
"Lynda keluarlah, Josh sudah datang!"
Tak berselang lama, dari sebuah ruangan keluar seorang wanita tua yang duduk di kursi roda. Manik mata berwarna biru menyorot tajam pada Jennifer sehingga membuat wanita itu beringsut. Josh tersenyum melihat Lynda, pria itu lalu menghampiri neneknya dan mendorong kursi rodanya mendekat ke tempat Jennifer dan Katherin berada.
"Bagaimana kabar anda Lynda?" sapa Jennifer seramah mungkin, namun Lynda justru mengacuhkan pertanyaannya lalu menatap Katherin dan Joshua secara bergantian.
"Kenapa kalian membawanya kemari?" tanya Lynda dengan ekspresi wajah tak suka.
"Granny, dia calon istriku, bukankah wajar jika dia datang kemari. Lihatlah, Jenn membawakan bunga Freesia untukmu," jawab Josh berusaha menunjukan niat baik calon istrinya.
"Aku tau pasti kau yang membelikannya Josh!"
Semua orang diam karena memang faktanya bukan Jennifer yang membelikan bunga tersebut, namun Jennifer tak mau di anggap remeh oleh wanita tua yang bahkan duduk di atas kursi roda.
"Granny, memang betul Josh yang membelinya karena aku takut memilih bunga yang salah untuk anda," kilah Jennifer membela diri.
"Bawa dia pergi dari sini Josh!" usir Lynda terang-terangan.
"Mom, kenapa kau begitu kasar pada calon cucu mantumu sih?" protes Katherin tak terima.
"It's okay, aku akan pergi," Jennifer mendadak berwajah sendu, di usapnya air mata palsu yang menetes di wajah full make upnya. "Granny, semoga anda sehat selalu ya," ucapnya sambil tersenyum palsu. "Semoga kau cepat mati nenek tua," batinnya marah.
"Sayang aku pulang dulu ya," pamit Jennifer pada calon suaminya.
"Aku akan mengantarmu Jenn."
"Tidak perlu Josh, aku bisa pulang sendiri," tolak Jennifer.
"Tidak, aku akan mengantarmu!"
Jennifer menyeringai samar saat Josh memilih mengantarnya dan meninggalkan nenek serta ibunya, Jennifer merasa di atas angin karena Josh selalu mengutamakannya. Selama perjalanan menuju apartemen milik Jennifer, wanita itu tak henti-hentinya menitikan air mata palsu demi mendapat simpati dari calon suaminya.
"Dear, please berhentilah menangis," ucap Josh sedih.
"Aku hanya takut jika Lynda tak bisa menerimaku sampai kapanpun," keluh Jennifer tergugu.
"Aku akan meyakinkan Granny, dia pasti akan menerimamu," Josh mengusap kepala Jennifer dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya mengendalikan setir mobil yang di kendarainya.
.
__ADS_1
.
.
Siang yang begitu terik, selepas jam istirahat Axel tak kembali ke kelasnya, pemuda itu memilih kabur dari sekolah dengan alasan tak enak badan. Meski wali kelasnya tak percaya akan alasan Axel,namun siapa yang berani melawan keinginan keponakan pemilik sekolah Internasional itu.
Axel mengendarai mobil sport kesayangannya meyusuri jalanan sempit di sebuah komplek perumahan, sesekali dia melirik ponselnya untuk memeriksa alamat yang sedang di carinya. Axel menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang cukup sederhana, hanya ada satu lantai dengan halaman yang tak terlalu luas.
"Sepertinya benar ini rumahnya," gumam Axel sambil mencocokan alamat yang tertulis di ponselnya.
Axel lalu mengetuk pintu, beberapa saat kemudian pintu terbuka dan seorang gadis muncul dari balik pintu dengan wajah pucatnya.
"Axel," ujar Freesia, wajah pucatnya tampak terkejut melihat kedatangan Axel.
"Hay Frey," sapa Axel dengan senyum kikuk.
"Apa yang loe lakuin di sini?" tanya Freesia dengan mata memicing.
"Gue nyasar!" bohong Axel, oh ayolah pemuda itu bahkan sampai berbohong demi menutupi perasaannya.
"Nyasar?" ulang Freesia tak percaya.
"Gue lagi nyari alamat dan malah nyasar ke tempat kumuh ini."
