
...ILUSI TAKDIR 73...
"Nona... Bangun... Nona..." Pria itu menguncang tubuh wanita itu lebih kencang. Tapi tidak ada respon sama sekali. Ia membalik tubuh wanita itu. Dan lagi- lagi matanya membulat sempurna.
"Maura..." Pria itu tampak kaget saat mengetahui wanita yang tengah pingsan tidak sadarkan diri adalah Maura.
Pria itu langsung mengendong Maura masuk ke dalam mobil. Dari wajahnya ada rasa cemas dan khawatir melihat kondisi wanita di sampingnya itu. Ia segela melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi dan membelah derasnya hujan yang mengguyur jalanan.
...----------------...
"Rojer terimakasih kamu sudah mengatakan hal itu." Ucap Catlin dengan tersenyum semanis mungkin. Rojer mendengus kasar, rasanya ia ingin muntah melihat senyum Catlin.
"Lepaskan...!" Ujar Rojer dengan dingin dan menghempaskan tangan Catlin dari lengannya dengan cukup kasar.
"Semua yang ku katakan tadi hanya kebohongan. Tidak ada artinya apa- apa. Itu hanya sandiwara publik. Kamu tahu aku mencintai Maura... Dan itu akan tetap seperti itu. Jadi jangan sok manis dan sok baik di depan ku. Karna aku tahu seberapa busuknya diri mu." Ujar Rojer lagi dengan dingin dan penekanan.
"Kenapa jika semua itu sandiwara.? Suatu saat nanti aku yakin semuanya akan menjadi sebuah kenyataan."
"Hhhh mimpi..!! Bawa saja mimpi mu sampai mati... Ha..." Rojer terkekeh, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Ia merasa lucu mendengar harapan Catlin yang terlalu tinggi. Sampai kapan pun ia tidak akan pernah mencintai wanita lain, selain Maura. Karna Maura adalah cinta pertama dan terakhir untuknya.
"Haha... Aku rasa tidak Rojer. Semuanya akan segera menjadi kenyataan. Maura akan segera menyingkir kan mu dari hidupnya. Kasihan sekali, dua sejoli harus terpisah.. Menyedihkan, kisah cinta yang mengharukan.. Tapi, bagaimana kondisi Maura sekarang ya?. Aku tahu pasti dia sedang menangis histeris. Ohhh Atau dia akan menghabisi dirinya? Atau mungkin dia akan lari lagi, seperti 7 tahun silam..." Batin Catlin. Apa yang di katakan Rojer saat ini tidak melukai mood Catlin. Karna sekarang ia tengah bahagia karna kejadian ini Maura terluka dan sakit hati. Hal ini sudah sangat cukup untuk membuatnya merasa senang hari ini.
"Sayang,,, Kalian berdua terlihat sangat romantis tadi. Aku berharap kalian ber dua selalu harmonis seperti itu. Dan cepatlah berikan mama cucu yang lucu." Ujar Ny. Anindita dengan senang. Rojer menggeretakkan giginya kesal. Ia sudah cukup bersabar dengan sandiwara pernikahan yang harmonis ini.
"Jangan berharap lebih ma... Aku akan memberi mu cucu tapi, tidak dari rahim wanita kotor ini." Rojer bangkit dari duduknya dan segera melangkah pergi. Ia sudah tidak tahan untuk semenit pun berada di acara yang sama bersama Catlin.
"Rojer...!!! Berhenti... ! Rojer..." Panggil Ny. Anindita dengan suara kecil. Ia tidak ingin para tamu lain mendengarnya. Sementara Rojer terus melangkah pergi tanpa mendengarkan panggilan Ny. Anindita.
"Dasar anak itu... Selalu bersikap seperti itu..." Dengus Ny. Anindita sebal.
"Sudah lah ma... Biar kan Rojer pergi. Dia memang tidak suka menghadiri acara seperti ini..." Catlin memegang pergelangan tangan Ny. Anindita, dan memintanya untuk duduk dengan tenang kembali. Catlin sudah tidak terlalu peduli, jika Rojer pergi karna tujuan nya sudah tercapai.
__ADS_1
"Nyonya... Saya permisi..." Ujar Edent dengan berbisik pada Ny. Anindita yang tengah kesal. Ia melangkah pergi mengikuti kemana tuannya akan pergi.
Rojer membuka pintu mobil dengan kasar dan menutupnya dengan keras. Ia melonggarkan dasinya. Ia benar- benar merasa sesak. Sedangkan wajahnya sudah merah padam. Edent langsung duduk di kursi pengemudi, dan menjalan kan mobil. Ia mengerti apa yang di inginkan tuannya itu. Yaitu segera pergi dari tempat ini. Edent menatap Rojer dari kaca spion depan, terlihat Rojer sedang mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Sesekali dia memijat pelipisnya yang bahkan tidak pusing.
