dirinya sudah mengabdi selama bertahun- tahun pada keluarga wang. Karirnya sebagai pengacara juga berkat jasa dari keluarga Wang.
"Hormat Nyonya..." Ujar Mr. Diego membungkuk hormat pada Ny. Anindita.
Ny. Aninidita tampak heran dengan kedatangan Mr. Diego ke rumahnya, seingatnya ia tidak pernah mengundang pengacara di depannya untuk datang. Begitu pula dengan Catlin dan Gery yang heran dan bingung.
"Mr. Diego.? Kau... Ada perlu apa datang kemari...???" Tanya Ny. Anindita pada pria di depannya yang terlihat tenang.
Mr. Diego mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tas kerja yang di bawanya.
"Saya datang ke sini, untuk menyerahkan surat perceraian yang di ajukan oleh Tuan muda Rojer untuk Nyonya Catlin...." Ujar Mr. Diego dengan tenang, dan menyerahkan berkas di tangannya kepada Catlin.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit
__ADS_1