"Loe ngusir gue?" wajah Axel berubah masam saat Freesia mengusirnya.
"Katanya loe lagi nyari alamat, ya udah sana lanjutin lagi!"
"Setidaknya biarin gue masuk dulu kek, kasih gue minum, gue capek muter-muter di tempat ini," Axel tak kehabisan cara agar bisa berlama-lama bersama Freesia.
"Rumah gue kumuh, takutnya entar loe mencret kalau minum di rumah gue!"
"Dasar pelit," kesal Axel.
"Sana pergi!" Freesia kembali mengusir Axel, gadis itu bahkan menutup pintunya, namun Axel berhasil menahan pintu tersebut agar tidak tertutup.
"Apa lagi?" Freesia mendelik kesal, kepalanya semakin terasa berat.
"Gue haus," cicit Axel dengan wajah memelas.
__ADS_1
Freesia menghela nafas berat, namun dia juga kembali membuka pintu rumahnya. "Masuk! Tapi gue nggak tanggung jawab kalau loe sampai mencret!"
Axel mengangguk dengan cepat, tanpa basa-basi pemuda itu mengikuti Freesia masuk ke dalam rumahnya. Axel berdiri di ruang tamu yang tak seberapa besarnya, pemuda itu mengamati rumah Freesia yang cukup rapi.
"Duduk. Gue ambilin dulu minumnya!"
Lagi-lagi Axel hanya mengangguk patuh, pria itu duduk di atas sofa sambil menunggu Freesia yang sedang mengambilkan air untuknya. Axel celingukan ke sana kemari, hingga netranya menangkap sebuah foto berbalut figura berwarna cokelat yang di pajang di ruang tamu.
"Dia cantik sejak kecil," gumam Axel sambil mengamati foto kecil Freesia bersama bibinya, pemuda itu bahkan tersenyum melihat Freesia kecil yang di abadikan dalam sebuah foto.
Axel bergegas duduk saat mendengar langkah Freesia semakin dekat, pemuda itu memasang wajah cuek saat Freesia memberinya sebotol air mineral, namun perhatian Axel malah tertuju pada kaki Freesia yang masih terlihat pincang.
"Cuma ada air putih di tempat kumuh ini," ucap Freesia seolah menyindir Axel yang mengatai komplek perumahannya kumuh.
"Thanks," Axel meraih botol air mineral tersebut lalu menenggaknya sampai setengah habis. "Btw, kaki loe kenapa?" tanya Axel, wajah tampannya seketika berubah penuh kekhawatiran.
"Kesrempet mobil," jawab Freesia singkat.
"What? Gimana bisa? Tapi loe nggak papa kan?"
Freesia mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Axel yang seolah peduli padanya. "Untungnya cuma kaki gue yang terkilir," sahut Freesia kikuk.
"Syukurlah loe nggak kenapa-napa," Axel membuang nafas penuh kelegaan.
"Emangnya kenapa kalau gue kenapa-napa?"
Axel membisu, tiba-tiba dia merasa gugup dengan pertanyaan Freesia, entah jawaban apa yang harus Axel katakan karena dia tak mungkin mengaku jika dia mencemaskan Freesia dan takut sesuatu yang buruk menimpa gadis yang sudah di taksirnya sejak mereka duduk di bangku kelas 1 SMA.
"Kalau loe kenapa-napa kasian orang tua loe pasti mereka khawatir!" jawab Axel sekenanya.
"Orang tua gue udah meninggal!"
"Eh, sorry Frey gue nggak ada maksud," Axel seketika mengutuk dirinya sendiri, bagaimana bisa di tidak tau jika Freesia seorang yatim piatu.
"It's okay. Loe udah gak haus lagi kan?" tanya Freesia dan Axel hanya mengangguk. "Ya udah pulang sana, gue mau istirahat!" Freesia kembali mengusir Axel.
"Okey gue cabut!" Meski masih ingin bersama Freesia namun Axel memilih pulang dan membiarkan gadis yang dia sukai untuk beristirahat, belum lagi soal ucapannya mengenai orang tua Freesia membuat Axel seolah tak memiliki muka untuk terus berada di rumah itu.
"Jangan lupa minum obat!" pesan Axel sebelum pemuda itu benar-benar pergi.
__ADS_1
"Itu anak kesambet dimana sih?"
BERSAMBUNG...