
...ILUSI TAKDIR 61...
"Kenapa kamu membawa ku ke sini, bukankah kamu akan mengantar ku pulang..?" Tanya Maura.
"Hari ini kamu akan menginap di sini..."
"Hah... Apa???" Maura refleks berteriak cukup keras. Rojer langsung menutup telinganya dengan jari telunjuknya. Bisa- bisa telinga nya langsung tuli saat mendengar Maura tiba- tiba teriak. Seperti kebiasaannya yang sering terkejut karna hal kecil, contohnya ya ini.
"Tidak... Aku tidak mau menginap di mansion milikmu. Aku mau pulang, bisa- bisa aku di cakar sama istri mu." Timpal Maura dengan cepat membuka seft belt.
Rojer segera menarik lengan Maura yang hendak membuka pintu, dan menariknya dengan tenaga cukup besar. Hingga kini posisi wajah mereka sangat dekat. Bahkan satu sama lain bisa merasakan hembusan nafas mereka.
Adegan tatap- tatapan antara mereka seperti adegan film korea tidak bisa di hindari. Tatapan Rojer yang begitu memikat, sunggu membuat Maura betah untuk berlarut dalam heningnya bola mata Rojer yang indah. Begitu juga dengan Rojer ia menatap bola mata indah Maura yang membuatnya tak ingin berkedip dan tak ingin kehilangan moment ini. Bola mata Maura yang begitu memanjakannya.
CLTAK...
Satu jentikan dari jari Rojer mendarat cukup keras di kening Maura.
"Aww... hhhhsss" Ringgis Maura sambil memegangi keningnya yang terasa sakit karna ulah Rojer.
"Astaga,,, aku berfikir otak mu ini di buat dari apa? Kenapa begitu bodoh.?" Rojer menunjuk- nunjuk kening Maura, sementara Maura masih mengusap- ngusap keningnya, sesekali menepis tangan Rojer yang menunjuk- nunjuk keningnya.
"Emang aku sebodoh itu harus sampai membawa mu pulang ke mansion ku jika ada Catlin di sini. Aku masih punya akal pikiran, tidak seperti mu wanita bodoh..." Rojer tersenyum senang.
Rojer membuka pintu mobil dan turun dari mobilnya. Ia berjalan masuk tanpa menunggu Maura.
"Bodoh... Kamu wanita bodoh... Asal kamu tahu aku lulusan terbaik di ankatan ku... Jika aku mau aku sudah menghajar mu dan membuat wajah angkuh mu itu tercabik- cabik. Tunggu saja sampai aku bisa membalas mu. " Rutuk Maura dengan menirukan cara Rojer bicara dengan nya tapi ia lebih- lebihkan dengan membuat bibirnya sejelek mungkin.
Maura melihat Rojer masuk ke mansionnya tanpa menunggu dirinya yang masih menatapnya dari dalam mobil.
"Huh... Dia tidak membuka pintu untuk ku... Saat di kantor dia bersikap sangat manis. Giliran berada di kandangnya. Bayi besar ini bertingkah sesukanya... " Ujar Maura kesal, lalu membuka pintu mobil dan turun. Ia menutup pintu mobil dengan sangat keras, hingga membuat Rojer berbalik menghadapnya.
"Apa kamu akan meruntuhkan pintu mobil ku..." Teriak Rojer saat melihat Maura menutup pintu mobilnya dengan keras.
"Iya... Memangnya kenapa?. Aku akan meremukkan mobil jelek mu ini..." Batin Maura, lalu melangkah mendekati Rojer dan menyatarakan langkahnya.
Maura terkesima dengan desain dari mansion milik Rojer benar- benar mewah namun sangat klasik. Siapapun yang tinggal di sini pasti akan sangat betah. Karna di setiap sisi rungan begitu banyak di hiasi dengan seni. Maura tidak terlalu terkejut akan hal itu. Ia tahu Rojer adalah orang kaya dan bisa membeli negara ini jika dia mau. Jadi bukan hal yang besar jika rumah yang ia tempati sangat indah.
__ADS_1
"Selamat datang nona..." Sapaan itu membuat Maura tersadar. Kini di depan Maura tengah berjejer dua baris pelayan wanita dengan jumlah sekitar 50 orang yang sedang menyambutnya.
Mereka tersenyum dengan manis ke arah Maura dan membungkuk memberi hormat.
Maura refleks langsung membungkukkan tubuhnya untuk membalas salam hormat mereka.
Bukannya berdiri kembali setelah membungkuk para pelayan itu malah berlutut. Hal itu membuat Maura tidak memgerti. Ia berfikir apa ini cara menyambut di mansion sang raja.
Karna tidak enak Maura melakukan hal yang sama dan berlutut mengikuti para pelayan. Rojer yang melihat itu semua hanya mengangkat alisnya ke atas.