"Sepetinya pernyataan yang di katakan oleh Tuan Rojer, menjadi bomerang bagi dirinya." Batin Edent menatap jalanan di depannya yang tengah di guyur hujan.
"Edent..!" Panggil Rojer.
"Iya tuan.."
"Kamu harus menghapus bagian pada sesi wawancara tadi. Aku tidak ingin Maura nanti melihatnya... Itu hanya sebuah kebohongan publik." Ujar Rojer dengan nada frustasi.
"Baik Tuan.." Jawab Edent singkat.
"Ya tuhan... Aku harap Maura tidak menyaksikan acara ini. Aku tidak ingin dia salah paham. Apa yang akan dia pikirkan jika ia menonton acara ini..? Huhh kenapa sih aku harus hadir di acara itu. Seharusnya aku tidak datang... Ck..." Batin Rojer berharap cemas. Ia benar- benar tidak tenang sekarang. Rasanya ia ingin segera bertemu Maura dan memeluk tubuh hangat itu. Menyingkirkan rasa gelisah di dada nya saat ini.
"Edent ponsel ku..!" Ujar Rojer lagi, meminta ponselnya pada Edent.
Rojer segera meraih ponselnya dari tangan Edent. Hari ini ia tidak memegang ponsel karna setiap hari peringatan kematian ayahnya ia tidak ingin di ganggu oleh deringan telpon. Ia menyalakan benda pipih itu.
Mata Rojer membulat sempurna ketika melihat ada sepuluh jawaban tak terjawab dari Maura. Seketika itu pula rasa khawatir mengusai Rojer. Ia terlihat begitu panik.
"Edent kenapa kamu tidak memberi tahu ku jika Maura menelpon ku... Dia menelpon ku berulang kali..." Ujar Rojer dengan nada sangat cemas.
"Maaf Tuan muda. Tapi setiap hari ini, Tuan muda selalu menyimpan ponsel. Jadi saya tidak tahu jika nona menelpon."
"Ck... jangan membantah Edent. Kamu kan asisten ku... Seharusnya kamu tahu apa yang aku ingin kan sebelum aku bicara..." Ujar Rojer dengan marah.
"Maaf Tuan muda ini memang salah saya..."
"Katakan kepada ku kenapa Maura menelpon ku sampai berkali- kali apa dia baik- baik saja.?" Rojer mulai kehilangan akal memikirkan Maura.
__ADS_1
"Mungkin nona sedang rindu pada mu tuan."
"Apa benar seperti itu?. Tapi dia tidak pernah merindukan ku... Ini pertama kalinya dia menelpon ku berulang kali... Apa yang sebanranya terjadi? Seharusnya aku membawa ponsel ku... Ini semua gara- gara acara bedebah itu... Agghhhrrr... Semoga tidak terjadi apa- apa padanya.."
"Tenang lah Tuan, nona pasti baik- baik saja. Kenapa anda tidak menelponnya sekarang dan memastikan sendiri kondisinya.."
"Iya.. Ya... kamu benar Edent. Aku akan menelponnya sekarang..."
Rojer langsung mencari no. ponsel Maura dan memencet nomer itu. Sekarang Rojer benar- benar merasa ketakutan. Sebelumnya ia tidak pernah merasakan hal ini. Tapi sekarang rasa takut kehilangan sudah mengusai pikiran dan hatinya. Bahkan tangannya sampai bergetar karna cemas dan khawatir.
Nada sambung berbunyi, namun tidak ada jawaban dari seberang. Rojer berdecak semakin frustasi. Ia kembali menelpon Maura namun hasilnya sama tidak ada tanda - tanda jawaban dari Maura. Rojer semakin panik. Ia sekarang seperti orang gila karna Maura tidak mengangkat telponnya.
"Edent Maura tidak mengangkat telponnya..." Ujar Rojer dengan sangat panik. Bahkan keadaan nya sekarang benar- benar memilukan. Penampilan yang berantakan, rambut acak- acakan serta raut wajah yang di tekuk.
"Tenang lah tuan muda... Nona pasti baik- baik saja..." Edent mencoba menenangkan. Ini pertama kalinya Edent melihat Rojer ketakutan hanya karna seorang wanita tidak mengangkat telponnya.
"Sekarang... Kita harus ke rumah nya... Edent... Cepat... dalam 2 menit kita harus sampai..." Ujar Rojer dengan menggelengkan kepalanya. Saat ini keinginannya cuma satu segera bertemu Maura.
"Baik Tuan..." Edent segera menambah kecepatan. Meski cuaca sedang buruk, tapi yang lebih penting sekarang mematuhi perintah majikannya. Untung saja dia sudah menyabet gelar pembalab terhandal di kota x. Jadi sangat mudah untuk mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
...----------------...
...****************...
kasi tips biar makin semangat
Please budayakan koment dan like sehabis membaca... untuk menyemangati author supaya up terus..😊
to be continud❤
please tinggalin koment dong
__ADS_1
jangan lupa juga like vote dan tambah ke rak favorit