Bukannya malah bangkit dari berlutut para pelayan semakin merendah. Mereka semua kini duduk dengan setengah akan bersujud pada Maura.
Maura terkejut melihat hal itu. Ia tidak mengerti bagaimana cara membuat mereka tidak menghormatinya dengan cara yang berlebihan seperti ini. Mereka kan sama- sama manusia jadi tidak perlu memberi hormat sampai akan bersujud kan. Itu pikir Maura.
"Apa seperti ini cara memberi hormat di sini... Menyeramkan sekali. Apa aku harus bersujud untuk menghentikan mereka.?" Batin Maura.
Maura hendak membungkukkan badannya seperti yang para pelayan lakukan. Namun tangan Rojer menghentikannya.
"Bangunlah... Untuk apa kamu melakukan hal yang sama seperti pelayan- pelayan ini..." Rojer mengangkat tubuh Maura untuk berdiri.
"Tapi mereka... Mereka menyambut dan membungkuk hormat padaku. Aku tidak bisa mengabaikan mereka." Maura kekeh akan melakukan hal sama agar para pelayan berdiri dan tidak melakukan hal ini padanya.
"Maura... Maura... Kamu sangat polos... Tapi kadang- kadang bersifat kasar seperti preman pasar." Batin Rojer.
"Terimakasih atas sambutannya... Kalian tidak perlu memberi hormat pada ku sampai seperti itu." Ujar Maura pada para pelayan dengan tersenyum canggung.
Benar saja apa yang di katakan Rojer. Semuan pelayan kembali berdiri dengan kepala menunduk.
"Bahkan manusia di rumah ini juga memakai kode... " Lirih Maura.
"Apa... Kamu bilang apa tadi??" Tanya Rojer yang tidak terlalu mendengar ucapan Maura.
"Ahhh... Tidak..." Jawab Maura singkat.
"Mama...!" Panggil Charlote keluar dari balik para pelayan dan langsung berlari menghambur ke pelukan Maura.
"Sayang.... Kok kamu bisa di sini??" Tanya Maura dengan sedikit terkejut melihat Charlote ada di mansion.
__ADS_1
Dari arah yang sama Edent keluar dan berjalan ke arah mereka.
"Selamat datang nona..." Sambut Edent dengan membungkuk.
Tubuh Maura kaku karna refleks ingin membalas salam hormat Edent dengan membungkuk. Tapi Maura tidak melakukan itu, jika tidak Edent akan melakukan hal yang sama dengan para pelayan tadi.
"Terimakasih Edent..." Timpal Maura dengan tersenyum.
"Hhhh... Hati ku sejuk sekali melihat senyum mu nona. Pantas saja Tuan muda Rojer tergila- gila dengan mu." Batin Edent menunduk.
"Hai pa... Ma... aku di bawa sama papa ke sini... Kata paman Edent aku akan menginap di sini..." Jawab Charlote menimpali pertanyaan Maura.
"Aku menyuruh mu menginap di sini, bukan berarti aku melupakan putra ku..." Bisik Rojer di telinga Maura. Rojer mengendong Charlote dan melingkarkan tangan kanannya pada pinggang Maura. Menarik Maura lebih dekat denganya. Hingga tidak ada jarak antara mereka. Sungguh pemandangan yang indah. Kelurga yang ingin bersatu kini terlihat menjadi keluarga yang utuh.
Dengan cekatan Edent mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa jembretan untuk mengabadikan moment yang entah kapan bisa terulangi lagi.
Tanpa di perintah oleh Rojer. Edent sudah tahu apa yang di ingin kan oleh Rojer.
"Ayo kita masuk... Dan menikmati family time..." Ujar Rojer.
"Yey..." Teriak Charlote senang dan mencium pipi Rojer lembut.
Mereka bertiga berjalan beriringan masuk ke dalam mansion megah Rojer.
Sudut bibir Maura tertarik ke atas membuat lengkungan indah. Hari ini ia benar- benar merasa menjadi keluarga yang utuh.
"Aku tidak pernah membayangkan akan ada hari indah seperti ini... Dimana aku, Rojer dan Charlote bersama, selayaknya keluarga yang utuh dan bahagia. Tuhan aku ingin waktu berhenti sekarang juga. Aku tidak ingin kembali pada waktu saat kami tidak bersama. Aku berdoa semoga semua ini tidak akan berakhir dan kebahagian ini selalu menyertai kami. Melihat senyum mu Charlote. Mama berjanji akan memperjuangkan keluarga kita... Tidak ada yang boleh merampasnya lagi." Batin Maura. Dengan terus melangkah ke depan bersama Rojer dan putranya melewati deretan para pelayan yang setia menyumbangkan senyum ke arah nya.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
__ADS_1
please tinggalin koment dong
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit